Karena aksara tak bisu dan buta. Ia bercerita, ia bersuara, dan ia mampu semaikan makna. Maka saatnyalah kita berjihad melalui pena. Meski masih mampu berucap abata.
Rabu, 20 Januari 2016
Sendiri
kenapa?
bukankah satu itu seru
sandiri pun tak selalu sepi
hey... kau sedang sendiri?
dimana?
aku juga sendiri disini
menatap rembulan seorang diri
hey... kau memilih sendiri?
kenapa?
sekuntum bunga lili itupun sendiri
tampak semakin indah diterpa sinar mentari
besok atau lusa
aku pasti tak kan memilih sendiri lagi
tatkala hujan menghadirkan keteduhan
bukan hanya kebahagiaan
Minggu, 17 Januari 2016
Pelajaran tentang "KELAWAN" dan "TUJUAN"
Sudahlah... ketika begini keadaannya, mungkin Allah memang sedang mempertanyakan niatmu? untuk siapa kau melakukannya? jika memang untuk Allah, kenapa kau harus sedih ketika apa yang telah susah payah kau lakukan itu tidak dihargai manusia dunia?Nasehat itu terlantun halus dari lisan seorang sahabat. tak ada yang lain dihatinya kecuali hanya ingin mengingatkan sahabatnya untuk tidak bersedih. meski secara tersirat dia juga telah mengingatkan sahabatnya "alamat yang dituju oleh sahabatnya itu mungkin salah". karena dia yakin ketika Allah lah yang menjadi tujuan, Allah yang menjadi "kelawan", tidak akan pernah ada kekecewaan.
berbeda dengan ketika kelawan dan tujuan kita bukan Allah, tapi mahkluk Allah. mereka bukan dzat yang maha rahman untuk senantiasa memberikan kasihnya walau sebenarnya kita sebagai hamba ini sangat tidak pantas untuk dikasihani. mereka juga bukan dzat yang maha adil, maha membalas apa yang telah kita lakukan dengan timbangan yang super pas dan presisi.
jadi, ketika kekecewaan itu hadir di hati kita, coba raba lagi. diakah yang salah? atau kita lah yang salah karena telah menggantungkan diri pada tempat yang salah?
Sabtu, 16 Januari 2016
Belajar itu...
tapi... apakah benar demikian kenyataannya? apakah kita benar-benar yakin apa yang lakukan ini adalah "belajar" dalam arti yang sesungguhnya? atau kita salah peham tentang pengertian belajar?
terlepas dari pendapat siapa definisi belajar yang saya cantumkan ini, saya setuju total dengan maksudnya.
belajar adalah interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku.dari definisi di atas ada 3 komponen dasar sehubungan dengan "BelAjar"
1. Interaksi dengan sumber-sumber belajar
2. Interaksi dengan lingkungan
3. Adanya perubahan (ke arah yang lebih baik)
penjelasan singkatnya, belajar itu harus ada interaksi dengan sumber-sumber belajar. entah itu berupa guru, buku, artikel, internet, atau yang paling dasar adalah berinteraksi dengan fenomena-fenomena kehidupan. Ya... jika kita sama sekali tak menyapa mereka. belajar hanya datang, mengisi absen, mencontek teman, tanpa mau mengambil pelajaran dari tiap denting kehidupan yang allah berikan, untuk apa kita mengaku sebagai pelajar.
belajar harus berinteraksi dengan lingkungan. bukan lantas berdiam diri menyepi. hanya berkutat dengan buku dan diri sendiri. tak ada pelajaran tentang sosialisasi, pun pelajaran tentang membawa diri. tentu ini juga bukan belajar.
point ketiga ini yang paling dahsyat. acap keli pendidikan tak begitu menggubris tentang yang satu ini. asal nilai baik, asal lulus, suatu pendidikan sudah dianggap mumpuni. tak kaget jika produk pendidikan hanya orang-orang garda depan dengan pendang menghadang, tapi hati dan sikapnya lebih tajam dari sebilah pedang. mereka membunuh rakyat kecil dengan perut yang dibiarkat membuncit, mereka menyiksa rakyat jelaka dengan gelimang harta yang berkelip di sekujur tubuhnya. belum lagi mereka yang begitu kejam membunuh dengan terang-terangan.
sering kali saya ingin mencaci mereka. "Apa dulu lu nggak pernah belajar? nggak pernah disekolahkan ya?" bagaimana tidak. tak ada perubahan yang lebih baik dari sikap mereka. yang ada semakin memburuk saja tabiatnya.
dan saya pun menatap iba siswa maupun mahasiswa yang tak mengindahkan tujuan belajarnya. hanya merasa mereka butuh angka. baik itu berupa nilai atau harta. ahh... mungkin sebagian orang akan berkata naif. tapi asal kalian tahu. masih ada orang-orang yang hatinya menjerit untuk hanya sekedar melakukan kecurangan kata-kata. dan itu menyiksa.
maka kukatan pada segelintir manusia "beda" itu. semesta menitipkan amanahnya kepadamu. untuk kembali meresuffle keadaan yang ada. kami bukan hanya butuh orang pintar, tapi kami butuh orang-orang yang pintar hidup. mungkin aku pun tak bisa menyapa istimewa. tapi biarlah doaku turut menjaga esistensinya. semoga Allah senantiansa memudahkan langkah mereka menjadi juru selamat dunia. amiiin :)
Jumat, 15 Januari 2016
Terancam di segala sisi, demikiankah?
Apa yang salah? Kami bukan negeri berbahaya dengan senjata nuklir yang mengancam stabilitas dunia. Kami juga bukan negara dengan tank tank atau kendaraan tempur yang setiap saat siap menggempur habis dunia. Tidak... pasar kami masih ramai orang menyapa. Bukan congkak lantas saling tebar celaan.
Datang kabar
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Ketika lolongan anjing melengking
Tombak tombak meluncurkan kematian
Dalam satu kendali tiupan
"Musnahkan"
Begitulah tuhan menitahkan
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Wajah polesan itu tersungkur kelam
Hitamnya lebih legam dari aspal jalanan
Terseret lah dia
Bukan berjalan
Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Kala itu keimanan menjadi harta tawanan
Bergadai lelaki tampan atau hancur dalam cengkraman
Lantas...
Tipu daya apa yang akan kau lesatkan?
Atau kau berkenan menggenggam peringatan?
Dan hidup tak lepas dua pilihan
Keimanan atau kekafiran
Rabu, 13 Januari 2016
Kisah klasik (kita)
aku menuliskan ini atas nama seorang sahabat. dalam kerumunan manusia yang berkutat dengan buku-buku perpustakaan, satu rasa ini tiba-tiba menyeretku ke dalam dimensi lain. dimensi yang hanya aku dan mereka yang tahu. dimensi yang pasti akan terukir cantik, meski perlahan tokoh-tokohnya pun harus satu persatu meninggalkan.
Sesaat, tanganku kelu untuk menuliskan luapan rasa dalam dada. tangisku tertahan. rasa ini telalu bercampur. sedih dan suka tak lagi ada garis pembedanya.
Selasa, 12 Januari 2016
Warna hari ini : abu, merah jambu, dan biru (muda)
"anta ma`a man ahbabta"Ya... itu status facebook yang sempat kuunggah ketika mata kuliah hadits tarbawi berlangsung. Sang pemakalah menyampaikan hadits ini dan pastinya hampir tak mungkin masih ada seisi kelas yang tidak pernah mendengar hadits ini. apalagi masih dalam suasana maulid Sang nabi. Meski demikian pesona hadits itu sama sekali tak berkurang sejak pertama kali aku berkenalan dengannya. seakan menyimpan energi besar yang menyebabkan para pecinta sekan merelakan sendi-sendinya melemas lantas terbang bersama angin yang berhembus tenang mencari senyum Sang nabi di antara arak-arakan awan.
kendati hadits ini berulang beribu kali, hati yang penuh cinta tak kan pernah berkurang kebahagiannya walau hanya sesenti.
Assholatu was salaamu alaika Ya Rasulallah :)
BIRU (MUDA)
beralih jauh dari dua warna hati itu, aku mulai menenggelamkan diri pada pendekatan fenomenologis. Mata, hati, dan otakku bersinergi memperhatikan gejala sekitar yang pastinya bukan tak bertujuan.
Banyak sekali yang tidak kita ketahui dari hidup. manusia, tahu apa?Ya itu adalah quotes singkat yang sering kali kuulang-ulang. merasa diri ini tak berhak untuk menjustifikasi alam, juga segenap penghuninya. Dalam berbagai keadaan, bisa jadi banyak orang dihadapkan oleh Allah pada masalah yang sama. sama-sama harus menyelesaikan tugas, baik itu tugas kehidupan, maupun tugas-tugas yang lain. Namun hebatnya, Allah memberikan otak yang berbeda-beda ini akan berimbas pada bagaimana cara mereka menunaikan tugas itu dengan versinya. Ada yang hanya diam berkutat dengan diktat, ada yang masih merasa harus memperjuangkan yang lain yang menurut mereka itu prioritas utama mereka, dan ada pula yang sembunyi dalam gelap, lalu tiba-tiba saja datang membawa cahaya terang. Dan lagi-lagi hati yang bijaklah yang dibutuhkan untuk menatap kejadian ini. meski sampai hari ini aku belum bisa menjadi mereka yang tampak tak gusar dengan kewajiban, tenang lantas menang, aku mencoba mensyukuri keadaan ini. turut membiasakan hati memanfaatkan hari berdasarkan versi yang kumiliki. Dan akhirnya, warna cerah itulah yang kuhadirkan pada hati terdalam. biru muda. Bagai langit yang tetap bersedia disapa mentari dengan sinar hangatnya, mendung yang selalu lengkap dengan efek gelapnya, serta deru hujan yang menyerang semesta.
hari ini aku belajar untuk cukup membiru mudakan hati. Tak perlu menjadi gelap oleh kepedulian yang ditunggangi kemarahan. Semuanya sudah cukup dewasa untuk mengemban kehidupan. terimakasih Allah atan pendidikan yang titipkan pada hembus nafasku di hari ini. :) alhamdulillah...
