Senin, 12 Januari 2015

Adakah yang lebih menyenangkan?

Ya... Adakah yang lebih menyenangkan dari mendengar sahabat-sahabat kita telah sukses disana? :)
Saya rasa tidak ada yang lebih menyenangkan dan lebih memotivasi dari pada itu. Tanpa disadari untaian syukur terucap indah untukmu. Selamat kawan...

Menelisik hari-hari dengan kembali membuka tabir kesendirian ini, maka saya pun menemukan kabar-kabar baru itu. Seperti yang pernah saya bilang, cukup lama menghilang berarti cukup lama kehilangan. Salah satunya adalah kehilangan kabar kalian.

Sempat setelah sekian lama deactive-kan akun-akun sosmed, juga nomor yang bisa dihubungi, saya merasakan kerinduan itu. Apa kabar kalian? mungkin kata itu sudah terus saya ulang dengan berbagai orang berbeda, meski sesungguhnya lebih banyak lagi luapan rasa yang ingin saya sampaikan, bahkan jika boleh peluk cium jauh untuk kalian. hehe lebay ya?

Menghitung-hitung bilangan hari saat terakhir kali saya menggunakan seragam putih abu-abu di sekolah yang kata orang bergengsi itu, ah... sudah bukan terbilang hari lagi, sudah tahun malah, nggak kerasa  hampir 4 tahun terhitung sejak masa itu. Dan betapa bahagianya, ketika kebiasaan stalking saya akhirnya berbuah senyuman-senyuman terkembang. Ya karena kabar kehidupan kalian itu ternyata sungguh membanggakan saya. Semoga kalian tetap paripurna di sana, di dunia dimana kalian hendak memintal benang-benang keridhoanNya.

Kudengar, kau disana menjadi pegawai direktorat perpajakan ya? Ah... aku sudah sempat menduga, kau terlalu layak untuk sebuah kesuksesan, Aku ingat, kau dulu adalah saingan yang cukup mengancam tentunya, bahkan seringkali mengalahkan. Hahaha (Padahal kalah, tapi sok sekali ya saya). Kau adalah pemuda pinggiran yang menakjubkan. Ketaatanmu, kecerdasanmu, kegigihanmu, kesederhanaanmu, kesungguhanmu berpegang pada komitmen. (meskipun dulu aku sebal sekali melihat kau yang terlalu kaku dan ternyata perpajakan indonesia sangat membutuhkan itu. Hahaha... maafkan aku teman.)

Aku pun masih ingat saat kita seringkali disuruh diam oleh Bu Yohana ketika beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan ke seisi kelas. Kita terpaksa diam, menahan diri yang sebenarnya sudah teramat tak sabar melahap soal-soal matematika yang beliau lemparkan. Hahaha... lucu sekali untuk dikenang.

Dan semoga apa yang kau harapkan segera turwujud. Aku bisa membaca hatimu kawan. Kau pria yang sudah terlanjur memberikan segenap ketulusan pada seorang bidadari yang aku yakin dia lebih indah dari pelangi. Maka kudo`akan Allah segera memberikan maghrib untuk kalian, sehingga waktu puasa kalian usai dan tibalah berbuka dalam kehalalan yang diridhoinya. Amiin. Salam keberkahan selalu untukmu:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar