Tampilkan postingan dengan label SCUSBJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCUSBJ. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 4 (7 januari 2014)
Assalamualaikum cinta. Apa kabar kau disana?
Hari ini, masih dengan beribu cinta aku menuliskannya. Mendiksikan satu demi satu kata, yang masih berupa titik buta. Buta akan suatu bayangan raga. Meski hati masih mampu bertahan dalam samudra kesetiaan cinta.

Cinta…
Betapa kau tahu, aku kini telah terlalu bersahabat dengan derai air mata Tuhan. Iya,,, dari hujan aku sungguh merasakan tenang. Melodi gemericiknya seakan mengisyaratkan Tuhan sedang mendekapku dalam pelukan. Aku mungkin memang terlalu dermawan untuk membagi makna kesedihan. Dan kumau, bukan cercaan atas sebuah kecengengan. Namun belaian genggaman serta pelukan yang menentramkan.

Cinta…
Aku tak pernah terbayang bagaimana jika kelak aku bertemu denganmu. Terlebih untuk meraih hatimu. Entahlah… anganku sempat mengatakan kelak kaupun akan sama seperti mereka. Menatapku dengan pandangan yang tak sempurna. Melirik picik melihat tampilanku yang sungguh tak menarik. Lagi-lagi karena aku memang gadis berjelaga yang tak istimewa. Terbalut dalam busana yang terkesan kedodoran. Iya cinta… Aku adalah wanita berjilbab lebar yang sedang bertahan melawan deburan arus lingkungan. Tatkala aku bersanding dengan para jilbaber lainnya aku bertahan untuk tetap ahli sunnah wal jamaah. Tatkala aku bersanding dengan ahli sunnah wal jama`ah, aku bertahan dengan jilbab  besarku.

Cinta…
Akupun tak pernah tahu seleramu seperti apa. Yang selalu kuyakini hanyalah “ketika kelak kau dijodohkan Allah denganku, maka akulah seleramu” dan semoga yang kuyakini itulah yang kelak akan menjadi nyata. Entahlah. Sebenarnya akupun tahu menutup aurat itu kewajiban. Tapi bagiku, menggunakan kerudung lebar iru menentramkan. Mengenakan baju lebar itu menyejukkan, bahkan bercadar itu mengagumkan. Jujur, aku takut dengan pertemuan kita. Apakah kau suka dengan penampilanku, atau kau malah malu dengan aku yang seperti ini. Atau mungkin kau risih dengan diriku atau bahkan ikut-ikutan seperti mereka yang mengataiku sok alim? Jujur,,, aku takut. Aku sangat takut.

Cinta…
Terkadang aku pernah merasa ingin seperti mereka. Berdandan agar tampak menawan di hadapan pria. Berpakaian yang menarik serta menebar senyum ke semua mata. Namun, lagi-lagi aku diingatkan bahwa semua itu percuma. Hanya akan menimbulkan fitnah belaka. Dan akhirnya kembalilah aku pada styleku ini. Meski sebagai wanita, aku tetap merasa sebal dengan para jerawat yang mulai datang berhamburan. Juga warna kulit yang cukup berjelaga, namun akhirnya aku merasa diistimewakan oleh Allah dengan keadaanku yang tidak begitu cantik ini sehingga tak ada lelaki yang mau menggodaku.

Cinta…
Inilah aku. Wanita biasa yang telah dijodohkan oleh Allah untukmu. Mungkin kaupun tak pernah tahu. Betapa hebatnya dia Sang Idolaku. Dia adalah wanita yang mulia. Wanita yang sangat menjaga. Juga istri yang sangat setia. Aku ingin seperti dia. Meski aku mungkin terlalu hina untuk mengidamkan mutiara. Namun sungguh aku ingin sepertinya. Sayyidatuna Fathimah az Zahra binti Rasulillah SAW. Seorang wanita terhebat allah. Iya, di saat banyak orang mencelaku karena kerudung besarku, ku harap kau mampu pahami apa motivasiku. Karena aku adalah muslimah. Muslimah yang selalu mendamba menjadi wanita sholehah kebanggaan Rasulallah SAW.

Cinta…
Sungguh aku sangat lega bisa mengatakan ini semua. Hari ini aku memang sempat dibuat kesal oleh seorang teman yang sedikit berkata pahit tentang styleku. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa plong dan kembali menyadari inilah susahnya berjihad. Membela tegaknya kemulyaan atas dasar islam. Inilah ujiannya untuk mampu komitmen dengan agama. Namun aku yakin takkan ada apa-apanya semua ini jika dibanding ujian yang diterima Rasulallah SAW dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam kala itu. Dan aku harap ujian ini akan semakin mengantarku pada sesimpul senyum bangga beliau Sang kekasih Allah. Allahumma Sholli ala sayyidinaa Muhammad.

Cinta…
Sudah dulu ya, cukup panjang suratku kali ini. Aku harap kau tak pernah jemu dengan berpucuk-pucuk untaian aksara cintaku. O iya,,, kali ini aku tak lagi memohon agar kita segera dipertemukan. Biarlah hati ini sudah tak sabar untuk menanti pertemuanku denganmu, namun tetaplah Allah yang Maha Tahu. Allah akan selalu memilihkan yang terbaik. Untukku dan untukmu. Pesanku cukup satu. Tetaplah istiqomah dalam upaya pemantasan diri. Terus upgrade diri untuk pertemuan kita suatu saat nanti dan kita akan bersama merajut pelangi-pelangi cinta Allah dalam bahtera yang sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin.

Wassalamualaikum…
Salam keselamatan untuk kau yang tercinta



Sabtu, 01 Februari 2014

Surat cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 3 (6 Januari 2014)


Assalamualaikum…
Maaf, sepertinya cukup lama aku tak mengabarkan hariku kepadamu. Hehehe… ternyata aku juga merasakan rindu untuk berkisah bersamamu. Apa kabar? Semoga kau senantiasa baik ya di sana.
Aku tahu, waktu memang tak pernah mau menunggu. Ia terus menggulir. Meninggalkan siapapun yang tak merasa ditunggu. Iya, tak terasa hari ini sudah hari ke 6 di bulan Januari 2014. Pergantian hari tak pernah kusesali karena ia semakin mengantarkanku pada pertemuan itu, pertemuan dengan mu dan pertemuan dengan Rabbku.

Kasih,,,
Aku hanya ingin membagi nikmatnya bercinta dengan seorang kekasih yang haqiqi. Saking nikmatnya, aku tak pernah berhenti untuk memohon cinta ini selalu ada di hatiku. Maaf… kita memang tidak patut membagi hati. Kecuali mambagi hati hanya kepada yang memiliki hati dan kekasih Sang pemilik hati tersebut. Iya cinta. Mungkin kelak ketika aku bertemu denganmu, cintaku akan tersengkut padamu, tapi lagi-lagi cinta itu hanya akan kujadikan sarana untuk meraih cinta haqiqiku, dan kuharap kau pun bisa memahami atau bahkan berpinsrip seperti itu juga.

Cinta,,,
Aku tak pernah bermaksud membuatmu cemburu. Hanya saja aku bermaksud untuk membuatmu turut mencinta apa yang selalu aku cinta. Bahkan semua katapun tak mampu untuk mengungkap indah akhlaknya, elok lahirnya, dan mulia derajatnya. Nabi Muhammad adalah yang terindah sepanjang zaman. Tanpa cahayanya, Allahpun takkan berkenan menciptakan alam semesta. Namanya tertulis banyak di surga hingga Nabi Adam as. Bertanya-tanya siapakah gerangan nama yang diagungkan di sana.

Iya Cinta…
Betapa aku ingin mengenalnya lebih dekat. Betapa aku ingin semakin mencintainya karena Allahpun sangat mencintainya. Betapa aku ingin bertemu dengannya. Betapa aku ingin menatap paras menawannya. Betapa aku ingin mencium aroma harumnya. Betapa aku ingin duduk bersanding bersamanya. Betapa aku ingin mendapatkan syafaatnya. Betapa aku ingin menjadi umat yang dibanggakan olehnya.
Assholatu alaika Ya Rasulallah… Assholatu alaika Ya Nabiyallah… Assholatu alaika Ya habiballah. Ya Rasulallah, undhurniy… undhurniy Ya Rasulallah…
Dan Rasulallah pernah bersabda, man ahabbaniy fa huwa ma`iy fil jannah.

Kasih…
Aku ingin kelak kita berdua bisa bersama dengan Nabi Muhammad. Berkumpul bersama mereka-mereka para pecinta Nabi Muhammad SAW. Dan sekarang aku ingin mengajakmu menapaki tangga-tangga cinta itu. Mari kita bersama jadikan hari-hari kita adalah untuk mencari keridhoan Allah. Menjadikan keluarga kita kelak keluarga para pecinta rasul yang ramai dengan sholawat, yang senang dengan sunnah, yang bangga dengan khoirul bariyyah, Rasulullah Muhammad SAW.
Hari ini sudah sangat dekat dengan hari ulang tahun Rasulullah. Mari kita tunjukkan betapa kita berbahagia dengan kelahiran insan termulia sepanjang zaman ini. Siapkan kado terbaik kita untuknya. Hadirkan beliau dalam setiap langkah kita. Hidupkan sunnahnya. J
Dan kita serukan bersama “ KAMI MENCINTAIMU YA RASULALLAH” Allahumma sholli wa sallim ala sayyidinaa Muhammad J

Cinta…
Karena aku selalu berharap kaulah pendampingku dunia akhirat, maka aku pun selalu berharap kelak kita sama-sama di surga. Aku selalu ingin kita menjadi pasangan yang saling mengingatkan karena Allah. Menjadi orang tua yang selalu mengingatkan anak cucu kita kepada Allah dan Rasulallah SAW. Semoga kaupun senang dengan rencana hidupku ini.
Wassalamualaikum wr. wb.
Salam cinta kami Ya Rasulallah SAW…

Rabu, 29 Januari 2014

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 2 (2 Januari 2014)


Assalamu`alaikum wr. wb
Ini surat keduaku untukmu. Aku harap kau tak pernah bosan mengurai satu per satu ungkapan rasaku ini kepadamu. Masih dalam keadaan yang sama. Dalam keadaan aku tak tahu siapa dirimu dan dalam keadaan aku selalu menanti dirimu.

Angin malam senantiasa mampu semaikan sendu, pada hati yang sendiri teramat pilu. Ya,,, kakiku telah banyak jelajahi waktu seorang diri. Menelisik hari-hari tanpa adanya penjaga hati. Matakupun telah lelah menatap indahnya sang mentari sendiri. Tanpa adanya tempat berbagi. Bahkan dalam pekatnya malam, aku cenderung diam atau sekedar berceloteh bersama rembulan, yang terkadang juga berkawankan bintang gemintang. Karenanya, kepadamu dengan sepenuh hati, kusampaikan untaian rasa rinduku ini.

Wahai Sang Pangeran. Aku mungkin memang masih teramat muda untuk berani menantang dunia. Umurku masih 20 tahun, meski pergantian tahun akan selalu membawaku ke titik yang mematangkan diriku. Aku juga masih belum tahu tentang lika-liku cinta dalam suatu bahtera. Kendati demikian, aku sungguh merasa tak tahan melihat dunia yang kian hari kian menggenit dengan segala godanya.

Aku mungkin memang bukan wanita cantik selaksa bidadari. Aku juga bukan wanita cemerlang selaksa para kunang yang menghiasi malam. Namun aku selalu percaya, dongeng Cinderella itu akan benar adanya di dunia nyata. Ya, Seorang pangeran untuk gadis berjelaga seperti Cinderella. Mungkin kini aku masih seperti Cinderalla, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi istimewa dalam perjumpaanku denganmu.  Karena aku juga meyakini bahwasanya jodoh itu laiknya cermin. Tak akan ada Seorang Pangeran yang berjodoh dengan wanita biasa, terlebih wanita hina. Karena Cinderellapun meski ia hanya gadis berjelaga tapi jiwa sang putri itu bertahta indah dalam dadanya. Dia baik, ramah, sabar, penyayang, dan penurut. Minimal aku harus terus melatih diriku untuk memiliki hati seindah hati tuan putri sebelum pertemuanku denganmu, dan akan terus memperbaiki diri, karena Allah hanya menjanjikan seorang  pria sholeh ntuk wanita yang sholehah. 

Meskipun tak kunjung ada ikatan diantara kita, namun aku tak pernah sedetikpun melepaskanmu dari kucuran do`aku untukmu. Biar aku tak pernah berada disisimu, namun ada Allah yang selalu kutitipi dirimu dimanapun langkahmu tertuju. Dalam tengadah kedua tanganku ini, aku senantiasa memohon agar Allah selalu menjagamu, memudahkan langkahmu, memberikan keberkahan hidup kepadamu, memperbaiki hari-harimu dan tentunya semakin mendekatkanmu kepadaku duhai Engkau calon imamku. Mungkin selain do`a, aku masih belum bisa menunjukkan cintaku untukmu. Bagaimana aku bisa mengabdikan diriku padamu, melayanimu, dan melengkapi harimu, bahkan siapa dirimu saja aku belum tahu.

Wahai Sang Pelengkap hati, mungkin kita memang belum saling mengenal. Namun aku yakin, seiring bumi berputar pada porosnya, kita akan bisa saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin tak usah kau menunggu masa itu tiba untuk mengenalku, karena aku sangat bersedia menyelipkan sedikit demi sedikit pencitraan jiwa dan ragaku ini melalui pucuk-pucuk surat yang kutuliskan untukmu.

Dan kurasa, mungkin kucukupkan dulu tulisan keduaku ini. Masih dengan harapan yang sama. Semoga Allah segera mempersatukan kita. Semoga Allah segera membimbing jalanmu untuk menjemput diriku. Insyaallah di surat-surat selanjutnya, aku akan mulai bercerita tentang pribadiku, tentang segala kurang dan lebihnya aku, juga tentang masa lalu yang turut membangun kedewasaanku. Aku juga akan bercerita tentang keluargaku, teman-teman, dan... ah, aku jadi semakin tak sabar ingin bertemu denganmu. Baik-baik dulu ya disana. Sampai bertemu di lain waktu.

Wassalamualaikum wr. wb.

Salam cinta dari Sang belahan jiwamu. 
Vita al-Hikmah

Minggu, 26 Januari 2014

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 1 (31 Desember 2013)


Assalamu`alaikum. :)

Semoga segenap cinta dan kasih sayang Allah senantiasa terlipah padamu, wahai seseorang yang terpilih untukku. Kiranya, Bagaimanakah kabarmu disana? Di tempat yang hingga kini tak kunjung kuketahui dimana letaknya. Disana, Apakah kau sedang dalam proses perbaikan diri sepertiku? Apa kau juga sedang mempersiapkan dirimu untuk bertemu denganku? Atau kau sedang berikhtiyar untuk menemukan cinta sejati seperti diriku? Ya,,, aku tahu betapa Allah itu teramat istimewa. Selalu rangkaikan kisah cinta yang penuh dengan tanda tanya. Meski cinta itu terkesan sederhana, tapi Allah selalu saja bisa membuat kita terus belajar memaknai cinta yang sesungguhnya.

Hai,,, Bagaimana aku harus memanggilmu? Bahkan sampai saat ini saja aku tak tahu namamu. Yang aku tahu hanya kau adalah orang yang baik, orang yang sholeh, santun, dan sayang kepadaku. Karena itu yang telah Allah kabarkan sebagai jawaban atas do’aku. Aku selalu percaya itu. Karena akupun selalu berusaha menjadi seperti itu. Baik, sholehah, santun, dan sayang kepadamu. Meski aku masih pernah mengucapkan nada tinggi ke orang tuaku, tapi jujur setelah itu terjadi aku menyesal setengah mati. Dan akhirnya aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. :)

Aku juga berusaha untuk bisa selalu menyayangimu. Mencintai janji Allah akan hadirnya dirimu pada waktu yang telah ditentukan itu. Iya, saat ini aku sedang mempersiapkan hatiku untukmu. aku selalu memohon kepada Allah, agar Allah menjaga kesucian hatiku. Aku tak ingin cinta-cinta masa laluku masih membekas ketika kelak aku bertemu denganmu. Dan ternyata Allah memberiku kisah ini. Kisah yang buatku tak mau lagi bermain cinta tanpa adanya kata qobiltu. Aku ingin benar-benar mengutuhkan cintaku ini hanya untukmu. Untuk seseorang yang akan menuntunku pada cinta haqiqi yang satu.

Wahai sepenggal nama yang tlah tertulis bersama namaku di lauhul mahfudz, Inilah aku. Seseorang yang telah lama menantimu. Aku hanya wanita biasa. Yang tak pernah luput dari cela dan dosa. Mungkin kelak kau akan temukanku dengan segala kurangku, namun aku yakin. Hanyalah kau orang yang akan tetap bisa menerimaku, melengkapi kurangku, dan selalu membimbingku. Karena itu Allah kirimkan kau untukku. Maka akupun akan berusaha menjadi seperti itu. Tulus menerimamu, melengkapi kurangmu, dan menjadi makmum yang baik untukmu.

Wahai Sang ksatria hati, ini pertama kalinya kukirimkan surat untukmu. Entah kapan untaian aksaraku ini bisa tersampai kepadamu. Yang jelas aku akan tetap menulis. Karena dengan tulisan ini kuharap hati  kita bisa menjadi dekat, hingga kau semakin mendekat dan waktu itupun tiba. Waktu yang mempertemukan kita dalam mahligai cinta nan suci. Hingga masa itu, kuingin kau tetap bersabar memeluk waktu. Sembari terus mengupgrade dirimu. Salam kenal dari diriku. Meski tak pernah jua ku tahu kapan kita akan bertemu. 

Sudah dulu ya, aku banyak kerjaan. Tugas dari Pak Ma`shum juga ustadzah Luluk belum ada yang selesai. Padahal liburanku tinggal 2 hari lagi. Insyaallah, aku tak akan pernah jemu untuk menorehkan kisah-kisahku dalam Surat cinta ini. Indahlah kau disana. Semoga Allah senantiasa melindungimu dan memudahkan langkahmu. Aamiin…

Wassalamualaikum :)
Salam kasih untuk yang terkasih.