Minggu, 02 Agustus 2015

Peta buta

Hei... selamat pagi.
Seperti biasa. Tulisanku ya hanya tulisan biasa. Sama sekali bukan tulisan yang istimewa. Kecuali kalau kalian jeli menelisik tiap makna yang tersembunyi di dalamnya.

"Peta buta..." sepertinya aku juga sudah sering menyebutkannya. Bahkan dia seakan teka teki berhadiah milyaran rupiah sehingga tiap keping jawaban yang perlahan kudapatkan menjadi begitu berharga. Ahh.. dasar alay.

"Sekufu" ini juga lebih keren lagi. Konsep jodoh dari Allah yang sangat manakjubkan. Tolok ukur sekufu seperti apa juga gak banyak yang bisa memprediksi. Apakah sekufu materinya, fisiknya, tingkat keimanannya... hanya Allah yang maha adil dan maha tahulah yang sepenuh nya menentukan timbangannya berimbang seperti apa.

Dan sekarang dari dua kata pokok di atas aku mulai meraba keadaanku. Kasihan sekali kalau tulisan ini hanya sebagai wadah curahan hati. Tapi ya seperti inilah... seperti yang tadi kubilang. Ini hanya tulisan biasa.
Aku memang masih belum berani menyebut nama. Bahkan mengingat identitasnya saja aku takut. Karena sepertinya otak kecilku ini belum bisa menemukan titik singgung kesekufuan kami. Lantas apakah ini benar benar hanya tebakan asal comot? Atau memang olah rasa, olah firasat? Entahlah... aku hanya mampu terus bertanya pada dia sang pemberi petunjuk. Benarkah dia jawaban atas peta buta ku?

Waktu dan doa. Tambah sabar dan tawakal. Mungkin cukup itu saja resep hemat untuk perkara yang serupa ini. Terus berdoa dengan sabar dan tawakal hingga waktu benar benar dikirim allah untuk mengantarkan sebuah jawaban. Dan ketika tawakkal benar benar bertangkal di hatimu, maka jawaban apa saja itu tak perlu. Karena ada billah disana. Billah... iya... billah... satu pelajaran yang langsung kudapatkan dari kyai lukman hakim. Sufi jakarta. :)

Senin, 20 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part 2

"Hai wanita". Sebuah sapaan ringan yang terlalu abadi untuk perlahan mengawali aksi-aksi imperialisme. Apalagi kalau bukan menjajah. Tangannya memang tak lagi membawa senapan. Tapi kata kata para buaya terlalu tajam menusuk, lantas meracuni. Memang tak perlu amunisi untuk bom meriamnya. hanya satu serangan yang dikata kerasukan cinta, itulah yang seringkali mengakhiri semuanya. Oh.. wanita. Lagi lagi betapa malangnya adinda.

Ah.. tak usahlah kau tanya pada dunia. Ia bahkan tak lagi bisa menghargaimu meski hanya dengan kepingan recehan. Ia tertawa, tak lagi meresa perlu berduka ketika tahu kau para wanita sedang tertimpa bencana para penjahat-penjahat pengobral syahwat. Mereka tak susah. Bahkan cukup dengan sikap masa bodoh atas nestapa yang disembunyikan di balik kibar pelaminan dengan cahaya menyilaukan. Oh wanita... lantas siapa yang akan membela ketika dunia tak lagi memiliki nilai2nya?

Untuk hal ini, tak perlu lah kau sekolahkan otakmu agar jadi pintar. Percayalah kau hanya butuh melatih hati dan menjadikannya sensor dengan sensitivitas, sensitivitas tuhan tentunya.

Minggu, 19 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part1

Terima kasih wahai wanita. Kau telah terlalu mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk dunia yang sementara. Bahkan ketika sekitar selalu dan selalu merunyamkan keadaannya, kau, masih dengan pikiranmu yang diatas rata2 mampu menelisik setiap sisi lantas menyelamatkan nya.

Kau wanita.. kenapa harimu tampak teramat berat? Dan sayangnya beban kehidupan yang bergelayut di tepian air muka mu itulah yang membuat wanita separuh jalan ini semakin takut untuk berjalan. Harus seperti itukah wanita?apakah dongeng para putri itu kini sudah menjadi kadaluarsa? Hanya tertinggal episode pertama ketika cinderella masih penuh nestapa?entahlah..

Rabu, 15 Juli 2015

Bukan "selamat tinggal" tapi "sampai jumpa"

IAku memang sudah lama mengenal pepatah itu. Hanya saja, sampai saat umurku tak lagi terbilang muda, aku tak kunjung bisa meraih makna agungnya.

"Kau tak akan merasakan sesuatu itu berarti, kecuali sampai ia telah benar-benar pergi."

Ramadhan 1436 H hanya bersisa kurang dari 24 jam. Setelah kehadirannya selama hampir genap 29 hari ini, aku bahkan tak merasa ia benar-benar ada. Tak ada perlakuan special, apalagi penyerahan segenap rasa hati. Semua berjalan standar, biasa saja. Puasa, tarawih, tadarus, hanya berlalu tanpa ruh. Ohh allah, beginikah seharusnya seorang hamba menyikapi tatkala tiba bulan kesayangan Tuhannya datang menyapa dirinya?

Dan baru ketika tarawih tak ada lagi di tahun ini, puasa hanya tinggal esok hari, dan tadarus bersisa lembar-lembar penutup, terisaklah hati ini dalam penyesalan yang memilukan. Serupa bocah kecil yang tersedu tatkala ditinggalkan ibundanya. Aku harap, benar-benar bukan ucapan "selamat tinggal" lah yang kusampaikan, melainkan ucapan "sampai jumpa" karena Allah masih memberikan karunia usia untuk ku bisa sekedar tahun depan menyapanya. Teruntuk kau, bulan yang mulia. Ramadhan...

Jumat, 01 Mei 2015

coretan ala "Surat-surat Kartini" :)

Kepada yang terhormat
            Ibu kita Kartini
Assalamu`alaikum wr. wb.
Salam kenal dari anakmu ibu. Seorang yang kini telah bisa menuliskan berbagai aksara, membaca permasalahan-permasalahan dunia, serta menyampaikan ide-ide yang ingin dikata. Salah satunya adalah dengan hadirnya sepucuk surat sederhana ini. Apalagi kalau bukan atas jerih payah dan perjuanganmu. Maka, kusampaikan pula ucapan terimakasihku kepadamu. Semoga apa yang telah kau perjuangkan itu bisa menjadi pemberat amalmu yang tiada akan pernah putus.

Ibu… mewakili wanita Indonesia yang hidup di masa ini, di masa yang berselang 111 tahun dari masamu dulu. Aku menyampaikannya, bukan dengan maksud untuk menuntut perjuanganmu dulu, karena kau pun sudah melakukannya dengan sebaik mungkin. Aku menuliskannya hanya karena aku ingin mencurahkan segalanya pada apa yang kurasa bisa. Ya… selembar kertas inilah wahananya, yang pada akhirnya kutujukan pada kau putri yang mulia.

Semua sudah berbeda ibuku… tak ada lagi wanita bersanggul dan berjarik yang menari-nari memainkan selendang dalam alunan gamelan. Tak ada pula suasana dapur dengan peluh kalian para wanita perkasa yang sedang bergelut dengan alu dan lumpang, juga api pawonan. Apalagi para ibu-ibu yang menguru-uru anaknya dengan menyenandungkan tembang-tembang serupa Lir-ilir ataupun Tak Lelo Ledung. Semua sudah berubah Ibu. Tak tahu kau akan berkata ini baik atau buruk, yang jelas mereka menamainya sebuah kemajuan.
Terkadang, separuh hatiku protes. Apanya yang maju? Para wanita ternyata lebih memilih rok dan baju mini dari pada berkebaya dan berkain jarik dengan 2 meter kendit yang diikatkan memutari pinggang. Setidaknya yang semacam itu lebih bisa melindunginya dari para penyamun wanita. Siapa juga yang mau memperkosa jika harus melepaskan ikatan dengan lebih dari 10 putaran itu. Terbayang bagaimana rapatnya kain batik itu membungkus separoh tubuhmu. Bukankah itu pun susah?

Apanya juga yang maju. Para wanita hanya belajar, bersekolah tinggi, lantas kerja siang dan malam. Menitipkan anaknya, lantas menebusnya dengan uang. Ah… jangan harap para orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah ketika senja datang. Jikalau ada mungkin hanya sedikit sekali. Yang banyak adalah para orang tua yang mengaku perhatian, lantas menelpon anaknya, menanyakan sedang dimana, dengan siapa, dan sukses mendapatkan tipuan dari jawaban anak-anaknya. Bahkan berujung pada musibah besar dalam berbagai bentuk problematika remaja.

Ibu… ibu… Dulu kau begitu mengidamkan bersekolah yang pada masamu sangatlah langka untuk anak-anak bumi putera apalagi anak wanita sepertimu. Tapi sekarang lihatlah keprihatinan ini ibu, bahkan sekolah bisa jadi ancaman utama anak-anak kita ibu. Ya… harusnya kau baca berita-berita itu. tentang kasus pedofilia JIS, tentang kasus-kasus pelecehan seksual di berbagai tempat. Sungguh memuakkan.


Sekali lagi aku tak menyalahkan kau wahai ibundaku. Karena aku bisa berkata seperti ini pun atas segala jasa-jasamu. Namun kenapa, kenapa yang santer disampaikan pada kami hanya  emansipasi? Kenapa yang diajarkan pada anak-anak kami adalah lagu ibu kita kartini yang liriknya hanya seperti itu? dan kenapa yang digemborkan kepada kami hanya kisah tentang suratmu kepada nyonya Abendanon yang kini dibukukan oleh Armyn pane “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Padahal, bukankah ada sisi spiritual dibalik itu? bukankah ada Kyai Sholeh Darat yang menjadi lenteranya? Dan bukankah Door Duisternit Toot Licht itu adalah “orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya”? kenapa itu tak sampai pada kita ibu....?

Minggu, 22 Maret 2015

Sang Penunduk

Ini adalah konsep sederhana milik seorang pemimpi. ya... Dia sungguh ingin menjadi Sang penunduk seperti mereka para peri-peri itu. Dan tatkala prinsip tentang mimpinya sudah mulai terapung dan hanyut bersama nuansa dunia, nafasnya kian terisak dalam gemerlapnya sepi. Sebuah perenungan sederhana mengantarkan dirinya sampai pada jawaban tentang konsep sederhananya dulu. menghentaknya, menyadarkan dirinya atas sekian lama kelalaian hidup merudung langkah kelabunya.

Kau tahu!
Kau sendiri sebenarnya yg memutuskan prahara hatimu. Sederhana. Bahkan sangat sederhana kurasa. Kau memang bisa suka seseorang hanya dengan sekali pandangan. Kau pun bisa lebih suka seseorang hanya dengan terus mengulang pandangan. Sesederhana itu masalah bisa datang, maka sesederhana itu pula solusinya bisa kau dapatkan. Tundukkan saja pandanganmu, maka sungguh kau telah menundukkan hatimu, nafsumu, dan segala masalah yang bisa terjadi karena itu.

Senin, 09 Maret 2015

One of My Dream: being an islamic family

Pernah, bahkan sering kali terselip doa agar Allah memberikan kepada kami (me and my husband then. hehehe) anak-anak yang sholeh sholehah. Mereka terdidik dalam keindahan islam dalam setiap hari-harinya, memupuk lembar demi lembar kecintaan mereka pada Allah dan Rasulullah Saw dalam pengamalan tuntunan syariat2nya, serta membesarkan dengan penuh cinta tentunya. Bahkan hal yang mungkin tidak banyak orang pikirkan apalagi idamkan itu telah lama menjadi cita-cita saya. Terinspirasi dari banyak saudara-saudara muslimah yang tampak mulia terjaga, anggun nan santun dengan balutan busana syar`i islami, saya sangat ingin bisa menjadi seperti mereka. berpakaian panjang menutup aurat, kerudung pun menjuntai menutupi dada, serta perhiasan akhlak mulia yang semakin memperindah pribadinya. Subhanallah ingiinnyaaa. :)

namun sayang, sekedar berkeluh kesah sajalah... lingkungan yang berbeda sslalu saja membuat kita tak bisa untuk terlalu menjadi berbeda. Tak perlu lagi saya kiaskan, bukan saja tak ada tuntutan bahkan sama sekali tak ada dukungan. hingga terselip pula sebuah permohonan, "Ya Allah semoga hamba bisa mendapatkan seorang lelaki yang mampu untuk memuliakan, mendukung dalam setiap usaha perbaikan, serta menuntun untuk selalu berusaha menyempurnakan makna ketakwaan. hingga kelak, aku bisa mewujudkan cita-cita perubahan ini dengan dukungan penuh dirinya. Amiin..."

Sungguh tak perlulah kita menjustifikasi nama-nama ormas islam itu hanya dengan sekedar pandangan simbolik sebuah tampilan. Bukankah yang seperti inilah yang dimaksud oleh Islam? makna penjagaan itu tak cukup hanya dihati, karena iman pun memiliki 3 komponen utamanya; hati, lisan, dan amal perbuatan. Maka perkenankanlah raga ini bercita-cita, karena sampai mati, hati saya tetaplah ahli sunnah wal jamaah. dan sungguhlah saya terkagum melihat keluarga ini terlepas dari apapun yang telah terjadi, mereka adalah keluarga islami yang penuh komitmen penghambaan. Duh.. cantik-cantiknyaaaa... :)