Tampilkan postingan dengan label aku dan diriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan diriku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2014

Bidikan Emas Seorang Ksatria Kata-kata

Berselancar dalam kehebohan warna-warni dunia maya hari ini. Bersama gelap, terang serta semburat temaramnya. Menyusup sisi demi sisi ruang-ruang penghubung kehidupan yang terpisah bak tepi-tepi labirin yang berjauhan.

Selalu seperti ini, Tak kurang-kurangnya Dia tunjukan kepadaku betapa orang-orang hebat itu bisa mencipta. Berkarya dan berkontribusi di agama sesuai jalannya. Berjihad dengan apa yang ditekuninya. Dan hingga detik ini berdetak triliyunan kali menemani hidupku, aku masih hanya terkagum dengan pesona kehebatan kawan-kawan seberang? Lantas kapan kau singsingkan lengan baju dan turut menjadikan diri ini tak ubahnya seperti mereka? Sampai kapan kau turuti rasa pesimis yang perlahan-lahan menggerogoti ranting-ranting mimpi mu? Ayolah„, Meski kau bukan putra seorang pujangga, tak ada salahnya kau mengiyakan kakimu yang sedari tadi ingin sekali berlari menggapai mimpi?

Aku ingin menjadi ksatria Kata-kata. Ia Berdakwah dengan pena. Menyampaikan syiar agama dengan tinta. Tapi, Kapan itu terwujud? Bagaimana aku mengawalinya? Aku ingin bisa Allah… Bersanding bersama mereka-mereka pecinta Islam yang menggemakan syiarMu ke semua. Ayolahhh Vita„, Apa kau ini? Seorang pecundang kah? Hapus segala penghalang yang menghadang itu. Padamkan pesimis yang ingin membakar habis mimpi-mimpimu. Percayalah. Sebentar lagi. Dengan izin dan RidhoNya, atas ketulusan kidung do`a serta usaha, kau kan gapai apa yang kau pinta kepadaNya.

Wahai Allah„, Jadikan aku seorang ksatria kata-kata. Ia berdakwah dengan pena, Ia menyampaikan syiar Agama dengan tinta. Biarkan aku mencintaiMu dan melakukan sesuatu untukMu Allah. Aamiin….

I`m just ordinary people


Namaku Alvita Hikmatul Laily. I`m just an ordinary people. Iya„, memang hanya ordinary people. Karena apa? Karena aku bukan orang hebat. Aku hanya orang biasa. Bukan karena aku tidak mau dan tidak ingin bermimpi. Hanya saja aku tidak ingin membuai hatiku dengan merasa menjadi orang hebat. Yah„, meskipun memang sebenarnya aku belum menjadi orang hebat. Masih menapaki tangga menuju kesuksesan, mungkin itulah tepatnya. Sukses?? Bagiku sukses itu mudah. Kita hanya tinggal membuat sebuah indikator kesuksesan. Sukses itu bukan dari kaca mata orang lain. Sukses itu bagaimana kita menapaki hari-hari kita penuh makna., bermanfaat, dan bahagia. Itu saja indikatornya. Sukses itu bahagia. Bahagia itu ketika hati ini merasa cukup, enjoy dengan kehidupan kita. Cukup itupun relatif bagi sebagian orang. Tapi bagiku, cukup itu satu. Allahu Kaffi, Rabbunal Kaffi. Satu senjata saja. Merasa cukup dan yakin dengan lafadz Hasbiyallah wa ni`mal wakil, ni`mal maula wa ni`man nashir. Allah„, dan hanya Allah. Mencarinya pun tidak jauh dan tidak susah. Disini, di tempat kau meraba hati akan sebuah keimanan diri. :)

Inilah Deburan Semangat Dakwah Kami


Wahai Rasulullah„,
Aku tak lagi hidup bersanding denganmu
Aku terlahir saat dunia telah samar dengan segala benalu-benalu itu
Benalu mereka yang ingin hancurkan semua warisanmu
Menutupinya satu per satu
Membungkam telinga-telinga kami yang rindu akan risalah-risalahmu
Ya Rasulullah…
Syauq ini memenuhi hati kami
Ingin sekali turut menggemakan kebenaran-kebenaranmu
Menghimpun bersama para pemuda pecintamu
Hingga kelak hati ini
Mampu menikmati detik demi detik yang teruntai dengan segala syariatmu
Ya Rasulullah…
Disana,
Di tempat yang selalu menyilaukanku dengan gelora dakwahnya
Di ranah kehidupan para pemuda yang penuh akan usaha 
Atas kecintaan padamu yang terpatri mati di dalam sanubari
Aku ingin menjadi bagian sebongkah kekuatan itu
Menggaungkan dan terus mencitrakan 
Betapa indah hidup yang tertata dengan ketentuan dari Tuhanmu
Aku ingin…
Aku ingin…
Meski deburan semangat ini terperangkap dalam segala keterbatasan.
Pada raga yang terlahir serupa dengan Ibu Hawa
Pada jarak yang tak mampu buatku bebas
Pada kesendirian yang tak tahu dengan siapa aku menapak
Aku ingin„,
Sungguh-sungguh ingin.
Melangkah dalam jalan-jalan dakwahmu
Lantas, kenapa hati ini selalu ragu? 
Hanya turuti rinai-rinai air mata yang terasuki semangat tak bersambut
Ya Rasulallah, 
aku takut 
Mungkinkah ini hanyalah deburan semangat dakwah kami
yang tersekap dalam pesimisnya hati?

Sejak dulu, aku selalu saja merasa iri. Dengan mereka-mereka yang diberi kesempatan berjuang dengan Beliau. Mereka-mereka yang tergabung dalam giatnya dakwah beliau. Dibawah naungan sebuah lembaga pengembangan dakwah Islam.
Beliaulah guru yang selalu memotivasi kami, Betapa Islam itu indah.Betapa kecintaan akan Islam itu indah. Betapa perjuangan untuk Islam itu istimewa. dan betapa pengabdian kepada Allah itu hebat. Beliaulah guru kita tercinta, dan akan selalu kucinta. Beliaulah As-Syaikh Yahya Zainal Ma`arif. Semoga Allah senantiasa melindunginya serta memudah segala langkahnya beserta langkah orang-orang yang berjalan bersamanya. Amiin…



Rabu, 03 April 2013

Guru Kita Tercinta


Ya,,, Beliau adalah sesosok orang baru dalam hidupku
Lagi-lagi aku diperkenalkan lantaran dia
Lelaki yang sempat kugandrungi yang kini telah mengabdikan diri disana
Beliaulah guru kita tercinta
Buya Yahya

Aku melihat beliau adalah ulama yang berani dalam benar
tegas serta lugas
Gema suaranya yang memenuhi Asrama Amanah setiap pagi
Selalu kurindukan itu
Antusiasme teman-teman saat mendengarkan bersama
Mengamini doa beliau
Yang setiap katanya begitu menginspirasi
Tampaknya, itu adalah keindahan pagi yang sempurna

Dulu,,,
Aku masih sering mendengarkan pengajiannya dengan tiduran
tanpa sadar ternyata tidur beneran
dan di asrama sebrang 
selalu saja ada ikhwan yang mengobrak-obrakku 
mengomeliku ketika aku sempat tertidur atau sekedar melamun ketika menyimaknya
Dan ternyata kini aku menyesal melalukan semua itu
Terlebih ketika kini sangat sulit bagiku untuk bisa mendengarkannya lagi
tak ada yang mau merekamkannya lagi
akses untuk bisa berstreamingpun sangatlah susah
Belum lagi, ketika akal dan hati teringat pada sikap kontra orang tuaku
Ya,,, Entahlah 
Kenapa beliau-beliau bisa seperti itu
Buya Yahya tampaknya tidak salah berucap
Isi pengajiannyapun jujur apa adanya
Serta sangat mengena pada orang-orang jaman sekarang
terutama aku
Aku rindu Buya, Umik
Kak Mutie, Kang Ajay, Syekh Murad, Al-Faqir, Kang Kaizen
Puisi Surat Cinta untuk Rasulullah
Aku rindu itu
Aku ingin mendengarkan untaian hikmah beliau lagi
Aku ingin bertemu dengannya
Berkonsultasi dengannya
Bahkan berguru secara intens kepadanya

Ya Allah...
Teruntuk guru kita tercinta Buya Yahya
yang selalu mengingatkanku dengan doanya
Semoga diberikan kematian yang khusnul khotimah,
mati dalam keadaan iman,
mati dalam keaadaan islam,
mati dalam kedaan ada cinta pada Kelasihmu Nabi Muhammad,
mati dalam keadaan mampu mengucapkan kalimat agung dan mulia 
Laa ilaa Haillallah, Muhammadur Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam.
Semoga Engkau memberikan ampunanMu kepadanya
Engkau angkat derajatnya
Engkau mulyakan keluarganya
Engkau panjangkan umurnya 
Engkau sehatkan jasmaninya
Engkau mudahkan urusannya
Engkau terima segala kebaikannya
Engkau hadirkan keikhlasan dalam tiap langkahnya
Engkau hindarkan dari segala fitnah ketika di dunia maupun di akhirat kelak
AAmiin Ya Allah...

Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengannya Ya Allah


Senin, 04 Maret 2013

Episode Demi Episode Langkah Seorang Ksatria

Darimana kita mengawali perbincangan? Yah... Mungkin bisa dimulai dari gerak beberapa remaja muda-mudi pada pagi hari ini. Ini adalah hari Selasa, dimana ada yang benar-benar kita tunggu bersama. favorit mungkin bukan tepi lebih karena terdorong ini adalah seruan Tuhan untuk bisa memahaminya. Yups,, hari ini pelajaran Taklimnya fiqih. Mata taklim yang jika mampu diungkap oleh seorang kawan apa testimoninya, menurutnya, pelajaran fiqh itu hebat, ketika sistem pengingat dia itu adalah enzim maka pelajaran fiqh itu substratnya. Pas... Langsung nempel katanya, hehe

Ada yang menarik dari penjelasan Ustad. "Santri itu dari kata Ksatria. Ya, Santri itu ksatria, Ksatria Allah dan Pesantren adalah tempat untuk mencetak para Ksatria". Siip, kata-kata yang sekejap menghipnotisku dan menghadirkan makna bangga, suka, malu, dan ragu. Bangga karena ternyata aku adalah seorang ksatria itu, satu dari orang-orang terpilih Allah. Suka karena memang aku suka. entahlah, serasa adrenalin ini memuncak sehingga terhadirkanlah rasa semangat, riang, rindu, cinta, ketika harus berhubungan dengan kesantrian. taklim, ustad, pesantren, para kiai, sholawat, dzikir, amalan2 sunnah, bahkan para habaib. Berasa timbul perasaan ngefens sama yang seperti2 itu. Malu, ya malu. Masih merasa banyak yang harus dibenahi dari aku agar patut disebut seorang santri. Keilmuan masih cetek, Ibadah juga masih belang betot, Lisan masih angger bicaranya. Akhlak juga belum bisa dibilang karimah. Wahh,,, banyaklah. Ragu,,, Iya. aku ragu kawan. Teuinglah... Apa aku bisa nyantri lagi ataukah tidak. Tiap kali kutolehkan sejenak kepala ini ke kondisi keluargaku yang seperti itu, rasanya pemandangan di depan yang awalnya cerah dan indah bak pelangi berujung istana negeri dongeng, tiba2 tersapu oleh kuas bercat hitam. Kuas itupun menyapu pemandangan itu dan hanya menyisakan sebaris panjang dari warna pelangi. Hijau... Hanya tinggal itu yang mungkin real untuk kutapaki sehingga aku bisa mengguyurkan beberapa ember air untuk membersihkan cat hitam disekelilingnya. Iya,,, Respon keluarga terhadap aku yang kabibita untuk menjadi ksatria sejati dan menapaki langkah demi langkah pelangi sebelum bisa menempati Istana negeri dongeng itu, tampaknya hanya berupa titik-titik yang hanya sedikit. bukan berupa garis tebal yang menjadi tepi lukisan pelangi sehingga tampak tegas dan menawan. Respon mereka sangat miris. entah apa yang diinginkan mereka. Bisa jadi aku lebih disuruh untuk terus menjaga toko di depan rumahku daripada pesantren. Atau bisa jadi ada satu pilihan. ikut SNMPTN lagi dan harus menjaga toko dengan dijejali buku-buku SNMPTN. Ya Allah,,, Aku hanya takut hal semacam ini bisa terus merambat dan menggerogoti iman keluargaku. Sehingga sholat ya hanya sekedar rutinitas dan puasa juga hanya sekedar wasiat seseorang tanpa menghadirkan rasa kecintaan pada Allah, Rasulullah dan syariat yang dibawanya. Karena apa,,, karena tidak ada kerinduan pada mejelis ilmu Allah. Stop!! sudahi sajalah kalau lagi-lagi memperdebatkan ilmu akhirat dan ilmu dunia. Oke well,,, dua-duanya itu ilmu Allah. Lalu, apakah aku salah jika aku memilih untuk menjadi Ksatria Allah? Kan katanya pesantren maupun kampus itu sama-sama majelis ilmu Allah? Lalu kenapa aku harus kuliah dan tidak boleh memilih nyantri? Bunda,,, anakmu sedang rindu dekat ulama dan sudah tidak lagi rindu dekat profesor. ayah,,, Putrimu sedang ingin menjadi Ksatria karena dia suka, karena hatinya mampu menstimulus hormon-hormon penyemangat ketika ia belajar agama. Artinya ini minatku Pak, Buk... Dekat dengan ulama pewaris para nabi. Sebelum ternyata esok aku mati, aku ingin setidaknya adalah usaha untuk menghidup-hidupkan ilmu para nabi. Sedangkan ketika aku masih terlalu memikirkan jika kamu mesantren aja kamu mau jadi apa? mau hidup pake apa? mau dapat duwit dari mana? Ajal masih terlalu dekat Bunda.. daripada harus sangat bingung dengan besok hidupku gimana, mau makan apa kalau cuma lulusan pesantren. Ya Allah,, Jadi ingat ketika kemarin ada seorang teman yang menceritakan masalahku ini, ya masalah yang tentang kampus dan pesantren ini. Dia bercerita ke ayahnya dan ibunya yang kebetulan sudah bercerai. Ternyata respon keduanya pun berbeda. Sang ayah menanggapinya dengan bahasa Sunda yang intinya jika dikonversikan ke Bahasa Indonesia " Subhanallah, pasti bahagia banget itu orang tuanya, nanti anak yang seperti itu bakal nolong orang tuanya ketika di akhirat. karena dia lebih mengutamakan agamanya." Dan Sang Ibu yang bekerja sepagai pegawai kecamatan itu menanggapi cerita putrinya pula dengan Bahasa Sunda juga yang intinya " Ngapain pake kayak gitu? Sayang banget itu kuliahnya. Awas kalo kamu ngikut kayak gitu.". Aku  hanya senyum. Ya memang pendapat orang beda-beda. Pendapat yang ternyata secara tidak disadari mencerminkan bagaimana kepribadiannya. Yang Jelas sekeras apapun batu, ia akan lapuk juga meski hanya dengan tetes-tetes air. Namun memang ketika jarak air dan batu itu dekat akan menghasilkan energi potensial yang lebih besar sehingga lebih cepat menghancurkan batu tersebut. Dan hati sekeras apapun juga pasti akan lapuk. Doa yang selalu terpanjat inilah air yang melapukkannya. Pastinya Energinya juga harus diperbesar. Jika energi potensial diperbesar dengan jarak yang diperjauh, insyallah energi doa ini akan diperbesar dengan kualitas berdoa dan kedekatan pada Allah yang diperbagus. Semoga aku pantas untuk bisa dekat denganMu, sehingga Allah mengabulkan apa yang terus kuminta dalam sajak rintihan-rintihan doa seorang anak. Aamiin Ya Allah...

Tiba-tiba, aku seperti ditunjukkan oleh Allah Pesantren mana yang baik buat aku dan dalam wktu singkat aku bener-bener pengen disini Pondok Posantren Sidogiri Pasuruan.


_..Ini PPS jaman dulu.._


_.. Ini PPS yang sekarang.._

Mohon doanya ya... siapa aja yang baca tulisanku ini :) Hatur Nuhun

Kamis, 31 Januari 2013

our happy family


Sweety :)


lucuu :)


Me n my daughter :)


Mengarungi rumah tangga tuk gapai bintang


Tambah 1 lagi :)


baiti jannati :)


terbang bersama cinta :)


You are my everything :)