Minggu, 10 Januari 2016

Kutitipkan nilai (Saat ini)

konon, semakin hari dunia semakin tak dapat dimengerti. baik dari fenomena-fenomenanya juga penghuni-penghuninya, semua semakin tak terkendali. jangan tanya kapan musim hujan? kapan musim kemarau? kita sama-sama tahu, tatanannya kini semakin berantakan. tak seperti kala SD bu guru menjelaskan enam bulan ini musim kemarau, enam bukan ini musim penghujan. 

Okey... saya tidak akan berpanjang-panjang tentang musim-musim itu. Anggap saja itu pengantar yang mungkin para pembaca malah merasa sangat tidak diantarkan karena terlalu jauh. hehehe. Lantas apa yang akan kutuliskan? Seperti biasa, hanya tulisan-tulisan ringan hasil perenungan. 

Entah sejak kapan aku mengikrarkan diri untuk cukup menjadi seorang ksatria yang menggenggam aksara sebagai sebilah pedangnya. Namun, kadang kala, sang ksatria masih gamang. bukan karena pedangnya tak tajam. Melainkan hanya karena jiwanya yang kurang pijakan. padahal hembusan angin sekitar sudah tak lagi diragukan. mereka bahkan terlalu mendominasi. dan mulai hari ini, tak ada lagi kata nanti. sang ksatria harus kembali ke dunianya sendiri. dunia yang dia pilih, lantas bertanggung jawab atas peradaban yang dia janjikan kepada masa depan.

Sekali lagi aku disadarkan oleh mereka. Para seniorku yang aku yakin suatu saat nanti aku bisa berjajar dengan mereka. Setidaknya aku ingin buku-bukuku lah yang bisa berjajar bersama buku-buku mereka. dari penulis-penulis hebat itu, aku seakan bisa turut memetik misi . Misi peradaban yang terus tergenggam serupa bara bagi lokomotif karya-karya hebat mereka.

Kutitipkan nilai pada selembar karya
ya... tidak salah lagi. itulah misi mereka. ketika dunia beserta segenap isinya ini semakin tak dapat dimengerti. Dengan aksara, mereka mencoba membuat dunia mengerti. Dalam dongeng-dongeng yang tarangkai itulah mereka sematkan nilai sebagai bekal atas peradaban yang lebih baik lagi.

mungkin ketika kita hanya berkata kata dalam wicara, berapa luas radiusnya? berbeda ketika tulisan yang tampak mati itulah yang kita jadikan tunggangan dakwah kita. dengan kehendak Allah, ia akan terus tersebar. perlahan demi perlahan, kita akan tahu bahwa tulisan itu ternyata hanya mati suri. ia bahkan terus hidup di tangan para pembaca. memberikan sentuhan pendidikan yang tanpa kita sadari telah mampu membikin hati tertoleh lagi pada kebenaran hakiki. Dan itu lah mimpi kami. Aku berani berkata "kami" karena aku benar-benar menggenggam erat mimpi ini. Tak perlu ada kata nanti. cukuplah masa itu terdiri dari saat ini, saat ini, dan saat ini.

Saat ini untuk saat ini, juga besok, lusa, maupun hari yang akan terus silih berganti.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar