Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Senin, 23 November 2015
andai aku bisa memilih untuk sama sekali tidak mendengarnya, untuk tidak perlu mendengar denting suaranya terselip diantara keramaian wahana.
Aku sungguh tak ingin mendengarnya. membayangkan kedekatan yang terangkum semakin dekat.
Apa? apa-apa an? apa yang kau pikirkan dengan semua kata2mu itu? kau tidak sedang salah menyimpan hati kan?
Senin, 26 Oktober 2015
Aku Cinta
Aku mulai mencintai profesikuTernyata, menjadi guru bukanlah sesuatu yang buruk. kerena menjadi guru bukan berarti menggurui, melainkan terus berguru dan meguru. Hingga menuntut kita untuk senantiasa menggali ilmu, meski di antara lautan duri dan gunung berbatu.
Aku mencintai profesikusebagaimana aku mencintai mereka para murid-muridku. sungguh terasa begitu indah ketika bisa menyelipkan do`a di antara sapaan santun mereka, menatap mereka bisa berlari-lari riang di jalan-Nya, juga membayangkan merekalah yang kelak memberikan tapak-tapak langkah untuk kita sampai ke surga.
Aku sungguh jatuh cintaBersama mereka aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. menjadi sosok yang memang pantas dipanggil bu guru oleh mereka. bukan lantas mengajari mereka kencing sambil berlari, melainkan terus menanyai diri sendiri, "masihkah kau kencing sambil berdiri?"
Minggu, 02 Agustus 2015
Peta buta
Hei... selamat pagi.
Seperti biasa. Tulisanku ya hanya tulisan biasa. Sama sekali bukan tulisan yang istimewa. Kecuali kalau kalian jeli menelisik tiap makna yang tersembunyi di dalamnya.
"Peta buta..." sepertinya aku juga sudah sering menyebutkannya. Bahkan dia seakan teka teki berhadiah milyaran rupiah sehingga tiap keping jawaban yang perlahan kudapatkan menjadi begitu berharga. Ahh.. dasar alay.
"Sekufu" ini juga lebih keren lagi. Konsep jodoh dari Allah yang sangat manakjubkan. Tolok ukur sekufu seperti apa juga gak banyak yang bisa memprediksi. Apakah sekufu materinya, fisiknya, tingkat keimanannya... hanya Allah yang maha adil dan maha tahulah yang sepenuh nya menentukan timbangannya berimbang seperti apa.
Dan sekarang dari dua kata pokok di atas aku mulai meraba keadaanku. Kasihan sekali kalau tulisan ini hanya sebagai wadah curahan hati. Tapi ya seperti inilah... seperti yang tadi kubilang. Ini hanya tulisan biasa.
Aku memang masih belum berani menyebut nama. Bahkan mengingat identitasnya saja aku takut. Karena sepertinya otak kecilku ini belum bisa menemukan titik singgung kesekufuan kami. Lantas apakah ini benar benar hanya tebakan asal comot? Atau memang olah rasa, olah firasat? Entahlah... aku hanya mampu terus bertanya pada dia sang pemberi petunjuk. Benarkah dia jawaban atas peta buta ku?
Waktu dan doa. Tambah sabar dan tawakal. Mungkin cukup itu saja resep hemat untuk perkara yang serupa ini. Terus berdoa dengan sabar dan tawakal hingga waktu benar benar dikirim allah untuk mengantarkan sebuah jawaban. Dan ketika tawakkal benar benar bertangkal di hatimu, maka jawaban apa saja itu tak perlu. Karena ada billah disana. Billah... iya... billah... satu pelajaran yang langsung kudapatkan dari kyai lukman hakim. Sufi jakarta. :)
Senin, 20 Juli 2015
Aku "wanita" juga kah? #part 2
"Hai wanita". Sebuah sapaan ringan yang terlalu abadi untuk perlahan mengawali aksi-aksi imperialisme. Apalagi kalau bukan menjajah. Tangannya memang tak lagi membawa senapan. Tapi kata kata para buaya terlalu tajam menusuk, lantas meracuni. Memang tak perlu amunisi untuk bom meriamnya. hanya satu serangan yang dikata kerasukan cinta, itulah yang seringkali mengakhiri semuanya. Oh.. wanita. Lagi lagi betapa malangnya adinda.
Ah.. tak usahlah kau tanya pada dunia. Ia bahkan tak lagi bisa menghargaimu meski hanya dengan kepingan recehan. Ia tertawa, tak lagi meresa perlu berduka ketika tahu kau para wanita sedang tertimpa bencana para penjahat-penjahat pengobral syahwat. Mereka tak susah. Bahkan cukup dengan sikap masa bodoh atas nestapa yang disembunyikan di balik kibar pelaminan dengan cahaya menyilaukan. Oh wanita... lantas siapa yang akan membela ketika dunia tak lagi memiliki nilai2nya?
Untuk hal ini, tak perlu lah kau sekolahkan otakmu agar jadi pintar. Percayalah kau hanya butuh melatih hati dan menjadikannya sensor dengan sensitivitas, sensitivitas tuhan tentunya.
Minggu, 19 Juli 2015
Aku "wanita" juga kah? #part1
Terima kasih wahai wanita. Kau telah terlalu mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk dunia yang sementara. Bahkan ketika sekitar selalu dan selalu merunyamkan keadaannya, kau, masih dengan pikiranmu yang diatas rata2 mampu menelisik setiap sisi lantas menyelamatkan nya.
Kau wanita.. kenapa harimu tampak teramat berat? Dan sayangnya beban kehidupan yang bergelayut di tepian air muka mu itulah yang membuat wanita separuh jalan ini semakin takut untuk berjalan. Harus seperti itukah wanita?apakah dongeng para putri itu kini sudah menjadi kadaluarsa? Hanya tertinggal episode pertama ketika cinderella masih penuh nestapa?entahlah..
Rabu, 15 Juli 2015
Bukan "selamat tinggal" tapi "sampai jumpa"
IAku memang sudah lama mengenal pepatah itu. Hanya saja, sampai saat umurku tak lagi terbilang muda, aku tak kunjung bisa meraih makna agungnya.
"Kau tak akan merasakan sesuatu itu berarti, kecuali sampai ia telah benar-benar pergi."
Ramadhan 1436 H hanya bersisa kurang dari 24 jam. Setelah kehadirannya selama hampir genap 29 hari ini, aku bahkan tak merasa ia benar-benar ada. Tak ada perlakuan special, apalagi penyerahan segenap rasa hati. Semua berjalan standar, biasa saja. Puasa, tarawih, tadarus, hanya berlalu tanpa ruh. Ohh allah, beginikah seharusnya seorang hamba menyikapi tatkala tiba bulan kesayangan Tuhannya datang menyapa dirinya?
Dan baru ketika tarawih tak ada lagi di tahun ini, puasa hanya tinggal esok hari, dan tadarus bersisa lembar-lembar penutup, terisaklah hati ini dalam penyesalan yang memilukan. Serupa bocah kecil yang tersedu tatkala ditinggalkan ibundanya. Aku harap, benar-benar bukan ucapan "selamat tinggal" lah yang kusampaikan, melainkan ucapan "sampai jumpa" karena Allah masih memberikan karunia usia untuk ku bisa sekedar tahun depan menyapanya. Teruntuk kau, bulan yang mulia. Ramadhan...
