Naskah ini mungkin tidak pantas. Jelas tidak pantas malahan. Karena Allah pasti tahu, meskipun jutaan pembaca bisa jadi tidak tahu. Karena menulis itu bukanlah sebuah topeng yang luar dan dalamnya berbeda. Bukan seperti itu. Menulis membutuhkan ruh si penulisnya, ketika senang maka teramat susah untuk menghadirkan kesedihannya dalam tulisan. Ketika sedih, malah semakin susah untuk pura-pura bahagia meskipun hanya dalam rangkaian aksaranya.
Lantas, tulisan kemarin itu kusadari memang terlalu menipu. Terlalu membualkan kata-kata cinta. cinta palsu!! Cinta kosong!! Sangat berbeda antara apa yang disampaikan si penulis dan apa yang dirasakannya.
Masih sehubungan dengan reduksi yang kemarin kukata. Ya, aku menjustifikasi diriku sendiri. Tulisan itu benar-benar tanpa ruh. Tulisan tentang cinta rasul itu tak sedang benar-benar kutuliskan dengan segenap cinta. Hingga akhirnya ketika dia benar-benar telah rampung, hanya tinggal save. Allah menghendaki tanganku tergerak untuk memencet "no". sebuah unconsiderity di waktu yang sangat tidak memungkinkan untuk mengulang. Yah... lantas kuikhlaskan sajalah semua. tak ada yang perlu disesali, yang ada hanyalah sebuah perbaikan diri.
Jangan terlalu menyepelekan pekerjaan, kalau ada waktu luang, segera kerjakan!! karena terburu2 adalah sifat syeitanand the main point
Reduksi itu harus diatasi !! Jangan biarkan ia semakin tereduksi. Silahkan menyusun kembali tangga-tangga cinta kepadanya kekasih sejati Rasulillah Muhammad SAW.Allah... Kau lah yang Maha memberi cinta. Maka anugrahkanlah cinta itu untukmu, seperti cintamu pada kekasihmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar