Rabu, 29 Januari 2014

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 2 (2 Januari 2014)


Assalamu`alaikum wr. wb
Ini surat keduaku untukmu. Aku harap kau tak pernah bosan mengurai satu per satu ungkapan rasaku ini kepadamu. Masih dalam keadaan yang sama. Dalam keadaan aku tak tahu siapa dirimu dan dalam keadaan aku selalu menanti dirimu.

Angin malam senantiasa mampu semaikan sendu, pada hati yang sendiri teramat pilu. Ya,,, kakiku telah banyak jelajahi waktu seorang diri. Menelisik hari-hari tanpa adanya penjaga hati. Matakupun telah lelah menatap indahnya sang mentari sendiri. Tanpa adanya tempat berbagi. Bahkan dalam pekatnya malam, aku cenderung diam atau sekedar berceloteh bersama rembulan, yang terkadang juga berkawankan bintang gemintang. Karenanya, kepadamu dengan sepenuh hati, kusampaikan untaian rasa rinduku ini.

Wahai Sang Pangeran. Aku mungkin memang masih teramat muda untuk berani menantang dunia. Umurku masih 20 tahun, meski pergantian tahun akan selalu membawaku ke titik yang mematangkan diriku. Aku juga masih belum tahu tentang lika-liku cinta dalam suatu bahtera. Kendati demikian, aku sungguh merasa tak tahan melihat dunia yang kian hari kian menggenit dengan segala godanya.

Aku mungkin memang bukan wanita cantik selaksa bidadari. Aku juga bukan wanita cemerlang selaksa para kunang yang menghiasi malam. Namun aku selalu percaya, dongeng Cinderella itu akan benar adanya di dunia nyata. Ya, Seorang pangeran untuk gadis berjelaga seperti Cinderella. Mungkin kini aku masih seperti Cinderalla, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi istimewa dalam perjumpaanku denganmu.  Karena aku juga meyakini bahwasanya jodoh itu laiknya cermin. Tak akan ada Seorang Pangeran yang berjodoh dengan wanita biasa, terlebih wanita hina. Karena Cinderellapun meski ia hanya gadis berjelaga tapi jiwa sang putri itu bertahta indah dalam dadanya. Dia baik, ramah, sabar, penyayang, dan penurut. Minimal aku harus terus melatih diriku untuk memiliki hati seindah hati tuan putri sebelum pertemuanku denganmu, dan akan terus memperbaiki diri, karena Allah hanya menjanjikan seorang  pria sholeh ntuk wanita yang sholehah. 

Meskipun tak kunjung ada ikatan diantara kita, namun aku tak pernah sedetikpun melepaskanmu dari kucuran do`aku untukmu. Biar aku tak pernah berada disisimu, namun ada Allah yang selalu kutitipi dirimu dimanapun langkahmu tertuju. Dalam tengadah kedua tanganku ini, aku senantiasa memohon agar Allah selalu menjagamu, memudahkan langkahmu, memberikan keberkahan hidup kepadamu, memperbaiki hari-harimu dan tentunya semakin mendekatkanmu kepadaku duhai Engkau calon imamku. Mungkin selain do`a, aku masih belum bisa menunjukkan cintaku untukmu. Bagaimana aku bisa mengabdikan diriku padamu, melayanimu, dan melengkapi harimu, bahkan siapa dirimu saja aku belum tahu.

Wahai Sang Pelengkap hati, mungkin kita memang belum saling mengenal. Namun aku yakin, seiring bumi berputar pada porosnya, kita akan bisa saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin tak usah kau menunggu masa itu tiba untuk mengenalku, karena aku sangat bersedia menyelipkan sedikit demi sedikit pencitraan jiwa dan ragaku ini melalui pucuk-pucuk surat yang kutuliskan untukmu.

Dan kurasa, mungkin kucukupkan dulu tulisan keduaku ini. Masih dengan harapan yang sama. Semoga Allah segera mempersatukan kita. Semoga Allah segera membimbing jalanmu untuk menjemput diriku. Insyaallah di surat-surat selanjutnya, aku akan mulai bercerita tentang pribadiku, tentang segala kurang dan lebihnya aku, juga tentang masa lalu yang turut membangun kedewasaanku. Aku juga akan bercerita tentang keluargaku, teman-teman, dan... ah, aku jadi semakin tak sabar ingin bertemu denganmu. Baik-baik dulu ya disana. Sampai bertemu di lain waktu.

Wassalamualaikum wr. wb.

Salam cinta dari Sang belahan jiwamu. 
Vita al-Hikmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar