Lazimnya
sebuah janji, maka tanggung jawab haruslah ditepati. Memang inilah harapan yang
senantiasa terajut dibalik arti kata sumpah, janji, persaksian, baiat, dan yang
semacamnya. Bukan hanya pernyataan yang mengadat di antara para pejabat sebelum
mereka menerima kekuasaan yang “menggembirakan” dengan warna-warni dunia atau
minimal sebuah popularitas, pelantikan adalah sebuah prosesi sakral yang
disaksikan oleh semesta akan kredibilitas mereka dalam mengemban sebuah tanggung
jawab.
Senin,
2 Februari 2014. Perjanjian suci atas nama ilahi itu digemakan bersama pada
acara pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Bani Fattah.
Sebuah tim pioneer diminta kesaksiannya untuk mampu menjadi penggagas perubahan
seiring dengan amanah nama istitut yang telah diberikan oleh pemerintah kepada
kampus. Dengan dipimpin langsung oleh rektor IAI BAFA, Bapak KH. Abdul Holik
Hasan, M.HI, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa IAI BAFA masa abdi 2015-2016 secara
resmi dilantik. Dan mulai hari itulah segenap elemen kampus (yang diwakili oleh
bapak rektor sendiri) menyatakan benar-benar menantikan kinerja-kinerja hebat
BEM IAIBAFA.
Namun
sangat disayangkan ketika kita menalisik kenyataan yang terbenam dibalik acara
yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan bersama itu. Beberapa anggota BEM
sendiri terkesan kurang menganggap penting acara tersebut. Hal ini terlihat
dari prosentase kehadiran mereka yang tidak mencapai seratus persen tanpa adanya
alasan yang jelas. Ironis memang, tapi selagi pemerintahan BEM belum terlanjur
jauh berjalan, hendaknya pembangunan karakter dari masing-masing anggotanya dapat
dijadikan salah satu fokus utama yang perlu digarap terlebih dahulu.
Permasalahan
tampaknya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih seperti acara-acara kampus
sebelumnya, acara ini pun mencapai angka kemoloran yang tidak lazim. Undangan
yang bertuliskan jadwal acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan maksud akan
diadakan gladi bersih terlebih dahulu di awal, ternyata baru bisa dimulai
sekitar pukul 09.00 WIB, itu pun hanya dengan beberapa gelintir orang saja.
Belum lagi ketika di tengah gladi bersih, ada salah seorang dosen yang
menghendaki untuk masuk kelas dan lagi-lagi panitia penyelenggara tak bisa
mengelak hingga akhirnya memilih untuk menunda acara inti sampai pukul 11.00
WIB. Ini benar-benar masalah yang sangat klasik di kampus kita karena persis
seperti even terakhir yang tentunya masih segar dalam ingatan yakni acara
pemilu raya, pelantikan ini pun sudah mendapatkan izin dari bapak rektor namun
masih ada saja ketidak-sejalanan karena kurangnya sosialisasi. Lantas, haruskah
yang seperti ini akan dibiarkan menjadi adat kita? Semoga saja tidak. Berkali-kali
masalah yang sama terjadi seharusnya sudah bisa memberikan pelajaran sehingga hal
yang semacam ini tidak akan terulang lagi.
Kembali
berbicara tentang urgensi sebuah karakter, Harry S. Trauman mengatakan,
“disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dulu.
Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil
memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya
sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya.” Agaknya pernyataan
ini tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bpk Saiful Hidayat Lc.
Ditengah bobroknya moral para anggota-anggota BEM kampus-kampus lain bahkan
kampus Islam negeri diluar sana, hendaknya kita mampu menjadikan status perguruan
tinggi pesantren yang bercita-cita menjadi satu-satunya the center of tafaqquh
fiddin ini sebagai mercusuar sehingga kita tidak sampai hati seperti mereka
yang menyimpan beberapa kerat botol minuman keras di sekretariat BEMnya.
Inilah
makna integral sebuah tanggung jawab yang semestinya disadari oleh para anggota
BEM. Sebagai mahasiswa-mahasiswa IAI BAFA yang berada di gardu depan, tidak
hanya melulu berkutat dengan proker-proker BEM, namun lebih dari itu seharusnya
bisa menjadikan dirinya uswah. Minimal menjadikan disiplin diri sebagai prinsip
utama yang selalu dipegang erat. Baik disiplin secara akademis, disiplin dalam
berkeseharian, maupun disiplin dalam hal penghambaan. Maka, teruslah memohon
kepada Allah untuk diberi kemampuan menjalankan tanggung jawab ini secara
integral. Karena Rasulullah pun menegaskan di penghujung dasyatnya perang badar
bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang tentunya
memang jauh lebih berat dari perang badar. (_tha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar