Selasa, 17 Februari 2015

Ber-passion Bersama IAI BAFA



Succes is not always measured by good academic grades.
(Ollie_peraih penghargaan Kartini Next Generation, co-founder of nulisbuku.com & kutukutubuku.com)
Menyikapi persaingan kehidupan dunia yang saat ini terasa begitu ketat, agaknya sudah terlampau kolot untuk hanya menjadi orang-orang yang biasa saja. Terlebih ketika kita menyadari keadaan islam yang semakin hari semakin tampak mengiris hati ini. Maka sebagai mahasiswa muslim yang mau tak mau akan menerima estafet kepemimpinan islam- menentukan kearah mana islam akan dikembarakan-, menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), mahasiswa kuno-kuno (kuliah nonton-kuliah nonton), mahasiswa kuro-kuro (kuliah rokok`an-kuliah rokok`an) ataupun mahasiswa kungo-kungo (kuliah ngopi-kuliah ngopi) adalah pilihan yang terkesan terlalu flat, karena untuk kembali menjadikan islam berjaya dengan segenap peradaban agungnya, tak ada jalan lain lagi kecuali dengan terus melakukan pemberdayaan pada individu-individu islamnya.
Maxwell Maltzs pengarang buku “Psycho Cybernetics” mengemukakan ada tujuh ciri orang sukses; 1. Sense of direction (mampu mengarahkan-diri sendiri-) 2. Understanding (mampu memahami-diri sendiri-) 3. Courage (berani bertindak) 4. Charity (murah hati) 5. Self-esteem (menghargai diri sendiri) 6. Self-acceptance (menerima kekurangan dan kelebihan diri) 7. Self-confident (percaya diri). Jika kita amati dengan jeli, masing-masing dari tujuh ciri tersebut sebenarnya saling berikatan satu sama lain. Ketika seseorang mampu memahami diri sendiri, menghargai diri sendiri karena telah bisa menerima kelebihan dan kekurangannya, maka dia tidak akan kebingungan untuk mengarahkan diri, lantas ia akan berani bertindak dengan penuh percaya diri juga dengan segenap kemurahan hati. Ya… dapat disimpulkan bahwa akar dari respon kompleks ini adalah kemampuan untuk memahami diri, dimana urgensi pemahaman diri ini juga telah disinggung dalam hadits Rasulullah, “qod arofa nafsahu, fa qod arofa robbahu.”
Di usia yang ghalibnya berkisar pada dua dasawarsa, minimal kita seharusnya sudah mampu membuat rancangan hidup ke arah manakah kita akan bertendensi. Hemat penulis, passion inilah salah satu alat untuk mendeteksi terlebih dahulu sebelum rancangan itu ditentukan. Dimana passion sendiri berarti perasaan yang sangat kuat dan antusiasme yang sangat mendalam untuk melakukan suatu kegiatan yang biasanya terkait dengan hal-hal yang memang kita sukai. Maka, mengetahui passion kita yang sebenarnya sangatlah penting agar bisa menjalani hidup dengan bersemangat, maksimal, dan memperoleh hasil yang lebih baik tanpa merasa “menderita”. Jangan merasa minder ketika mereka mengatai diri kita “banyak omong”, karena bisa jadi itu adalah modal berharga kita untuk menjadi trainer, motivator, atau pun pedakwah serupa Mario Teguh. Jangan merasa kecil hati kalo kita punya kebiasaan curhat berjam-jam di buku diary, karena bisa jadi itu adalah bekal yang dengan sedikit polesan akan menjadikan kita penulis-penulis best seller, yang tentunya juga bisa mendakwahkan nilai-nilai Islam dari sana. Apapun kegiatan yang kita sukai, entah itu menyanyi, memotret, uthek-uthek mesin, menggambar, browsing internet, bahkan menghayal pun bisa jadi investasi besar yang Allah berikan untuk kita bisa berkiprah demi islam di sana.
Bersyukurlah kita, karena salah satu visi pasangan terpilih ketua dan wakil ketua BEM IAIBAFA adalah mengoptimalkan potensi-potensi mahasiswa sehingga memasukkan UKM-UKM dengan beragam bidang ke dalam salah satu program kerjanya yang pada hari Sabtu, 14 Februari 2014 lalu telah resmi diluncurkan untuk kita. Besar harapan kami agar UKM-UKM ini kemudian bisa mewadahi bakat dan minat para mahasiswa dan bisa serupa mesin oven menjadikan para mahasiswa “matang” dengan berbagai potensi yang dimilikinya.
Akhirul kalam, semoga segala niat baik ini senantiasa bersambut keberkahan dari Allah Swt dan dimohonkan partisipasi dari segenap mahasiswa agar bersama-sama ikut andil menjadikan IAI BAFA perguruan tinggi islam yang multiple-intelligence, tak hanya benar di akidah, mantap di akhlak, hebat di keilmuan, namun juga keren di skill. (_tha)

(Sekali lagi seonggok tulisan ini merana tak sampai tujuannya. Dan sekali lagi juga, aku berterimakasih pada blog jadulku ini yang tak pernah sekalipun menolak tulisan-tulisan yang aku berikan untuknya) 

Sabtu, 14 Februari 2015

Integralistik Makna Segenggam Jabatan

Lazimnya sebuah janji, maka tanggung jawab haruslah ditepati. Memang inilah harapan yang senantiasa terajut dibalik arti kata sumpah, janji, persaksian, baiat, dan yang semacamnya. Bukan hanya pernyataan yang mengadat di antara para pejabat sebelum mereka menerima kekuasaan yang “menggembirakan” dengan warna-warni dunia atau minimal sebuah popularitas, pelantikan adalah sebuah prosesi sakral yang disaksikan oleh semesta akan kredibilitas mereka dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Senin, 2 Februari 2014. Perjanjian suci atas nama ilahi itu digemakan bersama pada acara pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Bani Fattah. Sebuah tim pioneer diminta kesaksiannya untuk mampu menjadi penggagas perubahan seiring dengan amanah nama istitut yang telah diberikan oleh pemerintah kepada kampus. Dengan dipimpin langsung oleh rektor IAI BAFA, Bapak KH. Abdul Holik Hasan, M.HI, anggota Badan Eksekutif Mahasiswa IAI BAFA masa abdi 2015-2016 secara resmi dilantik. Dan mulai hari itulah segenap elemen kampus (yang diwakili oleh bapak rektor sendiri) menyatakan benar-benar menantikan kinerja-kinerja hebat BEM IAIBAFA.
Namun sangat disayangkan ketika kita menalisik kenyataan yang terbenam dibalik acara yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan bersama itu. Beberapa anggota BEM sendiri terkesan kurang menganggap penting acara tersebut. Hal ini terlihat dari prosentase kehadiran mereka yang tidak mencapai seratus persen tanpa adanya alasan yang jelas. Ironis memang, tapi selagi pemerintahan BEM belum terlanjur jauh berjalan, hendaknya pembangunan karakter dari masing-masing anggotanya dapat dijadikan salah satu fokus utama yang perlu digarap terlebih dahulu.
Permasalahan tampaknya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih seperti acara-acara kampus sebelumnya, acara ini pun mencapai angka kemoloran yang tidak lazim. Undangan yang bertuliskan jadwal acara dimulai pada pukul 07.00 WIB dengan maksud akan diadakan gladi bersih terlebih dahulu di awal, ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, itu pun hanya dengan beberapa gelintir orang saja. Belum lagi ketika di tengah gladi bersih, ada salah seorang dosen yang menghendaki untuk masuk kelas dan lagi-lagi panitia penyelenggara tak bisa mengelak hingga akhirnya memilih untuk menunda acara inti sampai pukul 11.00 WIB. Ini benar-benar masalah yang sangat klasik di kampus kita karena persis seperti even terakhir yang tentunya masih segar dalam ingatan yakni acara pemilu raya, pelantikan ini pun sudah mendapatkan izin dari bapak rektor namun masih ada saja ketidak-sejalanan karena kurangnya sosialisasi. Lantas, haruskah yang seperti ini akan dibiarkan menjadi adat kita? Semoga saja tidak. Berkali-kali masalah yang sama terjadi seharusnya sudah bisa memberikan pelajaran sehingga hal yang semacam ini tidak akan terulang lagi.
Kembali berbicara tentang urgensi sebuah karakter, Harry S. Trauman mengatakan, “disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang terlebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya.” Agaknya pernyataan ini tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bpk Saiful Hidayat Lc. Ditengah bobroknya moral para anggota-anggota BEM kampus-kampus lain bahkan kampus Islam negeri diluar sana, hendaknya kita mampu menjadikan status perguruan tinggi pesantren yang bercita-cita menjadi satu-satunya the center of tafaqquh fiddin ini sebagai mercusuar sehingga kita tidak sampai hati seperti mereka yang menyimpan beberapa kerat botol minuman keras di sekretariat BEMnya.
Inilah makna integral sebuah tanggung jawab yang semestinya disadari oleh para anggota BEM. Sebagai mahasiswa-mahasiswa IAI BAFA yang berada di gardu depan, tidak hanya melulu berkutat dengan proker-proker BEM, namun lebih dari itu seharusnya bisa menjadikan dirinya uswah. Minimal menjadikan disiplin diri sebagai prinsip utama yang selalu dipegang erat. Baik disiplin secara akademis, disiplin dalam berkeseharian, maupun disiplin dalam hal penghambaan. Maka, teruslah memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan menjalankan tanggung jawab ini secara integral. Karena Rasulullah pun menegaskan di penghujung dasyatnya perang badar bahwa peperangan yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang tentunya memang jauh lebih berat dari perang badar. (_tha)

Sabtu, 07 Februari 2015

"aku"ku

Hidup ini sama sekali tak butuh kepalsuan-kepalsuan itu. Seindah apa kau menghias topengmu, masa pasti akhirnya kan membuatnya berkerak juga. Maka tak ada yang salah ketika ada yang ingin membela "aku", karena "aku"ku adalah realita yang seharusnya bisa diterima. Hanya seekor liliputlah yang terus bertahan di dalam tempurung ke-"dia"-annya yang menurutnya besar, tapi hakikatnya kecil. Lantas kuucapkan "maaf" sajalah kepadamu.

"terkikiskah sebuah muru`ah?"
"Hinakah kornea yang mulai mengakrabi sekitar?"
"dan bisa kembalikah?"
atau singkatnya, "salahkah?"
Jawab sajalah sendiri dengan hati.
Cukup dengan hati. 

Jumat, 06 Februari 2015

An Usual Question about "Having"

we often know some cases between us about a demand having. Many people asks more to someone that they love. Not only in a special relationship of men and woman but also in a good friendship. As my experience with my closest friends before, one of us asked a question.

Tya : How if one day we must choose between us (friendship) and ourselves?for example one of us get her married and the other has a personal bussiness. Will you let your personal bussiness and come to the married?

Actually, it is a difficult question. No one can answer it easy. But at the last, we know that the real friendship not only come to the special even of her friends, but the most one is always connect in a great dimension. That is pray. Not only friendship that always be there in the sadness and happyness, but also always pray each other. And we hope our real friendship can be long last, even in the day after. We can meet allah and rasulullah together. Amiin :-)

Kamis, 05 Februari 2015

Susah di awal, kata mereka "Jangan Menyerah!"

Pemahaman manusia tentang seorang wanita yang mandiri ternyata berbeda-beda. Meski satu di banding sekian, tapi yang satu itu pun punya alasan logis yang bisa diterima. Dan tampaknya, saya terbawa yang yang sekian saja. Seperti kata Ahmad Rifa`i Rifan, the perfect muslimah has the perfect contribution independently.  :)

Sekedar berbagi cerita, sejujurnya ini adalah responsi saya dari sebuah buku yang saya baca "Belajar Bisnis Ala Rasulullah Selagi Mahasiswa Selagi Mahasiswa. Why not?" karangan Kang Wildan Fuady. Sebuah usaha sederhana, dengan modal seadanya, dan dengan segala keterbatasan kondisi saya, karena berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa pada umumnya, saya adalah mahasiswa yang hakikatnya seorang santri.

Menyikapi aturan pesantren yang begitu memulyakan para santriwatinya sehingga tidak diperkenankan untuk beranjang sana anjang sini kemana-mana, ragam bisnis yang bisa digeluti pun tak akan sebanyak mereka-mereka yang di luar sana. Tapi lagi-lagi itu bukan kendala, karena pepatah lama pun telah terlalu masyhur berkata "if there is a will, there is a way." dan inilah jalan yang saya ambil. Sebuah rintisan kecil tentang usaha yang diajarkan Rasulullah. Apalagi kalau bukan bertijaroh, menjadi seorang pedagang yang unggul dalam mutu dan kepribadian. Ah... jangan ditanya saya ini berdagang apa. Karena ini bukan bisnis yang membahana. ini hanyalah sebuah usaha kecil-kecilan yang terlampau biasa saja, tapi saya syukuri dengan sepenuh jiwa.

Berjualan bubur dan gorengan, miris kah? mungkin bagi sebagian orang iya, tapi bagi saya tentunya tidak. Apapun selagi halal, demi membantu orang tua, saya akan lakukan itu dengan hati yang bergembira. :) Seperti saat ini. Pagi-pagi menanti bulek (panggilan untuk wanita jawa yang lebih muda dari ibu kita) bubur mengantarkan dagangan, kemudian membawanya ke kampus dengan menggunakan tas belanja ala ibu-ibu ke pasar (red. jawa: tas anting) yang nggak jarang juga membuat teman-teman kampus mengejek saya karenanya, memanggil-manggil dengan berbagai sebutan aneh. "Ah... peduli amat."

Ya... saya pun sangat menikmati sensasi menjajakan dagangan saya. Tak jarang ada yang ngutang, tak jarang juga saya kesulitan memberikan uang kembalian. Belum lagi cerita tentang hari pertama saya berjualan bubur. Waktu yang sebenarnya masih terlalu pagi, namun betapa shooock-nya saya ketika melihat hampir semua bubur yang saya bawa basi dan sedihnya lagi, sudah banyak yang terlanjur membeli dan memakannya. Kala itu saya benar-benar merasa bersalah, merasa seakan-akan saya sama sekali tidak bisa untuk melanjutkan usaha ini, benar-benar terpuruk pokoknya. Padahal ini masih hari pertama, namun saya seketika itu juga merasa berada di ambang keputus asaan.

Sorenya saya bercerita kepada bulek bubur tentang kejadian mengenaskan ini. Beliaupun benar-benar minta maaf. Karena proses pembuatan bubur kacang hijau itu memang harus sukses dari awal sampai akhir, kalau saja ada salah satu kesalahan teknis seperti kehabisan gas elpigi, maka dampaknya akan membuat bubur itu nggak bisa bertahan lama dan sedihnya itulah yang terjadi di awal bisnis saya.

Maka, di hari itu Allah mengajari saya tentang kepercayaan pelanggan dan tentunya belajar untuk tidak patah arang. karena susah di awal, kata mereka "Jangan Menyerah!" dan Alhamdulillah, setelah esoknya kami mengganti bubur-bubur yang mereka beli, perlahan hasil penjualan saya pun semakin merangkak naik. kepercayaan pelanggan, kemampuan membaca pasar, juga teknik untuk berinovasi dalam berdagang pun semakin membaik.

Sekarang, terhitung mungkin sudah sebulan saya berdagang, alhamdulillah hasil yang didapat bisa jadi pengganti uang jajan yang dikirim oleh orang tua. Meski belum bisa mandiri secara keseluruhan, setidaknya inilah usaha saya untuk sampai kesana. Kebayang kalau di awal ketika saya mendapat cobaan bubur basi itu, saya sudah tumbang, pasti nggak akan ada cerita yang seperti ini, cerita to be the perfect muslimah, to give the perfect contribution independently. :) kontribusi untuk siapa? setidaknya untuk diri sendiri, untuk orang tua, dan untuk teman-teman (biar nggak perlu jauh2 jalan ke tempat jajanan.), dan yang penting diniatin aja usaha dagang ini buat menjalankan sunnah Rasulullah Saw, karena kata guru saya dulu pekerjaan yang paling disukai Rasulullah adalah berdagang.
wa lidzaalika min fadhli rabbiy...