Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Kamis, 17 Juli 2014
Berharap hanya selembar kaca bening
Dua hari ini semuanya terasa lebih berat. Seakan mendung dengan berjuta ton awan cumulonimbus dijatuhkan di atas kepalaku. Ya,,, sedikit banyak sudah mampu kusadari. Betapa dunia penuh dengan ketidak adilan. Entah engkau yang merasa, aku yang merasa, atau kita yang merasa. Hingga kali ini objek dan subyeknya adalah aku. Aku yang merasa kecil, juga aku yang memang dianggap kecil.
Kau tahu? Perkara dunia itu serupa lembar kaca. Hanya saja, bagaimana kita merawatnya, itulah yang membuatnya beda. Bisa jadi, kaca punya kau ditumbuhi lumut hijau bak permadani suarga. indah memang. tapi sayang, kau tak akan mampu melihat betapa lebih mempesona apa yg ada di baliknya.
dan aku,,, aku hanya akan terus berdo`a agar kaca milikku hanya selembar kaca bening. Sehingga aku masih bisa meluaskan hatiku dengan menatap taman firdaus yang luas di sana.
Biarlah, Meski kini mereka membuat pandangan mereka terhadapku tak indah, tapi aku tak akan terpengaruh, karena kacaku adalah selembar kaca bening di balik panorama kehidupan hakiki. kehidupan yang kucari. kehidupan bersama ilahi...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar