Senin, 08 Desember 2014

Rembulan Tenggelam di Wajahmu



"Tere Liye" Entah bagaimana latar belakang kehidupan menempanya, entah bagaimana jari-jemari orang tua menyusun tangan dan kakinya, entah bagaimana sang guru membuatnya mampu mendimensikan berbeda. Sebuah karangan aksara yang memukau. Pola cerita yang warna warni, dan nilai-nilai kehidupan yang bersahaja. Ya... Formula ilmu bahagia dalam rangkaian diksi yang mempesona. Bersufi dengan caranya, berdakwah dengan penanya. Siapa sangka Darwis Tere Liye menyapa Nabi Khidir as. dalam novelnya. Siapa sangka Darwis Tere Liye membenamkan pemikiran Imam Ghazali dalam jalan ceritanya.

Hebat... "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" ini menakjubkan. Tenggelam sungguh aku dibuatnya. Tentang makna takdir, tentang cara meningkahi masa lalu, tentang sejatinya kehidupan, tentang arti pahit dan getir, tentang urgensi sebuah tujuan, dan tentang kesederhanaan.


"Rembulan Tenggelam di Wajahmu" terlalu menginspirasi. menginspirasi untuk menyematkan makna-makna islam dalam tulisan. menginspirasi untuk semakin berkenalan dengan diksi-diksi mengagumkan, dan menginspirasi untuk menyusun skenario kehidupan, meski diriku tetap bukanlah "Tuhan"

Sangat terkesima dengan ungkapan ini,
Aku senang mendengarnya. Amat senang. Tetapi aku tidak membutuhkan itu: rumah besar, mobil, berlian, pakaian yang indah. Bagiku, kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu, ridha atas perlakuanku padamu, itu sudah cukup.
(Ucapan Si Gigi Kelinci pada suaminya, Ray) :)

Surat Cinta untukmu Ya Rasulullah... (versi aku)



Kau tahu Ya Rasul...
Dua hari yang lalu, kuhadirkan namamu di tulisanku.
itupun hanya karena kubaca keindahanmu di kisah-kisah yang dituliskan oleh sahabatku.

Kau tahu Ya Rasul...
Beberapa hari yang lalu, kuteteskan air mataku karenamu.
itupun hanya karena dosenku bercerita tentang nikmatnya bertamu kepadamu.

Kau tahu Ya Rasul...
waktu itu, pernah kutulis di status sosmedku, "aku dirajam rindu kepadamu".
itupun hanya karena aku ingat saat dimana aku dan sahabat-sahabatku bersholawat bersama kepadamu dalam syahdu.

Kau tahu Ya Rasul...
Saat ini, kutuliskan lagi namamu di diaryku, setelah lama sekali tak kucurahkan rasaku tentangmu.
Bukan... Bukan Ya Rasul...
Bukan karena aku tak sempat.
tapi memang karena aku kehilangan rasaku kepadamu.

Tak seperti seorang ikhwan yang sosokmu selalu memotivasi produktivitasnya
Bukan pula seperti seorang akhwat yang selalu menjaga dirinya, menutup rapat auratnya, dan menghiasi keindahannya dengan rasa malu yang serupa Sayyidah Fatimah putri tercintamu.
Bukan Ya Rasul... Bukan.
Bahkan derai yang menganak sungai ini masih tetap kehilangan muara cintanya.
Tak tahu lagi dimana bisa menemukannya.

Wahai Rasulullah...
aku rindu untuk berkata "Aku cinta Muhammad"
aku rindu untuk begitu semangatnya merancang kado-kado terindah ulang tahunmu
aku rindu untuk merasakan getar cinta yang menundukkan segenap jiwa,

Duhai Rasulullah....
Betapa aku terlalu menomer-sekiankanmu juga mengesampingkan Allah Sang Pencipta yang bahkan teramat mencintaimu.
Betapa banyak syariatmu kulanggar dengan perasaan biasa, sangat biasa.
Betapa tek terbilang kuucap sholawat tanpa engkau terbesit dalam dada.
Betapa engkau hilang dari jajaran sosok yang aku damba.
Allah... ampuni hamba Ya Allah...

Wahai Rasulullah...
Apakah aku ini umatmu?
Aku tanya kepadamu Ya Rasulullah...
Pantaskah aku menjadi umatmu?
Bilamana waktunya tiba, berkenankah kau bertemu denganku?
memberikan seteguk air dari telaga kautsarmu?

Maka, aku kan selalu memohon kepada Allah agar menganugrahkan hari-hari terbaikku menjadi umatmu.
Sehingga kugenggam kunci sakti tiap-tiap pintu menuju surga ilahi.
Sehingga kumampu bersanding denganmu, menatap keindahan Sang Maha Penguasa semesta raya
Terimalah sholawat serta salamku ini kepadamu wahai kekasih Allah....

Assholatu wassalamu alaika Ya Rasulallah, Ya nabiyallah, Ya Kholilallah, Ya habiiballah...

Kamis, 17 Juli 2014

perjuangkan rindûmu!!

Pagi kemarin jombang memang dingin,,, tapi dalam benak gadis perindu ini sudah sangat terbayang-bayang udara hangat surabaya yang ramah menyapa. belum lagi, untuk hari itu dia sudah menyiapkan segenap agenda pertemuan yang baginya teramat penting melebihi pentingnya uang 1 milyard. hehe...

waktu pun terus bergulir, detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan sudah sekian lama dia menunggu tanpa adanya tanda2 kepastian. rupanya diapun mulai gusar. akankan sebuah rencana yang dipersiapkannya lengkap dengan segala detail kecilnya harus terhempas lepas...

Ahh... Benar-benar di ambang keputusasaan...
Tak ada kawan, sungguh tak ada jaminan. Seorang gadis perindu semakin terenggut pilu atas rasa itu. "Oh, Allah Tuhan semesta alam,,, rinduku ini bukan rindu yang terlarang kan? lantas kenapa kau buat susah tapak kakiku ini," begitu rintihnya semalaman.

Ya,,, jika bukan karena anugrah tawakkal yang diberikan kepadanya, mungkin dia tak akan bisa terbangun menatap pagi dengan keleluasaan hati. Gadis perindu itu pasrah. Warna hatinya hari ini sungguh hanya ia biarkan Tuhan yang menggenggamnya. Jikalau berjodoh, pastilah bertemu walau dunia dihujani batu.

Maka Engkau kirimkan dua peri cantikMu itu untuk menemani dan memudahkan perjuangan rindunya. Indah... begitu indah... meski harus mengendara di bawah teriknya surya, meski harus menyusuri sahara yang tak tahu berapa mil jauhnya, tapi ketika kaki dan tubuh ini berenergi rasa, sepertinya, bagai hanya berterbangan diantara awan putih dan burung camar yang menari-nari...
Hingga pada akhirnya, gadis itu pun menemukan penawar rindunya. Seseorang dengan sayap karisma yang memeluk ramah sekitarnya. Mata indahnya berbinar cahaya, lisannya terukir jutaan hikmah kata-kata.

Sedang Sang gadis perindu lama duduk terpaku...
Air mata cinta menderasi halus pipi merahnya. Lisan indahnya semakin indah dengan untaian kalimat syukur yang disaksikan beribu malaikat semesta.
"Wahai kekasih hatiku, akhirnya, telah kusampaikan perjuangan rinduku ini kepadamu. :) trimakasih atas pertemuan tak terlupa ini"

(hahaha... alay juga ya tulisannya. padahal itu kan cuma nyeritain kisahku buat ketemu Buya Yahya di masjid ITS tanggal 19 Juni 2014 kemarin... hihihihi )


Berharap hanya selembar kaca bening


Dua hari ini semuanya terasa lebih berat. Seakan mendung dengan berjuta ton awan cumulonimbus dijatuhkan di atas kepalaku. Ya,,, sedikit banyak sudah mampu kusadari. Betapa dunia penuh dengan ketidak adilan. Entah engkau yang merasa, aku yang merasa, atau kita yang merasa. Hingga kali ini objek dan subyeknya adalah aku. Aku yang merasa kecil, juga aku yang memang dianggap kecil.

Kau tahu? Perkara dunia itu serupa lembar kaca. Hanya saja, bagaimana kita merawatnya, itulah yang membuatnya beda. Bisa jadi, kaca punya kau ditumbuhi lumut hijau bak permadani suarga. indah memang. tapi sayang, kau tak akan mampu melihat betapa lebih mempesona apa yg ada di baliknya.
dan aku,,, aku hanya akan terus berdo`a agar kaca milikku hanya selembar kaca bening. Sehingga aku masih bisa meluaskan hatiku dengan menatap taman firdaus yang luas di sana.

Biarlah, Meski kini mereka membuat pandangan mereka terhadapku tak indah, tapi aku tak akan terpengaruh, karena kacaku adalah selembar kaca bening di balik panorama kehidupan hakiki. kehidupan yang kucari. kehidupan bersama ilahi...

Jumat, 16 Mei 2014

Petunjuk

bukan tak diinginkan
selalu dan terus diminta
mengiringi langkah
serta mendekap derap

kujemput petunjukku
dibalik istikhorohku

Selamat tinggal...

Rabu, 14 Mei 2014

Ikatan Batin

Sesaat  tampak aneh.
Hanya aneh saja.
Ada yang tak enak.
Ya tak enak saja.

Tak berani mengawali
menerkapun takut
abstrak, tapi ada
tak tentu nyata, tapi tentu terbayang

Oh ini...
ini ternyata.
Nyatanya hari ini
hari ini kau nyata.

Nothing but something, that`s feeling

Sabtu, 03 Mei 2014

Jadi Harus Bertingkah Seperti Apa Kita?

Sepasang kontradiksi yang nyata, diajarkan pada satu otak yang sama. Mungkin mereka yang bisa menelan mentah tanpa tersedak adalah mereka yang enggan berpikir, hanyalah mereka yang tak memiliki sambungan syaraf antara mata dan kepala. Bagaimana tidak bingung, masih berpayung tarbiyah padahal. Sekarang apa beda antara mahasiswa dan santri? Bukankah kedua status itu sama-sama penuntut ilmu? Tapi kenapa satu realita harus dipandang dengan dua kacamata berbeda. Satu sisi kita disuruh untuk sedikit memejam mata atas nama khusnudzon dan ketawadlu`an. Sedangkan satu sisi yang lain menuntut kita memelotot tajam, mengusung kata kritis dan skeptis. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas kalimat "kyai bukan nabi"?, juga siapa yang bisa menjelaskan "hati orang siapa yang paham"?. Ya,,, otakku bercabang banyak, namun hatiku sukses terkoyak. 2 status ini menimbulkan kebingungan yang nyata. terpendam tanpa berani bertanya.