tapi... apakah benar demikian kenyataannya? apakah kita benar-benar yakin apa yang lakukan ini adalah "belajar" dalam arti yang sesungguhnya? atau kita salah peham tentang pengertian belajar?
terlepas dari pendapat siapa definisi belajar yang saya cantumkan ini, saya setuju total dengan maksudnya.
belajar adalah interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku.dari definisi di atas ada 3 komponen dasar sehubungan dengan "BelAjar"
1. Interaksi dengan sumber-sumber belajar
2. Interaksi dengan lingkungan
3. Adanya perubahan (ke arah yang lebih baik)
penjelasan singkatnya, belajar itu harus ada interaksi dengan sumber-sumber belajar. entah itu berupa guru, buku, artikel, internet, atau yang paling dasar adalah berinteraksi dengan fenomena-fenomena kehidupan. Ya... jika kita sama sekali tak menyapa mereka. belajar hanya datang, mengisi absen, mencontek teman, tanpa mau mengambil pelajaran dari tiap denting kehidupan yang allah berikan, untuk apa kita mengaku sebagai pelajar.
belajar harus berinteraksi dengan lingkungan. bukan lantas berdiam diri menyepi. hanya berkutat dengan buku dan diri sendiri. tak ada pelajaran tentang sosialisasi, pun pelajaran tentang membawa diri. tentu ini juga bukan belajar.
point ketiga ini yang paling dahsyat. acap keli pendidikan tak begitu menggubris tentang yang satu ini. asal nilai baik, asal lulus, suatu pendidikan sudah dianggap mumpuni. tak kaget jika produk pendidikan hanya orang-orang garda depan dengan pendang menghadang, tapi hati dan sikapnya lebih tajam dari sebilah pedang. mereka membunuh rakyat kecil dengan perut yang dibiarkat membuncit, mereka menyiksa rakyat jelaka dengan gelimang harta yang berkelip di sekujur tubuhnya. belum lagi mereka yang begitu kejam membunuh dengan terang-terangan.
sering kali saya ingin mencaci mereka. "Apa dulu lu nggak pernah belajar? nggak pernah disekolahkan ya?" bagaimana tidak. tak ada perubahan yang lebih baik dari sikap mereka. yang ada semakin memburuk saja tabiatnya.
dan saya pun menatap iba siswa maupun mahasiswa yang tak mengindahkan tujuan belajarnya. hanya merasa mereka butuh angka. baik itu berupa nilai atau harta. ahh... mungkin sebagian orang akan berkata naif. tapi asal kalian tahu. masih ada orang-orang yang hatinya menjerit untuk hanya sekedar melakukan kecurangan kata-kata. dan itu menyiksa.
maka kukatan pada segelintir manusia "beda" itu. semesta menitipkan amanahnya kepadamu. untuk kembali meresuffle keadaan yang ada. kami bukan hanya butuh orang pintar, tapi kami butuh orang-orang yang pintar hidup. mungkin aku pun tak bisa menyapa istimewa. tapi biarlah doaku turut menjaga esistensinya. semoga Allah senantiansa memudahkan langkah mereka menjadi juru selamat dunia. amiiin :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar