Senin, 11 Januari 2016

Belajar Istiqomah bersama Writing Challange


hidup memang harus dipaksa, karena dari terpaksa kita akan terbiasa.

Ya.. itu, quotes singkat yang saya dapat dari tetangga lemariku. Asal kalian tahu, bagi kami para santri tetangga lemari itu lebih dekat dari tetangga kamar, apalagi tetangga rumah, tapi tetangga lemari tidak lebih dekat dari tetangga tidur. :D

Kemarin malam, saya memutuskan satu hal besar dari hidup saya. "Gabung sama writing challange" di bulan Januari ini. kenapa saya mengatakan ini hal besar? karena saya berbeda dengan umumnya manusia. Saya memang hidup di era digital, tapi untuk sementara waktu ini WA saya terpaksa harus ditinggal di rumah, lengkap dengan BBM, line, path, dan aplikasi android yang lain. di pesantren manapun lazimnya memang tak boleh membawa handphone. Tapi bukan berarti sama sekali tak ada cara untuk bisa berkembang di dunia pesantren. Toh keputusan tidak boleh membawa HP ini pun bukan tanpa tujuan. Dan pada kenyataannya saya banyak berjumpa dengan rekan-rekan sepeguruan yang  tetap bisa berkarya walau tanpa HP, bahkan tanpa internet. beruntunglah saya karena masih mendapatkan fasilitas internet dan laptop di kampus tempat saya belajar. Itu sudah lebih dari cukup. Dan asal kalian tahu saja, setelah melakukan perenungan panjang mengenai keadaan manusia-manusia hebat di sekitar saya, saya menemukan satu konsep penting untuk hidup saya. bahwa ternyata...
banyak sekali orang-orang hebat terlahir dari keterbatasan. so... jangan takut dengan keterbatasan.
tahu kenapa? karena ketika orang biasa akan berjuang dengan cara biasa, mereka yang terlahir dengan keterbatasan selain berjuang sebagaimana orang lain berjuang, dia juga berjuang untuk melawan keterbatasannya. memutar otak lebih keras untuk berpikir ganda. begitu juga untuk hal ini. saya sempat berfikir bilamana saya tidak punya WA, bukankah saya akan ketinggalan banyak informasi yang di share melalui WA? Ah... tapi kekhawatiran itu jika terus saya pelihara hanya akan membuat saya gagal ikut tantangan ini. dan tak akan ada cerita lagi tentang itu. Karenanya, tidak peduli apa yang terjadi, saya tetap mendaftar ketika kebetulan orang tua saya datang berkunjung ke pesantren dengan membawa HP saya. Setidaknya, dari sini saya bisa belajar menaklukkan kekhawatiran saya sendiri.

Kemarin saya sempat mengerutkan dahi untuk menjawab apa alasan saya bergabung di tantangan menulis ini. Dan yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya ingin belajar istiqomah menulis. itu saja. Eits... jangan salah! istiqomah dalam bentuk apapun itu memang susah. karenanya, untuk saya sendiri, saya membutuhkan wahana yang secara tidak langsung memaksa saya untuk melakukannya rutin setiap hari. Terlebih ketika wahana itu adalah saya pilih sendiri. saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya. terus menulis, terus berlatih untuk bisa menulis dengan lebih baik. :)

Ang the last, mari kita taklukkan tantangan menulis ini. Barokallah fi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar