Sabtu, 01 Februari 2014

Setangkai Mawar Itu...


Secangkir kopi yang menghangatkan kota Bandung malam itu. Hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi, membunyikan harmoni gemericik yang merdu. Malam yang sendu dengan langkah yang layu. Seorang pemuda tampan tengah lelah menjalani rutinitas kampusnya seharian. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan menuju tempat yang senantiasa menerimanya tuk sekedar melepas penat. Pondok Pesantren Al-Falah Dago.
“Assalamu`alaikum”, Furqon melangkahkan kaki kanannya memasuki pintu kobong[1] santri putra Ponpes Al-Falah. Kehangatan selalu tercium dari tempat penuh berkah ini. Bahkan dari jarak beberapa mater dari kobong, Furqon selalu bisa merasakan sambutan hangat pesantren yang dicintainya itu .
“Wa`alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh”, jawab teman-teman Furqon serempak.
Kunaon Ustad, meuni lunglai kitu? [2]” tanya Angga dengan Bahasa Sundanya yang khas. Maklum, dia orang Tasikmalaya asli.
Furqon hanya menjawabnya dengan senyuman keletihan. Hari itu dia memang benar-benar capek dengan segala tuntutan dosen tentang skripsi yang sedang dikerjakannya. Revisi lagi dan revisi terus. Di tengah kemuramannya itu tiba-tiba seorang kawan menghampirinya.
“Ustad, mau tahu kabar terbaru nggak? Tuh, santri-santri pada hot ngobrolinnya”, ujar salah satu temannya dengan nada yang berusaha membuat Furqon penasaran.
“Ah, pasti ini tentang cewek lagi ya?” Furqon hanya menyahutinya malas. Entahlah, sejak kejadian itu, Furqon tak lagi mampu menyusun ulang keping-keping cintanya untuk wanita lain. Bahkan untuk tertarik dengan kaum hawa saja rasanya sudah tak berminat. Zakkiya, Gadis sunda keturunan Arab yang begitu sholehah itu pernah memikat hati Furqon. Namun, ternyata Zakkiya dikehendaki untuk bersanding dengan Sang Khalik disana. Dan Furqon, mau tak mau harus melepasnya untuk Dzat yang lebih berhak atas diri Zakkiya itu.
“Asli Kang, ini mah beda. Cantik banget. Manis. Kulitnya putih. Bibirnya merah. Senyumnya,,, Ahh, geulis pisan pokokna mah[3]. Percaya deh sama Angga”, ucap Angga menguatkan.
Tapi Furqon tetaplah Furqon. Ia masih terlalu kelu untuk membicarakan wanita lagi setelah kanker darah itu mengambil belahan jiwanya. Alhasil, dia hanya berlalu meninggalkan pembicaraan itu dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Isya`.
*********
“Assalamu`alaikum”, Seorang kakek tua berjubah putih bersih menghampiri Furqon. Wajahnya berseri dengan beberapa rambut putih yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya. Suaranya berat penuh kharisma.
“ Wa`alaikumsalam, Siapa Anda?” Tanya Furqon dengan nada ketakutan.
“Kutitipkan ini untuk mu Jang[4]. Jaga ia baik-baik. Namun, jika ternyata suatu saat ia tidak ada padamu, berarti ia memang tidak ditakdirkan untukmu”, ucap kakek tua itu sembari menyerahkan setangkai mawar merah yang merekah indah. Furqon masih tercengang dengan kata-kata kakek tersebut. Ia takut untuk menerimanya. Namun, keindahan sang mawar yang mengagumkan setiap mata yang memandang itu membuatnya mampu menepis segala ketakutan di hatinya. Furqonpun meraih mawar tersebut dengan hati-hati. Beribu pertanyaan sesak memenuhi dada, namun tak ada satupun yang sempat disampaikannya. Kakek tersebut sudah terlanjur  berlalu meninggalkan Furqon tanpa mengucap satu patahpun.
*********
Pagi itu Annisa sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. Yah,,, dialah santriat baru yang menjadi buah bibir para santri kemarin. Annisa Zahra. Siswa kelas 3 SMA pindahan dari Majalengka. Sudah menjadi adat pesantren, sebelum berangkat sekolah setiap santri harus berpamitan terlebih dahulu kepada Umik Ara, sebuah panggilan para santri kepada istri Abah pengasuh mereka. Annisa pun berpamitan kepada Umik Ara. Setalah ia mencium tangan beliau,  Annisa segera memakai sepatunya dengan sangat tergesa-gesa. Pagi itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.55. 5 menit lagi pelajaran dimulai. Tidak mungkin dia yang masih terbilang murid baru itu mengawali hari di sekolahnya dengan terlambat. Annisa bergegas. Langkahnya cepat sedikit berlari. Namun, karena terlalu tergesa-gesa,  Annisa tak menyadari dari arah yang berlawanan ada Furqon yang juga sedang terburu-buru menuju rumah Abah pengasuh. Dan tiba-tiba, bruk,,, mereka secara tidak sengaja saling bertabrakan hingga buku yang ada di tangan Furqon terjatuh.
“Maaf Kang, saya tidak sengaja”, ucap Annisa dengan tangan kanannya mengambil sebuah buku ekonomi milik Furqon yang terjatuh tadi. Iapun segera memberikan buku tersebut kepada Furqon. Tanpa ia sadari, wajahnya terangkat dan seketika itu tatapan merekapun saling bertabrakan. Tiba-tiba, keheningan sejenak menyelimuti mereka. Entah mengapa, meraka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Dalam pancaran matanya, Furqon tampak menyimpan kekaguman akan paras cantik Annisa. Dia memang cantik. Matanya indah. Senyumnya manis berhias dua lesung di pipi. Hidungnya menunjukkan dia masih bertalian dengan orang-orang Arab disana. Bibirnya merah tersungging diantara kulitnya yang putih. Indah. Seindah setangkai mawar yang mekar merekah. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Furqon teringat dengan mimpinya tadi malam. Dia segera tersadar, mengambil bukunya, dan berlalu tanpa sepatah katapun. Annisa sedikit aneh melihat tingkah Furqon. Namun, ia hanya tersenyum kecil. Tampaknya, pertemuan dengan Furqon ini juga menyisakan kesan tersendiri bagi Annisa.
*********
Furqon mulai bingung dengan keadaan dirinya. Sejak saat itu, hati Furqon tampaknya telah kembali sehat dan tertambat kepada sosok Annisa. Bayangan wajah Annisa selalu muncul di tiap sudut hari-hari Furqon. Terkadang, bayangan itu bergantian dengan slide mimpinya bertemu dengan kakek tua berjubah putih. Ia masih saja bingung. Kiranya apa maksud bunga mawar yang dititipkan kepadanya. Yang jelas, satu benang merah dapat ditarik dari keduanya. Annisa dan bunga mawar itu sama-sama indah. Bahkan sangat indah. Tanpa ia sadari, pena yang dari tadi terdiam, kini ikut menampilkan kegundahan atas suatu rasa yang tak biasa.
Annisa,,
Ada apa dengan rona wajahmu
Kenapa dia mampu membuatku terbayang selalu
Matamu yang hitam penuh keteduhan
Bibirmu merah bagaikan buah apel ranum
Dan senyum manis yang tersungging elok di wajahmu
Tak pernah sekalipun hengkang dari pikiranku
Wahai Annisa
Aku ingin selalu menjagamu
Aku ingin mendekap erat setangkai mawar itu
Karena setangkai mawar itu kamu
Annisa Zahra
Wahai kau wanita yang seindah bunga
*********
Annisa melangkahkan kakinya menuju kelas ta`lim. Hasil tes memutuskan ia masuk di kelas B majlis diniyah Ponpes Al-Falah. Malam itu mata ta`limnya adalah tauhid. Annisa menempati tempat di jajaran bangku depan. Dia memang sangat bersemangat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Meski umurnya terbilang masih belia, namun kesholehahannya tidak diragukan lagi. Ia selalu berusaha menjaga dirinya, pandangannya, tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan hatinya. Ia berkomitmen tak akan mewarnai sejarah hidupnya dengan cinta yang dimurkai Allah SWT. Dia hanya mendambakan cinta suci yang terjalin di atas sebuah ikatan kehalalan.
Annisa menunggu Sang ustad hadir sembari membuka-buka kitab tauhid yang akan dibahas. Tiba-tiba, terdengarlah ucapan salam dari arah pintu kelas tersebut.
“Assalamu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh”, jawab para santri. Annisa tersentak ketika melihat siapa yang masuk. “Ini kan lelaki yang kemarin aku tabrak”, ujarnya dalam hati. Furqon memang telah lama mengabdi di pesantren itu. Karena keilmuaanya yang tinggi, ia dipercaya untuk menjadi ustad badal[5] di sana. Ketika pengajar yang sebenarnya ada halangan untuk hadir, maka dialah yang menggantikan ustad tersebut mengajar para santri.
Jantung Annisa tiba-tiba berdegup kencang. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi di hatinya. Ia hanya berusaha menepis rasa aneh itu dengan terus menunduk. Berharap dengan menjaga pandangan mata, ia bisa sedikit mengontrol kekacauan yang menerkamnya.
Ternyata di sebrang hati sana tak jauh berbeda. Mengetahui ada Annisa di kelas yang diajarnya, tiba-tiba Furqon merasa benar-benar kikuk. Materi mengajar yang telah disiapkan serasa terbang. Lisannya juga serasa kaku. Benar-benar bukan Ustad Furqon yang biasanya.
*********
Setahun berlalu. Tak ada yang berubah dari hati Furqon. Ia masih tetap menyimpan rapat rasa cintanya kepada Annisa. Namun, kali itu Furqon merasa sudah tak sanggup lagi untuk terus menyimpan. Rongga hatinya serasa sudah sesak dengan partikel-partikel cintanya yang semakin hari semakin bertambah. Ia diterpa kegalauan yang teramat sangat. Malam itu, tiba-tiba ia teringat akan buku latihan santri kelas B yang masih ada padanya. Tanpa pikir panjang Furqon menyelipkan puisinya di buku milik Annisa. Menurut Furqon, ini adalah bentuk ikhtiyarnya. Selebihnya, ia hanya akan menyerahkan segala perasaan itu kepada Yang Maha Memberi Rasa. Dalam kidung do`anya, Furqon memohon agar diberi keselamatan. Jangan sampai perasaannya itu ditunggangi syetan sehingga akan menjerumuskannya pada jurang kenistaan.
Keesokan paginya Furqon terbangun. Mimpi itu datang lagi dalam tidurnya. Kali ini Sang Kakek hanya datang kepadanya untuk menanyakan bagaimanakah keadaan Furqon dan menegaskan bahwa ia harus benar-benar menjaga bunga mawar yang pernah dititipkan itu. Dalam mimpinya, Furqon mengiyakan permintaan Sang kakek. “Sebenarnya siapakah kakek tua itu? Kenapa beliau datang lagi saat aku berniatan mengungkapkan perasaanku pada Annisa? Apakah bunga mawar itu memang sebuah pengibaratan atas diri Annisa?” pikirnya dalam hati.
Siang itu Furqon mengawali pulang dari kampus. Di sepanjang jalan kota Bandung yang disusurinya, banyak sekali pemandangan pasangan muda-mudi yang berdua-duaan. Terlintas suatu perasaan iri dalam hati Furqon.
“Pasti bahagia kalau aku dan Annisa bisa seperti mereka”, ujarnya. Lamunan-lamunan nakal mulai mengisi pikirannya lagi. Hingga ia tiba di kobong dan menemukan sepucuk surat yang terlipat manis di dalam lemarinya. Ia segera membukanya dan membaca kata demi kata yang tertulis disana.

Aku hanyalah seorang wanita
Yang ingin dijaga dan ingin dicinta
Biarlah hati ini terjerat
Jika ia tetap berpegang pada jalan Syariat

Aku hanya seorang penanti
Menanti pangeran yang menjemputku dengan hati
Disini aku menanti          
Disana kau juga silahkan menanti
Menanti kehalalan yang diberikan Allah untuk dua hati ini
Datangi kedua orang tuaku
Karena aku hanya ingin dicinta dengan kemulyaan cinta karena Allah

Inilah jawaban dari Annisa. “Astaghfirullahaladzim.” Furqon merasa sangat bersalah dengan lamunan-lamunannya tadi. Tak seharusnya ia menginginkan Annisa tanpa adanya kehalalan Allah. Iya, cinta memang anugerah, namun jika cinta dituruti pada saat yang tidak tepat, maka ia akan berubah menjadi musibah.
“Iya Annisa. Aku akan benar-benar menepati janjiku kepada Sang kakek itu. Takkan kubiarkan cinta ini menodai keindahanmu. Aku akan menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga hatimu, dan menjaga kesucianmu. Terimakasih Ya Allah, kau hadirkan cinta ini untuknya. Untuk sesosok wanita sholehah yang selalu mendambakan keridhoan dan cintaMu”
*********
3 tahun berlalu. Furqon telah mempersiapkan moment itu sejak jauh-jauh hari. Ini adalah hari special untuknya. Karena di belakang kalimat qobiltu itu, segala kehalalan cinta terbuka. Furqon akan benar-benar memiliki dan menjaga setangkai mawar yang dititipkan kepadanya. Iya, Setangkai mawar itulah gadis cantik bernama Annisa Zahra. Gadis yang teramat indah, seindah makna namanya. Wanita bunga. Pada akhirnya cinta merekapun dipersatukan dalam suatu keberkahan ikatan pernikahan. Menguntai kebahagiaan demi kebahagiaan dalam keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. (Alya Al-Hikmah)
*********


[1] Sebutan Asrama di Jawa Barat
[2] “Kenapa Ustad, kok lunglai banget gitu?”
[3] Cantik banget pokoknya.
[4] Jang (Ujang) : sapaan untuk anak lelaki Sunda
[5] Pengganti

Rabu, 29 Januari 2014

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 2 (2 Januari 2014)


Assalamu`alaikum wr. wb
Ini surat keduaku untukmu. Aku harap kau tak pernah bosan mengurai satu per satu ungkapan rasaku ini kepadamu. Masih dalam keadaan yang sama. Dalam keadaan aku tak tahu siapa dirimu dan dalam keadaan aku selalu menanti dirimu.

Angin malam senantiasa mampu semaikan sendu, pada hati yang sendiri teramat pilu. Ya,,, kakiku telah banyak jelajahi waktu seorang diri. Menelisik hari-hari tanpa adanya penjaga hati. Matakupun telah lelah menatap indahnya sang mentari sendiri. Tanpa adanya tempat berbagi. Bahkan dalam pekatnya malam, aku cenderung diam atau sekedar berceloteh bersama rembulan, yang terkadang juga berkawankan bintang gemintang. Karenanya, kepadamu dengan sepenuh hati, kusampaikan untaian rasa rinduku ini.

Wahai Sang Pangeran. Aku mungkin memang masih teramat muda untuk berani menantang dunia. Umurku masih 20 tahun, meski pergantian tahun akan selalu membawaku ke titik yang mematangkan diriku. Aku juga masih belum tahu tentang lika-liku cinta dalam suatu bahtera. Kendati demikian, aku sungguh merasa tak tahan melihat dunia yang kian hari kian menggenit dengan segala godanya.

Aku mungkin memang bukan wanita cantik selaksa bidadari. Aku juga bukan wanita cemerlang selaksa para kunang yang menghiasi malam. Namun aku selalu percaya, dongeng Cinderella itu akan benar adanya di dunia nyata. Ya, Seorang pangeran untuk gadis berjelaga seperti Cinderella. Mungkin kini aku masih seperti Cinderalla, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi istimewa dalam perjumpaanku denganmu.  Karena aku juga meyakini bahwasanya jodoh itu laiknya cermin. Tak akan ada Seorang Pangeran yang berjodoh dengan wanita biasa, terlebih wanita hina. Karena Cinderellapun meski ia hanya gadis berjelaga tapi jiwa sang putri itu bertahta indah dalam dadanya. Dia baik, ramah, sabar, penyayang, dan penurut. Minimal aku harus terus melatih diriku untuk memiliki hati seindah hati tuan putri sebelum pertemuanku denganmu, dan akan terus memperbaiki diri, karena Allah hanya menjanjikan seorang  pria sholeh ntuk wanita yang sholehah. 

Meskipun tak kunjung ada ikatan diantara kita, namun aku tak pernah sedetikpun melepaskanmu dari kucuran do`aku untukmu. Biar aku tak pernah berada disisimu, namun ada Allah yang selalu kutitipi dirimu dimanapun langkahmu tertuju. Dalam tengadah kedua tanganku ini, aku senantiasa memohon agar Allah selalu menjagamu, memudahkan langkahmu, memberikan keberkahan hidup kepadamu, memperbaiki hari-harimu dan tentunya semakin mendekatkanmu kepadaku duhai Engkau calon imamku. Mungkin selain do`a, aku masih belum bisa menunjukkan cintaku untukmu. Bagaimana aku bisa mengabdikan diriku padamu, melayanimu, dan melengkapi harimu, bahkan siapa dirimu saja aku belum tahu.

Wahai Sang Pelengkap hati, mungkin kita memang belum saling mengenal. Namun aku yakin, seiring bumi berputar pada porosnya, kita akan bisa saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin tak usah kau menunggu masa itu tiba untuk mengenalku, karena aku sangat bersedia menyelipkan sedikit demi sedikit pencitraan jiwa dan ragaku ini melalui pucuk-pucuk surat yang kutuliskan untukmu.

Dan kurasa, mungkin kucukupkan dulu tulisan keduaku ini. Masih dengan harapan yang sama. Semoga Allah segera mempersatukan kita. Semoga Allah segera membimbing jalanmu untuk menjemput diriku. Insyaallah di surat-surat selanjutnya, aku akan mulai bercerita tentang pribadiku, tentang segala kurang dan lebihnya aku, juga tentang masa lalu yang turut membangun kedewasaanku. Aku juga akan bercerita tentang keluargaku, teman-teman, dan... ah, aku jadi semakin tak sabar ingin bertemu denganmu. Baik-baik dulu ya disana. Sampai bertemu di lain waktu.

Wassalamualaikum wr. wb.

Salam cinta dari Sang belahan jiwamu. 
Vita al-Hikmah

Selasa, 28 Januari 2014

Dia Ditakdirkan Untukmu

Tak perlu kau ragu
Dia memilihmu
tuk menjadi teman hidup setia selamanya
Mestinya ku yang malu
Tlah berminat padanya
Yang tlah ditakdirkan
tuk menjadi pendamping hidupmu

Dan berlayarlah kau merenda keluarga
Meretas hidup bersama
Aku bahagia
Kau dipertemukan dengan dirinya

Tak kan ada yang berubah antara kita
Kau tetap teman terbaikku
Jangan menangis
Dia ditakdirkan untukmu bukan untukku...

do you wanna listen the song, click here

Minggu, 26 Januari 2014

Bidikan Emas Seorang Ksatria Kata-kata

Berselancar dalam kehebohan warna-warni dunia maya hari ini. Bersama gelap, terang serta semburat temaramnya. Menyusup sisi demi sisi ruang-ruang penghubung kehidupan yang terpisah bak tepi-tepi labirin yang berjauhan.

Selalu seperti ini, Tak kurang-kurangnya Dia tunjukan kepadaku betapa orang-orang hebat itu bisa mencipta. Berkarya dan berkontribusi di agama sesuai jalannya. Berjihad dengan apa yang ditekuninya. Dan hingga detik ini berdetak triliyunan kali menemani hidupku, aku masih hanya terkagum dengan pesona kehebatan kawan-kawan seberang? Lantas kapan kau singsingkan lengan baju dan turut menjadikan diri ini tak ubahnya seperti mereka? Sampai kapan kau turuti rasa pesimis yang perlahan-lahan menggerogoti ranting-ranting mimpi mu? Ayolah„, Meski kau bukan putra seorang pujangga, tak ada salahnya kau mengiyakan kakimu yang sedari tadi ingin sekali berlari menggapai mimpi?

Aku ingin menjadi ksatria Kata-kata. Ia Berdakwah dengan pena. Menyampaikan syiar agama dengan tinta. Tapi, Kapan itu terwujud? Bagaimana aku mengawalinya? Aku ingin bisa Allah… Bersanding bersama mereka-mereka pecinta Islam yang menggemakan syiarMu ke semua. Ayolahhh Vita„, Apa kau ini? Seorang pecundang kah? Hapus segala penghalang yang menghadang itu. Padamkan pesimis yang ingin membakar habis mimpi-mimpimu. Percayalah. Sebentar lagi. Dengan izin dan RidhoNya, atas ketulusan kidung do`a serta usaha, kau kan gapai apa yang kau pinta kepadaNya.

Wahai Allah„, Jadikan aku seorang ksatria kata-kata. Ia berdakwah dengan pena, Ia menyampaikan syiar Agama dengan tinta. Biarkan aku mencintaiMu dan melakukan sesuatu untukMu Allah. Aamiin….

I`m just ordinary people


Namaku Alvita Hikmatul Laily. I`m just an ordinary people. Iya„, memang hanya ordinary people. Karena apa? Karena aku bukan orang hebat. Aku hanya orang biasa. Bukan karena aku tidak mau dan tidak ingin bermimpi. Hanya saja aku tidak ingin membuai hatiku dengan merasa menjadi orang hebat. Yah„, meskipun memang sebenarnya aku belum menjadi orang hebat. Masih menapaki tangga menuju kesuksesan, mungkin itulah tepatnya. Sukses?? Bagiku sukses itu mudah. Kita hanya tinggal membuat sebuah indikator kesuksesan. Sukses itu bukan dari kaca mata orang lain. Sukses itu bagaimana kita menapaki hari-hari kita penuh makna., bermanfaat, dan bahagia. Itu saja indikatornya. Sukses itu bahagia. Bahagia itu ketika hati ini merasa cukup, enjoy dengan kehidupan kita. Cukup itupun relatif bagi sebagian orang. Tapi bagiku, cukup itu satu. Allahu Kaffi, Rabbunal Kaffi. Satu senjata saja. Merasa cukup dan yakin dengan lafadz Hasbiyallah wa ni`mal wakil, ni`mal maula wa ni`man nashir. Allah„, dan hanya Allah. Mencarinya pun tidak jauh dan tidak susah. Disini, di tempat kau meraba hati akan sebuah keimanan diri. :)

Inilah Deburan Semangat Dakwah Kami


Wahai Rasulullah„,
Aku tak lagi hidup bersanding denganmu
Aku terlahir saat dunia telah samar dengan segala benalu-benalu itu
Benalu mereka yang ingin hancurkan semua warisanmu
Menutupinya satu per satu
Membungkam telinga-telinga kami yang rindu akan risalah-risalahmu
Ya Rasulullah…
Syauq ini memenuhi hati kami
Ingin sekali turut menggemakan kebenaran-kebenaranmu
Menghimpun bersama para pemuda pecintamu
Hingga kelak hati ini
Mampu menikmati detik demi detik yang teruntai dengan segala syariatmu
Ya Rasulullah…
Disana,
Di tempat yang selalu menyilaukanku dengan gelora dakwahnya
Di ranah kehidupan para pemuda yang penuh akan usaha 
Atas kecintaan padamu yang terpatri mati di dalam sanubari
Aku ingin menjadi bagian sebongkah kekuatan itu
Menggaungkan dan terus mencitrakan 
Betapa indah hidup yang tertata dengan ketentuan dari Tuhanmu
Aku ingin…
Aku ingin…
Meski deburan semangat ini terperangkap dalam segala keterbatasan.
Pada raga yang terlahir serupa dengan Ibu Hawa
Pada jarak yang tak mampu buatku bebas
Pada kesendirian yang tak tahu dengan siapa aku menapak
Aku ingin„,
Sungguh-sungguh ingin.
Melangkah dalam jalan-jalan dakwahmu
Lantas, kenapa hati ini selalu ragu? 
Hanya turuti rinai-rinai air mata yang terasuki semangat tak bersambut
Ya Rasulallah, 
aku takut 
Mungkinkah ini hanyalah deburan semangat dakwah kami
yang tersekap dalam pesimisnya hati?

Sejak dulu, aku selalu saja merasa iri. Dengan mereka-mereka yang diberi kesempatan berjuang dengan Beliau. Mereka-mereka yang tergabung dalam giatnya dakwah beliau. Dibawah naungan sebuah lembaga pengembangan dakwah Islam.
Beliaulah guru yang selalu memotivasi kami, Betapa Islam itu indah.Betapa kecintaan akan Islam itu indah. Betapa perjuangan untuk Islam itu istimewa. dan betapa pengabdian kepada Allah itu hebat. Beliaulah guru kita tercinta, dan akan selalu kucinta. Beliaulah As-Syaikh Yahya Zainal Ma`arif. Semoga Allah senantiasa melindunginya serta memudah segala langkahnya beserta langkah orang-orang yang berjalan bersamanya. Amiin…



Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 1 (31 Desember 2013)


Assalamu`alaikum. :)

Semoga segenap cinta dan kasih sayang Allah senantiasa terlipah padamu, wahai seseorang yang terpilih untukku. Kiranya, Bagaimanakah kabarmu disana? Di tempat yang hingga kini tak kunjung kuketahui dimana letaknya. Disana, Apakah kau sedang dalam proses perbaikan diri sepertiku? Apa kau juga sedang mempersiapkan dirimu untuk bertemu denganku? Atau kau sedang berikhtiyar untuk menemukan cinta sejati seperti diriku? Ya,,, aku tahu betapa Allah itu teramat istimewa. Selalu rangkaikan kisah cinta yang penuh dengan tanda tanya. Meski cinta itu terkesan sederhana, tapi Allah selalu saja bisa membuat kita terus belajar memaknai cinta yang sesungguhnya.

Hai,,, Bagaimana aku harus memanggilmu? Bahkan sampai saat ini saja aku tak tahu namamu. Yang aku tahu hanya kau adalah orang yang baik, orang yang sholeh, santun, dan sayang kepadaku. Karena itu yang telah Allah kabarkan sebagai jawaban atas do’aku. Aku selalu percaya itu. Karena akupun selalu berusaha menjadi seperti itu. Baik, sholehah, santun, dan sayang kepadamu. Meski aku masih pernah mengucapkan nada tinggi ke orang tuaku, tapi jujur setelah itu terjadi aku menyesal setengah mati. Dan akhirnya aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. :)

Aku juga berusaha untuk bisa selalu menyayangimu. Mencintai janji Allah akan hadirnya dirimu pada waktu yang telah ditentukan itu. Iya, saat ini aku sedang mempersiapkan hatiku untukmu. aku selalu memohon kepada Allah, agar Allah menjaga kesucian hatiku. Aku tak ingin cinta-cinta masa laluku masih membekas ketika kelak aku bertemu denganmu. Dan ternyata Allah memberiku kisah ini. Kisah yang buatku tak mau lagi bermain cinta tanpa adanya kata qobiltu. Aku ingin benar-benar mengutuhkan cintaku ini hanya untukmu. Untuk seseorang yang akan menuntunku pada cinta haqiqi yang satu.

Wahai sepenggal nama yang tlah tertulis bersama namaku di lauhul mahfudz, Inilah aku. Seseorang yang telah lama menantimu. Aku hanya wanita biasa. Yang tak pernah luput dari cela dan dosa. Mungkin kelak kau akan temukanku dengan segala kurangku, namun aku yakin. Hanyalah kau orang yang akan tetap bisa menerimaku, melengkapi kurangku, dan selalu membimbingku. Karena itu Allah kirimkan kau untukku. Maka akupun akan berusaha menjadi seperti itu. Tulus menerimamu, melengkapi kurangmu, dan menjadi makmum yang baik untukmu.

Wahai Sang ksatria hati, ini pertama kalinya kukirimkan surat untukmu. Entah kapan untaian aksaraku ini bisa tersampai kepadamu. Yang jelas aku akan tetap menulis. Karena dengan tulisan ini kuharap hati  kita bisa menjadi dekat, hingga kau semakin mendekat dan waktu itupun tiba. Waktu yang mempertemukan kita dalam mahligai cinta nan suci. Hingga masa itu, kuingin kau tetap bersabar memeluk waktu. Sembari terus mengupgrade dirimu. Salam kenal dari diriku. Meski tak pernah jua ku tahu kapan kita akan bertemu. 

Sudah dulu ya, aku banyak kerjaan. Tugas dari Pak Ma`shum juga ustadzah Luluk belum ada yang selesai. Padahal liburanku tinggal 2 hari lagi. Insyaallah, aku tak akan pernah jemu untuk menorehkan kisah-kisahku dalam Surat cinta ini. Indahlah kau disana. Semoga Allah senantiasa melindungimu dan memudahkan langkahmu. Aamiin…

Wassalamualaikum :)
Salam kasih untuk yang terkasih.