Edisi 4 (7 januari 2014)
Assalamualaikum cinta. Apa kabar kau disana?
Hari ini, masih dengan beribu cinta aku menuliskannya.
Mendiksikan satu demi satu kata, yang masih berupa titik buta. Buta akan suatu
bayangan raga. Meski hati masih mampu bertahan dalam samudra kesetiaan cinta.
Cinta…
Betapa kau tahu, aku kini telah terlalu bersahabat dengan
derai air mata Tuhan. Iya,,, dari hujan aku sungguh merasakan tenang. Melodi
gemericiknya seakan mengisyaratkan Tuhan sedang mendekapku dalam pelukan. Aku
mungkin memang terlalu dermawan untuk membagi makna kesedihan. Dan kumau, bukan
cercaan atas sebuah kecengengan. Namun belaian genggaman serta pelukan yang
menentramkan.
Cinta…
Aku tak pernah terbayang bagaimana jika kelak aku bertemu
denganmu. Terlebih untuk meraih hatimu. Entahlah… anganku sempat mengatakan
kelak kaupun akan sama seperti mereka. Menatapku dengan pandangan yang tak
sempurna. Melirik picik melihat tampilanku yang sungguh tak menarik. Lagi-lagi
karena aku memang gadis berjelaga yang tak istimewa. Terbalut dalam busana yang
terkesan kedodoran. Iya cinta… Aku adalah wanita berjilbab lebar yang sedang
bertahan melawan deburan arus lingkungan. Tatkala aku bersanding dengan para
jilbaber lainnya aku bertahan untuk tetap ahli sunnah wal jamaah. Tatkala aku
bersanding dengan ahli sunnah wal jama`ah, aku bertahan dengan jilbab besarku.
Cinta…
Akupun tak pernah tahu seleramu seperti apa. Yang selalu
kuyakini hanyalah “ketika kelak kau dijodohkan Allah denganku, maka akulah
seleramu” dan semoga yang kuyakini itulah yang kelak akan menjadi nyata.
Entahlah. Sebenarnya akupun tahu menutup aurat itu kewajiban. Tapi bagiku,
menggunakan kerudung lebar iru menentramkan. Mengenakan baju lebar itu
menyejukkan, bahkan bercadar itu mengagumkan. Jujur, aku takut dengan pertemuan
kita. Apakah kau suka dengan penampilanku, atau kau malah malu dengan aku yang
seperti ini. Atau mungkin kau risih dengan diriku atau bahkan ikut-ikutan
seperti mereka yang mengataiku sok alim? Jujur,,, aku takut. Aku sangat takut.
Cinta…
Terkadang aku pernah merasa ingin seperti mereka. Berdandan
agar tampak menawan di hadapan pria. Berpakaian yang menarik serta menebar
senyum ke semua mata. Namun, lagi-lagi aku diingatkan bahwa semua itu percuma.
Hanya akan menimbulkan fitnah belaka. Dan akhirnya kembalilah aku pada styleku
ini. Meski sebagai wanita, aku tetap merasa sebal dengan para jerawat yang
mulai datang berhamburan. Juga warna kulit yang cukup berjelaga, namun akhirnya
aku merasa diistimewakan oleh Allah dengan keadaanku yang tidak begitu cantik
ini sehingga tak ada lelaki yang mau menggodaku.
Cinta…
Inilah aku. Wanita biasa yang telah dijodohkan oleh Allah
untukmu. Mungkin kaupun tak pernah tahu. Betapa hebatnya dia Sang Idolaku. Dia
adalah wanita yang mulia. Wanita yang sangat menjaga. Juga istri yang sangat
setia. Aku ingin seperti dia. Meski aku mungkin terlalu hina untuk mengidamkan
mutiara. Namun sungguh aku ingin sepertinya. Sayyidatuna Fathimah az Zahra
binti Rasulillah SAW. Seorang wanita terhebat allah. Iya, di saat banyak orang
mencelaku karena kerudung besarku, ku harap kau mampu pahami apa motivasiku.
Karena aku adalah muslimah. Muslimah yang selalu mendamba menjadi wanita
sholehah kebanggaan Rasulallah SAW.
Cinta…
Sungguh aku sangat lega bisa mengatakan ini semua. Hari ini
aku memang sempat dibuat kesal oleh seorang teman yang sedikit berkata pahit
tentang styleku. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa plong dan kembali menyadari
inilah susahnya berjihad. Membela tegaknya kemulyaan atas dasar islam. Inilah
ujiannya untuk mampu komitmen dengan agama. Namun aku yakin takkan ada
apa-apanya semua ini jika dibanding ujian yang diterima Rasulallah SAW dan para
sahabat dalam memperjuangkan Islam kala itu. Dan aku harap ujian ini akan
semakin mengantarku pada sesimpul senyum bangga beliau Sang kekasih Allah.
Allahumma Sholli ala sayyidinaa Muhammad.
Cinta…
Sudah dulu ya, cukup panjang suratku kali ini. Aku harap kau
tak pernah jemu dengan berpucuk-pucuk untaian aksara cintaku. O iya,,, kali ini
aku tak lagi memohon agar kita segera dipertemukan. Biarlah hati ini sudah tak
sabar untuk menanti pertemuanku denganmu, namun tetaplah Allah yang Maha Tahu.
Allah akan selalu memilihkan yang terbaik. Untukku dan untukmu. Pesanku cukup
satu. Tetaplah istiqomah dalam upaya pemantasan diri. Terus upgrade diri untuk
pertemuan kita suatu saat nanti dan kita akan bersama merajut pelangi-pelangi
cinta Allah dalam bahtera yang sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin.
Wassalamualaikum…
Salam keselamatan untuk kau yang tercinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar