Senin, 20 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part 2

"Hai wanita". Sebuah sapaan ringan yang terlalu abadi untuk perlahan mengawali aksi-aksi imperialisme. Apalagi kalau bukan menjajah. Tangannya memang tak lagi membawa senapan. Tapi kata kata para buaya terlalu tajam menusuk, lantas meracuni. Memang tak perlu amunisi untuk bom meriamnya. hanya satu serangan yang dikata kerasukan cinta, itulah yang seringkali mengakhiri semuanya. Oh.. wanita. Lagi lagi betapa malangnya adinda.

Ah.. tak usahlah kau tanya pada dunia. Ia bahkan tak lagi bisa menghargaimu meski hanya dengan kepingan recehan. Ia tertawa, tak lagi meresa perlu berduka ketika tahu kau para wanita sedang tertimpa bencana para penjahat-penjahat pengobral syahwat. Mereka tak susah. Bahkan cukup dengan sikap masa bodoh atas nestapa yang disembunyikan di balik kibar pelaminan dengan cahaya menyilaukan. Oh wanita... lantas siapa yang akan membela ketika dunia tak lagi memiliki nilai2nya?

Untuk hal ini, tak perlu lah kau sekolahkan otakmu agar jadi pintar. Percayalah kau hanya butuh melatih hati dan menjadikannya sensor dengan sensitivitas, sensitivitas tuhan tentunya.

Minggu, 19 Juli 2015

Aku "wanita" juga kah? #part1

Terima kasih wahai wanita. Kau telah terlalu mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk dunia yang sementara. Bahkan ketika sekitar selalu dan selalu merunyamkan keadaannya, kau, masih dengan pikiranmu yang diatas rata2 mampu menelisik setiap sisi lantas menyelamatkan nya.

Kau wanita.. kenapa harimu tampak teramat berat? Dan sayangnya beban kehidupan yang bergelayut di tepian air muka mu itulah yang membuat wanita separuh jalan ini semakin takut untuk berjalan. Harus seperti itukah wanita?apakah dongeng para putri itu kini sudah menjadi kadaluarsa? Hanya tertinggal episode pertama ketika cinderella masih penuh nestapa?entahlah..

Rabu, 15 Juli 2015

Bukan "selamat tinggal" tapi "sampai jumpa"

IAku memang sudah lama mengenal pepatah itu. Hanya saja, sampai saat umurku tak lagi terbilang muda, aku tak kunjung bisa meraih makna agungnya.

"Kau tak akan merasakan sesuatu itu berarti, kecuali sampai ia telah benar-benar pergi."

Ramadhan 1436 H hanya bersisa kurang dari 24 jam. Setelah kehadirannya selama hampir genap 29 hari ini, aku bahkan tak merasa ia benar-benar ada. Tak ada perlakuan special, apalagi penyerahan segenap rasa hati. Semua berjalan standar, biasa saja. Puasa, tarawih, tadarus, hanya berlalu tanpa ruh. Ohh allah, beginikah seharusnya seorang hamba menyikapi tatkala tiba bulan kesayangan Tuhannya datang menyapa dirinya?

Dan baru ketika tarawih tak ada lagi di tahun ini, puasa hanya tinggal esok hari, dan tadarus bersisa lembar-lembar penutup, terisaklah hati ini dalam penyesalan yang memilukan. Serupa bocah kecil yang tersedu tatkala ditinggalkan ibundanya. Aku harap, benar-benar bukan ucapan "selamat tinggal" lah yang kusampaikan, melainkan ucapan "sampai jumpa" karena Allah masih memberikan karunia usia untuk ku bisa sekedar tahun depan menyapanya. Teruntuk kau, bulan yang mulia. Ramadhan...