Edisi 2 (2 Januari 2014)
Assalamu`alaikum wr. wb
Ini surat keduaku untukmu. Aku harap kau tak pernah bosan
mengurai satu per satu ungkapan rasaku ini kepadamu. Masih dalam
keadaan yang sama. Dalam keadaan aku tak tahu siapa dirimu dan dalam keadaan
aku selalu menanti dirimu.
Angin malam senantiasa mampu semaikan sendu, pada hati yang
sendiri teramat pilu. Ya,,, kakiku telah banyak jelajahi waktu seorang diri.
Menelisik hari-hari tanpa adanya penjaga hati. Matakupun telah lelah menatap
indahnya sang mentari sendiri. Tanpa adanya tempat berbagi. Bahkan dalam
pekatnya malam, aku cenderung diam atau sekedar berceloteh bersama rembulan, yang terkadang juga berkawankan bintang gemintang. Karenanya, kepadamu dengan sepenuh hati, kusampaikan untaian rasa rinduku ini.
Wahai Sang Pangeran. Aku mungkin memang masih teramat muda
untuk berani menantang dunia. Umurku masih 20 tahun, meski pergantian
tahun akan selalu membawaku ke titik yang mematangkan diriku. Aku juga
masih belum tahu tentang lika-liku cinta dalam suatu bahtera. Kendati demikian, aku sungguh merasa tak tahan melihat dunia yang kian hari kian menggenit dengan segala godanya.
Aku mungkin memang bukan wanita cantik selaksa bidadari. Aku
juga bukan wanita cemerlang selaksa para kunang yang menghiasi malam. Namun aku
selalu percaya, dongeng Cinderella itu akan benar adanya di dunia nyata. Ya,
Seorang pangeran untuk gadis berjelaga seperti Cinderella. Mungkin kini aku
masih seperti Cinderalla, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi istimewa
dalam perjumpaanku denganmu. Karena aku juga meyakini bahwasanya jodoh itu
laiknya cermin. Tak akan ada Seorang Pangeran yang berjodoh dengan wanita
biasa, terlebih wanita hina. Karena Cinderellapun meski ia hanya gadis
berjelaga tapi jiwa sang putri itu bertahta indah dalam dadanya. Dia baik, ramah,
sabar, penyayang, dan penurut. Minimal aku harus terus melatih diriku
untuk memiliki hati seindah hati tuan putri sebelum pertemuanku denganmu, dan akan
terus memperbaiki diri, karena Allah hanya menjanjikan seorang pria sholeh ntuk wanita yang
sholehah.
Meskipun tak kunjung ada ikatan diantara kita, namun aku tak
pernah sedetikpun melepaskanmu dari kucuran do`aku untukmu. Biar aku tak pernah
berada disisimu, namun ada Allah yang selalu kutitipi dirimu dimanapun
langkahmu tertuju. Dalam tengadah kedua tanganku ini, aku senantiasa
memohon agar Allah selalu menjagamu, memudahkan langkahmu,
memberikan keberkahan hidup kepadamu, memperbaiki hari-harimu dan tentunya
semakin mendekatkanmu kepadaku duhai Engkau calon imamku. Mungkin selain do`a,
aku masih belum bisa menunjukkan cintaku untukmu. Bagaimana aku bisa
mengabdikan diriku padamu, melayanimu, dan melengkapi harimu, bahkan siapa
dirimu saja aku belum tahu.
Wahai Sang Pelengkap hati, mungkin kita memang belum saling
mengenal. Namun aku yakin, seiring bumi berputar pada porosnya, kita akan bisa
saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin tak usah kau menunggu masa itu
tiba untuk mengenalku, karena aku sangat bersedia menyelipkan sedikit demi
sedikit pencitraan jiwa dan ragaku ini melalui pucuk-pucuk surat yang
kutuliskan untukmu.
Dan kurasa, mungkin kucukupkan dulu tulisan keduaku ini.
Masih dengan harapan yang sama. Semoga Allah segera mempersatukan kita. Semoga Allah
segera membimbing jalanmu untuk menjemput diriku. Insyaallah di surat-surat selanjutnya, aku akan mulai bercerita tentang pribadiku, tentang segala kurang dan
lebihnya aku, juga tentang masa lalu yang turut membangun kedewasaanku. Aku juga akan bercerita tentang keluargaku,
teman-teman, dan... ah, aku jadi semakin tak sabar ingin
bertemu denganmu. Baik-baik dulu ya disana. Sampai bertemu di lain waktu.
Wassalamualaikum wr. wb.
Salam cinta dari Sang belahan jiwamu.
Vita al-Hikmah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar