Jumat, 01 Mei 2015

coretan ala "Surat-surat Kartini" :)

Kepada yang terhormat
            Ibu kita Kartini
Assalamu`alaikum wr. wb.
Salam kenal dari anakmu ibu. Seorang yang kini telah bisa menuliskan berbagai aksara, membaca permasalahan-permasalahan dunia, serta menyampaikan ide-ide yang ingin dikata. Salah satunya adalah dengan hadirnya sepucuk surat sederhana ini. Apalagi kalau bukan atas jerih payah dan perjuanganmu. Maka, kusampaikan pula ucapan terimakasihku kepadamu. Semoga apa yang telah kau perjuangkan itu bisa menjadi pemberat amalmu yang tiada akan pernah putus.

Ibu… mewakili wanita Indonesia yang hidup di masa ini, di masa yang berselang 111 tahun dari masamu dulu. Aku menyampaikannya, bukan dengan maksud untuk menuntut perjuanganmu dulu, karena kau pun sudah melakukannya dengan sebaik mungkin. Aku menuliskannya hanya karena aku ingin mencurahkan segalanya pada apa yang kurasa bisa. Ya… selembar kertas inilah wahananya, yang pada akhirnya kutujukan pada kau putri yang mulia.

Semua sudah berbeda ibuku… tak ada lagi wanita bersanggul dan berjarik yang menari-nari memainkan selendang dalam alunan gamelan. Tak ada pula suasana dapur dengan peluh kalian para wanita perkasa yang sedang bergelut dengan alu dan lumpang, juga api pawonan. Apalagi para ibu-ibu yang menguru-uru anaknya dengan menyenandungkan tembang-tembang serupa Lir-ilir ataupun Tak Lelo Ledung. Semua sudah berubah Ibu. Tak tahu kau akan berkata ini baik atau buruk, yang jelas mereka menamainya sebuah kemajuan.
Terkadang, separuh hatiku protes. Apanya yang maju? Para wanita ternyata lebih memilih rok dan baju mini dari pada berkebaya dan berkain jarik dengan 2 meter kendit yang diikatkan memutari pinggang. Setidaknya yang semacam itu lebih bisa melindunginya dari para penyamun wanita. Siapa juga yang mau memperkosa jika harus melepaskan ikatan dengan lebih dari 10 putaran itu. Terbayang bagaimana rapatnya kain batik itu membungkus separoh tubuhmu. Bukankah itu pun susah?

Apanya juga yang maju. Para wanita hanya belajar, bersekolah tinggi, lantas kerja siang dan malam. Menitipkan anaknya, lantas menebusnya dengan uang. Ah… jangan harap para orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah ketika senja datang. Jikalau ada mungkin hanya sedikit sekali. Yang banyak adalah para orang tua yang mengaku perhatian, lantas menelpon anaknya, menanyakan sedang dimana, dengan siapa, dan sukses mendapatkan tipuan dari jawaban anak-anaknya. Bahkan berujung pada musibah besar dalam berbagai bentuk problematika remaja.

Ibu… ibu… Dulu kau begitu mengidamkan bersekolah yang pada masamu sangatlah langka untuk anak-anak bumi putera apalagi anak wanita sepertimu. Tapi sekarang lihatlah keprihatinan ini ibu, bahkan sekolah bisa jadi ancaman utama anak-anak kita ibu. Ya… harusnya kau baca berita-berita itu. tentang kasus pedofilia JIS, tentang kasus-kasus pelecehan seksual di berbagai tempat. Sungguh memuakkan.


Sekali lagi aku tak menyalahkan kau wahai ibundaku. Karena aku bisa berkata seperti ini pun atas segala jasa-jasamu. Namun kenapa, kenapa yang santer disampaikan pada kami hanya  emansipasi? Kenapa yang diajarkan pada anak-anak kami adalah lagu ibu kita kartini yang liriknya hanya seperti itu? dan kenapa yang digemborkan kepada kami hanya kisah tentang suratmu kepada nyonya Abendanon yang kini dibukukan oleh Armyn pane “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Padahal, bukankah ada sisi spiritual dibalik itu? bukankah ada Kyai Sholeh Darat yang menjadi lenteranya? Dan bukankah Door Duisternit Toot Licht itu adalah “orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya”? kenapa itu tak sampai pada kita ibu....?

Minggu, 22 Maret 2015

Sang Penunduk

Ini adalah konsep sederhana milik seorang pemimpi. ya... Dia sungguh ingin menjadi Sang penunduk seperti mereka para peri-peri itu. Dan tatkala prinsip tentang mimpinya sudah mulai terapung dan hanyut bersama nuansa dunia, nafasnya kian terisak dalam gemerlapnya sepi. Sebuah perenungan sederhana mengantarkan dirinya sampai pada jawaban tentang konsep sederhananya dulu. menghentaknya, menyadarkan dirinya atas sekian lama kelalaian hidup merudung langkah kelabunya.

Kau tahu!
Kau sendiri sebenarnya yg memutuskan prahara hatimu. Sederhana. Bahkan sangat sederhana kurasa. Kau memang bisa suka seseorang hanya dengan sekali pandangan. Kau pun bisa lebih suka seseorang hanya dengan terus mengulang pandangan. Sesederhana itu masalah bisa datang, maka sesederhana itu pula solusinya bisa kau dapatkan. Tundukkan saja pandanganmu, maka sungguh kau telah menundukkan hatimu, nafsumu, dan segala masalah yang bisa terjadi karena itu.

Senin, 09 Maret 2015

One of My Dream: being an islamic family

Pernah, bahkan sering kali terselip doa agar Allah memberikan kepada kami (me and my husband then. hehehe) anak-anak yang sholeh sholehah. Mereka terdidik dalam keindahan islam dalam setiap hari-harinya, memupuk lembar demi lembar kecintaan mereka pada Allah dan Rasulullah Saw dalam pengamalan tuntunan syariat2nya, serta membesarkan dengan penuh cinta tentunya. Bahkan hal yang mungkin tidak banyak orang pikirkan apalagi idamkan itu telah lama menjadi cita-cita saya. Terinspirasi dari banyak saudara-saudara muslimah yang tampak mulia terjaga, anggun nan santun dengan balutan busana syar`i islami, saya sangat ingin bisa menjadi seperti mereka. berpakaian panjang menutup aurat, kerudung pun menjuntai menutupi dada, serta perhiasan akhlak mulia yang semakin memperindah pribadinya. Subhanallah ingiinnyaaa. :)

namun sayang, sekedar berkeluh kesah sajalah... lingkungan yang berbeda sslalu saja membuat kita tak bisa untuk terlalu menjadi berbeda. Tak perlu lagi saya kiaskan, bukan saja tak ada tuntutan bahkan sama sekali tak ada dukungan. hingga terselip pula sebuah permohonan, "Ya Allah semoga hamba bisa mendapatkan seorang lelaki yang mampu untuk memuliakan, mendukung dalam setiap usaha perbaikan, serta menuntun untuk selalu berusaha menyempurnakan makna ketakwaan. hingga kelak, aku bisa mewujudkan cita-cita perubahan ini dengan dukungan penuh dirinya. Amiin..."

Sungguh tak perlulah kita menjustifikasi nama-nama ormas islam itu hanya dengan sekedar pandangan simbolik sebuah tampilan. Bukankah yang seperti inilah yang dimaksud oleh Islam? makna penjagaan itu tak cukup hanya dihati, karena iman pun memiliki 3 komponen utamanya; hati, lisan, dan amal perbuatan. Maka perkenankanlah raga ini bercita-cita, karena sampai mati, hati saya tetaplah ahli sunnah wal jamaah. dan sungguhlah saya terkagum melihat keluarga ini terlepas dari apapun yang telah terjadi, mereka adalah keluarga islami yang penuh komitmen penghambaan. Duh.. cantik-cantiknyaaaa... :)



Selasa, 17 Februari 2015

Ber-passion Bersama IAI BAFA



Succes is not always measured by good academic grades.
(Ollie_peraih penghargaan Kartini Next Generation, co-founder of nulisbuku.com & kutukutubuku.com)
Menyikapi persaingan kehidupan dunia yang saat ini terasa begitu ketat, agaknya sudah terlampau kolot untuk hanya menjadi orang-orang yang biasa saja. Terlebih ketika kita menyadari keadaan islam yang semakin hari semakin tampak mengiris hati ini. Maka sebagai mahasiswa muslim yang mau tak mau akan menerima estafet kepemimpinan islam- menentukan kearah mana islam akan dikembarakan-, menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), mahasiswa kuno-kuno (kuliah nonton-kuliah nonton), mahasiswa kuro-kuro (kuliah rokok`an-kuliah rokok`an) ataupun mahasiswa kungo-kungo (kuliah ngopi-kuliah ngopi) adalah pilihan yang terkesan terlalu flat, karena untuk kembali menjadikan islam berjaya dengan segenap peradaban agungnya, tak ada jalan lain lagi kecuali dengan terus melakukan pemberdayaan pada individu-individu islamnya.
Maxwell Maltzs pengarang buku “Psycho Cybernetics” mengemukakan ada tujuh ciri orang sukses; 1. Sense of direction (mampu mengarahkan-diri sendiri-) 2. Understanding (mampu memahami-diri sendiri-) 3. Courage (berani bertindak) 4. Charity (murah hati) 5. Self-esteem (menghargai diri sendiri) 6. Self-acceptance (menerima kekurangan dan kelebihan diri) 7. Self-confident (percaya diri). Jika kita amati dengan jeli, masing-masing dari tujuh ciri tersebut sebenarnya saling berikatan satu sama lain. Ketika seseorang mampu memahami diri sendiri, menghargai diri sendiri karena telah bisa menerima kelebihan dan kekurangannya, maka dia tidak akan kebingungan untuk mengarahkan diri, lantas ia akan berani bertindak dengan penuh percaya diri juga dengan segenap kemurahan hati. Ya… dapat disimpulkan bahwa akar dari respon kompleks ini adalah kemampuan untuk memahami diri, dimana urgensi pemahaman diri ini juga telah disinggung dalam hadits Rasulullah, “qod arofa nafsahu, fa qod arofa robbahu.”
Di usia yang ghalibnya berkisar pada dua dasawarsa, minimal kita seharusnya sudah mampu membuat rancangan hidup ke arah manakah kita akan bertendensi. Hemat penulis, passion inilah salah satu alat untuk mendeteksi terlebih dahulu sebelum rancangan itu ditentukan. Dimana passion sendiri berarti perasaan yang sangat kuat dan antusiasme yang sangat mendalam untuk melakukan suatu kegiatan yang biasanya terkait dengan hal-hal yang memang kita sukai. Maka, mengetahui passion kita yang sebenarnya sangatlah penting agar bisa menjalani hidup dengan bersemangat, maksimal, dan memperoleh hasil yang lebih baik tanpa merasa “menderita”. Jangan merasa minder ketika mereka mengatai diri kita “banyak omong”, karena bisa jadi itu adalah modal berharga kita untuk menjadi trainer, motivator, atau pun pedakwah serupa Mario Teguh. Jangan merasa kecil hati kalo kita punya kebiasaan curhat berjam-jam di buku diary, karena bisa jadi itu adalah bekal yang dengan sedikit polesan akan menjadikan kita penulis-penulis best seller, yang tentunya juga bisa mendakwahkan nilai-nilai Islam dari sana. Apapun kegiatan yang kita sukai, entah itu menyanyi, memotret, uthek-uthek mesin, menggambar, browsing internet, bahkan menghayal pun bisa jadi investasi besar yang Allah berikan untuk kita bisa berkiprah demi islam di sana.
Bersyukurlah kita, karena salah satu visi pasangan terpilih ketua dan wakil ketua BEM IAIBAFA adalah mengoptimalkan potensi-potensi mahasiswa sehingga memasukkan UKM-UKM dengan beragam bidang ke dalam salah satu program kerjanya yang pada hari Sabtu, 14 Februari 2014 lalu telah resmi diluncurkan untuk kita. Besar harapan kami agar UKM-UKM ini kemudian bisa mewadahi bakat dan minat para mahasiswa dan bisa serupa mesin oven menjadikan para mahasiswa “matang” dengan berbagai potensi yang dimilikinya.
Akhirul kalam, semoga segala niat baik ini senantiasa bersambut keberkahan dari Allah Swt dan dimohonkan partisipasi dari segenap mahasiswa agar bersama-sama ikut andil menjadikan IAI BAFA perguruan tinggi islam yang multiple-intelligence, tak hanya benar di akidah, mantap di akhlak, hebat di keilmuan, namun juga keren di skill. (_tha)

(Sekali lagi seonggok tulisan ini merana tak sampai tujuannya. Dan sekali lagi juga, aku berterimakasih pada blog jadulku ini yang tak pernah sekalipun menolak tulisan-tulisan yang aku berikan untuknya) 

Sabtu, 14 Februari 2015

Integralistik Makna Segenggam Jabatan

Lazimnya sebuah janji, maka tanggung jawab haruslah ditepati. Memang inilah harapan yang senantiasa terajut dibalik arti kata sumpah, janji, persaksian, baiat, dan yang semacamnya. Bukan hanya pernyataan yang mengadat di antara para pejabat sebelum mereka menerima kekuasaan yang “menggembirakan” dengan warna-warni dunia atau minimal sebuah popularitas, pelantikan adalah sebuah prosesi sakral yang disaksikan oleh semesta akan kredibilitas mereka dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Senin, 2 Februari 2014. Perjanjian suci atas nama ilahi itu digemakan bersama pada acara pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Bani Fattah. Sebuah tim pioneer diminta kesaksiannya untuk mampu menjadi penggagas perubahan seiring dengan amanah nama istitut yang telah diberikan oleh pemerintah kepada kampus. Dengan dipimpin langsung oleh rektor IAI BAFA, Bapak KH. Abdul Holik Hasan, M.HI, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa IAI BAFA masa abdi 2015-2016 secara resmi dilantik. Dan mulai hari itulah segenap elemen kampus (yang diwakili oleh bapak rektor sendiri) menyatakan benar-benar menantikan kinerja-kinerja hebat BEM IAIBAFA.
Namun sangat disayangkan ketika kita menalisik kenyataan yang terbenam dibalik acara yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan bersama itu. Beberapa anggota BEM sendiri terkesan kurang menganggap penting acara tersebut. Hal ini terlihat dari prosentase kehadiran mereka yang tidak mencapai seratus persen tanpa adanya alasan yang jelas. Ironis memang, tapi selagi pemerintahan BEM belum terlanjur jauh berjalan, hendaknya pembangunan karakter dari masing-masing anggotanya dapat dijadikan salah satu fokus utama yang perlu digarap terlebih dahulu.
Permasalahan tampaknya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih seperti acara-acara kampus sebelumnya, acara ini pun mencapai angka kemoloran yang tidak lazim. Undangan yang bertuliskan jadwal acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan maksud akan diadakan gladi bersih terlebih dahulu di awal, ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, itu pun hanya dengan beberapa gelintir orang saja. Belum lagi ketika di tengah gladi bersih, ada salah seorang dosen yang menghendaki untuk masuk kelas dan lagi-lagi panitia penyelenggara tak bisa mengelak hingga akhirnya memilih untuk menunda acara inti sampai pukul 11.00 WIB. Ini benar-benar masalah yang sangat klasik di kampus kita karena persis seperti even terakhir yang tentunya masih segar dalam ingatan yakni acara pemilu raya, pelantikan ini pun sudah mendapatkan izin dari bapak rektor namun masih ada saja ketidak-sejalanan karena kurangnya sosialisasi. Lantas, haruskah yang seperti ini akan dibiarkan menjadi adat kita? Semoga saja tidak. Berkali-kali masalah yang sama terjadi seharusnya sudah bisa memberikan pelajaran sehingga hal yang semacam ini tidak akan terulang lagi.
Kembali berbicara tentang urgensi sebuah karakter, Harry S. Trauman mengatakan, “disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya.” Agaknya pernyataan ini tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bpk Saiful Hidayat Lc. Ditengah bobroknya moral para anggota-anggota BEM kampus-kampus lain bahkan kampus Islam negeri diluar sana, hendaknya kita mampu menjadikan status perguruan tinggi pesantren yang bercita-cita menjadi satu-satunya the center of tafaqquh fiddin ini sebagai mercusuar sehingga kita tidak sampai hati seperti mereka yang menyimpan beberapa kerat botol minuman keras di sekretariat BEMnya.
Inilah makna integral sebuah tanggung jawab yang semestinya disadari oleh para anggota BEM. Sebagai mahasiswa-mahasiswa IAI BAFA yang berada di gardu depan, tidak hanya melulu berkutat dengan proker-proker BEM, namun lebih dari itu seharusnya bisa menjadikan dirinya uswah. Minimal menjadikan disiplin diri sebagai prinsip utama yang selalu dipegang erat. Baik disiplin secara akademis, disiplin dalam berkeseharian, maupun disiplin dalam hal penghambaan. Maka, teruslah memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan menjalankan tanggung jawab ini secara integral. Karena Rasulullah pun menegaskan di penghujung dasyatnya perang badar bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang tentunya memang jauh lebih berat dari perang badar. (_tha)

Sabtu, 07 Februari 2015

"aku"ku

Hidup ini sama sekali tak butuh kepalsuan-kepalsuan itu. Seindah apa kau menghias topengmu, masa pasti akhirnya kan membuatnya berkerak juga. Maka tak ada yang salah ketika ada yang ingin membela "aku", karena "aku"ku adalah realita yang seharusnya bisa diterima. Hanya seekor liliputlah yang terus bertahan di dalam tempurung ke-"dia"-annya yang menurutnya besar, tapi hakikatnya kecil. Lantas kuucapkan "maaf" sajalah kepadamu.

"terkikiskah sebuah muru`ah?"
"Hinakah kornea yang mulai mengakrabi sekitar?"
"dan bisa kembalikah?"
atau singkatnya, "salahkah?"
Jawab sajalah sendiri dengan hati.
Cukup dengan hati. 

Jumat, 06 Februari 2015

An Usual Question about "Having"

we often know some cases between us about a demand having. Many people asks more to someone that they love. Not only in a special relationship of men and woman but also in a good friendship. As my experience with my closest friends before, one of us asked a question.

Tya : How if one day we must choose between us (friendship) and ourselves?for example one of us get her married and the other has a personal bussiness. Will you let your personal bussiness and come to the married?

Actually, it is a difficult question. No one can answer it easy. But at the last, we know that the real friendship not only come to the special even of her friends, but the most one is always connect in a great dimension. That is pray. Not only friendship that always be there in the sadness and happyness, but also always pray each other. And we hope our real friendship can be long last, even in the day after. We can meet allah and rasulullah together. Amiin :-)