Kamis, 17 Juli 2014

perjuangkan rindûmu!!

Pagi kemarin jombang memang dingin,,, tapi dalam benak gadis perindu ini sudah sangat terbayang-bayang udara hangat surabaya yang ramah menyapa. belum lagi, untuk hari itu dia sudah menyiapkan segenap agenda pertemuan yang baginya teramat penting melebihi pentingnya uang 1 milyard. hehe...

waktu pun terus bergulir, detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan sudah sekian lama dia menunggu tanpa adanya tanda2 kepastian. rupanya diapun mulai gusar. akankan sebuah rencana yang dipersiapkannya lengkap dengan segala detail kecilnya harus terhempas lepas...

Ahh... Benar-benar di ambang keputusasaan...
Tak ada kawan, sungguh tak ada jaminan. Seorang gadis perindu semakin terenggut pilu atas rasa itu. "Oh, Allah Tuhan semesta alam,,, rinduku ini bukan rindu yang terlarang kan? lantas kenapa kau buat susah tapak kakiku ini," begitu rintihnya semalaman.

Ya,,, jika bukan karena anugrah tawakkal yang diberikan kepadanya, mungkin dia tak akan bisa terbangun menatap pagi dengan keleluasaan hati. Gadis perindu itu pasrah. Warna hatinya hari ini sungguh hanya ia biarkan Tuhan yang menggenggamnya. Jikalau berjodoh, pastilah bertemu walau dunia dihujani batu.

Maka Engkau kirimkan dua peri cantikMu itu untuk menemani dan memudahkan perjuangan rindunya. Indah... begitu indah... meski harus mengendara di bawah teriknya surya, meski harus menyusuri sahara yang tak tahu berapa mil jauhnya, tapi ketika kaki dan tubuh ini berenergi rasa, sepertinya, bagai hanya berterbangan diantara awan putih dan burung camar yang menari-nari...
Hingga pada akhirnya, gadis itu pun menemukan penawar rindunya. Seseorang dengan sayap karisma yang memeluk ramah sekitarnya. Mata indahnya berbinar cahaya, lisannya terukir jutaan hikmah kata-kata.

Sedang Sang gadis perindu lama duduk terpaku...
Air mata cinta menderasi halus pipi merahnya. Lisan indahnya semakin indah dengan untaian kalimat syukur yang disaksikan beribu malaikat semesta.
"Wahai kekasih hatiku, akhirnya, telah kusampaikan perjuangan rinduku ini kepadamu. :) trimakasih atas pertemuan tak terlupa ini"

(hahaha... alay juga ya tulisannya. padahal itu kan cuma nyeritain kisahku buat ketemu Buya Yahya di masjid ITS tanggal 19 Juni 2014 kemarin... hihihihi )


Berharap hanya selembar kaca bening


Dua hari ini semuanya terasa lebih berat. Seakan mendung dengan berjuta ton awan cumulonimbus dijatuhkan di atas kepalaku. Ya,,, sedikit banyak sudah mampu kusadari. Betapa dunia penuh dengan ketidak adilan. Entah engkau yang merasa, aku yang merasa, atau kita yang merasa. Hingga kali ini objek dan subyeknya adalah aku. Aku yang merasa kecil, juga aku yang memang dianggap kecil.

Kau tahu? Perkara dunia itu serupa lembar kaca. Hanya saja, bagaimana kita merawatnya, itulah yang membuatnya beda. Bisa jadi, kaca punya kau ditumbuhi lumut hijau bak permadani suarga. indah memang. tapi sayang, kau tak akan mampu melihat betapa lebih mempesona apa yg ada di baliknya.
dan aku,,, aku hanya akan terus berdo`a agar kaca milikku hanya selembar kaca bening. Sehingga aku masih bisa meluaskan hatiku dengan menatap taman firdaus yang luas di sana.

Biarlah, Meski kini mereka membuat pandangan mereka terhadapku tak indah, tapi aku tak akan terpengaruh, karena kacaku adalah selembar kaca bening di balik panorama kehidupan hakiki. kehidupan yang kucari. kehidupan bersama ilahi...

Jumat, 16 Mei 2014

Petunjuk

bukan tak diinginkan
selalu dan terus diminta
mengiringi langkah
serta mendekap derap

kujemput petunjukku
dibalik istikhorohku

Selamat tinggal...

Rabu, 14 Mei 2014

Ikatan Batin

Sesaat  tampak aneh.
Hanya aneh saja.
Ada yang tak enak.
Ya tak enak saja.

Tak berani mengawali
menerkapun takut
abstrak, tapi ada
tak tentu nyata, tapi tentu terbayang

Oh ini...
ini ternyata.
Nyatanya hari ini
hari ini kau nyata.

Nothing but something, that`s feeling

Sabtu, 03 Mei 2014

Jadi Harus Bertingkah Seperti Apa Kita?

Sepasang kontradiksi yang nyata, diajarkan pada satu otak yang sama. Mungkin mereka yang bisa menelan mentah tanpa tersedak adalah mereka yang enggan berpikir, hanyalah mereka yang tak memiliki sambungan syaraf antara mata dan kepala. Bagaimana tidak bingung, masih berpayung tarbiyah padahal. Sekarang apa beda antara mahasiswa dan santri? Bukankah kedua status itu sama-sama penuntut ilmu? Tapi kenapa satu realita harus dipandang dengan dua kacamata berbeda. Satu sisi kita disuruh untuk sedikit memejam mata atas nama khusnudzon dan ketawadlu`an. Sedangkan satu sisi yang lain menuntut kita memelotot tajam, mengusung kata kritis dan skeptis. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas kalimat "kyai bukan nabi"?, juga siapa yang bisa menjelaskan "hati orang siapa yang paham"?. Ya,,, otakku bercabang banyak, namun hatiku sukses terkoyak. 2 status ini menimbulkan kebingungan yang nyata. terpendam tanpa berani bertanya.

Minggu, 23 Maret 2014

Ich Mag der Paris



Tentang impian yang terkapar di ambang cakrawala senja. Antara siang dan malam, antara terang dan gelap, antara panas dan dingin, juga antara semangat dan penat. Selujur penaku tak mampu berkelana bebas. Seiring mimpi yang terbatas sempurna. Lagi-lagi perseteruan tentang kehidupan dunia dan setelahnya, serta mimpi-mimpi dunia dan sesudahnya.

Aku serasa sekeping mahkota dandelion. Berlarian terbang sekehendak angin. ke barat, timur, utara, selatan pun jadi. Hanya bergantung masa yang menghembuskan anginnya. Jika harus memilik, aku ingin serupa dandelion yang merekat erat pada pangkalnya. Tetap berpegang dan tetap tenang Meski topan menerjang, aku tak mungkin sendiri goyang. Kini, aku bahkan tak punyai sebongkah pijakan. Aku bingung untuk berarah. Kanan dan kiri di mataku kian manyamar. Bingung. Atas dan bawah juga semakin tak peka untukku. Aku butuh pegangan, pedoman, juga pemilik jawaban semua pertanyaan. Aku bingung tentang sejatinya eksistensi. Juga bingung masalah tujuan hati yang hakiki. Siapapun, ayolah jawab.
Masih pentingkah mimpi dunia?
Menjadi penulis, S2 Sejarah Peradaban Islam, Menyibak panorama sejarah Islam dunia, berkunjung ke menara cinta. Arrggg...

Sabtu, 22 Maret 2014

Repetisi yang Tak dari Hati

Bayangan dalam tidur itu mengingatkanku
Tentang potretku di masa lalu
Ketika panggung itu kamar tidur
Ketika depan itu terutama dari semua

Pria berkemeja telur asin
Hanya duduk termangu menatap sejenak lalu
Tak kumaknai banyak
Mungkin hanya pandangan yang numpang lewat

Tidak,,,
Ternyata tak kutangkap langsung
Ia seperti menghadangku
atas kubangan baru yang lama

Repetisi
ini tentang repetisi
dan kau tak ingin aku mengulanginya lagi