Kamis, 14 Maret 2013

Seteguk Susu Jahe Malam Ini

Susu Jahe memang menurutku sajian yang tepat dikala Bandung yang habis hujan sore tadi. Benar2 nikmat. Ini sudah limit mendekati hari kumeninggalkan asrama Fatonah ini. Pondok Pesantren Miftahul Khoir...
Keluarga kecil yang terhitung sangat singkat. Hidup sepintu dengan ke 13 teman-teman asramaku ini seakan membuat kami menjadi tim yang solid melebihi Bonek mania ataupun Viking. :)
Sebenarnya ingin ku menceritakan satu persatu sahabat2ku di Mimkho ini. Warna-warna yang menghiasinya, serta hiruk pikuk bahkan terkadang slek yang meramaikannya... Ntar deh... Aq bakal nulis tentang itu. Personil keluarga kecil ala pesantren Mahasiswa. So Sweet bangetlah. Ukhti-ukhtiku yang cantik khas mojang Bandung dengan kekompaokannya, Gruudukk sana, Gruuduuk sini. Husst,,, bikin tetangga asrama sebelah iri. Hehe... Daa ikhwan... Kita mau maen bareng, foto2 bareng dulu yaaa :)

Eits... karna sejak tanggal 27 januari 2014 ini aku putusin buat gak diprivate lgi, jadi musti pilih2 foto yang diupload. kali ini demi kemulyaan sahabat2ku yang insyaallah selalu dimulyakan Allah, kuremove foto2nya... :)

Rabu, 06 Maret 2013

Tatkala Ajal Menghampiri Seorang Sahabat

Tersentak ketika menerima kabar itu. Kabar yang awalnya hanya dikira kabar burung belaka. Yang ketika diraba dengan logika tidak ada cerita itu hanya kabar burung. tapi ini nyata. Kemarin, tepat setelah aku merintih mengadu, aku masuk lagi ke kamarku, kulihat HP telah beralamat 1 sms masuk.
Say, udah dapet kabat?
Vivik Smaga meninggal
Tya
Zink,,, itu benar-benar kabar yang mengagetkan. Sahabat yang merangkap tetangga kamarku selama 1 tahun ketika masih di pesantren Sunan Ampel Jombang. Kenangan masa abu-abu itu masih terasa dekat dengan hari ini. Masih jelas terngiang keceriannya, cantik dirinya, renyah senyumnya, ringan tangannya, semangat perubahannya, tenang kata-katanya, hangat tindaknya, takdhimnya kepada guru, tawadhu`nya. Oh Allah... Benar-benar tanpa dinyana kapan ajal itu datang. Tak pernah disangka hari-hari mulia di Ramadhan tahun lalu itulah pertemuan terakhirku dengannya. Saat itu kita bertiga yang memang sudah alumni, dipertemukan lagi oleh Allah di majelis ilmu itu. sama-sama untuk mengisi liburan mengikuti pengajian kilatan Ramadhan. Masih sangat ingat kitab yang dikaji adalah Kitab Hadist Abu Daud dan diakhiri dengan kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Dia yang begitu ceria tetap dengan semangatnya mengikuti pengajian itu. Sama, masih benar-benar sama seperti Vivi yang biasanya. Berangkat paling awal, membangunkan aku dan mbak Dea yang seingkali masih bermalas-malasan. Ketika itu,,, kita masih termangu menunggu Abah ( sapaan yang kerap digunakan oleh santri-santri dan jamaah beliau ). Seperti biasanya, kita duduk bersila di lantai sembari menatapi pajangan-pajangan yang terpampang di ruang tamu. "Subhanallah, kapan ya bisa ke Mekah," ucap salah satu dari kami. Perbincanganpun sampai pada topik haji dan umrah. Kita saat itu juga sempat sepakat untuk ikut pengajian kilatan rutin tiap Bulan Ramadhan ini tahun depan. Ingat sekali. Bahkan pernah saking terpana dan ingin sekali untuk diundang oleh Allah berkunjung ke Baitullah salah seorang dari kami menyeletuk " Tahun depan Ramadhannya kalo kita nggak ikutan ngaji lagi, kita Umrah bareng aja ya? " Sontak yang lainnya mengamini ucapan berkandung doa itu. Lantas kita berdoa bersama agar Allah mengabulkan keinginan kami untuk Umrah ini. " Eh,, kalo umrah kan jauh mending kita nikah dulu saja, hehehe" ucap salah satu diantara kami dan disahuti dengan tawa-tawa geli oleh yang lainnya. Iya,,, suasana yang begitu hangat diantara kami itu kenangan terdekat yang kami rajut bersama sahabat Nur Fitria Lathifah. Ternyata itu adalah kenangan terakhir. Tubuhnya kini sudah tak mampu bergerak lincah seperti kala itu, Senyumnya bahkan tak lagi dapat tersungging di bibirnya seperti saat itu. Ternyata, penyakit kista yang pernah kamu ceritakan dulu itu ya Vi yang menjadi lantaran Allah ingin segera bertemu denganmu? Terimakasih ya,,, pertemanan singkat yang pernah ada diantara kita mengajarkanku banyak hal tentang kata Tangguh. Berbagai masalah itu tak perlu ditampakkan dengan wajah muram kan Vi? Kau mengajarkanku untuk selalu melakukan yang terbaik sebelum waktu kita benar-benar habis untuk beramal. Hebat Kamu Vi,,, Persahabatan kalian yang selalu membuat iri, kesupelanmu, kemandirianmu, semangat hidupmu, senyumu yang selalu membalut semua masalahmu, keinginanmu untuk selalu dekat dengan Allah, kecintaanmu dengan ilmu dan ulama. Dan ternyata kau meninggal disaat kau sudah memiliki semua koleksi kitab hadist dari ke 6 ulama Hadist. Vi,,, Maafkan aku tidak bisa ikut menelayat dirimu. Mungkin jika Allah menghendaki aku akan bersilaturahmi kepadamu Vi. Dan insyaallah doakulah yang akan sampai lebih dulu kepadamu sebelum ragaku mengunjungimu.

