Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Rabu, 28 Desember 2016
Khodijah kah?
Jumat, 28 Oktober 2016
One Capture One Description
Bagaimana kesan pertama anda?
Sebenarnya saya tidak sedang bermasalah dengan kata "first sight", saya hanya ingin mengulas kejadian unik yang mungkin patut untuk dipelajari. Yah... semua orang memang berhak memilih prespektifnya masing-masing. Begitu pun saya, anda, bahkan kita semua.
Terima kasih untuk satu orang baru yang cukup menyadarkan saya. Saya anggap anda guru saya untuk satu masalah ini. Semoga kelak ada masa untuk berjumpa. Sekedar berucap maaf dan sedikit klarifikasi.
Banyak hal di dunia ini yang tak bisa kita pahami hanya dengan melihat cover. Meskipun manusia sering sekali menambatkan pilihan untuk satu buku bercover unik atas jajaran buku yang sebenarnya isinya bisa lebih menarik. Seperti yang pernah dikata, semua orang memiliki sudut pandang masing-masing. Mereka berhak beralasan untuk tiap tindakan yang dilakukan, juga pemikiran yang dicetuskan.
Kesan pertama memang sangat menentukan, namun bijaknya kenali, pahami, sebelum membeli. (hehehe... emang barang apaan). Cover memang mewakili isi, namun daftar isi tetap menjadi jujukan paling jitu untuk mengerti sekilas isi buku. Begitu pun untuk perbincangan pertama yang agaknya memang membuat perkara. Sikap dingin memang terkesan tidak ramah. Namun lebih dalam lagi, sikap dingin bisa berarti upaya antisipasi. Bagaimana pun juga, masih banyak orang yang percaya "preventif lebih baik dari pada kuratif", termasuk saya.
Dan inilah cara saya menjaga imun hati. Tak mudah berkata "iya", senyum, apalagi sapa. :) Semoga bisa mengerti.
Rabu, 20 Januari 2016
Sendiri
kenapa?
bukankah satu itu seru
sandiri pun tak selalu sepi
hey... kau sedang sendiri?
dimana?
aku juga sendiri disini
menatap rembulan seorang diri
hey... kau memilih sendiri?
kenapa?
sekuntum bunga lili itupun sendiri
tampak semakin indah diterpa sinar mentari
besok atau lusa
aku pasti tak kan memilih sendiri lagi
tatkala hujan menghadirkan keteduhan
bukan hanya kebahagiaan
Minggu, 17 Januari 2016
Pelajaran tentang "KELAWAN" dan "TUJUAN"
Sudahlah... ketika begini keadaannya, mungkin Allah memang sedang mempertanyakan niatmu? untuk siapa kau melakukannya? jika memang untuk Allah, kenapa kau harus sedih ketika apa yang telah susah payah kau lakukan itu tidak dihargai manusia dunia?Nasehat itu terlantun halus dari lisan seorang sahabat. tak ada yang lain dihatinya kecuali hanya ingin mengingatkan sahabatnya untuk tidak bersedih. meski secara tersirat dia juga telah mengingatkan sahabatnya "alamat yang dituju oleh sahabatnya itu mungkin salah". karena dia yakin ketika Allah lah yang menjadi tujuan, Allah yang menjadi "kelawan", tidak akan pernah ada kekecewaan.
berbeda dengan ketika kelawan dan tujuan kita bukan Allah, tapi mahkluk Allah. mereka bukan dzat yang maha rahman untuk senantiasa memberikan kasihnya walau sebenarnya kita sebagai hamba ini sangat tidak pantas untuk dikasihani. mereka juga bukan dzat yang maha adil, maha membalas apa yang telah kita lakukan dengan timbangan yang super pas dan presisi.
jadi, ketika kekecewaan itu hadir di hati kita, coba raba lagi. diakah yang salah? atau kita lah yang salah karena telah menggantungkan diri pada tempat yang salah?
Sabtu, 16 Januari 2016
Belajar itu...
tapi... apakah benar demikian kenyataannya? apakah kita benar-benar yakin apa yang lakukan ini adalah "belajar" dalam arti yang sesungguhnya? atau kita salah peham tentang pengertian belajar?
terlepas dari pendapat siapa definisi belajar yang saya cantumkan ini, saya setuju total dengan maksudnya.
belajar adalah interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku.dari definisi di atas ada 3 komponen dasar sehubungan dengan "BelAjar"
1. Interaksi dengan sumber-sumber belajar
2. Interaksi dengan lingkungan
3. Adanya perubahan (ke arah yang lebih baik)
penjelasan singkatnya, belajar itu harus ada interaksi dengan sumber-sumber belajar. entah itu berupa guru, buku, artikel, internet, atau yang paling dasar adalah berinteraksi dengan fenomena-fenomena kehidupan. Ya... jika kita sama sekali tak menyapa mereka. belajar hanya datang, mengisi absen, mencontek teman, tanpa mau mengambil pelajaran dari tiap denting kehidupan yang allah berikan, untuk apa kita mengaku sebagai pelajar.
belajar harus berinteraksi dengan lingkungan. bukan lantas berdiam diri menyepi. hanya berkutat dengan buku dan diri sendiri. tak ada pelajaran tentang sosialisasi, pun pelajaran tentang membawa diri. tentu ini juga bukan belajar.
point ketiga ini yang paling dahsyat. acap keli pendidikan tak begitu menggubris tentang yang satu ini. asal nilai baik, asal lulus, suatu pendidikan sudah dianggap mumpuni. tak kaget jika produk pendidikan hanya orang-orang garda depan dengan pendang menghadang, tapi hati dan sikapnya lebih tajam dari sebilah pedang. mereka membunuh rakyat kecil dengan perut yang dibiarkat membuncit, mereka menyiksa rakyat jelaka dengan gelimang harta yang berkelip di sekujur tubuhnya. belum lagi mereka yang begitu kejam membunuh dengan terang-terangan.
sering kali saya ingin mencaci mereka. "Apa dulu lu nggak pernah belajar? nggak pernah disekolahkan ya?" bagaimana tidak. tak ada perubahan yang lebih baik dari sikap mereka. yang ada semakin memburuk saja tabiatnya.
dan saya pun menatap iba siswa maupun mahasiswa yang tak mengindahkan tujuan belajarnya. hanya merasa mereka butuh angka. baik itu berupa nilai atau harta. ahh... mungkin sebagian orang akan berkata naif. tapi asal kalian tahu. masih ada orang-orang yang hatinya menjerit untuk hanya sekedar melakukan kecurangan kata-kata. dan itu menyiksa.
maka kukatan pada segelintir manusia "beda" itu. semesta menitipkan amanahnya kepadamu. untuk kembali meresuffle keadaan yang ada. kami bukan hanya butuh orang pintar, tapi kami butuh orang-orang yang pintar hidup. mungkin aku pun tak bisa menyapa istimewa. tapi biarlah doaku turut menjaga esistensinya. semoga Allah senantiansa memudahkan langkah mereka menjadi juru selamat dunia. amiiin :)
Jumat, 15 Januari 2016
Terancam di segala sisi, demikiankah?
Apa yang salah? Kami bukan negeri berbahaya dengan senjata nuklir yang mengancam stabilitas dunia. Kami juga bukan negara dengan tank tank atau kendaraan tempur yang setiap saat siap menggempur habis dunia. Tidak... pasar kami masih ramai orang menyapa. Bukan congkak lantas saling tebar celaan.
Datang kabar
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Ketika lolongan anjing melengking
Tombak tombak meluncurkan kematian
Dalam satu kendali tiupan
"Musnahkan"
Begitulah tuhan menitahkan
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Wajah polesan itu tersungkur kelam
Hitamnya lebih legam dari aspal jalanan
Terseret lah dia
Bukan berjalan
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Kala itu keimanan menjadi harta tawanan
Bergadai lelaki tampan atau hancur dalam cengkraman
Lantas...
Tipu daya apa yang akan kau lesatkan?
Atau kau berkenan menggenggam peringatan?
Dan hidup tak lepas dua pilihan
Keimanan atau kekafiran
Rabu, 13 Januari 2016
Kisah klasik (kita)
aku menuliskan ini atas nama seorang sahabat. dalam kerumunan manusia yang berkutat dengan buku-buku perpustakaan, satu rasa ini tiba-tiba menyeretku ke dalam dimensi lain. dimensi yang hanya aku dan mereka yang tahu. dimensi yang pasti akan terukir cantik, meski perlahan tokoh-tokohnya pun harus satu persatu meninggalkan.
Sesaat, tanganku kelu untuk menuliskan luapan rasa dalam dada. tangisku tertahan. rasa ini telalu bercampur. sedih dan suka tak lagi ada garis pembedanya.
Selasa, 12 Januari 2016
Warna hari ini : abu, merah jambu, dan biru (muda)
"anta ma`a man ahbabta"Ya... itu status facebook yang sempat kuunggah ketika mata kuliah hadits tarbawi berlangsung. Sang pemakalah menyampaikan hadits ini dan pastinya hampir tak mungkin masih ada seisi kelas yang tidak pernah mendengar hadits ini. apalagi masih dalam suasana maulid Sang nabi. Meski demikian pesona hadits itu sama sekali tak berkurang sejak pertama kali aku berkenalan dengannya. seakan menyimpan energi besar yang menyebabkan para pecinta sekan merelakan sendi-sendinya melemas lantas terbang bersama angin yang berhembus tenang mencari senyum Sang nabi di antara arak-arakan awan.
kendati hadits ini berulang beribu kali, hati yang penuh cinta tak kan pernah berkurang kebahagiannya walau hanya sesenti.
Assholatu was salaamu alaika Ya Rasulallah :)
BIRU (MUDA)
beralih jauh dari dua warna hati itu, aku mulai menenggelamkan diri pada pendekatan fenomenologis. Mata, hati, dan otakku bersinergi memperhatikan gejala sekitar yang pastinya bukan tak bertujuan.
Banyak sekali yang tidak kita ketahui dari hidup. manusia, tahu apa?Ya itu adalah quotes singkat yang sering kali kuulang-ulang. merasa diri ini tak berhak untuk menjustifikasi alam, juga segenap penghuninya. Dalam berbagai keadaan, bisa jadi banyak orang dihadapkan oleh Allah pada masalah yang sama. sama-sama harus menyelesaikan tugas, baik itu tugas kehidupan, maupun tugas-tugas yang lain. Namun hebatnya, Allah memberikan otak yang berbeda-beda ini akan berimbas pada bagaimana cara mereka menunaikan tugas itu dengan versinya. Ada yang hanya diam berkutat dengan diktat, ada yang masih merasa harus memperjuangkan yang lain yang menurut mereka itu prioritas utama mereka, dan ada pula yang sembunyi dalam gelap, lalu tiba-tiba saja datang membawa cahaya terang. Dan lagi-lagi hati yang bijaklah yang dibutuhkan untuk menatap kejadian ini. meski sampai hari ini aku belum bisa menjadi mereka yang tampak tak gusar dengan kewajiban, tenang lantas menang, aku mencoba mensyukuri keadaan ini. turut membiasakan hati memanfaatkan hari berdasarkan versi yang kumiliki. Dan akhirnya, warna cerah itulah yang kuhadirkan pada hati terdalam. biru muda. Bagai langit yang tetap bersedia disapa mentari dengan sinar hangatnya, mendung yang selalu lengkap dengan efek gelapnya, serta deru hujan yang menyerang semesta.
hari ini aku belajar untuk cukup membiru mudakan hati. Tak perlu menjadi gelap oleh kepedulian yang ditunggangi kemarahan. Semuanya sudah cukup dewasa untuk mengemban kehidupan. terimakasih Allah atan pendidikan yang titipkan pada hembus nafasku di hari ini. :) alhamdulillah...
Senin, 11 Januari 2016
Belajar Istiqomah bersama Writing Challange
hidup memang harus dipaksa, karena dari terpaksa kita akan terbiasa.
Ya.. itu, quotes singkat yang saya dapat dari tetangga lemariku. Asal kalian tahu, bagi kami para santri tetangga lemari itu lebih dekat dari tetangga kamar, apalagi tetangga rumah, tapi tetangga lemari tidak lebih dekat dari tetangga tidur. :D
Kemarin malam, saya memutuskan satu hal besar dari hidup saya. "Gabung sama writing challange" di bulan Januari ini. kenapa saya mengatakan ini hal besar? karena saya berbeda dengan umumnya manusia. Saya memang hidup di era digital, tapi untuk sementara waktu ini WA saya terpaksa harus ditinggal di rumah, lengkap dengan BBM, line, path, dan aplikasi android yang lain. di pesantren manapun lazimnya memang tak boleh membawa handphone. Tapi bukan berarti sama sekali tak ada cara untuk bisa berkembang di dunia pesantren. Toh keputusan tidak boleh membawa HP ini pun bukan tanpa tujuan. Dan pada kenyataannya saya banyak berjumpa dengan rekan-rekan sepeguruan yang tetap bisa berkarya walau tanpa HP, bahkan tanpa internet. beruntunglah saya karena masih mendapatkan fasilitas internet dan laptop di kampus tempat saya belajar. Itu sudah lebih dari cukup. Dan asal kalian tahu saja, setelah melakukan perenungan panjang mengenai keadaan manusia-manusia hebat di sekitar saya, saya menemukan satu konsep penting untuk hidup saya. bahwa ternyata...
banyak sekali orang-orang hebat terlahir dari keterbatasan. so... jangan takut dengan keterbatasan.tahu kenapa? karena ketika orang biasa akan berjuang dengan cara biasa, mereka yang terlahir dengan keterbatasan selain berjuang sebagaimana orang lain berjuang, dia juga berjuang untuk melawan keterbatasannya. memutar otak lebih keras untuk berpikir ganda. begitu juga untuk hal ini. saya sempat berfikir bilamana saya tidak punya WA, bukankah saya akan ketinggalan banyak informasi yang di share melalui WA? Ah... tapi kekhawatiran itu jika terus saya pelihara hanya akan membuat saya gagal ikut tantangan ini. dan tak akan ada cerita lagi tentang itu. Karenanya, tidak peduli apa yang terjadi, saya tetap mendaftar ketika kebetulan orang tua saya datang berkunjung ke pesantren dengan membawa HP saya. Setidaknya, dari sini saya bisa belajar menaklukkan kekhawatiran saya sendiri.
Kemarin saya sempat mengerutkan dahi untuk menjawab apa alasan saya bergabung di tantangan menulis ini. Dan yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya ingin belajar istiqomah menulis. itu saja. Eits... jangan salah! istiqomah dalam bentuk apapun itu memang susah. karenanya, untuk saya sendiri, saya membutuhkan wahana yang secara tidak langsung memaksa saya untuk melakukannya rutin setiap hari. Terlebih ketika wahana itu adalah saya pilih sendiri. saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya. terus menulis, terus berlatih untuk bisa menulis dengan lebih baik. :)
Ang the last, mari kita taklukkan tantangan menulis ini. Barokallah fi
Minggu, 10 Januari 2016
Kutitipkan nilai (Saat ini)
Kutitipkan nilai pada selembar karyaya... tidak salah lagi. itulah misi mereka. ketika dunia beserta segenap isinya ini semakin tak dapat dimengerti. Dengan aksara, mereka mencoba membuat dunia mengerti. Dalam dongeng-dongeng yang tarangkai itulah mereka sematkan nilai sebagai bekal atas peradaban yang lebih baik lagi.
mungkin ketika kita hanya berkata kata dalam wicara, berapa luas radiusnya? berbeda ketika tulisan yang tampak mati itulah yang kita jadikan tunggangan dakwah kita. dengan kehendak Allah, ia akan terus tersebar. perlahan demi perlahan, kita akan tahu bahwa tulisan itu ternyata hanya mati suri. ia bahkan terus hidup di tangan para pembaca. memberikan sentuhan pendidikan yang tanpa kita sadari telah mampu membikin hati tertoleh lagi pada kebenaran hakiki. Dan itu lah mimpi kami. Aku berani berkata "kami" karena aku benar-benar menggenggam erat mimpi ini. Tak perlu ada kata nanti. cukuplah masa itu terdiri dari saat ini, saat ini, dan saat ini.
Saat ini untuk saat ini, juga besok, lusa, maupun hari yang akan terus silih berganti.
.
Sabtu, 02 Januari 2016
Elegi perjalanan diri
Ternyata aku tak benar benar menyukai perjalanan. sebagaimana jalan terbentang, ia tak selalu lapang. sesekali arai menghadang. dan bukan hal langka jika aku tiba-tiba tersambar. air mata tiada permisi membawaku pada dimensi tak terbantahkan. kembali pada kesadaran "kami manusia bertuhan". Aku perlahan berkelit dalam rangkaikan cerita berharga. antara dosa dan singkatnya masa.
ya.. aku sudah terlalu akrab dengan kesedihan, rasa bersalah, juga penyesalan. ditambah lagi duka lara. ia sering sekali menemaniku berjalan. dalam gelapnya malam jua cahayanya siang. ia serupa makhluk yang menampakkan diri, mengundang genangan air di mata.
tentu aku tak sehebat mereka. aku masih harus banyak menabung senyuman. hingga ketika tangis hendak bertandang pun tak lagi ada bilik tersisa. kecil hati ini kubuat sendiri.
sebagaimana aku berkawankan kenangan tatkala hujan datang, aku pun terlalu sering disapa tangis dalam perjalanan, entah bersama pesawat, bis, kereta, mobil, atau motor sekalipun. air mataku mengalir seiring laju mereka.
tuhan.. aku tak ingin membenci perjalanan. karena untuk sampai padamu pun aku harus berjalan. namun kumohon berikanlah kemampuan untuk bisa memaknai keadaan. membubuhkan pelajaran dalam catatan kehidupanku menuju dirimu. hingga bukan nilai merahlah yang kudapatkan dari mu.
Amiin


