Sabtu, 01 Februari 2014

Setangkai Mawar Itu...


Secangkir kopi yang menghangatkan kota Bandung malam itu. Hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi, membunyikan harmoni gemericik yang merdu. Malam yang sendu dengan langkah yang layu. Seorang pemuda tampan tengah lelah menjalani rutinitas kampusnya seharian. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan menuju tempat yang senantiasa menerimanya tuk sekedar melepas penat. Pondok Pesantren Al-Falah Dago.
“Assalamu`alaikum”, Furqon melangkahkan kaki kanannya memasuki pintu kobong[1] santri putra Ponpes Al-Falah. Kehangatan selalu tercium dari tempat penuh berkah ini. Bahkan dari jarak beberapa mater dari kobong, Furqon selalu bisa merasakan sambutan hangat pesantren yang dicintainya itu .
“Wa`alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh”, jawab teman-teman Furqon serempak.
Kunaon Ustad, meuni lunglai kitu? [2]” tanya Angga dengan Bahasa Sundanya yang khas. Maklum, dia orang Tasikmalaya asli.
Furqon hanya menjawabnya dengan senyuman keletihan. Hari itu dia memang benar-benar capek dengan segala tuntutan dosen tentang skripsi yang sedang dikerjakannya. Revisi lagi dan revisi terus. Di tengah kemuramannya itu tiba-tiba seorang kawan menghampirinya.
“Ustad, mau tahu kabar terbaru nggak? Tuh, santri-santri pada hot ngobrolinnya”, ujar salah satu temannya dengan nada yang berusaha membuat Furqon penasaran.
“Ah, pasti ini tentang cewek lagi ya?” Furqon hanya menyahutinya malas. Entahlah, sejak kejadian itu, Furqon tak lagi mampu menyusun ulang keping-keping cintanya untuk wanita lain. Bahkan untuk tertarik dengan kaum hawa saja rasanya sudah tak berminat. Zakkiya, Gadis sunda keturunan Arab yang begitu sholehah itu pernah memikat hati Furqon. Namun, ternyata Zakkiya dikehendaki untuk bersanding dengan Sang Khalik disana. Dan Furqon, mau tak mau harus melepasnya untuk Dzat yang lebih berhak atas diri Zakkiya itu.
“Asli Kang, ini mah beda. Cantik banget. Manis. Kulitnya putih. Bibirnya merah. Senyumnya,,, Ahh, geulis pisan pokokna mah[3]. Percaya deh sama Angga”, ucap Angga menguatkan.
Tapi Furqon tetaplah Furqon. Ia masih terlalu kelu untuk membicarakan wanita lagi setelah kanker darah itu mengambil belahan jiwanya. Alhasil, dia hanya berlalu meninggalkan pembicaraan itu dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Isya`.
*********
“Assalamu`alaikum”, Seorang kakek tua berjubah putih bersih menghampiri Furqon. Wajahnya berseri dengan beberapa rambut putih yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya. Suaranya berat penuh kharisma.
“ Wa`alaikumsalam, Siapa Anda?” Tanya Furqon dengan nada ketakutan.
“Kutitipkan ini untuk mu Jang[4]. Jaga ia baik-baik. Namun, jika ternyata suatu saat ia tidak ada padamu, berarti ia memang tidak ditakdirkan untukmu”, ucap kakek tua itu sembari menyerahkan setangkai mawar merah yang merekah indah. Furqon masih tercengang dengan kata-kata kakek tersebut. Ia takut untuk menerimanya. Namun, keindahan sang mawar yang mengagumkan setiap mata yang memandang itu membuatnya mampu menepis segala ketakutan di hatinya. Furqonpun meraih mawar tersebut dengan hati-hati. Beribu pertanyaan sesak memenuhi dada, namun tak ada satupun yang sempat disampaikannya. Kakek tersebut sudah terlanjur  berlalu meninggalkan Furqon tanpa mengucap satu patahpun.
*********
Pagi itu Annisa sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. Yah,,, dialah santriat baru yang menjadi buah bibir para santri kemarin. Annisa Zahra. Siswa kelas 3 SMA pindahan dari Majalengka. Sudah menjadi adat pesantren, sebelum berangkat sekolah setiap santri harus berpamitan terlebih dahulu kepada Umik Ara, sebuah panggilan para santri kepada istri Abah pengasuh mereka. Annisa pun berpamitan kepada Umik Ara. Setalah ia mencium tangan beliau,  Annisa segera memakai sepatunya dengan sangat tergesa-gesa. Pagi itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.55. 5 menit lagi pelajaran dimulai. Tidak mungkin dia yang masih terbilang murid baru itu mengawali hari di sekolahnya dengan terlambat. Annisa bergegas. Langkahnya cepat sedikit berlari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa,  Annisa tak menyadari dari arah yang berlawanan ada Furqon yang juga sedang terburu-buru menuju rumah Abah pengasuh. Dan tiba-tiba, bruk,,, mereka secara tidak sengaja saling bertabrakan hingga buku yang ada di tangan Furqon terjatuh.
“Maaf Kang, saya tidak sengaja”, ucap Annisa dengan tangan kanannya mengambil sebuah buku ekonomi milik Furqon yang terjatuh tadi. Iapun segera memberikan buku tersebut kepada Furqon. Tanpa ia sadari, wajahnya terangkat dan seketika itu tatapan merekapun saling bertabrakan. Tiba-tiba, keheningan sejenak menyelimuti mereka. Entah mengapa, meraka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Dalam pancaran matanya, Furqon tampak menyimpan kekaguman akan paras cantik Annisa. Dia memang cantik. Matanya indah. Senyumnya manis berhias dua lesung di pipi. Hidungnya menunjukkan dia masih bertalian dengan orang-orang Arab disana. Bibirnya merah tersungging diantara kulitnya yang putih. Indah. Seindah setangkai mawar yang mekar merekah. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Furqon teringat dengan mimpinya tadi malam. Dia segera tersadar, mengambil bukunya, dan berlalu tanpa sepatah katapun. Annisa sedikit aneh melihat tingkah Furqon. Namun, ia hanya tersenyum kecil. Tampaknya, pertemuan dengan Furqon ini juga menyisakan kesan tersendiri bagi Annisa.
*********
Furqon mulai bingung dengan keadaan dirinya. Sejak saat itu, hati Furqon tampaknya telah kembali sehat dan tertambat kepada sosok Annisa. Bayangan wajah Annisa selalu muncul di tiap sudut hari-hari Furqon. Terkadang, bayangan itu bergantian dengan slide mimpinya bertemu dengan kakek tua berjubah putih. Ia masih saja bingung. Kiranya apa maksud bunga mawar yang dititipkan kepadanya. Yang jelas, satu benang merah dapat ditarik dari keduanya. Annisa dan bunga mawar itu sama-sama indah. Bahkan sangat indah. Tanpa ia sadari, pena yang dari tadi terdiam, kini ikut menampilkan kegundahan atas suatu rasa yang tak biasa.
Annisa,,
Ada apa dengan rona wajahmu
Kenapa dia mampu membuatku terbayang selalu
Matamu yang hitam penuh keteduhan
Bibirmu merah bagaikan buah apel ranum
Dan senyum manis yang tersungging elok di wajahmu
Tak pernah sekalipun hengkang dari pikiranku
Wahai Annisa
Aku ingin selalu menjagamu
Aku ingin mendekap erat setangkai mawar itu
Karena setangkai mawar itu kamu
Annisa Zahra
Wahai kau wanita yang seindah bunga
*********
Annisa melangkahkan kakinya menuju kelas ta`lim. Hasil tes memutuskan ia masuk di kelas B majlis diniyah Ponpes Al-Falah. Malam itu mata ta`limnya adalah tauhid. Annisa menempati tempat di jajaran bangku depan. Dia memang sangat bersemangat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Meski umurnya terbilang masih belia, namun kesholehahannya tidak diragukan lagi. Ia selalu berusaha menjaga dirinya, pandangannya, tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan hatinya. Ia berkomitmen tak akan mewarnai sejarah hidupnya dengan cinta yang dimurkai Allah SWT. Dia hanya mendambakan cinta suci yang terjalin di atas sebuah ikatan kehalalan.
Annisa menunggu Sang ustad hadir sembari membuka-buka kitab tauhid yang akan dibahas. Tiba-tiba, terdengarlah ucapan salam dari arah pintu kelas tersebut.
“Assalamu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh”, jawab para santri. Annisa tersentak ketika melihat siapa yang masuk. “Ini kan lelaki yang kemarin aku tabrak”, ujarnya dalam hati. Furqon memang telah lama mengabdi di pesantren itu. Karena keilmuaanya yang tinggi, ia dipercaya untuk menjadi ustad badal[5] di sana. Ketika pengajar yang sebenarnya ada halangan untuk hadir, maka dialah yang menggantikan ustad tersebut mengajar para santri.
Jantung Annisa tiba-tiba berdegup kencang. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi di hatinya. Ia hanya berusaha menepis rasa aneh itu dengan terus menunduk. Berharap dengan menjaga pandangan mata, ia bisa sedikit mengontrol kekacauan yang menerkamnya.
Ternyata di sebrang hati sana tak jauh berbeda. Mengetahui ada Annisa di kelas yang diajarnya, tiba-tiba Furqon merasa benar-benar kikuk. Materi mengajar yang telah disiapkan serasa terbang. Lisannya juga serasa kaku. Benar-benar bukan Ustad Furqon yang biasanya.
*********
Setahun berlalu. Tak ada yang berubah dari hati Furqon. Ia masih tetap menyimpan rapat rasa cintanya kepada Annisa. Namun, kali itu Furqon merasa sudah tak sanggup lagi untuk terus menyimpan. Rongga hatinya serasa sudah sesak dengan partikel-partikel cintanya yang semakin hari semakin bertambah. Ia diterpa kegalauan yang teramat sangat. Malam itu, tiba-tiba ia teringat akan buku latihan santri kelas B yang masih ada padanya. Tanpa pikir panjang Furqon menyelipkan puisinya di buku milik Annisa. Menurut Furqon, ini adalah bentuk ikhtiyarnya. Selebihnya, ia hanya akan menyerahkan segala perasaan itu kepada Yang Maha Memberi Rasa. Dalam kidung do`anya, Furqon memohon agar diberi keselamatan. Jangan sampai perasaannya itu ditunggangi syetan sehingga akan menjerumuskannya pada jurang kenistaan.
Keesokan paginya Furqon terbangun. Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. Kali ini Sang Kakek hanya datang kepadanya untuk menanyakan bagaimanakah keadaan Furqon dan menegaskan bahwa ia harus benar-benar menjaga bunga mawar yang pernah dititipkan itu. Dalam mimpinya, Furqon mengiyakan permintaan Sang kakek. “Sebenarnya siapakah kakek tua itu? Kenapa beliau datang lagi saat aku berniatan mengungkapkan perasaanku pada Annisa? Apakah bunga mawar itu memang sebuah pengibaratan atas diri Annisa?” pikirnya dalam hati.
Siang itu Furqon mengawali pulang dari kampus. Di sepanjang jalan kota Bandung yang disusurinya, banyak sekali pemandangan pasangan muda-mudi yang berdua-duaan. Terlintas suatu perasaan iri dalam hati Furqon.
“Pasti bahagia kalau aku dan Annisa bisa seperti mereka”, ujarnya. Lamunan-lamunan nakal mulai mengisi pikirannya lagi. Hingga ia tiba di kobong dan menemukan sepucuk surat yang terlipat manis di dalam lemarinya. Ia segera membukanya dan membaca kata demi kata yang tertulis disana.

Aku hanyalah seorang wanita
Yang ingin dijaga dan ingin dicinta
Biarlah hati ini terjerat
Jika ia tetap berpegang pada jalan Syariat

Aku hanya seorang penanti
Menanti pangeran yang menjemputku dengan hati
Disini aku menanti          
Disana kau juga silahkan menanti
Menanti kehalalan yang diberikan Allah untuk dua hati ini
Datangi kedua orang tuaku
Karena aku hanya ingin dicinta dengan kemulyaan cinta karena Allah

Inilah jawaban dari Annisa. “Astaghfirullahaladzim.” Furqon merasa sangat bersalah dengan lamunan-lamunannya tadi. Tak seharusnya ia menginginkan Annisa tanpa adanya kehalalan Allah. Iya, cinta memang anugerah, namun jika cinta dituruti pada saat yang tidak tepat, maka ia akan berubah menjadi musibah.
“Iya Annisa. Aku akan benar-benar menepati janjiku kepada Sang kakek itu. Takkan kubiarkan cinta ini menodai keindahanmu. Aku akan menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga hatimu, dan menjaga kesucianmu. Terimakasih Ya Allah, kau hadirkan cinta ini untuknya. Untuk sesosok wanita sholehah yang selalu mendambakan keridhoan dan cintaMu”
*********
3 tahun berlalu. Furqon telah mempersiapkan moment itu sejak jauh-jauh hari. Ini adalah hari special untuknya. Karena di belakang kalimat qobiltu itu, segala kehalalan cinta terbuka. Furqon akan benar-benar memiliki dan menjaga setangkai mawar yang dititipkan kepadanya. Iya, Setangkai mawar itulah gadis cantik bernama Annisa Zahra. Gadis yang teramat indah, seindah makna namanya. Wanita bunga. Pada akhirnya cinta merekapun dipersatukan dalam suatu keberkahan ikatan pernikahan. Menguntai kebahagiaan demi kebahagiaan dalam keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. (Alya Al-Hikmah)
*********


[1] Sebutan Asrama di Jawa Barat
[2] “Kenapa Ustad, kok lunglai banget gitu?”
[3] Cantik banget pokoknya.
[4] Jang (Ujang) : sapaan untuk anak lelaki Sunda
[5] Pengganti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar