Jumat, 28 Februari 2014

Nilai Jatuh Bersama Rinai


Hujan Mengajariku lagi
Tentang amarah, penyesalan, dan air mata
Juga tentang arti sebuah pertaubatan

Bahkan setelah geram seharian, menantang segala jagad raya dengan panasnya yang menggilan, ia tak malu tuk menderaikan air mata penyesalan. Hujan bukanlah simbol kecengengan. Melainkan hujan adalah bentuk kepasrahan langit kepada Tuhan. AAngkasa boleh kokoh memayungi semesta. Namun ia juga seorang hamba. tak sanggup ia menerima segala kenistaan yang menyakitinya.

Ia marah, lalu ia menengadah. Ia murka, sejurus kemudian ia berduka. Hujan itulah air mata pertaubatannya. Menangis dan mengais ampunan-Nya. Ia paham, tak sepatutnya ia geram. Ia sadar, seharusnya cukuplah ia untuk bersabar. Namun rinai permohonan itu berbalas langit senja bertemaram manja. Indah

Dan itulah sejatinya. Bukan panasnya bumi yang patut dicaci, melainkan damainya semesta setelah hujan inilah yang semestinya kita ambil maknanya.
Tentang Penyesalan dan Pertaubatan.

Senin, 17 Februari 2014

Kenapa Musti Baca Bismillah??

Seringlah pastinya kita baca lafadz “bismillah”. Minimal pas waktu mau sholat, mau ngaji, mau wudlu, atau bahkan banyak juga yang di setiap mau melakukan apapun, dia pasti mengawalinya dengan “bismillah”. Saking udah terbiasa banget sampek akhirnya bisa mendarah daging kayak gitu.
Tapi pernah nggak sih mikir, kenapa kita disuruh buat membaca “bismillah”? Mau jawab “Ya karna itu perintah Allah”? Balik lagi dong ke pertanyaannya. Hehe

Okey,,, Bagi ilmu nih ya ceritanya :)

Sekurang-kurangnya ada 2 alasan kenapa kita musti baca Basmallah :

Yang disebut adalah nama Allah.
Kenapa nama? Ada apa dengan nama?
Ya karena nama itu abadi. (bukan abadi dalam artian seperti abadinya Allah lho yaa.. tetap Allah yang Maha Kekal). Termasuk juga nama kita. Sekalipun kitanya udah mati, nama kita bakal tetep ada kan meskipun hanya di nisan? Dan ntar juga waktu dihisab di akhirat Allah bakal manggil Nama kita, Al Hikmah binti Sukri misalnya. Hehe
Karena yang kita sebut itu nama Allah, sehingga diharapkan apa yang kita lakukan itu akan mempunyai manfaat abadi dengan menyebut nama Dzat yang Maha Abadi. Selain itu karena dengan menyebut nama Sang Maha, maka segala yang mengganggu itu bakal takut. So,,, kita bisa mencegah dan menanggulangi “human eror” yang mungkin terjadi.

Yang disebut itu sifat "Rahman" dan "Rahim"
Terus kenapa yang disebut itu sifat “Rahman”?
Agar kita sebagai mahkluk Allah juga bisa memiliki sifat welas (kasih sayang). Karena sifat rahman itu sejatinya adalah sifat kasih Allah yang diberikan di dunia, kepada semuuuanya, dan dapat kita rasakan.
Terus kenapa juga yang disebut itu sifat “Rahiim”?
Kita kan bakal kembali ke Allah, dengan mengucap basmallah apa yang kita lakukan diharapkan akan bisa mengantarkan kita buat kembali ke Allah dan mendapat Rahiimnya Allah. Karena sifat rahim itu sejatinya adalah sifat kasih sayang Allah yang diberikan khusus untuk umat Islam di akhirat nanti.


Well, semoga ini bisa jadi motivasi kita buat bisa selalu mengawali segala aktivitas kita dengan bacaan “Bismillah” ya… Amiin 

Minggu, 16 Februari 2014

Akhir Sang Bidadari


Bahkan air mata menjelma permata
Terbang mengejar pergi
Sedang senyum membelah pekatnya malam
Memendarkan pijaran
Atas beberapa kali lambaian

Aku terkesima
Dalam dentang yang kian lama
Banyak mata menggenangkan cinta
Segenap sukma mengharukan rasa

Inikah balasan?
Atau inikah persembahan?
Dan sang bidadari
Masih saja berpayung pelangi
Namun di hari ini
Pengembaraannya berakhir sampai di sini

Jumat, 14 Februari 2014

Aku Menyebutnya "Hari Pink Abu-abu"

14 Februari 2014. Kebetulan atau apalah aku juga tak paham. Yang jelas, aku menyebut hari kemarin itu dengan sebutan "Hari pink abu-abu". Yah,,, begitulah Allah. Dzat yang sangat bisa merubah suatu keadaan. Di berbagai belahan dunia, banyak orang yang bersuka cita mempersiapkan hari yang oleh orang selain Islam disebut sebagai hari Valentine dan disini, nuansa pink itu diubah seketika oleh Allah dengan abu-abu. Di hari terlaknat yang  banyak mengantarkan manusia kepada berbagai bentuk maksiyat inilah, Allah menunjukkan kekuasaannya. Subhanallah

Bermulai pagi hari kira-kira pukul 03.30 WIB. Jombang dan pastinya wilayah lain di sekitar kelud bahkan sampai jawa tengah sudah tertutup oleh abu vulkanik pasca meletusnya Gunung Kelud. Kala itu, kami memang belum mendapat kabar jelas tentang meletusnya gunung yang terletak di perbatasan Kediri, Malang, dan Blitar itu. Yang sempat kami tangkap pada jam yang dikabarkan Gunung Kelud meletus hanyalah sambaran kilat yang cukup mengagetkan. Tepatnya waktu itu kami sedang manikmati mie instan bersama seluruh penghuni kamar Babussalam Ponpes Al-Mardliyah. Melihat sambaran kilat, kami awalnya tidak berfikir apa-apa. kaget memang, tapi masih biasa saja. Namun, ketika malam sudah mulai larut, beberapa kawan yang tidur di serambi kamar dikagetkan oleh debu-debu yang bertebaran, yang akhirnya membangunkan mereka karena memang debu itu dalam jumlah banyak. Baru ketika debu-debu itu sudah terlalu menganggu, kami mulai nyandak kalo ini pasti ada hubungannya dengan Gunung Kelud yang dikabarkan berstatus siaga satu.

Belum Subuh memang, tapi sudah banyak para santri yang terbangun dan hanya terpana dengan keadaan yang ada. Halaman kotor, baju-baju yang dijemur juga kotor, tanaman-tanaman yang awalnya berwarna hijau pun menjadi abu, genteng-genteng tetangga yang tampak dari lantai tiga tertutup abu yang cukup tebal. Subhanallah,,, meski alhamdulillah Jombang  hanya ditimpa hujan abu, tapi kejadian ini sangat membuat kami bertafakkur sedalam-dalamnya.
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat,kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan, ALLAH MENGATUR URUSAN(Makhluk-Nya), MENJELASKAN TANDA-TANDA (Kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu)dengan Tuhanmu."(Qur`an Surat 13 ayat 2)
Masih terngiang peristiwa tsunami, yakni tanggal 24 Desember 2004, Sehari Sebelum HARI NATAL.
Dan sekarang peristiwa meletusnya Gunung Kelud, tanggal 13 Februari 2014, Sehari Sebelum HARI VALENTINE. Keduanya adalah hari yang sangat diagung-agungkan oleh umat selain Islam. Subahanallah...

Wahai Allah,,,
alamat apa yang ingin kau sampaikan kepada kami Ya Rabb...
Setelah kemarin gempa di wilayah Jawa Tengah,
Gunung Sinabung meletus di Medan,
Longsor dan Banjir di Jombang,
dan kali ini meletus Gunung Kelud yang ketinggiannya mencapai 17 kilometer,
juga hujan abu vulkaniknya yang sampai pada wilayah Jogja dan Jawa Tengah.
Betapa kita telah banyak melupakanMu
Berpaling dariMu dan sejengkal demi sejengkal mengikuti musuh-musuhMu
Ampuni kami Ya Rabb,,,

Bersama segala fenomena bencana ini,
Ada rahmatMu yang selalu kau limpahkan pada Kami
Peringatan inilah bentuk cintaMu.
Agar kami semakin yakin padaMu.
Supaya kami juga semakin iman pada sifat-sifatMu
Serta semakin mendekat kepadaMu.

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang PEMBERI PERINGATAN YANG NYATA kepadamu." - " Maka ORANG- ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SALEH, BAGI MEREKA AMPUNAN DAN REZKI YANG MULIA." (Qur`an Surat 22:49-50)
Dan Allah lah Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu. 

Selasa, 11 Februari 2014

Satu Lagi Sahabat Berlabuh

Satu pelukan untukmu wahai sahabatku. Ku dapat rasakan fibrasi kebahagiaan yang bergetar di hati itu. Betapa i`tikad baikmu bersambut dengan satu lafadz yang tlah kau nanti sangat. Ahsan. Selamat... Setidaknya peta buta pencarian sang pemilik rusuk itu sudah terpegang erat dalam genggamanmu. Dan langkah-langkahnya sudah berjalan setapak. tinggal mendaki dan mendekat. Serta jangan lupa kau harus selalu berserah akan segala iradat.
sahabat... Lagi-lagi hanya segenap do`a yang kan mengalir bersama bahagiamu. memeluk langkah-langkah perdana menuju mahligaimu. Barokallahu lakuma wa baroka alaikuma mbak Clara... aku antri do`anya ya... :D hahahaha

Minggu, 09 Februari 2014

Menggapai Pelangi Cita :)

" Lil, ntar kalo ada buku pengarangnya Alya Al-Hikmah, berarti itu buku aku ya!"
" Iya mbak Vit, kalo nanti ada novel penulisnya Lylacious itu berarti karangan aku. :D "

Obrolan pagi kami mengalir. Seumpama anak sungai di antara perbukitan-perbukitan berpayung senyuman elok sang mentari. Sedikit mengandai memang. Dari sini, dari sebuah kamar kecil berhunikan 10 orang santriwati, kami mulai merajut mimpi, menuai harapan, dan menggapai suatu perwujudan.

Bakat raksasa di balik tubuhnya yang kecil. Di tirai malamnya, kutahu hatinya teringsak tangis. Bukan dunia yang terlalu jahat padanya. Hanya sepasang malaikat yang ingin mengkader pribadi tangguhnya. Kegemarannya sama sepertiku. Bersahabat dengan bermacam kata dan aksara. Berlayar bersama perahu kertas dan berdayung sepasang tinta emas. Karya-karyanya kuacungi pasti. Hanya duka ketika melihat seberkas pandangan itu meredup karna pelangi citanya tampak tak beranak tangga.
Oh Kawan kecilku, kutahu betapa berat harimu. Namun tak kubolehkan mimpimu yang membara itu harus terbakar hangus tinggal abu. Kutunggu sepak terjangmu wahai sahabat kecilku. Kugandeng asamu bersama alunan do`aku mengantarkan mimpiku. Hingga kelak kita akan sama-sama berdiri di ujung pelangi, karena Allah telah menghendaki segala yang kita ingini. Semoga-semoga-dan semoga.
Ku gapai dan Kau gapai.

Sabtu, 01 Februari 2014

Surat cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 3 (6 Januari 2014)


Assalamualaikum…
Maaf, sepertinya cukup lama aku tak mengabarkan hariku kepadamu. Hehehe… ternyata aku juga merasakan rindu untuk berkisah bersamamu. Apa kabar? Semoga kau senantiasa baik ya di sana.
Aku tahu, waktu memang tak pernah mau menunggu. Ia terus menggulir. Meninggalkan siapapun yang tak merasa ditunggu. Iya, tak terasa hari ini sudah hari ke 6 di bulan Januari 2014. Pergantian hari tak pernah kusesali karena ia semakin mengantarkanku pada pertemuan itu, pertemuan dengan mu dan pertemuan dengan Rabbku.

Kasih,,,
Aku hanya ingin membagi nikmatnya bercinta dengan seorang kekasih yang haqiqi. Saking nikmatnya, aku tak pernah berhenti untuk memohon cinta ini selalu ada di hatiku. Maaf… kita memang tidak patut membagi hati. Kecuali mambagi hati hanya kepada yang memiliki hati dan kekasih Sang pemilik hati tersebut. Iya cinta. Mungkin kelak ketika aku bertemu denganmu, cintaku akan tersengkut padamu, tapi lagi-lagi cinta itu hanya akan kujadikan sarana untuk meraih cinta haqiqiku, dan kuharap kau pun bisa memahami atau bahkan berpinsrip seperti itu juga.

Cinta,,,
Aku tak pernah bermaksud membuatmu cemburu. Hanya saja aku bermaksud untuk membuatmu turut mencinta apa yang selalu aku cinta. Bahkan semua katapun tak mampu untuk mengungkap indah akhlaknya, elok lahirnya, dan mulia derajatnya. Nabi Muhammad adalah yang terindah sepanjang zaman. Tanpa cahayanya, Allahpun takkan berkenan menciptakan alam semesta. Namanya tertulis banyak di surga hingga Nabi Adam as. Bertanya-tanya siapakah gerangan nama yang diagungkan di sana.

Iya Cinta…
Betapa aku ingin mengenalnya lebih dekat. Betapa aku ingin semakin mencintainya karena Allahpun sangat mencintainya. Betapa aku ingin bertemu dengannya. Betapa aku ingin menatap paras menawannya. Betapa aku ingin mencium aroma harumnya. Betapa aku ingin duduk bersanding bersamanya. Betapa aku ingin mendapatkan syafaatnya. Betapa aku ingin menjadi umat yang dibanggakan olehnya.
Assholatu alaika Ya Rasulallah… Assholatu alaika Ya Nabiyallah… Assholatu alaika Ya habiballah. Ya Rasulallah, undhurniy… undhurniy Ya Rasulallah…
Dan Rasulallah pernah bersabda, man ahabbaniy fa huwa ma`iy fil jannah.

Kasih…
Aku ingin kelak kita berdua bisa bersama dengan Nabi Muhammad. Berkumpul bersama mereka-mereka para pecinta Nabi Muhammad SAW. Dan sekarang aku ingin mengajakmu menapaki tangga-tangga cinta itu. Mari kita bersama jadikan hari-hari kita adalah untuk mencari keridhoan Allah. Menjadikan keluarga kita kelak keluarga para pecinta rasul yang ramai dengan sholawat, yang senang dengan sunnah, yang bangga dengan khoirul bariyyah, Rasulullah Muhammad SAW.
Hari ini sudah sangat dekat dengan hari ulang tahun Rasulullah. Mari kita tunjukkan betapa kita berbahagia dengan kelahiran insan termulia sepanjang zaman ini. Siapkan kado terbaik kita untuknya. Hadirkan beliau dalam setiap langkah kita. Hidupkan sunnahnya. J
Dan kita serukan bersama “ KAMI MENCINTAIMU YA RASULALLAH” Allahumma sholli wa sallim ala sayyidinaa Muhammad J

Cinta…
Karena aku selalu berharap kaulah pendampingku dunia akhirat, maka aku pun selalu berharap kelak kita sama-sama di surga. Aku selalu ingin kita menjadi pasangan yang saling mengingatkan karena Allah. Menjadi orang tua yang selalu mengingatkan anak cucu kita kepada Allah dan Rasulallah SAW. Semoga kaupun senang dengan rencana hidupku ini.
Wassalamualaikum wr. wb.
Salam cinta kami Ya Rasulallah SAW…

Serunya Bermain dengan Aksara :)


Terimakasih sebanyak-banyaknya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 2 makhluk merah kesayanganku ini. Laptop 12 inch ku yang meskipun angka 5 nya tanggal, tapi dia tetap sehat dan setia menemaniku dalam tiap pergolakan hatiku. Dan agenda merah bercorak kotak-kotak hitam yang mulai sangat lecek karena hampir tiap hari kubuka 3 x sehari. Yah,,, merekalah supporter setia atas bangkitnya seorang Alya Al-Hikmah dari segala keterpurukan hari. Bahkan atas jasa mereka jualah, seorang Alya Al-Hikmah telah mampu menemukan makna asa yang tergenggam untuk masa depannya. Yang jelas mereka berdualah yang berperan besar dalam penyatuan keping-keping aksara yang berlarian di otakku. Terimakasih Merahku… J

Yups… kita awali dengan “membaca”. Sadar maupun tidak, membaca adalah kegiatan yang paling tepat untuk menghabiskan waktu dengan tidak percuma. Membaca apapun itu. Membaca Al-Qur’an? Sudah jelas iya. Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala bagi para pembaca Al-Qur’an meskipun tanpa tahu arti dan kandungannya. Membaca buku? Iya. Karena seorang penulis buku itu juga pasti berpikir, hingga pikiran-pikirannya dapat tertuang dalam ilmu-ilmu untuk kita baca bersama. Membaca novel? Eits,,, jangan dikira membaca novel itu cuma baca-baca cerita biasa yang nggak ada manfaatnya lho ya… Membaca novel itu ibarat kita membaca kehidupan. Banyak sekali tipe-tipe kehidupan seseorang yang memang Allah berikan berbeda-beda sebagai warna-warni ujian manusia di dunia dan dari situlah kita bisa mengambil i`tibar. Apa saja hikmah yang terkandung di dalamnya, bagaimana cara seseorang di kisah itu mengatasi segala masalahnya, bangkit dari keterpurukannya, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diterimanya, atau bahkan mengambil pelajaran dari pemeran antagonisnya sekalipun. Buktinya, banyak sekali novel-novel yang telah sukses memotivasi para pembacanya, salah satunya adalah sebuah novel terkenal berjudul  Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Selain itu, dari membaca kita jadi ada bahan untuk menulis. Minimal tau kata-kata enak yang bisa ditiru untuk tulisan-tulisan kita. J


Lanjut yang kedua “menulis”. Satu fakta yang mungkin memang tidak baru ada tapi baru aku baca dituliskan pada buku Ketika Cinta Pergi, bahwasanya “Menulis adalah terapi galau yang mujarab untuk mengobati segala lara di hati.” Bahkan di buku itu juga tertulis sebuah quotes anonym yang menurutku sangat menarik. “Janganlah kau menyakiti hati wanita pintar karena kisahmu akan ditulis dan menjadi sebuah novel yang bestseller.” Iya… aku pikir benar juga. Seringkali di tengah gundah gulananya hati, seseorang akan lebih berhasrat untuk meraih pena dan mencoret-coretkannya. Entah hasilnya puisi, cerpen, novel, artikel, curahan hati, atau hanya coret-coretan ala kadarnya seperti Alya <3 Muhammad, dsb. Kecenderungan ini memang dapat kita buktikan sendiri kebenarannya. Terkhusus bagi para pecinta diary, pasti sangat mampu merasakan bahwa diary adalah sahabat yang bisa menjadi curahan sesaknya dada meski hanya lewat goresan-goresan pena. Hingga akhirnya emosi kita bisa reda, lega, dan kembali biasa. J Selain itu, kegiatan menulis juga merupakan pupuk yang menyuburkan memori kita. Disaat ingatan mulai kering karena lupa, maka catatan-catatan kitalah yang akan merefresh dan menyuburkan kembali apa yang sudah pernah ada di otak kita itu. Bahkan yang lebih hebatnya lagi tulisan adalah penyampaian ilmu kita yang akan tetap ada meskipun kita telah tiada. Menulis juga dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk dakwah kita untuk melanjutkan perjuangan Habibina Muhammad SAW demi meraih kecintaan dan keridhoan-Nya. Dalam segala jenis tulisan, kita dapat menyelipkan butir-butir risalah indah yang dibawa olah Rasulullah SAW. Dengan begitu, manfaat yang kita dapatkan dan yang kita berikan bisa semakin banyak. So… Keep reading and writing ya guys! Salam hikmah dari Alya Al-Hikmah… J

Setangkai Mawar Itu...


Secangkir kopi yang menghangatkan kota Bandung malam itu. Hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi, membunyikan harmoni gemericik yang merdu. Malam yang sendu dengan langkah yang layu. Seorang pemuda tampan tengah lelah menjalani rutinitas kampusnya seharian. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan menuju tempat yang senantiasa menerimanya tuk sekedar melepas penat. Pondok Pesantren Al-Falah Dago.
“Assalamu`alaikum”, Furqon melangkahkan kaki kanannya memasuki pintu kobong[1] santri putra Ponpes Al-Falah. Kehangatan selalu tercium dari tempat penuh berkah ini. Bahkan dari jarak beberapa mater dari kobong, Furqon selalu bisa merasakan sambutan hangat pesantren yang dicintainya itu .
“Wa`alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh”, jawab teman-teman Furqon serempak.
Kunaon Ustad, meuni lunglai kitu? [2]” tanya Angga dengan Bahasa Sundanya yang khas. Maklum, dia orang Tasikmalaya asli.
Furqon hanya menjawabnya dengan senyuman keletihan. Hari itu dia memang benar-benar capek dengan segala tuntutan dosen tentang skripsi yang sedang dikerjakannya. Revisi lagi dan revisi terus. Di tengah kemuramannya itu tiba-tiba seorang kawan menghampirinya.
“Ustad, mau tahu kabar terbaru nggak? Tuh, santri-santri pada hot ngobrolinnya”, ujar salah satu temannya dengan nada yang berusaha membuat Furqon penasaran.
“Ah, pasti ini tentang cewek lagi ya?” Furqon hanya menyahutinya malas. Entahlah, sejak kejadian itu, Furqon tak lagi mampu menyusun ulang keping-keping cintanya untuk wanita lain. Bahkan untuk tertarik dengan kaum hawa saja rasanya sudah tak berminat. Zakkiya, Gadis sunda keturunan Arab yang begitu sholehah itu pernah memikat hati Furqon. Namun, ternyata Zakkiya dikehendaki untuk bersanding dengan Sang Khalik disana. Dan Furqon, mau tak mau harus melepasnya untuk Dzat yang lebih berhak atas diri Zakkiya itu.
“Asli Kang, ini mah beda. Cantik banget. Manis. Kulitnya putih. Bibirnya merah. Senyumnya,,, Ahh, geulis pisan pokokna mah[3]. Percaya deh sama Angga”, ucap Angga menguatkan.
Tapi Furqon tetaplah Furqon. Ia masih terlalu kelu untuk membicarakan wanita lagi setelah kanker darah itu mengambil belahan jiwanya. Alhasil, dia hanya berlalu meninggalkan pembicaraan itu dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Isya`.
*********
“Assalamu`alaikum”, Seorang kakek tua berjubah putih bersih menghampiri Furqon. Wajahnya berseri dengan beberapa rambut putih yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya. Suaranya berat penuh kharisma.
“ Wa`alaikumsalam, Siapa Anda?” Tanya Furqon dengan nada ketakutan.
“Kutitipkan ini untuk mu Jang[4]. Jaga ia baik-baik. Namun, jika ternyata suatu saat ia tidak ada padamu, berarti ia memang tidak ditakdirkan untukmu”, ucap kakek tua itu sembari menyerahkan setangkai mawar merah yang merekah indah. Furqon masih tercengang dengan kata-kata kakek tersebut. Ia takut untuk menerimanya. Namun, keindahan sang mawar yang mengagumkan setiap mata yang memandang itu membuatnya mampu menepis segala ketakutan di hatinya. Furqonpun meraih mawar tersebut dengan hati-hati. Beribu pertanyaan sesak memenuhi dada, namun tak ada satupun yang sempat disampaikannya. Kakek tersebut sudah terlanjur  berlalu meninggalkan Furqon tanpa mengucap satu patahpun.
*********
Pagi itu Annisa sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. Yah,,, dialah santriat baru yang menjadi buah bibir para santri kemarin. Annisa Zahra. Siswa kelas 3 SMA pindahan dari Majalengka. Sudah menjadi adat pesantren, sebelum berangkat sekolah setiap santri harus berpamitan terlebih dahulu kepada Umik Ara, sebuah panggilan para santri kepada istri Abah pengasuh mereka. Annisa pun berpamitan kepada Umik Ara. Setalah ia mencium tangan beliau,  Annisa segera memakai sepatunya dengan sangat tergesa-gesa. Pagi itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.55. 5 menit lagi pelajaran dimulai. Tidak mungkin dia yang masih terbilang murid baru itu mengawali hari di sekolahnya dengan terlambat. Annisa bergegas. Langkahnya cepat sedikit berlari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa,  Annisa tak menyadari dari arah yang berlawanan ada Furqon yang juga sedang terburu-buru menuju rumah Abah pengasuh. Dan tiba-tiba, bruk,,, mereka secara tidak sengaja saling bertabrakan hingga buku yang ada di tangan Furqon terjatuh.
“Maaf Kang, saya tidak sengaja”, ucap Annisa dengan tangan kanannya mengambil sebuah buku ekonomi milik Furqon yang terjatuh tadi. Iapun segera memberikan buku tersebut kepada Furqon. Tanpa ia sadari, wajahnya terangkat dan seketika itu tatapan merekapun saling bertabrakan. Tiba-tiba, keheningan sejenak menyelimuti mereka. Entah mengapa, meraka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Dalam pancaran matanya, Furqon tampak menyimpan kekaguman akan paras cantik Annisa. Dia memang cantik. Matanya indah. Senyumnya manis berhias dua lesung di pipi. Hidungnya menunjukkan dia masih bertalian dengan orang-orang Arab disana. Bibirnya merah tersungging diantara kulitnya yang putih. Indah. Seindah setangkai mawar yang mekar merekah. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Furqon teringat dengan mimpinya tadi malam. Dia segera tersadar, mengambil bukunya, dan berlalu tanpa sepatah katapun. Annisa sedikit aneh melihat tingkah Furqon. Namun, ia hanya tersenyum kecil. Tampaknya, pertemuan dengan Furqon ini juga menyisakan kesan tersendiri bagi Annisa.
*********
Furqon mulai bingung dengan keadaan dirinya. Sejak saat itu, hati Furqon tampaknya telah kembali sehat dan tertambat kepada sosok Annisa. Bayangan wajah Annisa selalu muncul di tiap sudut hari-hari Furqon. Terkadang, bayangan itu bergantian dengan slide mimpinya bertemu dengan kakek tua berjubah putih. Ia masih saja bingung. Kiranya apa maksud bunga mawar yang dititipkan kepadanya. Yang jelas, satu benang merah dapat ditarik dari keduanya. Annisa dan bunga mawar itu sama-sama indah. Bahkan sangat indah. Tanpa ia sadari, pena yang dari tadi terdiam, kini ikut menampilkan kegundahan atas suatu rasa yang tak biasa.
Annisa,,
Ada apa dengan rona wajahmu
Kenapa dia mampu membuatku terbayang selalu
Matamu yang hitam penuh keteduhan
Bibirmu merah bagaikan buah apel ranum
Dan senyum manis yang tersungging elok di wajahmu
Tak pernah sekalipun hengkang dari pikiranku
Wahai Annisa
Aku ingin selalu menjagamu
Aku ingin mendekap erat setangkai mawar itu
Karena setangkai mawar itu kamu
Annisa Zahra
Wahai kau wanita yang seindah bunga
*********
Annisa melangkahkan kakinya menuju kelas ta`lim. Hasil tes memutuskan ia masuk di kelas B majlis diniyah Ponpes Al-Falah. Malam itu mata ta`limnya adalah tauhid. Annisa menempati tempat di jajaran bangku depan. Dia memang sangat bersemangat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Meski umurnya terbilang masih belia, namun kesholehahannya tidak diragukan lagi. Ia selalu berusaha menjaga dirinya, pandangannya, tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan hatinya. Ia berkomitmen tak akan mewarnai sejarah hidupnya dengan cinta yang dimurkai Allah SWT. Dia hanya mendambakan cinta suci yang terjalin di atas sebuah ikatan kehalalan.
Annisa menunggu Sang ustad hadir sembari membuka-buka kitab tauhid yang akan dibahas. Tiba-tiba, terdengarlah ucapan salam dari arah pintu kelas tersebut.
“Assalamu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh”, jawab para santri. Annisa tersentak ketika melihat siapa yang masuk. “Ini kan lelaki yang kemarin aku tabrak”, ujarnya dalam hati. Furqon memang telah lama mengabdi di pesantren itu. Karena keilmuaanya yang tinggi, ia dipercaya untuk menjadi ustad badal[5] di sana. Ketika pengajar yang sebenarnya ada halangan untuk hadir, maka dialah yang menggantikan ustad tersebut mengajar para santri.
Jantung Annisa tiba-tiba berdegup kencang. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi di hatinya. Ia hanya berusaha menepis rasa aneh itu dengan terus menunduk. Berharap dengan menjaga pandangan mata, ia bisa sedikit mengontrol kekacauan yang menerkamnya.
Ternyata di sebrang hati sana tak jauh berbeda. Mengetahui ada Annisa di kelas yang diajarnya, tiba-tiba Furqon merasa benar-benar kikuk. Materi mengajar yang telah disiapkan serasa terbang. Lisannya juga serasa kaku. Benar-benar bukan Ustad Furqon yang biasanya.
*********
Setahun berlalu. Tak ada yang berubah dari hati Furqon. Ia masih tetap menyimpan rapat rasa cintanya kepada Annisa. Namun, kali itu Furqon merasa sudah tak sanggup lagi untuk terus menyimpan. Rongga hatinya serasa sudah sesak dengan partikel-partikel cintanya yang semakin hari semakin bertambah. Ia diterpa kegalauan yang teramat sangat. Malam itu, tiba-tiba ia teringat akan buku latihan santri kelas B yang masih ada padanya. Tanpa pikir panjang Furqon menyelipkan puisinya di buku milik Annisa. Menurut Furqon, ini adalah bentuk ikhtiyarnya. Selebihnya, ia hanya akan menyerahkan segala perasaan itu kepada Yang Maha Memberi Rasa. Dalam kidung do`anya, Furqon memohon agar diberi keselamatan. Jangan sampai perasaannya itu ditunggangi syetan sehingga akan menjerumuskannya pada jurang kenistaan.
Keesokan paginya Furqon terbangun. Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. Kali ini Sang Kakek hanya datang kepadanya untuk menanyakan bagaimanakah keadaan Furqon dan menegaskan bahwa ia harus benar-benar menjaga bunga mawar yang pernah dititipkan itu. Dalam mimpinya, Furqon mengiyakan permintaan Sang kakek. “Sebenarnya siapakah kakek tua itu? Kenapa beliau datang lagi saat aku berniatan mengungkapkan perasaanku pada Annisa? Apakah bunga mawar itu memang sebuah pengibaratan atas diri Annisa?” pikirnya dalam hati.
Siang itu Furqon mengawali pulang dari kampus. Di sepanjang jalan kota Bandung yang disusurinya, banyak sekali pemandangan pasangan muda-mudi yang berdua-duaan. Terlintas suatu perasaan iri dalam hati Furqon.
“Pasti bahagia kalau aku dan Annisa bisa seperti mereka”, ujarnya. Lamunan-lamunan nakal mulai mengisi pikirannya lagi. Hingga ia tiba di kobong dan menemukan sepucuk surat yang terlipat manis di dalam lemarinya. Ia segera membukanya dan membaca kata demi kata yang tertulis disana.

Aku hanyalah seorang wanita
Yang ingin dijaga dan ingin dicinta
Biarlah hati ini terjerat
Jika ia tetap berpegang pada jalan Syariat

Aku hanya seorang penanti
Menanti pangeran yang menjemputku dengan hati
Disini aku menanti          
Disana kau juga silahkan menanti
Menanti kehalalan yang diberikan Allah untuk dua hati ini
Datangi kedua orang tuaku
Karena aku hanya ingin dicinta dengan kemulyaan cinta karena Allah

Inilah jawaban dari Annisa. “Astaghfirullahaladzim.” Furqon merasa sangat bersalah dengan lamunan-lamunannya tadi. Tak seharusnya ia menginginkan Annisa tanpa adanya kehalalan Allah. Iya, cinta memang anugerah, namun jika cinta dituruti pada saat yang tidak tepat, maka ia akan berubah menjadi musibah.
“Iya Annisa. Aku akan benar-benar menepati janjiku kepada Sang kakek itu. Takkan kubiarkan cinta ini menodai keindahanmu. Aku akan menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga hatimu, dan menjaga kesucianmu. Terimakasih Ya Allah, kau hadirkan cinta ini untuknya. Untuk sesosok wanita sholehah yang selalu mendambakan keridhoan dan cintaMu”
*********
3 tahun berlalu. Furqon telah mempersiapkan moment itu sejak jauh-jauh hari. Ini adalah hari special untuknya. Karena di belakang kalimat qobiltu itu, segala kehalalan cinta terbuka. Furqon akan benar-benar memiliki dan menjaga setangkai mawar yang dititipkan kepadanya. Iya, Setangkai mawar itulah gadis cantik bernama Annisa Zahra. Gadis yang teramat indah, seindah makna namanya. Wanita bunga. Pada akhirnya cinta merekapun dipersatukan dalam suatu keberkahan ikatan pernikahan. Menguntai kebahagiaan demi kebahagiaan dalam keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. (Alya Al-Hikmah)
*********


[1] Sebutan Asrama di Jawa Barat
[2] “Kenapa Ustad, kok lunglai banget gitu?”
[3] Cantik banget pokoknya.
[4] Jang (Ujang) : sapaan untuk anak lelaki Sunda
[5] Pengganti