Senin, 05 Januari 2015

Ketika kumbang dan kembang tak lagi saling memulyakan

Kau tahu rasanya kecewa kah? Sakit rasanya. Apakah cinta itu selamanya memang menyakitkan? Ah.. mungkin benar kata seorang sahabat.Terlalu mengistimewakan dan terlalu merasa di istimewakan itu membahayakan. Efeknya menyebalkan.

Dan hari ini, semuanya terasa begitu sakit.
bukit-bukit pemulyaan tertinggi itu kini telah longsor akibat curah hujan yang terlampau tinggi. persis seperti di Banjarnegara tampaknya.
Padahal aku selalu menggemakan itu.
Padahal itu yang dulu terlalu memikat hatiku.
Padahal itu kilauan kebanggaanmu yang selalu kurindu.
Lantas apa yang terjadi kini?
Semuanya serba biasa.
Nilai itu luntur, luruh bersama limbah-limbah pergaulan.

Kumbang itu kini terlalu sadar bahwa kembang itu cantik.
Kembang pun berkedok keamanan dan kenyamanan persaudaraan membuka pintu kayu taman keindahannya
Apa yang kau harapkan?
Kenapa kau tega menghancurkan tempat mulia kebanggaanku dulu bahkan hingga saat ini?
Lantas kepada siapa aku menemukan jawaban itu?
Aku tahu kau pun tak merasa perlu untuk menatapku.
Apalagi menjawabku



Tidak ada komentar:

Posting Komentar