Terimakasih sebanyak-banyaknya dan penghargaan setinggi-tingginya
kepada 2 makhluk merah kesayanganku ini. Laptop 12 inch ku yang meskipun angka
5 nya tanggal, tapi dia tetap sehat dan setia menemaniku dalam tiap pergolakan
hatiku. Dan agenda merah bercorak kotak-kotak hitam yang mulai sangat lecek
karena hampir tiap hari kubuka 3 x sehari. Yah,,, merekalah supporter setia
atas bangkitnya seorang Alya Al-Hikmah dari segala keterpurukan hari. Bahkan
atas jasa mereka jualah, seorang Alya Al-Hikmah telah mampu menemukan makna asa
yang tergenggam untuk masa depannya. Yang jelas mereka berdualah yang berperan
besar dalam penyatuan keping-keping aksara yang berlarian di otakku.
Terimakasih Merahku… J
Yups… kita awali dengan “membaca”. Sadar maupun tidak, membaca
adalah kegiatan yang paling tepat untuk menghabiskan waktu dengan tidak
percuma. Membaca apapun itu. Membaca Al-Qur’an? Sudah jelas iya. Bahkan Allah
SWT menjanjikan pahala bagi para pembaca Al-Qur’an meskipun tanpa tahu arti dan
kandungannya. Membaca buku? Iya. Karena seorang penulis buku itu juga pasti
berpikir, hingga pikiran-pikirannya dapat tertuang dalam ilmu-ilmu untuk kita
baca bersama. Membaca novel? Eits,,, jangan dikira membaca novel itu cuma baca-baca
cerita biasa yang nggak ada manfaatnya lho ya… Membaca novel itu ibarat kita
membaca kehidupan. Banyak sekali tipe-tipe kehidupan seseorang yang memang
Allah berikan berbeda-beda sebagai warna-warni ujian manusia di dunia dan dari
situlah kita bisa mengambil i`tibar. Apa saja hikmah yang terkandung di
dalamnya, bagaimana cara seseorang di kisah itu mengatasi segala masalahnya,
bangkit dari keterpurukannya, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diterimanya,
atau bahkan mengambil pelajaran dari pemeran antagonisnya sekalipun. Buktinya,
banyak sekali novel-novel yang telah sukses memotivasi para pembacanya, salah
satunya adalah sebuah novel terkenal berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Selain
itu, dari membaca kita jadi ada bahan untuk menulis. Minimal tau kata-kata enak
yang bisa ditiru untuk tulisan-tulisan kita. J
Lanjut yang kedua “menulis”. Satu fakta yang mungkin memang tidak
baru ada tapi baru aku baca dituliskan pada buku Ketika Cinta Pergi, bahwasanya
“Menulis adalah terapi galau yang mujarab untuk mengobati segala lara di hati.”
Bahkan di buku itu juga tertulis sebuah quotes anonym yang menurutku
sangat menarik. “Janganlah kau menyakiti hati wanita pintar karena kisahmu akan
ditulis dan menjadi sebuah novel yang bestseller.” Iya… aku pikir benar
juga. Seringkali di tengah gundah gulananya hati, seseorang akan lebih
berhasrat untuk meraih pena dan mencoret-coretkannya. Entah hasilnya puisi, cerpen,
novel, artikel, curahan hati, atau hanya coret-coretan ala kadarnya seperti
Alya <3 Muhammad, dsb. Kecenderungan ini memang dapat kita buktikan sendiri
kebenarannya. Terkhusus bagi para pecinta diary, pasti sangat mampu merasakan
bahwa diary adalah sahabat yang bisa menjadi curahan sesaknya dada meski hanya
lewat goresan-goresan pena. Hingga akhirnya emosi kita bisa reda, lega, dan
kembali biasa. J
Selain itu, kegiatan menulis juga merupakan pupuk yang menyuburkan memori kita.
Disaat ingatan mulai kering karena lupa, maka catatan-catatan kitalah yang akan
merefresh dan menyuburkan kembali apa yang sudah pernah ada di otak kita
itu. Bahkan yang lebih hebatnya lagi tulisan adalah penyampaian ilmu kita yang
akan tetap ada meskipun kita telah tiada. Menulis juga dapat dijadikan sebagai
salah satu bentuk dakwah kita untuk melanjutkan perjuangan Habibina Muhammad
SAW demi meraih kecintaan dan keridhoan-Nya. Dalam segala jenis tulisan, kita
dapat menyelipkan butir-butir risalah indah yang dibawa olah Rasulullah SAW.
Dengan begitu, manfaat yang kita dapatkan dan yang kita berikan bisa semakin
banyak. So… Keep reading and writing ya guys! Salam hikmah dari
Alya Al-Hikmah… J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar