Ada yang menarik dari penjelasan Ustad. "Santri itu dari kata Ksatria. Ya, Santri itu ksatria, Ksatria Allah dan Pesantren adalah tempat untuk mencetak para Ksatria". Siip, kata-kata yang sekejap menghipnotisku dan menghadirkan makna bangga, suka, malu, dan ragu. Bangga karena ternyata aku adalah seorang ksatria itu, satu dari orang-orang terpilih Allah. Suka karena memang aku suka. entahlah, serasa adrenalin ini memuncak sehingga terhadirkanlah rasa semangat, riang, rindu, cinta, ketika harus berhubungan dengan kesantrian. taklim, ustad, pesantren, para kiai, sholawat, dzikir, amalan2 sunnah, bahkan para habaib. Berasa timbul perasaan ngefens sama yang seperti2 itu. Malu, ya malu. Masih merasa banyak yang harus dibenahi dari aku agar patut disebut seorang santri. Keilmuan masih cetek, Ibadah juga masih belang betot, Lisan masih angger bicaranya. Akhlak juga belum bisa dibilang karimah. Wahh,,, banyaklah. Ragu,,, Iya. aku ragu kawan. Teuinglah... Apa aku bisa nyantri lagi ataukah tidak. Tiap kali kutolehkan sejenak kepala ini ke kondisi keluargaku yang seperti itu, rasanya pemandangan di depan yang awalnya cerah dan indah bak pelangi berujung istana negeri dongeng, tiba2 tersapu oleh kuas bercat hitam. Kuas itupun menyapu pemandangan itu dan hanya menyisakan sebaris panjang dari warna pelangi. Hijau... Hanya tinggal itu yang mungkin real untuk kutapaki sehingga aku bisa mengguyurkan beberapa ember air untuk membersihkan cat hitam disekelilingnya. Iya,,, Respon keluarga terhadap aku yang kabibita untuk menjadi ksatria sejati dan menapaki langkah demi langkah pelangi sebelum bisa menempati Istana negeri dongeng itu, tampaknya hanya berupa titik-titik yang hanya sedikit. bukan berupa garis tebal yang menjadi tepi lukisan pelangi sehingga tampak tegas dan menawan. Respon mereka sangat miris. entah apa yang diinginkan mereka. Bisa jadi aku lebih disuruh untuk terus menjaga toko di depan rumahku daripada pesantren. Atau bisa jadi ada satu pilihan. ikut SNMPTN lagi dan harus menjaga toko dengan dijejali buku-buku SNMPTN. Ya Allah,,, Aku hanya takut hal semacam ini bisa terus merambat dan menggerogoti iman keluargaku. Sehingga sholat ya hanya sekedar rutinitas dan puasa juga hanya sekedar wasiat seseorang tanpa menghadirkan rasa kecintaan pada Allah, Rasulullah dan syariat yang dibawanya. Karena apa,,, karena tidak ada kerinduan pada mejelis ilmu Allah. Stop!! sudahi sajalah kalau lagi-lagi memperdebatkan ilmu akhirat dan ilmu dunia. Oke well,,, dua-duanya itu ilmu Allah. Lalu, apakah aku salah jika aku memilih untuk menjadi Ksatria Allah? Kan katanya pesantren maupun kampus itu sama-sama majelis ilmu Allah? Lalu kenapa aku harus kuliah dan tidak boleh memilih nyantri? Bunda,,, anakmu sedang rindu dekat ulama dan sudah tidak lagi rindu dekat profesor. ayah,,, Putrimu sedang ingin menjadi Ksatria karena dia suka, karena hatinya mampu menstimulus hormon-hormon penyemangat ketika ia belajar agama. Artinya ini minatku Pak, Buk... Dekat dengan ulama pewaris para nabi. Sebelum ternyata esok aku mati, aku ingin setidaknya adalah usaha untuk menghidup-hidupkan ilmu para nabi. Sedangkan ketika aku masih terlalu memikirkan jika kamu mesantren aja kamu mau jadi apa? mau hidup pake apa? mau dapat duwit dari mana? Ajal masih terlalu dekat Bunda.. daripada harus sangat bingung dengan besok hidupku gimana, mau makan apa kalau cuma lulusan pesantren. Ya Allah,, Jadi ingat ketika kemarin ada seorang teman yang menceritakan masalahku ini, ya masalah yang tentang kampus dan pesantren ini. Dia bercerita ke ayahnya dan ibunya yang kebetulan sudah bercerai. Ternyata respon keduanya pun berbeda. Sang ayah menanggapinya dengan bahasa Sunda yang intinya jika dikonversikan ke Bahasa Indonesia " Subhanallah, pasti bahagia banget itu orang tuanya, nanti anak yang seperti itu bakal nolong orang tuanya ketika di akhirat. karena dia lebih mengutamakan agamanya." Dan Sang Ibu yang bekerja sepagai pegawai kecamatan itu menanggapi cerita putrinya pula dengan Bahasa Sunda juga yang intinya " Ngapain pake kayak gitu? Sayang banget itu kuliahnya. Awas kalo kamu ngikut kayak gitu.". Aku hanya senyum. Ya memang pendapat orang beda-beda. Pendapat yang ternyata secara tidak disadari mencerminkan bagaimana kepribadiannya. Yang Jelas sekeras apapun batu, ia akan lapuk juga meski hanya dengan tetes-tetes air. Namun memang ketika jarak air dan batu itu dekat akan menghasilkan energi potensial yang lebih besar sehingga lebih cepat menghancurkan batu tersebut. Dan hati sekeras apapun juga pasti akan lapuk. Doa yang selalu terpanjat inilah air yang melapukkannya. Pastinya Energinya juga harus diperbesar. Jika energi potensial diperbesar dengan jarak yang diperjauh, insyallah energi doa ini akan diperbesar dengan kualitas berdoa dan kedekatan pada Allah yang diperbagus. Semoga aku pantas untuk bisa dekat denganMu, sehingga Allah mengabulkan apa yang terus kuminta dalam sajak rintihan-rintihan doa seorang anak. Aamiin Ya Allah...
Tiba-tiba, aku seperti ditunjukkan oleh Allah Pesantren mana yang baik buat aku dan dalam wktu singkat aku bener-bener pengen disini Pondok Posantren Sidogiri Pasuruan.
_..Ini PPS jaman dulu.._

_.. Ini PPS yang sekarang.._
Mohon doanya ya... siapa aja yang baca tulisanku ini :) Hatur Nuhun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar