Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Sabtu, 03 Mei 2014
Jadi Harus Bertingkah Seperti Apa Kita?
Sepasang kontradiksi yang nyata, diajarkan pada satu otak yang sama. Mungkin mereka yang bisa menelan mentah tanpa tersedak adalah mereka yang enggan berpikir, hanyalah mereka yang tak memiliki sambungan syaraf antara mata dan kepala. Bagaimana tidak bingung, masih berpayung tarbiyah padahal. Sekarang apa beda antara mahasiswa dan santri? Bukankah kedua status itu sama-sama penuntut ilmu? Tapi kenapa satu realita harus dipandang dengan dua kacamata berbeda. Satu sisi kita disuruh untuk sedikit memejam mata atas nama khusnudzon dan ketawadlu`an. Sedangkan satu sisi yang lain menuntut kita memelotot tajam, mengusung kata kritis dan skeptis. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas kalimat "kyai bukan nabi"?, juga siapa yang bisa menjelaskan "hati orang siapa yang paham"?. Ya,,, otakku bercabang banyak, namun hatiku sukses terkoyak. 2 status ini menimbulkan kebingungan yang nyata. terpendam tanpa berani bertanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar