Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Minggu, 16 Februari 2014
Akhir Sang Bidadari
Bahkan air mata menjelma permata
Terbang mengejar pergi
Sedang senyum membelah pekatnya malam
Memendarkan pijaran
Atas beberapa kali lambaian
Aku terkesima
Dalam dentang yang kian lama
Banyak mata menggenangkan cinta
Segenap sukma mengharukan rasa
Inikah balasan?
Atau inikah persembahan?
Dan sang bidadari
Masih saja berpayung pelangi
Namun di hari ini
Pengembaraannya berakhir sampai di sini
Jumat, 14 Februari 2014
Aku Menyebutnya "Hari Pink Abu-abu"
14 Februari 2014. Kebetulan atau apalah aku juga tak paham. Yang jelas, aku menyebut hari kemarin itu dengan sebutan "Hari pink abu-abu". Yah,,, begitulah Allah. Dzat yang sangat bisa merubah suatu keadaan. Di berbagai belahan dunia, banyak orang yang bersuka cita mempersiapkan hari yang oleh orang selain Islam disebut sebagai hari Valentine dan disini, nuansa pink itu diubah seketika oleh Allah dengan abu-abu. Di hari terlaknat yang banyak mengantarkan manusia kepada berbagai bentuk maksiyat inilah, Allah menunjukkan kekuasaannya. Subhanallah
Bermulai pagi hari kira-kira pukul 03.30 WIB. Jombang dan pastinya wilayah lain di sekitar kelud bahkan sampai jawa tengah sudah tertutup oleh abu vulkanik pasca meletusnya Gunung Kelud. Kala itu, kami memang belum mendapat kabar jelas tentang meletusnya gunung yang terletak di perbatasan Kediri, Malang, dan Blitar itu. Yang sempat kami tangkap pada jam yang dikabarkan Gunung Kelud meletus hanyalah sambaran kilat yang cukup mengagetkan. Tepatnya waktu itu kami sedang manikmati mie instan bersama seluruh penghuni kamar Babussalam Ponpes Al-Mardliyah. Melihat sambaran kilat, kami awalnya tidak berfikir apa-apa. kaget memang, tapi masih biasa saja. Namun, ketika malam sudah mulai larut, beberapa kawan yang tidur di serambi kamar dikagetkan oleh debu-debu yang bertebaran, yang akhirnya membangunkan mereka karena memang debu itu dalam jumlah banyak. Baru ketika debu-debu itu sudah terlalu menganggu, kami mulai nyandak kalo ini pasti ada hubungannya dengan Gunung Kelud yang dikabarkan berstatus siaga satu.
Belum Subuh memang, tapi sudah banyak para santri yang terbangun dan hanya terpana dengan keadaan yang ada. Halaman kotor, baju-baju yang dijemur juga kotor, tanaman-tanaman yang awalnya berwarna hijau pun menjadi abu, genteng-genteng tetangga yang tampak dari lantai tiga tertutup abu yang cukup tebal. Subhanallah,,, meski alhamdulillah Jombang hanya ditimpa hujan abu, tapi kejadian ini sangat membuat kami bertafakkur sedalam-dalamnya.
Dan sekarang peristiwa meletusnya Gunung Kelud, tanggal 13 Februari 2014, Sehari Sebelum HARI VALENTINE. Keduanya adalah hari yang sangat diagung-agungkan oleh umat selain Islam. Subahanallah...
Wahai Allah,,,
alamat apa yang ingin kau sampaikan kepada kami Ya Rabb...
Setelah kemarin gempa di wilayah Jawa Tengah,
Gunung Sinabung meletus di Medan,
Longsor dan Banjir di Jombang,
dan kali ini meletus Gunung Kelud yang ketinggiannya mencapai 17 kilometer,
juga hujan abu vulkaniknya yang sampai pada wilayah Jogja dan Jawa Tengah.
Betapa kita telah banyak melupakanMu
Berpaling dariMu dan sejengkal demi sejengkal mengikuti musuh-musuhMu
Ampuni kami Ya Rabb,,,
Bersama segala fenomena bencana ini,
Ada rahmatMu yang selalu kau limpahkan pada Kami
Peringatan inilah bentuk cintaMu.
Agar kami semakin yakin padaMu.
Supaya kami juga semakin iman pada sifat-sifatMu
Serta semakin mendekat kepadaMu.
Bermulai pagi hari kira-kira pukul 03.30 WIB. Jombang dan pastinya wilayah lain di sekitar kelud bahkan sampai jawa tengah sudah tertutup oleh abu vulkanik pasca meletusnya Gunung Kelud. Kala itu, kami memang belum mendapat kabar jelas tentang meletusnya gunung yang terletak di perbatasan Kediri, Malang, dan Blitar itu. Yang sempat kami tangkap pada jam yang dikabarkan Gunung Kelud meletus hanyalah sambaran kilat yang cukup mengagetkan. Tepatnya waktu itu kami sedang manikmati mie instan bersama seluruh penghuni kamar Babussalam Ponpes Al-Mardliyah. Melihat sambaran kilat, kami awalnya tidak berfikir apa-apa. kaget memang, tapi masih biasa saja. Namun, ketika malam sudah mulai larut, beberapa kawan yang tidur di serambi kamar dikagetkan oleh debu-debu yang bertebaran, yang akhirnya membangunkan mereka karena memang debu itu dalam jumlah banyak. Baru ketika debu-debu itu sudah terlalu menganggu, kami mulai nyandak kalo ini pasti ada hubungannya dengan Gunung Kelud yang dikabarkan berstatus siaga satu.
Belum Subuh memang, tapi sudah banyak para santri yang terbangun dan hanya terpana dengan keadaan yang ada. Halaman kotor, baju-baju yang dijemur juga kotor, tanaman-tanaman yang awalnya berwarna hijau pun menjadi abu, genteng-genteng tetangga yang tampak dari lantai tiga tertutup abu yang cukup tebal. Subhanallah,,, meski alhamdulillah Jombang hanya ditimpa hujan abu, tapi kejadian ini sangat membuat kami bertafakkur sedalam-dalamnya.
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat,kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan, ALLAH MENGATUR URUSAN(Makhluk-Nya), MENJELASKAN TANDA-TANDA (Kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu)dengan Tuhanmu."(Qur`an Surat 13 ayat 2)Masih terngiang peristiwa tsunami, yakni tanggal 24 Desember 2004, Sehari Sebelum HARI NATAL.
Dan sekarang peristiwa meletusnya Gunung Kelud, tanggal 13 Februari 2014, Sehari Sebelum HARI VALENTINE. Keduanya adalah hari yang sangat diagung-agungkan oleh umat selain Islam. Subahanallah...
Wahai Allah,,,
alamat apa yang ingin kau sampaikan kepada kami Ya Rabb...
Setelah kemarin gempa di wilayah Jawa Tengah,
Gunung Sinabung meletus di Medan,
Longsor dan Banjir di Jombang,
dan kali ini meletus Gunung Kelud yang ketinggiannya mencapai 17 kilometer,
juga hujan abu vulkaniknya yang sampai pada wilayah Jogja dan Jawa Tengah.
Betapa kita telah banyak melupakanMu
Berpaling dariMu dan sejengkal demi sejengkal mengikuti musuh-musuhMu
Ampuni kami Ya Rabb,,,
Bersama segala fenomena bencana ini,
Ada rahmatMu yang selalu kau limpahkan pada Kami
Peringatan inilah bentuk cintaMu.
Agar kami semakin yakin padaMu.
Supaya kami juga semakin iman pada sifat-sifatMu
Serta semakin mendekat kepadaMu.
Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang PEMBERI PERINGATAN YANG NYATA kepadamu." - " Maka ORANG- ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SALEH, BAGI MEREKA AMPUNAN DAN REZKI YANG MULIA." (Qur`an Surat 22:49-50)
Dan Allah lah Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu.
Selasa, 11 Februari 2014
Satu Lagi Sahabat Berlabuh
Satu pelukan untukmu wahai sahabatku. Ku dapat rasakan fibrasi kebahagiaan yang bergetar di hati itu. Betapa i`tikad baikmu bersambut dengan satu lafadz yang tlah kau nanti sangat. Ahsan. Selamat... Setidaknya peta buta pencarian sang pemilik rusuk itu sudah terpegang erat dalam genggamanmu. Dan langkah-langkahnya sudah berjalan setapak. tinggal mendaki dan mendekat. Serta jangan lupa kau harus selalu berserah akan segala iradat.
sahabat... Lagi-lagi hanya segenap do`a yang kan mengalir bersama bahagiamu. memeluk langkah-langkah perdana menuju mahligaimu. Barokallahu lakuma wa baroka alaikuma mbak Clara... aku antri do`anya ya... :D hahahaha
sahabat... Lagi-lagi hanya segenap do`a yang kan mengalir bersama bahagiamu. memeluk langkah-langkah perdana menuju mahligaimu. Barokallahu lakuma wa baroka alaikuma mbak Clara... aku antri do`anya ya... :D hahahaha
Minggu, 09 Februari 2014
Menggapai Pelangi Cita :)
" Lil, ntar kalo ada buku pengarangnya Alya Al-Hikmah, berarti itu buku aku ya!"
" Iya mbak Vit, kalo nanti ada novel penulisnya Lylacious itu berarti karangan aku. :D "
Obrolan pagi kami mengalir. Seumpama anak sungai di antara perbukitan-perbukitan berpayung senyuman elok sang mentari. Sedikit mengandai memang. Dari sini, dari sebuah kamar kecil berhunikan 10 orang santriwati, kami mulai merajut mimpi, menuai harapan, dan menggapai suatu perwujudan.
Bakat raksasa di balik tubuhnya yang kecil. Di tirai malamnya, kutahu hatinya teringsak tangis. Bukan dunia yang terlalu jahat padanya. Hanya sepasang malaikat yang ingin mengkader pribadi tangguhnya. Kegemarannya sama sepertiku. Bersahabat dengan bermacam kata dan aksara. Berlayar bersama perahu kertas dan berdayung sepasang tinta emas. Karya-karyanya kuacungi pasti. Hanya duka ketika melihat seberkas pandangan itu meredup karna pelangi citanya tampak tak beranak tangga.
Oh Kawan kecilku, kutahu betapa berat harimu. Namun tak kubolehkan mimpimu yang membara itu harus terbakar hangus tinggal abu. Kutunggu sepak terjangmu wahai sahabat kecilku. Kugandeng asamu bersama alunan do`aku mengantarkan mimpiku. Hingga kelak kita akan sama-sama berdiri di ujung pelangi, karena Allah telah menghendaki segala yang kita ingini. Semoga-semoga-dan semoga.
Ku gapai dan Kau gapai.
" Iya mbak Vit, kalo nanti ada novel penulisnya Lylacious itu berarti karangan aku. :D "
Obrolan pagi kami mengalir. Seumpama anak sungai di antara perbukitan-perbukitan berpayung senyuman elok sang mentari. Sedikit mengandai memang. Dari sini, dari sebuah kamar kecil berhunikan 10 orang santriwati, kami mulai merajut mimpi, menuai harapan, dan menggapai suatu perwujudan.
Bakat raksasa di balik tubuhnya yang kecil. Di tirai malamnya, kutahu hatinya teringsak tangis. Bukan dunia yang terlalu jahat padanya. Hanya sepasang malaikat yang ingin mengkader pribadi tangguhnya. Kegemarannya sama sepertiku. Bersahabat dengan bermacam kata dan aksara. Berlayar bersama perahu kertas dan berdayung sepasang tinta emas. Karya-karyanya kuacungi pasti. Hanya duka ketika melihat seberkas pandangan itu meredup karna pelangi citanya tampak tak beranak tangga.
Oh Kawan kecilku, kutahu betapa berat harimu. Namun tak kubolehkan mimpimu yang membara itu harus terbakar hangus tinggal abu. Kutunggu sepak terjangmu wahai sahabat kecilku. Kugandeng asamu bersama alunan do`aku mengantarkan mimpiku. Hingga kelak kita akan sama-sama berdiri di ujung pelangi, karena Allah telah menghendaki segala yang kita ingini. Semoga-semoga-dan semoga.
Ku gapai dan Kau gapai.
Sabtu, 01 Februari 2014
Surat cinta untuk Sang Belahan Jiwa
Edisi 3 (6 Januari 2014)
Maaf, sepertinya cukup lama aku tak mengabarkan hariku
kepadamu. Hehehe… ternyata aku juga merasakan rindu untuk berkisah bersamamu.
Apa kabar? Semoga kau senantiasa baik ya di sana.
Aku tahu, waktu memang tak pernah mau menunggu. Ia terus
menggulir. Meninggalkan siapapun yang tak merasa ditunggu. Iya, tak terasa hari
ini sudah hari ke 6 di bulan Januari 2014. Pergantian hari tak pernah kusesali
karena ia semakin mengantarkanku pada pertemuan itu, pertemuan dengan mu dan
pertemuan dengan Rabbku.
Kasih,,,
Aku hanya ingin membagi nikmatnya bercinta dengan seorang
kekasih yang haqiqi. Saking nikmatnya, aku tak pernah berhenti untuk memohon cinta
ini selalu ada di hatiku. Maaf… kita memang tidak patut membagi hati. Kecuali
mambagi hati hanya kepada yang memiliki hati dan kekasih Sang pemilik hati
tersebut. Iya cinta. Mungkin kelak ketika aku bertemu denganmu, cintaku akan
tersengkut padamu, tapi lagi-lagi cinta itu hanya akan kujadikan sarana untuk
meraih cinta haqiqiku, dan kuharap kau pun bisa memahami atau bahkan berpinsrip
seperti itu juga.
Cinta,,,
Aku tak pernah bermaksud membuatmu cemburu. Hanya saja aku
bermaksud untuk membuatmu turut mencinta apa yang selalu aku cinta. Bahkan
semua katapun tak mampu untuk mengungkap indah akhlaknya, elok lahirnya, dan
mulia derajatnya. Nabi Muhammad adalah yang terindah sepanjang zaman. Tanpa
cahayanya, Allahpun takkan berkenan menciptakan alam semesta. Namanya tertulis
banyak di surga hingga Nabi Adam as. Bertanya-tanya siapakah gerangan nama yang
diagungkan di sana.
Iya Cinta…
Betapa aku ingin mengenalnya lebih dekat. Betapa aku ingin
semakin mencintainya karena Allahpun sangat mencintainya. Betapa aku ingin
bertemu dengannya. Betapa aku ingin menatap paras menawannya. Betapa aku ingin
mencium aroma harumnya. Betapa aku ingin duduk bersanding bersamanya. Betapa
aku ingin mendapatkan syafaatnya. Betapa aku ingin menjadi umat yang
dibanggakan olehnya.
Assholatu alaika Ya Rasulallah… Assholatu alaika Ya
Nabiyallah… Assholatu alaika Ya habiballah. Ya Rasulallah, undhurniy… undhurniy
Ya Rasulallah…
Dan Rasulallah pernah bersabda, man ahabbaniy fa huwa ma`iy
fil jannah.
Kasih…
Aku ingin kelak kita berdua bisa bersama dengan Nabi
Muhammad. Berkumpul bersama mereka-mereka para pecinta Nabi Muhammad SAW. Dan
sekarang aku ingin mengajakmu menapaki tangga-tangga cinta itu. Mari kita
bersama jadikan hari-hari kita adalah untuk mencari keridhoan Allah. Menjadikan
keluarga kita kelak keluarga para pecinta rasul yang ramai dengan sholawat,
yang senang dengan sunnah, yang bangga dengan khoirul bariyyah, Rasulullah
Muhammad SAW.
Hari ini sudah sangat dekat dengan hari ulang tahun
Rasulullah. Mari kita tunjukkan betapa kita berbahagia dengan kelahiran insan
termulia sepanjang zaman ini. Siapkan kado terbaik kita untuknya. Hadirkan beliau
dalam setiap langkah kita. Hidupkan sunnahnya. J
Dan kita serukan bersama “ KAMI MENCINTAIMU YA RASULALLAH”
Allahumma sholli wa sallim ala sayyidinaa Muhammad J
Cinta…
Karena aku selalu berharap kaulah pendampingku dunia
akhirat, maka aku pun selalu berharap kelak kita sama-sama di surga. Aku selalu
ingin kita menjadi pasangan yang saling mengingatkan karena Allah. Menjadi
orang tua yang selalu mengingatkan anak cucu kita kepada Allah dan Rasulallah
SAW. Semoga kaupun senang dengan rencana hidupku ini.
Wassalamualaikum wr. wb.
Salam cinta kami Ya Rasulallah SAW…
Serunya Bermain dengan Aksara :)
Terimakasih sebanyak-banyaknya dan penghargaan setinggi-tingginya
kepada 2 makhluk merah kesayanganku ini. Laptop 12 inch ku yang meskipun angka
5 nya tanggal, tapi dia tetap sehat dan setia menemaniku dalam tiap pergolakan
hatiku. Dan agenda merah bercorak kotak-kotak hitam yang mulai sangat lecek
karena hampir tiap hari kubuka 3 x sehari. Yah,,, merekalah supporter setia
atas bangkitnya seorang Alya Al-Hikmah dari segala keterpurukan hari. Bahkan
atas jasa mereka jualah, seorang Alya Al-Hikmah telah mampu menemukan makna asa
yang tergenggam untuk masa depannya. Yang jelas mereka berdualah yang berperan
besar dalam penyatuan keping-keping aksara yang berlarian di otakku.
Terimakasih Merahku… J
Yups… kita awali dengan “membaca”. Sadar maupun tidak, membaca
adalah kegiatan yang paling tepat untuk menghabiskan waktu dengan tidak
percuma. Membaca apapun itu. Membaca Al-Qur’an? Sudah jelas iya. Bahkan Allah
SWT menjanjikan pahala bagi para pembaca Al-Qur’an meskipun tanpa tahu arti dan
kandungannya. Membaca buku? Iya. Karena seorang penulis buku itu juga pasti
berpikir, hingga pikiran-pikirannya dapat tertuang dalam ilmu-ilmu untuk kita
baca bersama. Membaca novel? Eits,,, jangan dikira membaca novel itu cuma baca-baca
cerita biasa yang nggak ada manfaatnya lho ya… Membaca novel itu ibarat kita
membaca kehidupan. Banyak sekali tipe-tipe kehidupan seseorang yang memang
Allah berikan berbeda-beda sebagai warna-warni ujian manusia di dunia dan dari
situlah kita bisa mengambil i`tibar. Apa saja hikmah yang terkandung di
dalamnya, bagaimana cara seseorang di kisah itu mengatasi segala masalahnya,
bangkit dari keterpurukannya, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diterimanya,
atau bahkan mengambil pelajaran dari pemeran antagonisnya sekalipun. Buktinya,
banyak sekali novel-novel yang telah sukses memotivasi para pembacanya, salah
satunya adalah sebuah novel terkenal berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Selain
itu, dari membaca kita jadi ada bahan untuk menulis. Minimal tau kata-kata enak
yang bisa ditiru untuk tulisan-tulisan kita. J
Lanjut yang kedua “menulis”. Satu fakta yang mungkin memang tidak
baru ada tapi baru aku baca dituliskan pada buku Ketika Cinta Pergi, bahwasanya
“Menulis adalah terapi galau yang mujarab untuk mengobati segala lara di hati.”
Bahkan di buku itu juga tertulis sebuah quotes anonym yang menurutku
sangat menarik. “Janganlah kau menyakiti hati wanita pintar karena kisahmu akan
ditulis dan menjadi sebuah novel yang bestseller.” Iya… aku pikir benar
juga. Seringkali di tengah gundah gulananya hati, seseorang akan lebih
berhasrat untuk meraih pena dan mencoret-coretkannya. Entah hasilnya puisi, cerpen,
novel, artikel, curahan hati, atau hanya coret-coretan ala kadarnya seperti
Alya <3 Muhammad, dsb. Kecenderungan ini memang dapat kita buktikan sendiri
kebenarannya. Terkhusus bagi para pecinta diary, pasti sangat mampu merasakan
bahwa diary adalah sahabat yang bisa menjadi curahan sesaknya dada meski hanya
lewat goresan-goresan pena. Hingga akhirnya emosi kita bisa reda, lega, dan
kembali biasa. J
Selain itu, kegiatan menulis juga merupakan pupuk yang menyuburkan memori kita.
Disaat ingatan mulai kering karena lupa, maka catatan-catatan kitalah yang akan
merefresh dan menyuburkan kembali apa yang sudah pernah ada di otak kita
itu. Bahkan yang lebih hebatnya lagi tulisan adalah penyampaian ilmu kita yang
akan tetap ada meskipun kita telah tiada. Menulis juga dapat dijadikan sebagai
salah satu bentuk dakwah kita untuk melanjutkan perjuangan Habibina Muhammad
SAW demi meraih kecintaan dan keridhoan-Nya. Dalam segala jenis tulisan, kita
dapat menyelipkan butir-butir risalah indah yang dibawa olah Rasulullah SAW.
Dengan begitu, manfaat yang kita dapatkan dan yang kita berikan bisa semakin
banyak. So… Keep reading and writing ya guys! Salam hikmah dari
Alya Al-Hikmah… J
Setangkai Mawar Itu...
Secangkir kopi yang menghangatkan
kota Bandung malam itu. Hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi, membunyikan
harmoni gemericik yang merdu. Malam yang sendu dengan langkah yang layu.
Seorang pemuda tampan tengah lelah menjalani rutinitas kampusnya seharian. Ia
berjalan menyusuri jalan-jalan menuju tempat yang senantiasa menerimanya tuk
sekedar melepas penat. Pondok Pesantren Al-Falah Dago.
“Assalamu`alaikum”, Furqon
melangkahkan kaki kanannya memasuki pintu kobong[1]
santri putra Ponpes Al-Falah. Kehangatan selalu tercium dari tempat penuh
berkah ini. Bahkan dari jarak beberapa mater dari kobong, Furqon selalu
bisa merasakan sambutan hangat pesantren yang dicintainya itu .
“Wa`alaikum salam warahmatullahi
wabarokaatuh”, jawab teman-teman Furqon serempak.
“Kunaon Ustad, meuni lunglai kitu? [2]”
tanya Angga dengan Bahasa Sundanya yang khas. Maklum, dia orang Tasikmalaya
asli.
Furqon hanya menjawabnya dengan
senyuman keletihan. Hari itu dia memang benar-benar capek dengan segala
tuntutan dosen tentang skripsi yang sedang dikerjakannya. Revisi lagi dan
revisi terus. Di tengah kemuramannya itu tiba-tiba seorang kawan
menghampirinya.
“Ustad, mau tahu kabar terbaru nggak?
Tuh, santri-santri pada hot ngobrolinnya”, ujar salah satu temannya dengan nada
yang berusaha membuat Furqon penasaran.
“Ah, pasti ini tentang cewek lagi
ya?” Furqon hanya menyahutinya malas. Entahlah, sejak kejadian itu, Furqon tak
lagi mampu menyusun ulang keping-keping cintanya untuk wanita lain. Bahkan
untuk tertarik dengan kaum hawa saja rasanya sudah tak berminat. Zakkiya, Gadis
sunda keturunan Arab yang begitu sholehah itu pernah memikat hati Furqon.
Namun, ternyata Zakkiya dikehendaki untuk bersanding dengan Sang Khalik disana.
Dan Furqon, mau tak mau harus melepasnya untuk Dzat yang lebih berhak atas diri
Zakkiya itu.
“Asli Kang, ini mah beda. Cantik
banget. Manis. Kulitnya putih. Bibirnya merah. Senyumnya,,, Ahh, geulis pisan
pokokna mah[3].
Percaya deh sama Angga”, ucap Angga menguatkan.
Tapi Furqon tetaplah Furqon. Ia
masih terlalu kelu untuk membicarakan wanita lagi setelah kanker darah itu
mengambil belahan jiwanya. Alhasil, dia hanya berlalu meninggalkan pembicaraan
itu dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Isya`.
*********
“Assalamu`alaikum”, Seorang kakek
tua berjubah putih bersih menghampiri Furqon. Wajahnya berseri dengan beberapa
rambut putih yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya. Suaranya berat penuh
kharisma.
“ Wa`alaikumsalam, Siapa Anda?”
Tanya Furqon dengan nada ketakutan.
“Kutitipkan ini untuk mu Jang[4].
Jaga ia baik-baik. Namun, jika ternyata suatu saat ia tidak ada padamu, berarti
ia memang tidak ditakdirkan untukmu”, ucap kakek tua itu sembari menyerahkan
setangkai mawar merah yang merekah indah. Furqon masih tercengang dengan
kata-kata kakek tersebut. Ia takut untuk menerimanya. Namun, keindahan sang
mawar yang mengagumkan setiap mata yang memandang itu membuatnya mampu menepis
segala ketakutan di hatinya. Furqonpun meraih mawar tersebut dengan hati-hati.
Beribu pertanyaan sesak memenuhi dada, namun tak ada satupun yang sempat
disampaikannya. Kakek tersebut sudah terlanjur berlalu meninggalkan Furqon tanpa mengucap
satu patahpun.
*********
Pagi itu Annisa sedang bersiap-siap
berangkat ke sekolah. Yah,,, dialah santriat baru yang menjadi buah bibir para
santri kemarin. Annisa Zahra. Siswa kelas 3 SMA pindahan dari Majalengka. Sudah
menjadi adat pesantren, sebelum berangkat sekolah setiap santri harus berpamitan
terlebih dahulu kepada Umik Ara, sebuah panggilan para santri kepada istri Abah
pengasuh mereka. Annisa pun berpamitan kepada Umik Ara. Setalah ia mencium
tangan beliau, Annisa segera memakai
sepatunya dengan sangat tergesa-gesa. Pagi itu, jarum jam sudah menunjukkan
pukul 06.55. 5 menit lagi pelajaran dimulai. Tidak mungkin dia yang masih
terbilang murid baru itu mengawali hari di sekolahnya dengan terlambat. Annisa bergegas.
Langkahnya cepat sedikit berlari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa, Annisa tak menyadari dari arah yang
berlawanan ada Furqon yang juga sedang terburu-buru menuju rumah Abah pengasuh.
Dan tiba-tiba, bruk,,, mereka secara tidak sengaja saling bertabrakan hingga
buku yang ada di tangan Furqon terjatuh.
“Maaf Kang, saya tidak sengaja”,
ucap Annisa dengan tangan kanannya mengambil sebuah buku ekonomi milik Furqon
yang terjatuh tadi. Iapun segera memberikan buku tersebut kepada Furqon. Tanpa
ia sadari, wajahnya terangkat dan seketika itu tatapan merekapun saling
bertabrakan. Tiba-tiba, keheningan sejenak menyelimuti mereka. Entah mengapa,
meraka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Dalam pancaran matanya, Furqon
tampak menyimpan kekaguman akan paras cantik Annisa. Dia memang cantik. Matanya
indah. Senyumnya manis berhias dua lesung di pipi. Hidungnya menunjukkan dia
masih bertalian dengan orang-orang Arab disana. Bibirnya merah tersungging
diantara kulitnya yang putih. Indah. Seindah setangkai mawar yang mekar
merekah. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Furqon teringat dengan mimpinya tadi
malam. Dia segera tersadar, mengambil bukunya, dan berlalu tanpa sepatah
katapun. Annisa sedikit aneh melihat tingkah Furqon. Namun, ia hanya tersenyum
kecil. Tampaknya, pertemuan dengan Furqon ini juga menyisakan kesan tersendiri
bagi Annisa.
*********
Furqon mulai bingung dengan keadaan
dirinya. Sejak saat itu, hati Furqon tampaknya telah kembali sehat dan
tertambat kepada sosok Annisa. Bayangan wajah Annisa selalu muncul di tiap
sudut hari-hari Furqon. Terkadang, bayangan itu bergantian dengan slide mimpinya
bertemu dengan kakek tua berjubah putih. Ia masih saja bingung. Kiranya apa
maksud bunga mawar yang dititipkan kepadanya. Yang jelas, satu benang merah
dapat ditarik dari keduanya. Annisa dan bunga mawar itu sama-sama indah. Bahkan
sangat indah. Tanpa ia sadari, pena yang dari tadi terdiam, kini ikut
menampilkan kegundahan atas suatu rasa yang tak biasa.
Annisa,,
Ada apa dengan rona wajahmu
Kenapa dia mampu membuatku terbayang
selalu
Matamu yang hitam penuh keteduhan
Bibirmu merah bagaikan buah apel
ranum
Dan senyum manis yang tersungging
elok di wajahmu
Tak pernah sekalipun hengkang dari
pikiranku
Wahai Annisa
Aku ingin selalu menjagamu
Aku ingin mendekap erat setangkai
mawar itu
Karena setangkai mawar itu kamu
Annisa Zahra
Wahai kau wanita yang seindah bunga
*********
Annisa melangkahkan kakinya menuju
kelas ta`lim. Hasil tes memutuskan ia masuk di kelas B majlis diniyah Ponpes
Al-Falah. Malam itu mata ta`limnya adalah tauhid. Annisa menempati tempat di
jajaran bangku depan. Dia memang sangat bersemangat dengan segala sesuatu yang
berhubungan dengan agama. Meski umurnya terbilang masih belia, namun
kesholehahannya tidak diragukan lagi. Ia selalu berusaha menjaga dirinya,
pandangannya, tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan hatinya. Ia berkomitmen
tak akan mewarnai sejarah hidupnya dengan cinta yang dimurkai Allah SWT. Dia
hanya mendambakan cinta suci yang terjalin di atas sebuah ikatan kehalalan.
Annisa menunggu Sang ustad hadir
sembari membuka-buka kitab tauhid yang akan dibahas. Tiba-tiba, terdengarlah
ucapan salam dari arah pintu kelas tersebut.
“Assalamu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam warahmatullahi
wabarokatuh”, jawab para santri. Annisa tersentak ketika melihat siapa yang
masuk. “Ini kan lelaki yang kemarin aku tabrak”, ujarnya dalam hati. Furqon
memang telah lama mengabdi di pesantren itu. Karena keilmuaanya yang tinggi, ia
dipercaya untuk menjadi ustad badal[5]
di sana. Ketika pengajar yang sebenarnya ada halangan untuk hadir, maka dialah
yang menggantikan ustad tersebut mengajar para santri.
Jantung Annisa tiba-tiba berdegup
kencang. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi di hatinya. Ia hanya
berusaha menepis rasa aneh itu dengan terus menunduk. Berharap dengan menjaga
pandangan mata, ia bisa sedikit mengontrol kekacauan yang menerkamnya.
Ternyata di sebrang hati sana tak
jauh berbeda. Mengetahui ada Annisa di kelas yang diajarnya, tiba-tiba Furqon
merasa benar-benar kikuk. Materi mengajar yang telah disiapkan serasa
terbang. Lisannya juga serasa kaku. Benar-benar bukan Ustad Furqon yang
biasanya.
*********
Setahun berlalu. Tak ada yang
berubah dari hati Furqon. Ia masih tetap menyimpan rapat rasa cintanya kepada
Annisa. Namun, kali itu Furqon merasa sudah tak sanggup lagi untuk terus
menyimpan. Rongga hatinya serasa sudah sesak dengan partikel-partikel cintanya
yang semakin hari semakin bertambah. Ia diterpa kegalauan yang teramat sangat.
Malam itu, tiba-tiba ia teringat akan buku latihan santri kelas B yang masih
ada padanya. Tanpa pikir panjang Furqon menyelipkan puisinya di buku milik
Annisa. Menurut Furqon, ini adalah bentuk ikhtiyarnya. Selebihnya, ia hanya
akan menyerahkan segala perasaan itu kepada Yang Maha Memberi Rasa. Dalam
kidung do`anya, Furqon memohon agar diberi keselamatan. Jangan sampai
perasaannya itu ditunggangi syetan sehingga akan menjerumuskannya pada jurang
kenistaan.
Keesokan paginya Furqon terbangun.
Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. Kali ini Sang Kakek hanya datang
kepadanya untuk menanyakan bagaimanakah keadaan Furqon dan menegaskan bahwa ia
harus benar-benar menjaga bunga mawar yang pernah dititipkan itu. Dalam
mimpinya, Furqon mengiyakan permintaan Sang kakek. “Sebenarnya siapakah kakek
tua itu? Kenapa beliau datang lagi saat aku berniatan mengungkapkan perasaanku
pada Annisa? Apakah bunga mawar itu memang sebuah pengibaratan atas diri
Annisa?” pikirnya dalam hati.
Siang itu Furqon mengawali pulang
dari kampus. Di sepanjang jalan kota Bandung yang disusurinya, banyak sekali
pemandangan pasangan muda-mudi yang berdua-duaan. Terlintas suatu perasaan iri
dalam hati Furqon.
“Pasti bahagia kalau aku dan Annisa
bisa seperti mereka”, ujarnya. Lamunan-lamunan nakal mulai mengisi pikirannya
lagi. Hingga ia tiba di kobong dan menemukan sepucuk surat yang terlipat
manis di dalam lemarinya. Ia segera membukanya dan membaca kata demi kata yang
tertulis disana.
Aku hanyalah seorang wanita
Yang ingin dijaga dan ingin dicinta
Biarlah hati ini terjerat
Jika ia tetap berpegang pada jalan
Syariat
Aku hanya seorang penanti
Menanti pangeran yang menjemputku
dengan hati
Disini
aku menanti
Disana kau juga silahkan menanti
Menanti kehalalan yang diberikan
Allah untuk dua hati ini
Datangi kedua orang tuaku
Karena aku hanya ingin dicinta
dengan kemulyaan cinta karena Allah
Inilah jawaban dari Annisa.
“Astaghfirullahaladzim.” Furqon merasa sangat bersalah dengan
lamunan-lamunannya tadi. Tak seharusnya ia menginginkan Annisa tanpa adanya
kehalalan Allah. Iya, cinta memang anugerah, namun jika cinta dituruti pada saat
yang tidak tepat, maka ia akan berubah menjadi musibah.
“Iya Annisa. Aku akan benar-benar
menepati janjiku kepada Sang kakek itu. Takkan kubiarkan cinta ini menodai
keindahanmu. Aku akan menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga hatimu, dan
menjaga kesucianmu. Terimakasih Ya Allah, kau hadirkan cinta ini untuknya.
Untuk sesosok wanita sholehah yang selalu mendambakan keridhoan dan cintaMu”
*********
3 tahun berlalu. Furqon telah
mempersiapkan moment itu sejak jauh-jauh hari. Ini adalah hari special
untuknya. Karena di belakang kalimat qobiltu itu, segala kehalalan cinta
terbuka. Furqon akan benar-benar memiliki dan menjaga setangkai mawar yang
dititipkan kepadanya. Iya, Setangkai mawar itulah gadis cantik bernama Annisa
Zahra. Gadis yang teramat indah, seindah makna namanya. Wanita bunga. Pada
akhirnya cinta merekapun dipersatukan dalam suatu keberkahan ikatan pernikahan.
Menguntai kebahagiaan demi kebahagiaan dalam keluarga sakinah mawaddah wa
rahmah. (Alya
Al-Hikmah)
*********
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)


.jpg)