Rabu, 30 Desember 2015

Penghujung 2k15 vs kembang api (ala gue)

Yups.. selamat sore semuanya. Saya melaporkan Langsung dari Kuta, Bali.

Bali mulai merayap senja, menuju pergantian usia, 2k16. Semoga allah menutup tahun 2k15 ini dengan kebaikan dan segera membuka buku baru 2k16 dengan keberkahan. Amiin..

Bicara tentang peringatan tahun baru, tidak jarang lagi kita jumpai hampir seluruh penduduk bumi ini memberikan perlakuan khusus dalam memperingati tahun baru. Berjuta orang riuh ramai berduyun-duyun pergi berlibur bersama keluarga, menyiapkan piknik sederhana dengan tradisi bakar-bakar segala (sate, ikan, ayam, dan yang paling ekonomis adalah jagung). Ahh.. minimal para anak sudah terkena virus tiup terompet lah. Entah dari mana virus itu berhulu, bahkan bisa jadi orang tuanyalah yang handal mengajarkan itu.

Ya.. di kesempatan ini saya tidak akan berbicara tentang bagaimana hukum beramai-ramai merayakan tahun baru menurut islam. Itu sudah terwakili oleh banyak artikel di jejaring sosial. Tapi kali ini saya akan coba memaknai tahun baru ini dengan cara saya. Saya yang punya cerita.

Pernah berfikir kenapa tahun baru identik dengan kembang api? Padahal dari bahasanya aja, kembang api lebih cenderung berimage galak dengan kata api, dari pada indah dengan kata kembang. Apalagi jedar jedor suaranya, sering kali bikin musibah. Entah itu kambuh sakit jantung nya, atau bisa sampek terjadi kebakaran. At least. Bagi saya pribadi, kembang api adalah simbol kericuhan. Simbol panas entah karena gesekan antar golongan, atau keserakahan hawa nafsu memakan segala sebagaimana api melahap semua. Coba tahun baru diidentikkan dengan kegiatan siram-siram taman, siram-siram tumbuhan, apalagi siram-siram kerohanian. Kan kesannya adem. Katanya awali lembaran baru dengan kebaikan?? :-)

Oiyaa.. om bli guide kresna juga bilang, di bali bagian perkampungan kuta sekarang ada larangan menyalakan kembang api lho.. alasannya adalah karena aspek keamanannya.. tuh kann. Apa gue bilang.

Haha.. agak norak juga sih bahasan gue ya? Ahh.. tapi ini kan emang cuma sekedar cuap-cuap nganggur. Maklum lah yee.. hehehe

Alvita hikmatul laily melaporkan dari tkp.

Senin, 28 Desember 2015

Bermata-puisi

Mereka yang setia dalam kata bukan berarti tak mampu melahap fakta. mereka bahkan lebih mampu memaknai kehidupan bertingkat hanya dengan jajaran formasi aksara . Bukan sekedar berlalu-lalang membual angan, melainkan berkubang dalam setiap lapisan ungkapan, berbahtera filosofi kata.

Ahh.. sedari dulu aku adalah penikmat dunia berbingkai kias itu. Tapi sayang... serupa langit tertinggi aku belum miliki sayap tuk mengukirkannya jua. Ya, aku Masih hanya berusaha merogoh dangkal dalam harga-harga yang disembunyikan. Sesaat berkerut, lalu diam. Menggurat senyuman dalam eratnya ikatan gagasan. Meski aku seringkali tak paham...

Haha.. entah kapan.

Dan saat ini aku sedang terngiang, dengan kau sahabat sekandang...

Jumat, 25 Desember 2015

Hadiah tanggung

Hai.. rinai.. lama nian aku tak menjamahmu. Terlebih ketika begitu banyak hari hari istimewa harusnya kulalui dengan jemari manismu. Lagi lagi tak ada habisnya ketika yang dibahas adalah makna "reduksi". Reduksi mimpi-mimpi. Reduksi kualitas diri. Reduksi ketahanan emosi. Reduksi di angka yang harusnya semakin menjadi.


26 desember 2015, late post banget kayaknya kalo masih ngebahas tentang "kado ulang tahunnya Njeng nabi". Allah... aku tak lupa. Dan aku juga tak bisa serta merta menyalahkan kesibukan yang orang kata pun tak sebegitu sibuknya. Aku diam. Hanya diam dalam persimpangan hati yang tak tahu kemana akan bercondong. Sejenak rindu... sejenak melamun pilu... bahkan sempat pula tersedu atas reduksi cinta yang hampir menjajah habis hatiku. Hingga ulang tahunmu pun menjadi tak seistimewa tahun-tahun lalu. Terlebih jika dibandingkan dengan aku yang kala itu masih berada di pusaran cinta. Ya.. cinta para kekasih mudamu njeng nabii, beralun merdu menyapa indahnya perangaimu, mengundang hadirnya dirimu.


Njeng nabiku...
Maafkan aku. Tak ada ritual panjang di hari ulang tahunmu. Tak ada lembar lembar ruahan cerita dalam buku "seri penggagas sejarah"ku seperti sebelum sebelumnya. Juga kadoku pun terkesan sederhana. Tak seperti tahun lalu, Ketika aku menjanjikan ini itu.


Njeng nabiku...
Selamat ulang tahun.
Tentu kau tak pernah sebenar-benarnya kembali. Kau selalu hidup, membara serupa pelita dalam sukma-raga kami. Di banyak tempat, dunia masih bertalun menyebut namamu. Bersahut gemuruh sholawat salam tanda cinta kami. Meski mungkin itu hanya sekedar cinta. Namun kau hidup... selalu...


Njeng nabi...
Ini hanya tentang kado sederhana dari gadis sederhana yang ingin menantang kesederhanaan hidupnya. Parah... jika kata mereka itu biasa. Tapi tidak bagiku. Hidup harus dipaksa, selagi kita masih diberi hidup. Dan akan kusampaikan kodenya. 


1. X+6 = kursi
2. 1 hari, 1 lembar = 1 tahun > 1 eksemplar
3. Peta buta, kasih cahaya dari lilin lilin pemantasan.
4. Isti_qoma(riya)h


Njeng nabii..
Aku masih berhutang mimpi. Dan atas syafaat mu, sampai bertemu di lain waktu. Bersama sebongkah mimpi kami yang menghablur dalam kerinduanmu. Berkenanlah kau panggil kami, "ummatii... ummatii... ummatii.."


Sholawat salam teruntuk engkau njeng nabi kuu...
Dalam reduksi cinta kukutuk diriku untuk terus mencintaimu.
Love youu...

Senin, 23 November 2015

ternyata begini ya rasanya?

andai aku bisa memilih untuk sama sekali tidak mendengarnya, untuk tidak perlu mendengar denting suaranya terselip diantara keramaian wahana.

Aku sungguh tak ingin mendengarnya. membayangkan kedekatan yang terangkum semakin dekat.

Apa? apa-apa an? apa yang kau pikirkan dengan semua kata2mu itu? kau tidak sedang salah menyimpan hati kan?

Senin, 26 Oktober 2015

Aku Cinta

Aku mulai mencintai profesiku
Ternyata, menjadi guru bukanlah sesuatu yang buruk. kerena menjadi guru bukan berarti menggurui, melainkan terus berguru dan meguru. Hingga menuntut kita untuk senantiasa menggali ilmu,  meski di antara lautan duri dan gunung berbatu.
Aku mencintai profesiku
sebagaimana aku mencintai mereka para murid-muridku. sungguh terasa begitu indah ketika bisa menyelipkan do`a di antara sapaan santun mereka, menatap mereka bisa berlari-lari riang di jalan-Nya, juga membayangkan merekalah yang kelak memberikan tapak-tapak langkah untuk kita sampai ke surga.
Aku sungguh jatuh cinta
Bersama mereka aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. menjadi sosok yang memang pantas dipanggil bu guru oleh mereka. bukan lantas mengajari mereka kencing sambil berlari, melainkan terus menanyai diri sendiri, "masihkah kau kencing sambil berdiri?"

Minggu, 02 Agustus 2015

Peta buta

Hei... selamat pagi.
Seperti biasa. Tulisanku ya hanya tulisan biasa. Sama sekali bukan tulisan yang istimewa. Kecuali kalau kalian jeli menelisik tiap makna yang tersembunyi di dalamnya.

"Peta buta..." sepertinya aku juga sudah sering menyebutkannya. Bahkan dia seakan teka teki berhadiah milyaran rupiah sehingga tiap keping jawaban yang perlahan kudapatkan menjadi begitu berharga. Ahh.. dasar alay.

"Sekufu" ini juga lebih keren lagi. Konsep jodoh dari Allah yang sangat manakjubkan. Tolok ukur sekufu seperti apa juga gak banyak yang bisa memprediksi. Apakah sekufu materinya, fisiknya, tingkat keimanannya... hanya Allah yang maha adil dan maha tahulah yang sepenuh nya menentukan timbangannya berimbang seperti apa.

Dan sekarang dari dua kata pokok di atas aku mulai meraba keadaanku. Kasihan sekali kalau tulisan ini hanya sebagai wadah curahan hati. Tapi ya seperti inilah... seperti yang tadi kubilang. Ini hanya tulisan biasa.
Aku memang masih belum berani menyebut nama. Bahkan mengingat identitasnya saja aku takut. Karena sepertinya otak kecilku ini belum bisa menemukan titik singgung kesekufuan kami. Lantas apakah ini benar benar hanya tebakan asal comot? Atau memang olah rasa, olah firasat? Entahlah... aku hanya mampu terus bertanya pada dia sang pemberi petunjuk. Benarkah dia jawaban atas peta buta ku?

Waktu dan doa. Tambah sabar dan tawakal. Mungkin cukup itu saja resep hemat untuk perkara yang serupa ini. Terus berdoa dengan sabar dan tawakal hingga waktu benar benar dikirim allah untuk mengantarkan sebuah jawaban. Dan ketika tawakkal benar benar bertangkal di hatimu, maka jawaban apa saja itu tak perlu. Karena ada billah disana. Billah... iya... billah... satu pelajaran yang langsung kudapatkan dari kyai lukman hakim. Sufi jakarta. :)

Senin, 20 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part 2

"Hai wanita". Sebuah sapaan ringan yang terlalu abadi untuk perlahan mengawali aksi-aksi imperialisme. Apalagi kalau bukan menjajah. Tangannya memang tak lagi membawa senapan. Tapi kata kata para buaya terlalu tajam menusuk, lantas meracuni. Memang tak perlu amunisi untuk bom meriamnya. hanya satu serangan yang dikata kerasukan cinta, itulah yang seringkali mengakhiri semuanya. Oh.. wanita. Lagi lagi betapa malangnya adinda.

Ah.. tak usahlah kau tanya pada dunia. Ia bahkan tak lagi bisa menghargaimu meski hanya dengan kepingan recehan. Ia tertawa, tak lagi meresa perlu berduka ketika tahu kau para wanita sedang tertimpa bencana para penjahat-penjahat pengobral syahwat. Mereka tak susah. Bahkan cukup dengan sikap masa bodoh atas nestapa yang disembunyikan di balik kibar pelaminan dengan cahaya menyilaukan. Oh wanita... lantas siapa yang akan membela ketika dunia tak lagi memiliki nilai2nya?

Untuk hal ini, tak perlu lah kau sekolahkan otakmu agar jadi pintar. Percayalah kau hanya butuh melatih hati dan menjadikannya sensor dengan sensitivitas, sensitivitas tuhan tentunya.

Minggu, 19 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part1

Terima kasih wahai wanita. Kau telah terlalu mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk dunia yang sementara. Bahkan ketika sekitar selalu dan selalu merunyamkan keadaannya, kau, masih dengan pikiranmu yang diatas rata2 mampu menelisik setiap sisi lantas menyelamatkan nya.

Kau wanita.. kenapa harimu tampak teramat berat? Dan sayangnya beban kehidupan yang bergelayut di tepian air muka mu itulah yang membuat wanita separuh jalan ini semakin takut untuk berjalan. Harus seperti itukah wanita?apakah dongeng para putri itu kini sudah menjadi kadaluarsa? Hanya tertinggal episode pertama ketika cinderella masih penuh nestapa?entahlah..

Rabu, 15 Juli 2015

Bukan "selamat tinggal" tapi "sampai jumpa"

IAku memang sudah lama mengenal pepatah itu. Hanya saja, sampai saat umurku tak lagi terbilang muda, aku tak kunjung bisa meraih makna agungnya.

"Kau tak akan merasakan sesuatu itu berarti, kecuali sampai ia telah benar-benar pergi."

Ramadhan 1436 H hanya bersisa kurang dari 24 jam. Setelah kehadirannya selama hampir genap 29 hari ini, aku bahkan tak merasa ia benar-benar ada. Tak ada perlakuan special, apalagi penyerahan segenap rasa hati. Semua berjalan standar, biasa saja. Puasa, tarawih, tadarus, hanya berlalu tanpa ruh. Ohh allah, beginikah seharusnya seorang hamba menyikapi tatkala tiba bulan kesayangan Tuhannya datang menyapa dirinya?

Dan baru ketika tarawih tak ada lagi di tahun ini, puasa hanya tinggal esok hari, dan tadarus bersisa lembar-lembar penutup, terisaklah hati ini dalam penyesalan yang memilukan. Serupa bocah kecil yang tersedu tatkala ditinggalkan ibundanya. Aku harap, benar-benar bukan ucapan "selamat tinggal" lah yang kusampaikan, melainkan ucapan "sampai jumpa" karena Allah masih memberikan karunia usia untuk ku bisa sekedar tahun depan menyapanya. Teruntuk kau, bulan yang mulia. Ramadhan...

Jumat, 01 Mei 2015

coretan ala "Surat-surat Kartini" :)

Kepada yang terhormat
            Ibu kita Kartini
Assalamu`alaikum wr. wb.
Salam kenal dari anakmu ibu. Seorang yang kini telah bisa menuliskan berbagai aksara, membaca permasalahan-permasalahan dunia, serta menyampaikan ide-ide yang ingin dikata. Salah satunya adalah dengan hadirnya sepucuk surat sederhana ini. Apalagi kalau bukan atas jerih payah dan perjuanganmu. Maka, kusampaikan pula ucapan terimakasihku kepadamu. Semoga apa yang telah kau perjuangkan itu bisa menjadi pemberat amalmu yang tiada akan pernah putus.

Ibu… mewakili wanita Indonesia yang hidup di masa ini, di masa yang berselang 111 tahun dari masamu dulu. Aku menyampaikannya, bukan dengan maksud untuk menuntut perjuanganmu dulu, karena kau pun sudah melakukannya dengan sebaik mungkin. Aku menuliskannya hanya karena aku ingin mencurahkan segalanya pada apa yang kurasa bisa. Ya… selembar kertas inilah wahananya, yang pada akhirnya kutujukan pada kau putri yang mulia.

Semua sudah berbeda ibuku… tak ada lagi wanita bersanggul dan berjarik yang menari-nari memainkan selendang dalam alunan gamelan. Tak ada pula suasana dapur dengan peluh kalian para wanita perkasa yang sedang bergelut dengan alu dan lumpang, juga api pawonan. Apalagi para ibu-ibu yang menguru-uru anaknya dengan menyenandungkan tembang-tembang serupa Lir-ilir ataupun Tak Lelo Ledung. Semua sudah berubah Ibu. Tak tahu kau akan berkata ini baik atau buruk, yang jelas mereka menamainya sebuah kemajuan.
Terkadang, separuh hatiku protes. Apanya yang maju? Para wanita ternyata lebih memilih rok dan baju mini dari pada berkebaya dan berkain jarik dengan 2 meter kendit yang diikatkan memutari pinggang. Setidaknya yang semacam itu lebih bisa melindunginya dari para penyamun wanita. Siapa juga yang mau memperkosa jika harus melepaskan ikatan dengan lebih dari 10 putaran itu. Terbayang bagaimana rapatnya kain batik itu membungkus separoh tubuhmu. Bukankah itu pun susah?

Apanya juga yang maju. Para wanita hanya belajar, bersekolah tinggi, lantas kerja siang dan malam. Menitipkan anaknya, lantas menebusnya dengan uang. Ah… jangan harap para orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah ketika senja datang. Jikalau ada mungkin hanya sedikit sekali. Yang banyak adalah para orang tua yang mengaku perhatian, lantas menelpon anaknya, menanyakan sedang dimana, dengan siapa, dan sukses mendapatkan tipuan dari jawaban anak-anaknya. Bahkan berujung pada musibah besar dalam berbagai bentuk problematika remaja.

Ibu… ibu… Dulu kau begitu mengidamkan bersekolah yang pada masamu sangatlah langka untuk anak-anak bumi putera apalagi anak wanita sepertimu. Tapi sekarang lihatlah keprihatinan ini ibu, bahkan sekolah bisa jadi ancaman utama anak-anak kita ibu. Ya… harusnya kau baca berita-berita itu. tentang kasus pedofilia JIS, tentang kasus-kasus pelecehan seksual di berbagai tempat. Sungguh memuakkan.


Sekali lagi aku tak menyalahkan kau wahai ibundaku. Karena aku bisa berkata seperti ini pun atas segala jasa-jasamu. Namun kenapa, kenapa yang santer disampaikan pada kami hanya  emansipasi? Kenapa yang diajarkan pada anak-anak kami adalah lagu ibu kita kartini yang liriknya hanya seperti itu? dan kenapa yang digemborkan kepada kami hanya kisah tentang suratmu kepada nyonya Abendanon yang kini dibukukan oleh Armyn pane “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Padahal, bukankah ada sisi spiritual dibalik itu? bukankah ada Kyai Sholeh Darat yang menjadi lenteranya? Dan bukankah Door Duisternit Toot Licht itu adalah “orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya”? kenapa itu tak sampai pada kita ibu....?

Minggu, 22 Maret 2015

Sang Penunduk

Ini adalah konsep sederhana milik seorang pemimpi. ya... Dia sungguh ingin menjadi Sang penunduk seperti mereka para peri-peri itu. Dan tatkala prinsip tentang mimpinya sudah mulai terapung dan hanyut bersama nuansa dunia, nafasnya kian terisak dalam gemerlapnya sepi. Sebuah perenungan sederhana mengantarkan dirinya sampai pada jawaban tentang konsep sederhananya dulu. menghentaknya, menyadarkan dirinya atas sekian lama kelalaian hidup merudung langkah kelabunya.

Kau tahu!
Kau sendiri sebenarnya yg memutuskan prahara hatimu. Sederhana. Bahkan sangat sederhana kurasa. Kau memang bisa suka seseorang hanya dengan sekali pandangan. Kau pun bisa lebih suka seseorang hanya dengan terus mengulang pandangan. Sesederhana itu masalah bisa datang, maka sesederhana itu pula solusinya bisa kau dapatkan. Tundukkan saja pandanganmu, maka sungguh kau telah menundukkan hatimu, nafsumu, dan segala masalah yang bisa terjadi karena itu.

Senin, 09 Maret 2015

One of My Dream: being an islamic family

Pernah, bahkan sering kali terselip doa agar Allah memberikan kepada kami (me and my husband then. hehehe) anak-anak yang sholeh sholehah. Mereka terdidik dalam keindahan islam dalam setiap hari-harinya, memupuk lembar demi lembar kecintaan mereka pada Allah dan Rasulullah Saw dalam pengamalan tuntunan syariat2nya, serta membesarkan dengan penuh cinta tentunya. Bahkan hal yang mungkin tidak banyak orang pikirkan apalagi idamkan itu telah lama menjadi cita-cita saya. Terinspirasi dari banyak saudara-saudara muslimah yang tampak mulia terjaga, anggun nan santun dengan balutan busana syar`i islami, saya sangat ingin bisa menjadi seperti mereka. berpakaian panjang menutup aurat, kerudung pun menjuntai menutupi dada, serta perhiasan akhlak mulia yang semakin memperindah pribadinya. Subhanallah ingiinnyaaa. :)

namun sayang, sekedar berkeluh kesah sajalah... lingkungan yang berbeda sslalu saja membuat kita tak bisa untuk terlalu menjadi berbeda. Tak perlu lagi saya kiaskan, bukan saja tak ada tuntutan bahkan sama sekali tak ada dukungan. hingga terselip pula sebuah permohonan, "Ya Allah semoga hamba bisa mendapatkan seorang lelaki yang mampu untuk memuliakan, mendukung dalam setiap usaha perbaikan, serta menuntun untuk selalu berusaha menyempurnakan makna ketakwaan. hingga kelak, aku bisa mewujudkan cita-cita perubahan ini dengan dukungan penuh dirinya. Amiin..."

Sungguh tak perlulah kita menjustifikasi nama-nama ormas islam itu hanya dengan sekedar pandangan simbolik sebuah tampilan. Bukankah yang seperti inilah yang dimaksud oleh Islam? makna penjagaan itu tak cukup hanya dihati, karena iman pun memiliki 3 komponen utamanya; hati, lisan, dan amal perbuatan. Maka perkenankanlah raga ini bercita-cita, karena sampai mati, hati saya tetaplah ahli sunnah wal jamaah. dan sungguhlah saya terkagum melihat keluarga ini terlepas dari apapun yang telah terjadi, mereka adalah keluarga islami yang penuh komitmen penghambaan. Duh.. cantik-cantiknyaaaa... :)



Selasa, 17 Februari 2015

Ber-passion Bersama IAI BAFA



Succes is not always measured by good academic grades.
(Ollie_peraih penghargaan Kartini Next Generation, co-founder of nulisbuku.com & kutukutubuku.com)
Menyikapi persaingan kehidupan dunia yang saat ini terasa begitu ketat, agaknya sudah terlampau kolot untuk hanya menjadi orang-orang yang biasa saja. Terlebih ketika kita menyadari keadaan islam yang semakin hari semakin tampak mengiris hati ini. Maka sebagai mahasiswa muslim yang mau tak mau akan menerima estafet kepemimpinan islam- menentukan kearah mana islam akan dikembarakan-, menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), mahasiswa kuno-kuno (kuliah nonton-kuliah nonton), mahasiswa kuro-kuro (kuliah rokok`an-kuliah rokok`an) ataupun mahasiswa kungo-kungo (kuliah ngopi-kuliah ngopi) adalah pilihan yang terkesan terlalu flat, karena untuk kembali menjadikan islam berjaya dengan segenap peradaban agungnya, tak ada jalan lain lagi kecuali dengan terus melakukan pemberdayaan pada individu-individu islamnya.
Maxwell Maltzs pengarang buku “Psycho Cybernetics” mengemukakan ada tujuh ciri orang sukses; 1. Sense of direction (mampu mengarahkan-diri sendiri-) 2. Understanding (mampu memahami-diri sendiri-) 3. Courage (berani bertindak) 4. Charity (murah hati) 5. Self-esteem (menghargai diri sendiri) 6. Self-acceptance (menerima kekurangan dan kelebihan diri) 7. Self-confident (percaya diri). Jika kita amati dengan jeli, masing-masing dari tujuh ciri tersebut sebenarnya saling berikatan satu sama lain. Ketika seseorang mampu memahami diri sendiri, menghargai diri sendiri karena telah bisa menerima kelebihan dan kekurangannya, maka dia tidak akan kebingungan untuk mengarahkan diri, lantas ia akan berani bertindak dengan penuh percaya diri juga dengan segenap kemurahan hati. Ya… dapat disimpulkan bahwa akar dari respon kompleks ini adalah kemampuan untuk memahami diri, dimana urgensi pemahaman diri ini juga telah disinggung dalam hadits Rasulullah, “qod arofa nafsahu, fa qod arofa robbahu.”
Di usia yang ghalibnya berkisar pada dua dasawarsa, minimal kita seharusnya sudah mampu membuat rancangan hidup ke arah manakah kita akan bertendensi. Hemat penulis, passion inilah salah satu alat untuk mendeteksi terlebih dahulu sebelum rancangan itu ditentukan. Dimana passion sendiri berarti perasaan yang sangat kuat dan antusiasme yang sangat mendalam untuk melakukan suatu kegiatan yang biasanya terkait dengan hal-hal yang memang kita sukai. Maka, mengetahui passion kita yang sebenarnya sangatlah penting agar bisa menjalani hidup dengan bersemangat, maksimal, dan memperoleh hasil yang lebih baik tanpa merasa “menderita”. Jangan merasa minder ketika mereka mengatai diri kita “banyak omong”, karena bisa jadi itu adalah modal berharga kita untuk menjadi trainer, motivator, atau pun pedakwah serupa Mario Teguh. Jangan merasa kecil hati kalo kita punya kebiasaan curhat berjam-jam di buku diary, karena bisa jadi itu adalah bekal yang dengan sedikit polesan akan menjadikan kita penulis-penulis best seller, yang tentunya juga bisa mendakwahkan nilai-nilai Islam dari sana. Apapun kegiatan yang kita sukai, entah itu menyanyi, memotret, uthek-uthek mesin, menggambar, browsing internet, bahkan menghayal pun bisa jadi investasi besar yang Allah berikan untuk kita bisa berkiprah demi islam di sana.
Bersyukurlah kita, karena salah satu visi pasangan terpilih ketua dan wakil ketua BEM IAIBAFA adalah mengoptimalkan potensi-potensi mahasiswa sehingga memasukkan UKM-UKM dengan beragam bidang ke dalam salah satu program kerjanya yang pada hari Sabtu, 14 Februari 2014 lalu telah resmi diluncurkan untuk kita. Besar harapan kami agar UKM-UKM ini kemudian bisa mewadahi bakat dan minat para mahasiswa dan bisa serupa mesin oven menjadikan para mahasiswa “matang” dengan berbagai potensi yang dimilikinya.
Akhirul kalam, semoga segala niat baik ini senantiasa bersambut keberkahan dari Allah Swt dan dimohonkan partisipasi dari segenap mahasiswa agar bersama-sama ikut andil menjadikan IAI BAFA perguruan tinggi islam yang multiple-intelligence, tak hanya benar di akidah, mantap di akhlak, hebat di keilmuan, namun juga keren di skill. (_tha)

(Sekali lagi seonggok tulisan ini merana tak sampai tujuannya. Dan sekali lagi juga, aku berterimakasih pada blog jadulku ini yang tak pernah sekalipun menolak tulisan-tulisan yang aku berikan untuknya) 

Sabtu, 14 Februari 2015

Integralistik Makna Segenggam Jabatan

Lazimnya sebuah janji, maka tanggung jawab haruslah ditepati. Memang inilah harapan yang senantiasa terajut dibalik arti kata sumpah, janji, persaksian, baiat, dan yang semacamnya. Bukan hanya pernyataan yang mengadat di antara para pejabat sebelum mereka menerima kekuasaan yang “menggembirakan” dengan warna-warni dunia atau minimal sebuah popularitas, pelantikan adalah sebuah prosesi sakral yang disaksikan oleh semesta akan kredibilitas mereka dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Senin, 2 Februari 2014. Perjanjian suci atas nama ilahi itu digemakan bersama pada acara pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Bani Fattah. Sebuah tim pioneer diminta kesaksiannya untuk mampu menjadi penggagas perubahan seiring dengan amanah nama istitut yang telah diberikan oleh pemerintah kepada kampus. Dengan dipimpin langsung oleh rektor IAI BAFA, Bapak KH. Abdul Holik Hasan, M.HI, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa IAI BAFA masa abdi 2015-2016 secara resmi dilantik. Dan mulai hari itulah segenap elemen kampus (yang diwakili oleh bapak rektor sendiri) menyatakan benar-benar menantikan kinerja-kinerja hebat BEM IAIBAFA.
Namun sangat disayangkan ketika kita menalisik kenyataan yang terbenam dibalik acara yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan bersama itu. Beberapa anggota BEM sendiri terkesan kurang menganggap penting acara tersebut. Hal ini terlihat dari prosentase kehadiran mereka yang tidak mencapai seratus persen tanpa adanya alasan yang jelas. Ironis memang, tapi selagi pemerintahan BEM belum terlanjur jauh berjalan, hendaknya pembangunan karakter dari masing-masing anggotanya dapat dijadikan salah satu fokus utama yang perlu digarap terlebih dahulu.
Permasalahan tampaknya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih seperti acara-acara kampus sebelumnya, acara ini pun mencapai angka kemoloran yang tidak lazim. Undangan yang bertuliskan jadwal acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan maksud akan diadakan gladi bersih terlebih dahulu di awal, ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, itu pun hanya dengan beberapa gelintir orang saja. Belum lagi ketika di tengah gladi bersih, ada salah seorang dosen yang menghendaki untuk masuk kelas dan lagi-lagi panitia penyelenggara tak bisa mengelak hingga akhirnya memilih untuk menunda acara inti sampai pukul 11.00 WIB. Ini benar-benar masalah yang sangat klasik di kampus kita karena persis seperti even terakhir yang tentunya masih segar dalam ingatan yakni acara pemilu raya, pelantikan ini pun sudah mendapatkan izin dari bapak rektor namun masih ada saja ketidak-sejalanan karena kurangnya sosialisasi. Lantas, haruskah yang seperti ini akan dibiarkan menjadi adat kita? Semoga saja tidak. Berkali-kali masalah yang sama terjadi seharusnya sudah bisa memberikan pelajaran sehingga hal yang semacam ini tidak akan terulang lagi.
Kembali berbicara tentang urgensi sebuah karakter, Harry S. Trauman mengatakan, “disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya.” Agaknya pernyataan ini tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bpk Saiful Hidayat Lc. Ditengah bobroknya moral para anggota-anggota BEM kampus-kampus lain bahkan kampus Islam negeri diluar sana, hendaknya kita mampu menjadikan status perguruan tinggi pesantren yang bercita-cita menjadi satu-satunya the center of tafaqquh fiddin ini sebagai mercusuar sehingga kita tidak sampai hati seperti mereka yang menyimpan beberapa kerat botol minuman keras di sekretariat BEMnya.
Inilah makna integral sebuah tanggung jawab yang semestinya disadari oleh para anggota BEM. Sebagai mahasiswa-mahasiswa IAI BAFA yang berada di gardu depan, tidak hanya melulu berkutat dengan proker-proker BEM, namun lebih dari itu seharusnya bisa menjadikan dirinya uswah. Minimal menjadikan disiplin diri sebagai prinsip utama yang selalu dipegang erat. Baik disiplin secara akademis, disiplin dalam berkeseharian, maupun disiplin dalam hal penghambaan. Maka, teruslah memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan menjalankan tanggung jawab ini secara integral. Karena Rasulullah pun menegaskan di penghujung dasyatnya perang badar bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang tentunya memang jauh lebih berat dari perang badar. (_tha)

Sabtu, 07 Februari 2015

"aku"ku

Hidup ini sama sekali tak butuh kepalsuan-kepalsuan itu. Seindah apa kau menghias topengmu, masa pasti akhirnya kan membuatnya berkerak juga. Maka tak ada yang salah ketika ada yang ingin membela "aku", karena "aku"ku adalah realita yang seharusnya bisa diterima. Hanya seekor liliputlah yang terus bertahan di dalam tempurung ke-"dia"-annya yang menurutnya besar, tapi hakikatnya kecil. Lantas kuucapkan "maaf" sajalah kepadamu.

"terkikiskah sebuah muru`ah?"
"Hinakah kornea yang mulai mengakrabi sekitar?"
"dan bisa kembalikah?"
atau singkatnya, "salahkah?"
Jawab sajalah sendiri dengan hati.
Cukup dengan hati. 

Jumat, 06 Februari 2015

An Usual Question about "Having"

we often know some cases between us about a demand having. Many people asks more to someone that they love. Not only in a special relationship of men and woman but also in a good friendship. As my experience with my closest friends before, one of us asked a question.

Tya : How if one day we must choose between us (friendship) and ourselves?for example one of us get her married and the other has a personal bussiness. Will you let your personal bussiness and come to the married?

Actually, it is a difficult question. No one can answer it easy. But at the last, we know that the real friendship not only come to the special even of her friends, but the most one is always connect in a great dimension. That is pray. Not only friendship that always be there in the sadness and happyness, but also always pray each other. And we hope our real friendship can be long last, even in the day after. We can meet allah and rasulullah together. Amiin :-)

Kamis, 05 Februari 2015

Susah di awal, kata mereka "Jangan Menyerah!"

Pemahaman manusia tentang seorang wanita yang mandiri ternyata berbeda-beda. Meski satu di banding sekian, tapi yang satu itu pun punya alasan logis yang bisa diterima. Dan tampaknya, saya terbawa yang yang sekian saja. Seperti kata Ahmad Rifa`i Rifan, the perfect muslimah has the perfect contribution independently.  :)

Sekedar berbagi cerita, sejujurnya ini adalah responsi saya dari sebuah buku yang saya baca "Belajar Bisnis Ala Rasulullah Selagi Mahasiswa Selagi Mahasiswa. Why not?" karangan Kang Wildan Fuady. Sebuah usaha sederhana, dengan modal seadanya, dan dengan segala keterbatasan kondisi saya, karena berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa pada umumnya, saya adalah mahasiswa yang hakikatnya seorang santri.

Menyikapi aturan pesantren yang begitu memulyakan para santriwatinya sehingga tidak diperkenankan untuk beranjang sana anjang sini kemana-mana, ragam bisnis yang bisa digeluti pun tak akan sebanyak mereka-mereka yang di luar sana. Tapi lagi-lagi itu bukan kendala, karena pepatah lama pun telah terlalu masyhur berkata "if there is a will, there is a way." dan inilah jalan yang saya ambil. Sebuah rintisan kecil tentang usaha yang diajarkan Rasulullah. Apalagi kalau bukan bertijaroh, menjadi seorang pedagang yang unggul dalam mutu dan kepribadian. Ah... jangan ditanya saya ini berdagang apa. Karena ini bukan bisnis yang membahana. ini hanyalah sebuah usaha kecil-kecilan yang terlampau biasa saja, tapi saya syukuri dengan sepenuh jiwa.

Berjualan bubur dan gorengan, miris kah? mungkin bagi sebagian orang iya, tapi bagi saya tentunya tidak. Apapun selagi halal, demi membantu orang tua, saya akan lakukan itu dengan hati yang bergembira. :) Seperti saat ini. Pagi-pagi menanti bulek (panggilan untuk wanita jawa yang lebih muda dari ibu kita) bubur mengantarkan dagangan, kemudian membawanya ke kampus dengan menggunakan tas belanja ala ibu-ibu ke pasar (red. jawa: tas anting) yang nggak jarang juga membuat teman-teman kampus mengejek saya karenanya, memanggil-manggil dengan berbagai sebutan aneh. "Ah... peduli amat."

Ya... saya pun sangat menikmati sensasi menjajakan dagangan saya. Tak jarang ada yang ngutang, tak jarang juga saya kesulitan memberikan uang kembalian. Belum lagi cerita tentang hari pertama saya berjualan bubur. Waktu yang sebenarnya masih terlalu pagi, namun betapa shooock-nya saya ketika melihat hampir semua bubur yang saya bawa basi dan sedihnya lagi, sudah banyak yang terlanjur membeli dan memakannya. Kala itu saya benar-benar merasa bersalah, merasa seakan-akan saya sama sekali tidak bisa untuk melanjutkan usaha ini, benar-benar terpuruk pokoknya. Padahal ini masih hari pertama, namun saya seketika itu juga merasa berada di ambang keputus asaan.

Sorenya saya bercerita kepada bulek bubur tentang kejadian mengenaskan ini. Beliaupun benar-benar minta maaf. Karena proses pembuatan bubur kacang hijau itu memang harus sukses dari awal sampai akhir, kalau saja ada salah satu kesalahan teknis seperti kehabisan gas elpigi, maka dampaknya akan membuat bubur itu nggak bisa bertahan lama dan sedihnya itulah yang terjadi di awal bisnis saya.

Maka, di hari itu Allah mengajari saya tentang kepercayaan pelanggan dan tentunya belajar untuk tidak patah arang. karena susah di awal, kata mereka "Jangan Menyerah!" dan Alhamdulillah, setelah esoknya kami mengganti bubur-bubur yang mereka beli, perlahan hasil penjualan saya pun semakin merangkak naik. kepercayaan pelanggan, kemampuan membaca pasar, juga teknik untuk berinovasi dalam berdagang pun semakin membaik.

Sekarang, terhitung mungkin sudah sebulan saya berdagang, alhamdulillah hasil yang didapat bisa jadi pengganti uang jajan yang dikirim oleh orang tua. Meski belum bisa mandiri secara keseluruhan, setidaknya inilah usaha saya untuk sampai kesana. Kebayang kalau di awal ketika saya mendapat cobaan bubur basi itu, saya sudah tumbang, pasti nggak akan ada cerita yang seperti ini, cerita to be the perfect muslimah, to give the perfect contribution independently. :) kontribusi untuk siapa? setidaknya untuk diri sendiri, untuk orang tua, dan untuk teman-teman (biar nggak perlu jauh2 jalan ke tempat jajanan.), dan yang penting diniatin aja usaha dagang ini buat menjalankan sunnah Rasulullah Saw, karena kata guru saya dulu pekerjaan yang paling disukai Rasulullah adalah berdagang.
wa lidzaalika min fadhli rabbiy...

Rabu, 28 Januari 2015

Inspiring School, Inspiring Dad... #proud of SMP Negeri 1 Mojoagung

Tulisan ini terinspirasi dari seorang lelaki hebat, pejuang ilmu untuk negaranya dan juga agamanya. Keterkaguman yang harusnya bisa kusadari dari lama, namun ternyata baru kuakui saat ini dengan begitu bangga.

Inilah Bapaknda saya, Bapaknda tercinta, Bapaknda terhebat,
 Bapaknda yang terlalu menginspirasi saya
Love you Dad :*

Jum`at, 16 Januari 2015
Selamat datang para pioner!! Selamat datang pendekar-pendekar inovatif!! Selamat datang pejuang-pejuang inspiratif!! dan selamat datang para pemilik cinta!!

Seakan kalimat penggubrak itulah yang menyambut kedatangan saya pertama. (Agak lebay mungkin ya? hahaha). Dari tempat mobil diparkirkan, sayup-sayup terdengar untaian kalam kerinduan itu disenandungkan. Ya... sekolah ini sekolah negeri. Sekolah negeri saudara-saudara... bukan sekolah agama yang sangat lazim terdengar senandung-senandung sholawat di sudut-sudutnya, dan saya pun mulai terperangah.

Sedang di sisi kanan saya, seorang lelaki berbaju koko putih berjalan sudah sangat tergopoh. "Tuh, mbak... anak-anak udah pada baca sholawat" wajah merasa bersalahnya terlihat sangat jelas. Saya paham maksud kata-kata itu, Bapak telat. Dan bisa jadi seperti biasa, telat gara-gara saya. :D

Saya pun melanjutkan misi penguntitan saya. memang sesekali kita para anak, harusnya bisa meluangkan waktu untuk tahu persis bagaimana kedua orang tua membanting tulang. Selain agar kita bisa lebih menghargai kerja keras mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran dari mereka. Seperti saya saat itu, hingga saya bisa berucap, " Ibu... betapa beruntungnya engkau mendapat seorang lelaki seperti beliau."

Kesan selanjutnya, "Bapakku ternyata tidak kalah dengan Bu Risma, wali kota Surabaya itu." aksi blusukan ternyata juga telah menjadi karakter kepemimpinannya. kreasi-kreasi yang sangat inovatif begitu menunjang sarana prasarana sekolah. Sebuah sekolah negeri, namanya SMP Negeri 1 Mojoagung disulap oleh beliau menjadi sebuah lapangan dakwah. Masih dengan inovasinya yang dipoles dengan beberapa kecakapan teknoligi terkini, sebuah stasiun TV intern sekolah didirikannya. TV OSPIMA. 

Mungkin yang semacam ini memang sudah ada pula di beberapa sekolah, menjadikan TV sebagai salah satu wasaailutta`lim. Tapi disini, di kabupaten jombang ini, satu-satunya sekolah negeri yang mempunyai stasiun TV hanya sekolah itu. Sekolah bapak saya dan atas ide bapak saya (Duhh... ngefansnya sama Bapak. hehehe)

Hebatnya lagi, dengan TV OSPIMA ini syiar islam bisa tersampaikan lebih efektif, dan saya yakin memang inilah tujuan yang dibidik olehnya, membuat suatu sarana pendidikan yang lebih efektif karena lebih diminati para siswa. Anak jaman sekarang mana coba yang nggak suka nonton TV? Hampir semuanya sudah terlalu ketergantungan sama layar bergerak ini, dan atas fakta yang seringkali dirisaukan para orang tua itulah studio TV itu dibangun lengkap dengan kru serta peralatan-peralatannya.

Melalui TV yang dipasang di kelas-kelas, tiap ada kegiatan  tidak perlu lagi sekolah buat menyiapkan aula besar atau minimal tanah lapang beratap yang harus bisa menampung 900an siswa. Hanya tinggal menghadirkan para wali kelas mendampingi murid-murid untuk menonton TV bersama, kegiatan sudah berjalan jauh lebih efektif, tentunya tanpa duduk berdesak-desakan, tanpa gerah, dan tanpa resiko ketidak kondusifan yang lain. Lebih dari itu, sekolah ini menakjubkan. Di acara peringatan maulid nabi muhammad, saya mendengar sendiri murid-murid SMPN 1 Mojoagung membaca maulid diba`i bersama, putra-putri mengkisahkan tentang manusia teristimewa Kanjeng Nabi Muhammad SAW, menyenandungkan sholawat tanda cinta, dan mendengar tausiyah-tausiyah penuh makna. Allah... bahagia nya...

Lanjut mengintip kinerja para kru dan pengisi acara di studio ukuran 2x3 meteran mungkin. Dengan peralatan yang tentunya belum bisa menyamai stasiun-stasiun TV nasional kayak RCTI, MNC, atau TV-TV yang lain, adek-adek kru ini sudah tampak profesional sekali (hahaha... karena saya semdiri pun belum bisa yang begituan). Seorang mengatur tampilan gambar, seorang lagi mengatur kualitas suara, dan satu lagi memastikan tampilannya akan bagus, yang mana kala itu sedang berlaga di depan kamera sepasang presenter handal. Wah... benar-benar ketrampilan yang patut diacungi jempol. Bisa dijadiin bekal di masa depan itu dek :)

Di ruangan yang lain, beberapa siswi sedang sibuk mempersiapkan penampilan mereka. tanga-tangan mereka memegang kitab maulid diba`, "oh... pasti mereka mau tampil sholawatan," saya asal menebak, dan ternyata apa yang disampaikan bapak membenarkan tebakan saya. Tak jauh dari tempat saya berdiri, ada seorang bocah laki-laki berpeci, berkoko, dan bersurban yang akhirnya saya tahu dialah sang ustad kecil. Tausiyahnya terdengar keren. bahkan jika dibandingkan dengan saya, dia jauh lebih istimewa. hehehe...

Well, itu hanya sekedar cerita. Tentang sebuah perjalanan yang saya pun sangat tidak menyangka. Betapa bapak saya keren, betapa sekolah itu keren, dan betapa murid-muridnya juga keren. Meskipun bapak saya bukanlah ulama dengan keilmuan islam yang mendalam, namun beliau sangat bisa mengajarkan saya untuk menjadikan tempat bekerja sebagai ladang dakwah kita mendulang pahala. Maka, saya pun semakin yakin, siapa pun dia, bagaimana pun keadaannya, kapan pun waktunya, dan dimana pun dia berada, tetap sangatlah bisa melakukan sesuatu untuk agamanya, menyiarkan islam kepada sesama. 
Good Job Daddy. it is more than just learning. Love you so much. 

Ini ceritanya adik-adik lagi latihan sholawatan sebelum tampil. Itu ada Pak gurunya. Kata Bapak sih namanya Pak Kholis, santri Kalibening. 


Ini voice center dimana ada adik siswi yang lagi mimpin baca diba`. keren ya? selama sekolah dulu kayaknya nggak pernah nemuin yang kayak gini deh...


Ini adik-adik presenternya. mereka pede-pede bangetlah. jadi inget jaman masih muda dulu. :D


Kru TV OSPIMA, keren-keren ya? bahkan di usia semuda itu mereka udah dapet kesempatan menguasai ilmu pertelevisian


La... ini nih. Tampak kondusif sekali bukan? khusyuuk banget bacanya


Ini TV yang lagi nyiarin acara maulidan SMPN 1 Mojoagung, ada di masing-masing kelas


Marilah kita saksikan bersama penampilan sholawat dari grup sholawat SMPN 1 Mojoagung. prook...prook...prook... :)




Senin, 12 Januari 2015

Adakah yang lebih menyenangkan?

Ya... Adakah yang lebih menyenangkan dari mendengar sahabat-sahabat kita telah sukses disana? :)
Saya rasa tidak ada yang lebih menyenangkan dan lebih memotivasi dari pada itu. Tanpa disadari untaian syukur terucap indah untukmu. Selamat kawan...

Menelisik hari-hari dengan kembali membuka tabir kesendirian ini, maka saya pun menemukan kabar-kabar baru itu. Seperti yang pernah saya bilang, cukup lama menghilang berarti cukup lama kehilangan. Salah satunya adalah kehilangan kabar kalian.

Sempat setelah sekian lama deactive-kan akun-akun sosmed, juga nomor yang bisa dihubungi, saya merasakan kerinduan itu. Apa kabar kalian? mungkin kata itu sudah terus saya ulang dengan berbagai orang berbeda, meski sesungguhnya lebih banyak lagi luapan rasa yang ingin saya sampaikan, bahkan jika boleh peluk cium jauh untuk kalian. hehe lebay ya?

Menghitung-hitung bilangan hari saat terakhir kali saya menggunakan seragam putih abu-abu di sekolah yang kata orang bergengsi itu, ah... sudah bukan terbilang hari lagi, sudah tahun malah, nggak kerasa  hampir 4 tahun terhitung sejak masa itu. Dan betapa bahagianya, ketika kebiasaan stalking saya akhirnya berbuah senyuman-senyuman terkembang. Ya karena kabar kehidupan kalian itu ternyata sungguh membanggakan saya. Semoga kalian tetap paripurna di sana, di dunia dimana kalian hendak memintal benang-benang keridhoanNya.

Kudengar, kau disana menjadi pegawai direktorat perpajakan ya? Ah... aku sudah sempat menduga, kau terlalu layak untuk sebuah kesuksesan, Aku ingat, kau dulu adalah saingan yang cukup mengancam tentunya, bahkan seringkali mengalahkan. Hahaha (Padahal kalah, tapi sok sekali ya saya). Kau adalah pemuda pinggiran yang menakjubkan. Ketaatanmu, kecerdasanmu, kegigihanmu, kesederhanaanmu, kesungguhanmu berpegang pada komitmen. (meskipun dulu aku sebal sekali melihat kau yang terlalu kaku dan ternyata perpajakan indonesia sangat membutuhkan itu. Hahaha... maafkan aku teman.)

Aku pun masih ingat saat kita seringkali disuruh diam oleh Bu Yohana ketika beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan ke seisi kelas. Kita terpaksa diam, menahan diri yang sebenarnya sudah teramat tak sabar melahap soal-soal matematika yang beliau lemparkan. Hahaha... lucu sekali untuk dikenang.

Dan semoga apa yang kau harapkan segera turwujud. Aku bisa membaca hatimu kawan. Kau pria yang sudah terlanjur memberikan segenap ketulusan pada seorang bidadari yang aku yakin dia lebih indah dari pelangi. Maka kudo`akan Allah segera memberikan maghrib untuk kalian, sehingga waktu puasa kalian usai dan tibalah berbuka dalam kehalalan yang diridhoinya. Amiin. Salam keberkahan selalu untukmu:)