Sahabat sekandang?? Lucu juga ya pake judul itu. Konotasinya negatif, terkesan jorok, kotor, penuh kuman, dan tentunya tanpa diperintah lama juga, tiba-tiba tersalur stimulus tentang bayangan para hewan-hewan berkandang ke dalam otak kita. Tau lah,,,
what you say n
what you think, yang jelas aku punya cerita sendiri tentang kata itu. :) (
remember sloppiness between us.. ups... keceplousan. hehehe)
Sudah sejak lama aku mencetuskan teorema itu di hidupku.
Sebenarnya apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka itulah yang akan mampu mendekatkan kita, juga mampu menjauhkan kita.
Iya, masih dengan mereka-mereka yang terbilang lebih muda dariku, aku belajar akan makna-makna kehidupan, berbagi akan kisah-kisah pernuh kebersamaan, juga bercuap tentang kalam-kalam kemulyaan.
Kali ini kisah kita berawal dari sastra. Satu hal yang kita cintai bersama. Satu hal yang kita bincangkan bersama. Dari celoteh ringan tentang novel, cerpen, puisi, syair-syair juga kata-kata motivasi, kedekatan kita terajut sempurna. Bukan suatu kedekatan yang diakui sih sebenarnya, karena memang kisah ini tak berlayar seperti sinetron-sinetron sahabat kepompong. hehe...
Berlanjut pada luapan rasa yang sempat tersimpan dalam, termakan masa. ternyata dari situ kita temukan kecocokan itu. Kecocokan di balik "ketidakcocokan". Sama seperti sahabat kecilku, dia juga seorang sahabat dengan sejuta kemampuan hebat, jemarinya terlalu elok merajut aksara dan matanya tajam menafsirkan kata-kata. pribadinya tangguh bahkan terkesan membaja, namun aku tahu hati kecilnya lembut laksana guruh2 kecil di tepi samudra. Aku tahu hatinya rindu akan kemulyaan, Sama sepertiku. Meski gerbangnya masih ditangguhkan kebenarannya, tapi jalan di balik gerbang cinta itu sama-sama mengantarkan kita berdua menuju kehadiratNya.
Ketika bercakap dengannya, pribadi yang terbuka itu buatku tak ragu untuk kembali menyibak kenanganku masa lalu. Bahkan terkadang aku menemukan Vita kecil dalam dirinya. Dia seperti seorang adik yang sang kakaknya tak inginkan adiknya terima belokan yang sama, sama salahnya.
Tentang cinta, pernah kupesankan padanya,
Disadari atau tidak disadari, Cinta adalah esensi sebuah motivasi diri
Apapun jenis cinta itu, maka dia akan mampu hadirkan berjuta watt tenaga baru dalam hidupmu. kau akan sangat termotivasi karenanya. termotivasi menulis, termotivasi belajar, termotivasi melakukan perubahan, termotivasi untuk tampil cantik, serta termotivai untuk jadi yang terbaik. Karena begitu besarnya daya cinta, maka berhati-hatilah kau meletakkan cinta.
Terlalu banyak cinta yang terserak di fatamorgana dunia. Seharusnya aku mampu tekankan itu padamu. Tentang "Fatamorgana Cinta". ketuhilah sayang, indahnya cinta itu sebenarnya menyimpan sejuta derita. Iya,,, deritanya masih tersimpan. Meski terkadang derita itu sesekali tersembul ke permukaan. Derita saat sakitnya merindu, derita tentang perihnya tak menjadi yang satu-satunya, juga derita ketika semuanya tak sesuai yang di asa.
Dengarkanlah kisahku dengan telinga hatimu adikku, maka kau akan tau bahwa singkat kataku adalah,
Mencintalah pada Ia yang patut dicinta. Karena itu tak kan pernah menghadirkan luka. Atau minimal titipin cintamu ke Allah,,, maka Dia akan memilihkan seseorang yang takkan menghadirkan luka
Percayalah... Meski sakit memang... Namun, sebisaku, akan kubantu dirimu dengan do`a tulusku. Selamat menyusuri perjalanan cintaNya... :)