Sabtu, 14 Februari 2015

Integralistik Makna Segenggam Jabatan

Lazimnya sebuah janji, maka tanggung jawab haruslah ditepati. Memang inilah harapan yang senantiasa terajut dibalik arti kata sumpah, janji, persaksian, baiat, dan yang semacamnya. Bukan hanya pernyataan yang mengadat di antara para pejabat sebelum mereka menerima kekuasaan yang “menggembirakan” dengan warna-warni dunia atau minimal sebuah popularitas, pelantikan adalah sebuah prosesi sakral yang disaksikan oleh semesta akan kredibilitas mereka dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Senin, 2 Februari 2014. Perjanjian suci atas nama ilahi itu digemakan bersama pada acara pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Bani Fattah. Sebuah tim pioneer diminta kesaksiannya untuk mampu menjadi penggagas perubahan seiring dengan amanah nama istitut yang telah diberikan oleh pemerintah kepada kampus. Dengan dipimpin langsung oleh rektor IAI BAFA, Bapak KH. Abdul Holik Hasan, M.HI, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa IAI BAFA masa abdi 2015-2016 secara resmi dilantik. Dan mulai hari itulah segenap elemen kampus (yang diwakili oleh bapak rektor sendiri) menyatakan benar-benar menantikan kinerja-kinerja hebat BEM IAIBAFA.
Namun sangat disayangkan ketika kita menalisik kenyataan yang terbenam dibalik acara yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan bersama itu. Beberapa anggota BEM sendiri terkesan kurang menganggap penting acara tersebut. Hal ini terlihat dari prosentase kehadiran mereka yang tidak mencapai seratus persen tanpa adanya alasan yang jelas. Ironis memang, tapi selagi pemerintahan BEM belum terlanjur jauh berjalan, hendaknya pembangunan karakter dari masing-masing anggotanya dapat dijadikan salah satu fokus utama yang perlu digarap terlebih dahulu.
Permasalahan tampaknya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih seperti acara-acara kampus sebelumnya, acara ini pun mencapai angka kemoloran yang tidak lazim. Undangan yang bertuliskan jadwal acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan maksud akan diadakan gladi bersih terlebih dahulu di awal, ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, itu pun hanya dengan beberapa gelintir orang saja. Belum lagi ketika di tengah gladi bersih, ada salah seorang dosen yang menghendaki untuk masuk kelas dan lagi-lagi panitia penyelenggara tak bisa mengelak hingga akhirnya memilih untuk menunda acara inti sampai pukul 11.00 WIB. Ini benar-benar masalah yang sangat klasik di kampus kita karena persis seperti even terakhir yang tentunya masih segar dalam ingatan yakni acara pemilu raya, pelantikan ini pun sudah mendapatkan izin dari bapak rektor namun masih ada saja ketidak-sejalanan karena kurangnya sosialisasi. Lantas, haruskah yang seperti ini akan dibiarkan menjadi adat kita? Semoga saja tidak. Berkali-kali masalah yang sama terjadi seharusnya sudah bisa memberikan pelajaran sehingga hal yang semacam ini tidak akan terulang lagi.
Kembali berbicara tentang urgensi sebuah karakter, Harry S. Trauman mengatakan, “disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya.” Agaknya pernyataan ini tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bpk Saiful Hidayat Lc. Ditengah bobroknya moral para anggota-anggota BEM kampus-kampus lain bahkan kampus Islam negeri diluar sana, hendaknya kita mampu menjadikan status perguruan tinggi pesantren yang bercita-cita menjadi satu-satunya the center of tafaqquh fiddin ini sebagai mercusuar sehingga kita tidak sampai hati seperti mereka yang menyimpan beberapa kerat botol minuman keras di sekretariat BEMnya.
Inilah makna integral sebuah tanggung jawab yang semestinya disadari oleh para anggota BEM. Sebagai mahasiswa-mahasiswa IAI BAFA yang berada di gardu depan, tidak hanya melulu berkutat dengan proker-proker BEM, namun lebih dari itu seharusnya bisa menjadikan dirinya uswah. Minimal menjadikan disiplin diri sebagai prinsip utama yang selalu dipegang erat. Baik disiplin secara akademis, disiplin dalam berkeseharian, maupun disiplin dalam hal penghambaan. Maka, teruslah memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan menjalankan tanggung jawab ini secara integral. Karena Rasulullah pun menegaskan di penghujung dasyatnya perang badar bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang tentunya memang jauh lebih berat dari perang badar. (_tha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar