Secangkir kopi yang menghangatkan
kota Bandung malam itu. Hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi, membunyikan
harmoni gemericik yang merdu. Malam yang sendu dengan langkah yang layu.
Seorang pemuda tampan tengah lelah menjalani rutinitas kampusnya seharian. Ia
berjalan menyusuri jalan-jalan menuju tempat yang senantiasa menerimanya tuk
sekedar melepas penat. Pondok Pesantren Al-Falah Dago.
“Assalamu`alaikum”, Furqon
melangkahkan kaki kanannya memasuki pintu kobong
santri putra Ponpes Al-Falah. Kehangatan selalu tercium dari tempat penuh
berkah ini. Bahkan dari jarak beberapa mater dari kobong, Furqon selalu
bisa merasakan sambutan hangat pesantren yang dicintainya itu .
“Wa`alaikum salam warahmatullahi
wabarokaatuh”, jawab teman-teman Furqon serempak.
“Kunaon Ustad, meuni lunglai kitu?”
tanya Angga dengan Bahasa Sundanya yang khas. Maklum, dia orang Tasikmalaya
asli.
Furqon hanya menjawabnya dengan
senyuman keletihan. Hari itu dia memang benar-benar capek dengan segala
tuntutan dosen tentang skripsi yang sedang dikerjakannya. Revisi lagi dan
revisi terus. Di tengah kemuramannya itu tiba-tiba seorang kawan
menghampirinya.
“Ustad, mau tahu kabar terbaru nggak?
Tuh, santri-santri pada hot ngobrolinnya”, ujar salah satu temannya dengan nada
yang berusaha membuat Furqon penasaran.
“Ah, pasti ini tentang cewek lagi
ya?” Furqon hanya menyahutinya malas. Entahlah, sejak kejadian itu, Furqon tak
lagi mampu menyusun ulang keping-keping cintanya untuk wanita lain. Bahkan
untuk tertarik dengan kaum hawa saja rasanya sudah tak berminat. Zakkiya, Gadis
sunda keturunan Arab yang begitu sholehah itu pernah memikat hati Furqon.
Namun, ternyata Zakkiya dikehendaki untuk bersanding dengan Sang Khalik disana.
Dan Furqon, mau tak mau harus melepasnya untuk Dzat yang lebih berhak atas diri
Zakkiya itu.
“Asli Kang, ini mah beda. Cantik
banget. Manis. Kulitnya putih. Bibirnya merah. Senyumnya,,, Ahh, geulis pisan
pokokna mah.
Percaya deh sama Angga”, ucap Angga menguatkan.
Tapi Furqon tetaplah Furqon. Ia
masih terlalu kelu untuk membicarakan wanita lagi setelah kanker darah itu
mengambil belahan jiwanya. Alhasil, dia hanya berlalu meninggalkan pembicaraan
itu dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Isya`.
*********
“Assalamu`alaikum”, Seorang kakek
tua berjubah putih bersih menghampiri Furqon. Wajahnya berseri dengan beberapa
rambut putih yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya. Suaranya berat penuh
kharisma.
“ Wa`alaikumsalam, Siapa Anda?”
Tanya Furqon dengan nada ketakutan.
“Kutitipkan ini untuk mu Jang.
Jaga ia baik-baik. Namun, jika ternyata suatu saat ia tidak ada padamu, berarti
ia memang tidak ditakdirkan untukmu”, ucap kakek tua itu sembari menyerahkan
setangkai mawar merah yang merekah indah. Furqon masih tercengang dengan
kata-kata kakek tersebut. Ia takut untuk menerimanya. Namun, keindahan sang
mawar yang mengagumkan setiap mata yang memandang itu membuatnya mampu menepis
segala ketakutan di hatinya. Furqonpun meraih mawar tersebut dengan hati-hati.
Beribu pertanyaan sesak memenuhi dada, namun tak ada satupun yang sempat
disampaikannya. Kakek tersebut sudah terlanjur berlalu meninggalkan Furqon tanpa mengucap
satu patahpun.
*********
Pagi itu Annisa sedang bersiap-siap
berangkat ke sekolah. Yah,,, dialah santriat baru yang menjadi buah bibir para
santri kemarin. Annisa Zahra. Siswa kelas 3 SMA pindahan dari Majalengka. Sudah
menjadi adat pesantren, sebelum berangkat sekolah setiap santri harus berpamitan
terlebih dahulu kepada Umik Ara, sebuah panggilan para santri kepada istri Abah
pengasuh mereka. Annisa pun berpamitan kepada Umik Ara. Setalah ia mencium
tangan beliau, Annisa segera memakai
sepatunya dengan sangat tergesa-gesa. Pagi itu, jarum jam sudah menunjukkan
pukul 06.55. 5 menit lagi pelajaran dimulai. Tidak mungkin dia yang masih
terbilang murid baru itu mengawali hari di sekolahnya dengan terlambat. Annisa bergegas.
Langkahnya cepat sedikit berlari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa, Annisa tak menyadari dari arah yang
berlawanan ada Furqon yang juga sedang terburu-buru menuju rumah Abah pengasuh.
Dan tiba-tiba, bruk,,, mereka secara tidak sengaja saling bertabrakan hingga
buku yang ada di tangan Furqon terjatuh.
“Maaf Kang, saya tidak sengaja”,
ucap Annisa dengan tangan kanannya mengambil sebuah buku ekonomi milik Furqon
yang terjatuh tadi. Iapun segera memberikan buku tersebut kepada Furqon. Tanpa
ia sadari, wajahnya terangkat dan seketika itu tatapan merekapun saling
bertabrakan. Tiba-tiba, keheningan sejenak menyelimuti mereka. Entah mengapa,
meraka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Dalam pancaran matanya, Furqon
tampak menyimpan kekaguman akan paras cantik Annisa. Dia memang cantik. Matanya
indah. Senyumnya manis berhias dua lesung di pipi. Hidungnya menunjukkan dia
masih bertalian dengan orang-orang Arab disana. Bibirnya merah tersungging
diantara kulitnya yang putih. Indah. Seindah setangkai mawar yang mekar
merekah. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Furqon teringat dengan mimpinya tadi
malam. Dia segera tersadar, mengambil bukunya, dan berlalu tanpa sepatah
katapun. Annisa sedikit aneh melihat tingkah Furqon. Namun, ia hanya tersenyum
kecil. Tampaknya, pertemuan dengan Furqon ini juga menyisakan kesan tersendiri
bagi Annisa.
*********
Furqon mulai bingung dengan keadaan
dirinya. Sejak saat itu, hati Furqon tampaknya telah kembali sehat dan
tertambat kepada sosok Annisa. Bayangan wajah Annisa selalu muncul di tiap
sudut hari-hari Furqon. Terkadang, bayangan itu bergantian dengan slide mimpinya
bertemu dengan kakek tua berjubah putih. Ia masih saja bingung. Kiranya apa
maksud bunga mawar yang dititipkan kepadanya. Yang jelas, satu benang merah
dapat ditarik dari keduanya. Annisa dan bunga mawar itu sama-sama indah. Bahkan
sangat indah. Tanpa ia sadari, pena yang dari tadi terdiam, kini ikut
menampilkan kegundahan atas suatu rasa yang tak biasa.
Annisa,,
Ada apa dengan rona wajahmu
Kenapa dia mampu membuatku terbayang
selalu
Matamu yang hitam penuh keteduhan
Bibirmu merah bagaikan buah apel
ranum
Dan senyum manis yang tersungging
elok di wajahmu
Tak pernah sekalipun hengkang dari
pikiranku
Wahai Annisa
Aku ingin selalu menjagamu
Aku ingin mendekap erat setangkai
mawar itu
Karena setangkai mawar itu kamu
Annisa Zahra
Wahai kau wanita yang seindah bunga
*********
Annisa melangkahkan kakinya menuju
kelas ta`lim. Hasil tes memutuskan ia masuk di kelas B majlis diniyah Ponpes
Al-Falah. Malam itu mata ta`limnya adalah tauhid. Annisa menempati tempat di
jajaran bangku depan. Dia memang sangat bersemangat dengan segala sesuatu yang
berhubungan dengan agama. Meski umurnya terbilang masih belia, namun
kesholehahannya tidak diragukan lagi. Ia selalu berusaha menjaga dirinya,
pandangannya, tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan hatinya. Ia berkomitmen
tak akan mewarnai sejarah hidupnya dengan cinta yang dimurkai Allah SWT. Dia
hanya mendambakan cinta suci yang terjalin di atas sebuah ikatan kehalalan.
Annisa menunggu Sang ustad hadir
sembari membuka-buka kitab tauhid yang akan dibahas. Tiba-tiba, terdengarlah
ucapan salam dari arah pintu kelas tersebut.
“Assalamu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam warahmatullahi
wabarokatuh”, jawab para santri. Annisa tersentak ketika melihat siapa yang
masuk. “Ini kan lelaki yang kemarin aku tabrak”, ujarnya dalam hati. Furqon
memang telah lama mengabdi di pesantren itu. Karena keilmuaanya yang tinggi, ia
dipercaya untuk menjadi ustad badal
di sana. Ketika pengajar yang sebenarnya ada halangan untuk hadir, maka dialah
yang menggantikan ustad tersebut mengajar para santri.
Jantung Annisa tiba-tiba berdegup
kencang. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi di hatinya. Ia hanya
berusaha menepis rasa aneh itu dengan terus menunduk. Berharap dengan menjaga
pandangan mata, ia bisa sedikit mengontrol kekacauan yang menerkamnya.
Ternyata di sebrang hati sana tak
jauh berbeda. Mengetahui ada Annisa di kelas yang diajarnya, tiba-tiba Furqon
merasa benar-benar kikuk. Materi mengajar yang telah disiapkan serasa
terbang. Lisannya juga serasa kaku. Benar-benar bukan Ustad Furqon yang
biasanya.
*********
Setahun berlalu. Tak ada yang
berubah dari hati Furqon. Ia masih tetap menyimpan rapat rasa cintanya kepada
Annisa. Namun, kali itu Furqon merasa sudah tak sanggup lagi untuk terus
menyimpan. Rongga hatinya serasa sudah sesak dengan partikel-partikel cintanya
yang semakin hari semakin bertambah. Ia diterpa kegalauan yang teramat sangat.
Malam itu, tiba-tiba ia teringat akan buku latihan santri kelas B yang masih
ada padanya. Tanpa pikir panjang Furqon menyelipkan puisinya di buku milik
Annisa. Menurut Furqon, ini adalah bentuk ikhtiyarnya. Selebihnya, ia hanya
akan menyerahkan segala perasaan itu kepada Yang Maha Memberi Rasa. Dalam
kidung do`anya, Furqon memohon agar diberi keselamatan. Jangan sampai
perasaannya itu ditunggangi syetan sehingga akan menjerumuskannya pada jurang
kenistaan.
Keesokan paginya Furqon terbangun.
Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. Kali ini Sang Kakek hanya datang
kepadanya untuk menanyakan bagaimanakah keadaan Furqon dan menegaskan bahwa ia
harus benar-benar menjaga bunga mawar yang pernah dititipkan itu. Dalam
mimpinya, Furqon mengiyakan permintaan Sang kakek. “Sebenarnya siapakah kakek
tua itu? Kenapa beliau datang lagi saat aku berniatan mengungkapkan perasaanku
pada Annisa? Apakah bunga mawar itu memang sebuah pengibaratan atas diri
Annisa?” pikirnya dalam hati.
Siang itu Furqon mengawali pulang
dari kampus. Di sepanjang jalan kota Bandung yang disusurinya, banyak sekali
pemandangan pasangan muda-mudi yang berdua-duaan. Terlintas suatu perasaan iri
dalam hati Furqon.
“Pasti bahagia kalau aku dan Annisa
bisa seperti mereka”, ujarnya. Lamunan-lamunan nakal mulai mengisi pikirannya
lagi. Hingga ia tiba di kobong dan menemukan sepucuk surat yang terlipat
manis di dalam lemarinya. Ia segera membukanya dan membaca kata demi kata yang
tertulis disana.
Aku hanyalah seorang wanita
Yang ingin dijaga dan ingin dicinta
Biarlah hati ini terjerat
Jika ia tetap berpegang pada jalan
Syariat
Aku hanya seorang penanti
Menanti pangeran yang menjemputku
dengan hati
Disini
aku menanti
Disana kau juga silahkan menanti
Menanti kehalalan yang diberikan
Allah untuk dua hati ini
Datangi kedua orang tuaku
Karena aku hanya ingin dicinta
dengan kemulyaan cinta karena Allah
Inilah jawaban dari Annisa.
“Astaghfirullahaladzim.” Furqon merasa sangat bersalah dengan
lamunan-lamunannya tadi. Tak seharusnya ia menginginkan Annisa tanpa adanya
kehalalan Allah. Iya, cinta memang anugerah, namun jika cinta dituruti pada saat
yang tidak tepat, maka ia akan berubah menjadi musibah.
“Iya Annisa. Aku akan benar-benar
menepati janjiku kepada Sang kakek itu. Takkan kubiarkan cinta ini menodai
keindahanmu. Aku akan menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga hatimu, dan
menjaga kesucianmu. Terimakasih Ya Allah, kau hadirkan cinta ini untuknya.
Untuk sesosok wanita sholehah yang selalu mendambakan keridhoan dan cintaMu”
*********
3 tahun berlalu. Furqon telah
mempersiapkan moment itu sejak jauh-jauh hari. Ini adalah hari special
untuknya. Karena di belakang kalimat qobiltu itu, segala kehalalan cinta
terbuka. Furqon akan benar-benar memiliki dan menjaga setangkai mawar yang
dititipkan kepadanya. Iya, Setangkai mawar itulah gadis cantik bernama Annisa
Zahra. Gadis yang teramat indah, seindah makna namanya. Wanita bunga. Pada
akhirnya cinta merekapun dipersatukan dalam suatu keberkahan ikatan pernikahan.
Menguntai kebahagiaan demi kebahagiaan dalam keluarga sakinah mawaddah wa
rahmah. (Alya
Al-Hikmah)
*********