Tentang impian yang terkapar di ambang cakrawala senja. Antara siang dan malam, antara terang dan gelap, antara panas dan dingin, juga antara semangat dan penat. Selujur penaku tak mampu berkelana bebas. Seiring mimpi yang terbatas sempurna. Lagi-lagi perseteruan tentang kehidupan dunia dan setelahnya, serta mimpi-mimpi dunia dan sesudahnya.
Aku serasa sekeping mahkota dandelion. Berlarian terbang sekehendak angin. ke barat, timur, utara, selatan pun jadi. Hanya bergantung masa yang menghembuskan anginnya. Jika harus memilik, aku ingin serupa dandelion yang merekat erat pada pangkalnya. Tetap berpegang dan tetap tenang Meski topan menerjang, aku tak mungkin sendiri goyang. Kini, aku bahkan tak punyai sebongkah pijakan. Aku bingung untuk berarah. Kanan dan kiri di mataku kian manyamar. Bingung. Atas dan bawah juga semakin tak peka untukku. Aku butuh pegangan, pedoman, juga pemilik jawaban semua pertanyaan. Aku bingung tentang sejatinya eksistensi. Juga bingung masalah tujuan hati yang hakiki. Siapapun, ayolah jawab.
Masih pentingkah mimpi dunia?Menjadi penulis, S2 Sejarah Peradaban Islam, Menyibak panorama sejarah Islam dunia, berkunjung ke menara cinta. Arrggg...
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar