Selasa, 12 Januari 2016

Warna hari ini : abu, merah jambu, dan biru (muda)

aku masih istiqomah dengan tulisan saya di hari ketiga writing challange ini. Catatan harian seorang pengangguran. Menganggur karena tak sepenuhnya hari-hari kulalui dengan kebaikan, menganggur karena nyatanya masih banyak waktuku yang sia-sia teranggurkan. _mohon do`anya saja yaa... :)

Warna hari ini, abu, merah jambu, dan biru (muda)

ABU-ABU
Ya... pagi ini aku berhati abu-abu. bukan karena pagi ini udara berdebu, namun ada segores keecewaan di rekahan hatiku. Kalian masih ingat betapa bersemangatnya aku menuliskan catatan tentang #belajar istiqomah bersama writing challange? Ya... kekecewaan itu hadir karena aku merasa statusku menggantung. Tidak benar-benar hitam karena tertolak mengikuti tantangan ini, tidak pula benar-benar putih bersih karena telah nyata bergabung bersama yang lainnya di sana. Ya... keterbatasana ini yang lagi-lagi aku pikirkan dan harus aku terima konsekuensinya. Ini karena memang saya tidak tahu status keanggotaan saya karena WA saya di rumah. hoho... kadang merasa sedikit malang juga sih sebenarnya. Tapi ahh... peduli amat. Akhirnya aku harus berusaha sendiri meski hanya dengan wadah transparan ini. terus dan terus menulis. istiqomah...

MERAH JAMBU
"anta ma`a man ahbabta"
kendati hadits ini berulang beribu kali, hati yang penuh cinta tak kan pernah berkurang kebahagiannya walau hanya sesenti.  
Ya... itu status facebook yang sempat kuunggah ketika mata kuliah hadits tarbawi berlangsung. Sang pemakalah menyampaikan hadits ini dan pastinya hampir tak mungkin masih ada seisi kelas yang tidak pernah mendengar hadits ini. apalagi masih dalam suasana maulid Sang nabi. Meski demikian pesona hadits itu sama sekali tak berkurang sejak pertama kali aku berkenalan dengannya. seakan menyimpan energi besar yang menyebabkan para pecinta sekan merelakan sendi-sendinya melemas lantas terbang bersama angin yang berhembus tenang mencari senyum Sang nabi di antara arak-arakan awan.
Assholatu was salaamu alaika Ya Rasulallah :)

BIRU (MUDA)
beralih jauh dari dua warna hati itu, aku mulai menenggelamkan diri pada pendekatan fenomenologis. Mata, hati, dan otakku bersinergi memperhatikan gejala sekitar yang pastinya bukan tak bertujuan.

Banyak sekali yang tidak kita ketahui dari hidup. manusia, tahu apa?  
Ya itu adalah quotes singkat yang sering kali kuulang-ulang. merasa diri ini tak berhak untuk menjustifikasi alam, juga segenap penghuninya. Dalam berbagai keadaan, bisa jadi banyak orang dihadapkan oleh Allah pada masalah yang sama. sama-sama harus menyelesaikan tugas, baik itu tugas kehidupan, maupun tugas-tugas yang lain. Namun hebatnya, Allah memberikan otak yang berbeda-beda ini akan berimbas pada bagaimana cara mereka menunaikan tugas itu dengan versinya. Ada yang hanya diam berkutat dengan diktat, ada yang masih merasa harus memperjuangkan yang lain yang menurut mereka itu prioritas utama mereka, dan ada pula yang sembunyi dalam gelap, lalu tiba-tiba saja datang membawa cahaya terang. Dan lagi-lagi hati yang bijaklah yang dibutuhkan untuk menatap kejadian ini. meski sampai hari ini aku belum bisa menjadi mereka yang tampak tak gusar dengan kewajiban, tenang lantas menang, aku mencoba mensyukuri keadaan ini. turut membiasakan hati memanfaatkan hari berdasarkan versi yang kumiliki. Dan akhirnya, warna cerah itulah yang kuhadirkan pada hati terdalam. biru muda. Bagai langit yang tetap bersedia disapa mentari dengan sinar hangatnya, mendung yang selalu lengkap dengan efek gelapnya, serta deru hujan yang menyerang semesta.

hari ini aku belajar untuk cukup membiru mudakan hati. Tak perlu menjadi gelap oleh kepedulian yang ditunggangi kemarahan. Semuanya sudah cukup dewasa untuk mengemban kehidupan. terimakasih Allah atan pendidikan yang titipkan pada hembus nafasku di hari ini. :) alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar