Minggu, 23 Maret 2014

Ich Mag der Paris



Tentang impian yang terkapar di ambang cakrawala senja. Antara siang dan malam, antara terang dan gelap, antara panas dan dingin, juga antara semangat dan penat. Selujur penaku tak mampu berkelana bebas. Seiring mimpi yang terbatas sempurna. Lagi-lagi perseteruan tentang kehidupan dunia dan setelahnya, serta mimpi-mimpi dunia dan sesudahnya.

Aku serasa sekeping mahkota dandelion. Berlarian terbang sekehendak angin. ke barat, timur, utara, selatan pun jadi. Hanya bergantung masa yang menghembuskan anginnya. Jika harus memilik, aku ingin serupa dandelion yang merekat erat pada pangkalnya. Tetap berpegang dan tetap tenang Meski topan menerjang, aku tak mungkin sendiri goyang. Kini, aku bahkan tak punyai sebongkah pijakan. Aku bingung untuk berarah. Kanan dan kiri di mataku kian manyamar. Bingung. Atas dan bawah juga semakin tak peka untukku. Aku butuh pegangan, pedoman, juga pemilik jawaban semua pertanyaan. Aku bingung tentang sejatinya eksistensi. Juga bingung masalah tujuan hati yang hakiki. Siapapun, ayolah jawab.
Masih pentingkah mimpi dunia?
Menjadi penulis, S2 Sejarah Peradaban Islam, Menyibak panorama sejarah Islam dunia, berkunjung ke menara cinta. Arrggg...

Sabtu, 22 Maret 2014

Repetisi yang Tak dari Hati

Bayangan dalam tidur itu mengingatkanku
Tentang potretku di masa lalu
Ketika panggung itu kamar tidur
Ketika depan itu terutama dari semua

Pria berkemeja telur asin
Hanya duduk termangu menatap sejenak lalu
Tak kumaknai banyak
Mungkin hanya pandangan yang numpang lewat

Tidak,,,
Ternyata tak kutangkap langsung
Ia seperti menghadangku
atas kubangan baru yang lama

Repetisi
ini tentang repetisi
dan kau tak ingin aku mengulanginya lagi

Rabu, 19 Maret 2014

Antara Curahan Hati dan Dakwah??

Cukup tersinggung sama salah satu postingan di facebook seberang.
" Raja status, kalo posting ganti sama postingan dakwahlah, jangan curhat"

Iya ya... bener juga. kalo kita mau cek, coba hitung berapa kali kita posting di sosmed tentang curahan hati, entah itu mellow galuw, sendu sedan, atau murka durja. Entah itu masalah cinta, temen, ortu, guru, atau bahkan ngomel2 cuma gara2 antri di pom bensin. Iya kan?? Ah,,, ngaku aja. hehe

trus, emang kamu gimana Vit? iya juga sih. Ane juga ngakuin. Sering banget update yang galau-galau gitu. Bahkan yang berbau dakwah juga sebenernya ada unsur pelampiasan apa yang lagi dirasain. Di blog ini aja misalnya. Judul blognya aja udah "live n love". Isinya juga ya curhatan-curhatan tentang hari-hariku itu. Cuman sebisa mungkin, di tiap tulisan yang aku tulis ini, aku masukin minimal kalam-kalam hikmah atau minimal kata-kata motivasi.

Kadang aku juga mikir lho. masih tertulis jelas di buku agendaku, masih juga tersebut di do`a tiap hariku, aku pengen jadi penulis. Penulis yang berdakwah melalui pena. Biarin aku nggak pengen jadi wanita karir yang sibuk ini sibuk itu. Aku cuma pengen jadi ibu rumah tangga sholehah yang mengabdikan diri kepada keluargaku demi meraih ridho Allah, sambil tetap menjadi orang yang manfaat buat yang umat. Ya dengan tulisan-tulisanku itu. Tapi lagi-lagi aku ragu kalo entar niatnya salah. Daripada niat dakwahnya, ternyata niat buat curhat, buat cerita-ceritanya bakal lebih besar.

Atuh lah Vita,,, udah ahh. kayaknya untuk saat ini, kamu cukup menuliskan apa yang bisa kamu tulis aja. Berawal dari sini. Bisa jadi ntar kamu bisa kayak Mbak Asma Nadia. hehehe... amin. nggak papa lah ya. Ngayal2 kayak gitu kan minongko dungo juga. :D.
ya minimal kalo kamu pengen belajar dakwah ya dengan itu tadi juga bisa. Minimal ajak orang-orang memaknai hikmah-hikmah yang ada di tulisanmu. Aku yakin dikit-dikit juga adalah ya... Bukan ceritanya aja yang nyangkut, tapi hikmah di balik cerita itu juga. Aamiin...
yang jelas,,, Lakukan apa yang kamu bisa lakukan hari ini. Masih inget motto pondok tercinta Miftahul khoir kan?

"Sholih untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk orang lain"


Senin, 17 Maret 2014

Sahabat Sekandang :)




Sahabat sekandang?? Lucu juga ya pake judul itu. Konotasinya negatif, terkesan jorok, kotor, penuh kuman, dan tentunya tanpa diperintah lama juga, tiba-tiba tersalur stimulus tentang bayangan para hewan-hewan berkandang ke dalam otak kita. Tau lah,,, what you say n what you think, yang jelas aku punya cerita sendiri tentang kata itu. :) ( remember sloppiness between us.. ups... keceplousan. hehehe)

Sudah sejak lama aku mencetuskan teorema itu di hidupku.
Sebenarnya apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka itulah yang akan mampu mendekatkan kita, juga mampu menjauhkan kita.
Iya, masih dengan mereka-mereka yang terbilang lebih muda dariku, aku belajar akan makna-makna kehidupan, berbagi akan kisah-kisah pernuh kebersamaan, juga bercuap tentang kalam-kalam kemulyaan.
Kali ini kisah kita berawal dari sastra. Satu hal yang kita cintai bersama. Satu hal yang kita bincangkan bersama. Dari celoteh ringan tentang novel, cerpen, puisi, syair-syair juga kata-kata motivasi, kedekatan kita terajut sempurna. Bukan suatu kedekatan yang diakui sih sebenarnya, karena memang kisah ini tak berlayar seperti sinetron-sinetron sahabat kepompong. hehe...

Berlanjut pada luapan rasa yang sempat tersimpan dalam, termakan masa. ternyata dari situ kita temukan kecocokan itu. Kecocokan di balik "ketidakcocokan". Sama seperti sahabat kecilku, dia juga seorang sahabat dengan sejuta kemampuan hebat, jemarinya terlalu elok merajut aksara dan matanya tajam menafsirkan kata-kata. pribadinya tangguh bahkan terkesan membaja, namun aku tahu hati kecilnya lembut laksana guruh2 kecil di tepi samudra. Aku tahu hatinya rindu akan kemulyaan, Sama sepertiku. Meski gerbangnya masih ditangguhkan kebenarannya, tapi jalan di balik gerbang cinta itu sama-sama mengantarkan kita berdua menuju kehadiratNya.

Ketika bercakap dengannya, pribadi yang terbuka itu buatku tak ragu untuk kembali menyibak kenanganku masa lalu. Bahkan terkadang aku menemukan Vita kecil dalam dirinya. Dia seperti seorang adik yang sang kakaknya tak inginkan adiknya terima belokan yang sama, sama salahnya.
Tentang cinta, pernah kupesankan padanya,
Disadari atau tidak disadari, Cinta adalah esensi sebuah motivasi diri
Apapun jenis cinta itu, maka dia akan mampu hadirkan berjuta watt tenaga baru dalam hidupmu. kau akan sangat termotivasi karenanya. termotivasi menulis, termotivasi belajar,  termotivasi melakukan perubahan, termotivasi untuk tampil cantik, serta termotivai untuk jadi yang terbaik. Karena begitu besarnya daya cinta, maka berhati-hatilah kau meletakkan cinta.

Terlalu banyak cinta yang terserak di fatamorgana dunia. Seharusnya aku mampu tekankan itu padamu. Tentang "Fatamorgana Cinta". ketuhilah sayang, indahnya cinta itu sebenarnya menyimpan sejuta derita. Iya,,, deritanya masih tersimpan. Meski terkadang derita itu sesekali tersembul ke permukaan. Derita saat sakitnya merindu, derita tentang perihnya tak menjadi yang satu-satunya, juga derita ketika semuanya tak sesuai yang di asa.

Dengarkanlah kisahku dengan telinga hatimu adikku, maka kau akan tau bahwa singkat kataku adalah,
Mencintalah pada Ia yang patut dicinta. Karena itu tak kan pernah menghadirkan luka. Atau minimal titipin cintamu ke Allah,,, maka Dia akan memilihkan seseorang yang takkan menghadirkan luka
Percayalah... Meski sakit memang... Namun, sebisaku, akan kubantu dirimu dengan do`a tulusku. Selamat menyusuri perjalanan cintaNya... :)

3 Wali 1 Bidadari



Judul : 3 Wali  1 Bidadari... 
Harga : Rp. 30.000,00. 
BBS Man Tambak Beras Jombang.

Tiba-tiba keinget lagi sama satu novel baruku yang umurnya belum sampek sebulan tapi udah nggak ada di tangan. Bete? iyalah, Bete banget. Bukan maksud hati pengen pelit nggak minjemin ke orang-orang, tapi kalo udah dipinjemin, eh... malah diilangin, pada nggak tanggung jawab. Jadi sekarang cukup mengenang-ngenang aja lah...

Taufiqqurrahman Al-Azizy, seorang penulis novel genre islami. kali ini dia kembali mendobrak dunia sastra kita dengan satu novel berjudul 3 Wali 1 Bidadari. Ketika novel-novel islam kini telah marak dengan setting pesantren, Taufiqqurrahman tidak merasa puas dengan novel bercorak pesantren biasa. Dari judulnya, mungkin kita sudah bisa menerka novel ini bukan novel islami biasa. ia menghadirkan bumbu-bumbu nilai tasawuf di dalamnya. kisah Asma, anak seorang kyai di wilayah Cirebon yang sangat mengagumi tokoh sufi wanita, Rabi`ah Al- Adawiyah. Tak hanya itu, Asma juga menginginkan untuk mengikuti jejak agungnya menunggalkan cinta dan hatinya hanya untuk Allah dengan tidak mau menikah. Namun ternyata memilih kehidupan seperti itu di dunia sekarang ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak arai melintang. Hingga mulailah pengembaraan cinta untuk menemukan sekeping cinta atas pencarian cintaNya.

Yah,,, mungkin itulah sedikit pengantar dari novel ini, yang jelas satu point value yang aku dapetin, bahwasanya
Wanita sholehah itu ternyata bukan hanya untuk lelaki sholeh, namun juga untuk lelaki yang sedang ingin kembali menapaki tangga-tangga menuju kesholehannya. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk bertaubat :)

Surat Cinta untuk Sang Belahan Jiwa

Edisi 4 (7 januari 2014)
Assalamualaikum cinta. Apa kabar kau disana?
Hari ini, masih dengan beribu cinta aku menuliskannya. Mendiksikan satu demi satu kata, yang masih berupa titik buta. Buta akan suatu bayangan raga. Meski hati masih mampu bertahan dalam samudra kesetiaan cinta.

Cinta…
Betapa kau tahu, aku kini telah terlalu bersahabat dengan derai air mata Tuhan. Iya,,, dari hujan aku sungguh merasakan tenang. Melodi gemericiknya seakan mengisyaratkan Tuhan sedang mendekapku dalam pelukan. Aku mungkin memang terlalu dermawan untuk membagi makna kesedihan. Dan kumau, bukan cercaan atas sebuah kecengengan. Namun belaian genggaman serta pelukan yang menentramkan.

Cinta…
Aku tak pernah terbayang bagaimana jika kelak aku bertemu denganmu. Terlebih untuk meraih hatimu. Entahlah… anganku sempat mengatakan kelak kaupun akan sama seperti mereka. Menatapku dengan pandangan yang tak sempurna. Melirik picik melihat tampilanku yang sungguh tak menarik. Lagi-lagi karena aku memang gadis berjelaga yang tak istimewa. Terbalut dalam busana yang terkesan kedodoran. Iya cinta… Aku adalah wanita berjilbab lebar yang sedang bertahan melawan deburan arus lingkungan. Tatkala aku bersanding dengan para jilbaber lainnya aku bertahan untuk tetap ahli sunnah wal jamaah. Tatkala aku bersanding dengan ahli sunnah wal jama`ah, aku bertahan dengan jilbab  besarku.

Cinta…
Akupun tak pernah tahu seleramu seperti apa. Yang selalu kuyakini hanyalah “ketika kelak kau dijodohkan Allah denganku, maka akulah seleramu” dan semoga yang kuyakini itulah yang kelak akan menjadi nyata. Entahlah. Sebenarnya akupun tahu menutup aurat itu kewajiban. Tapi bagiku, menggunakan kerudung lebar iru menentramkan. Mengenakan baju lebar itu menyejukkan, bahkan bercadar itu mengagumkan. Jujur, aku takut dengan pertemuan kita. Apakah kau suka dengan penampilanku, atau kau malah malu dengan aku yang seperti ini. Atau mungkin kau risih dengan diriku atau bahkan ikut-ikutan seperti mereka yang mengataiku sok alim? Jujur,,, aku takut. Aku sangat takut.

Cinta…
Terkadang aku pernah merasa ingin seperti mereka. Berdandan agar tampak menawan di hadapan pria. Berpakaian yang menarik serta menebar senyum ke semua mata. Namun, lagi-lagi aku diingatkan bahwa semua itu percuma. Hanya akan menimbulkan fitnah belaka. Dan akhirnya kembalilah aku pada styleku ini. Meski sebagai wanita, aku tetap merasa sebal dengan para jerawat yang mulai datang berhamburan. Juga warna kulit yang cukup berjelaga, namun akhirnya aku merasa diistimewakan oleh Allah dengan keadaanku yang tidak begitu cantik ini sehingga tak ada lelaki yang mau menggodaku.

Cinta…
Inilah aku. Wanita biasa yang telah dijodohkan oleh Allah untukmu. Mungkin kaupun tak pernah tahu. Betapa hebatnya dia Sang Idolaku. Dia adalah wanita yang mulia. Wanita yang sangat menjaga. Juga istri yang sangat setia. Aku ingin seperti dia. Meski aku mungkin terlalu hina untuk mengidamkan mutiara. Namun sungguh aku ingin sepertinya. Sayyidatuna Fathimah az Zahra binti Rasulillah SAW. Seorang wanita terhebat allah. Iya, di saat banyak orang mencelaku karena kerudung besarku, ku harap kau mampu pahami apa motivasiku. Karena aku adalah muslimah. Muslimah yang selalu mendamba menjadi wanita sholehah kebanggaan Rasulallah SAW.

Cinta…
Sungguh aku sangat lega bisa mengatakan ini semua. Hari ini aku memang sempat dibuat kesal oleh seorang teman yang sedikit berkata pahit tentang styleku. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa plong dan kembali menyadari inilah susahnya berjihad. Membela tegaknya kemulyaan atas dasar islam. Inilah ujiannya untuk mampu komitmen dengan agama. Namun aku yakin takkan ada apa-apanya semua ini jika dibanding ujian yang diterima Rasulallah SAW dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam kala itu. Dan aku harap ujian ini akan semakin mengantarku pada sesimpul senyum bangga beliau Sang kekasih Allah. Allahumma Sholli ala sayyidinaa Muhammad.

Cinta…
Sudah dulu ya, cukup panjang suratku kali ini. Aku harap kau tak pernah jemu dengan berpucuk-pucuk untaian aksara cintaku. O iya,,, kali ini aku tak lagi memohon agar kita segera dipertemukan. Biarlah hati ini sudah tak sabar untuk menanti pertemuanku denganmu, namun tetaplah Allah yang Maha Tahu. Allah akan selalu memilihkan yang terbaik. Untukku dan untukmu. Pesanku cukup satu. Tetaplah istiqomah dalam upaya pemantasan diri. Terus upgrade diri untuk pertemuan kita suatu saat nanti dan kita akan bersama merajut pelangi-pelangi cinta Allah dalam bahtera yang sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin.

Wassalamualaikum…
Salam keselamatan untuk kau yang tercinta



Sabtu, 15 Maret 2014

Puisi "Rindu" waktu "Doeloe"

Jadi pengen ketawa waktu baca puisi ini lagi. Jaman kapan ya aku nulisnya... hahaha :D
Merindu
Merindumu
Tak ubahnya menancapkan sembilu dalam kalbu
Merajam dan mendesak sesak
Pada cinta yang dulu pernah menyeruak 
Aku tak pernah paham arti kata rindu
Yang kutahu ia selalu mampu sematkan pilu
Bersatu dalam rintihan tangis hati yang menderu
Taukah kau aku merindumu? 
Kini aku hanya mampu merindu
Meski bibir tlah tergolek tak mampu ucapkan itu
Karena terhadang oleh hati yang baru
Ya,,, kini dia belahan jiwamu
Dan aku sangat tau itu 
Wahai cinta yang pernah ada
Kau terbang selaksa topan
Menghancurkan sekeping hati ini
Hanya dalam jeratan rindu
Yang tertahta dalam singgasana belenggu