Ya Allah...
Satu teman teman telah menyandang gelar almarhumah lebih dulu
Entah kapan aku
Sungguh tiada satupun yang tahu
Terimakasih Ya Allah,,,
kau ingatkanku akan kematian itu
Selagi aku masih bisa menyesali segala kesalahanku
Ya Allah,,,
Hambamu Nur Fitria Lathifah adalah sosok teman yang hebat
Ampuni ia Ya Allah
Terimalah segala kebaikannya Ya Allah
Hamparkanlah alam kuburnya dengan lapang dan indah
Hadirkanlah sosok makhluk yang bersih, indah, berbau harum untuk menemaninya
Hingga pintu surga dibuka untuknya dapat menemuiMu Ya Allah...
Allahummaghfirlaha warhamha wa`afiha wa`fuanha
Dan untukku Ya Rabb,,
Entah hidupku akan berakhir dengan cara apa
Entah aku akan dikenang oleh teman-temanku seperti apa
Entah bagaimana keadaan keimananku ketika saat itu tiba
Engkau dan hanya Engkau yang tau Ya Allah
Hamba mohon matikan aku dalam keadaan iman, islam.
Dalam keadaan ada cinta pada Kekasihmu Baginda Rasulullah SAW
Dalam keadaan mampu mengucap kalimat agung dan mulia Laa iLaaha illallah, muhammadur Rasuulullah.
Aamiin Ya Allah...


Selamat jalan sahabatku
Ternyata kamu yang menang, kamu lebih dulu dariku
Semoga disana kamu bahagia Sayang...
Salam cinta dari semua sahabatmu yang mencintaimu 

Senin, 04 Maret 2013

Episode Demi Episode Langkah Seorang Ksatria

Darimana kita mengawali perbincangan? Yah... Mungkin bisa dimulai dari gerak beberapa remaja muda-mudi pada pagi hari ini. Ini adalah hari Selasa, dimana ada yang benar-benar kita tunggu bersama. favorit mungkin bukan tepi lebih karena terdorong ini adalah seruan Tuhan untuk bisa memahaminya. Yups,, hari ini pelajaran Taklimnya fiqih. Mata taklim yang jika mampu diungkap oleh seorang kawan apa testimoninya, menurutnya, pelajaran fiqh itu hebat, ketika sistem pengingat dia itu adalah enzim maka pelajaran fiqh itu substratnya. Pas... Langsung nempel katanya, hehe

Ada yang menarik dari penjelasan Ustad. "Santri itu dari kata Ksatria. Ya, Santri itu ksatria, Ksatria Allah dan Pesantren adalah tempat untuk mencetak para Ksatria". Siip, kata-kata yang sekejap menghipnotisku dan menghadirkan makna bangga, suka, malu, dan ragu. Bangga karena ternyata aku adalah seorang ksatria itu, satu dari orang-orang terpilih Allah. Suka karena memang aku suka. entahlah, serasa adrenalin ini memuncak sehingga terhadirkanlah rasa semangat, riang, rindu, cinta, ketika harus berhubungan dengan kesantrian. taklim, ustad, pesantren, para kiai, sholawat, dzikir, amalan2 sunnah, bahkan para habaib. Berasa timbul perasaan ngefens sama yang seperti2 itu. Malu, ya malu. Masih merasa banyak yang harus dibenahi dari aku agar patut disebut seorang santri. Keilmuan masih cetek, Ibadah juga masih belang betot, Lisan masih angger bicaranya. Akhlak juga belum bisa dibilang karimah. Wahh,,, banyaklah. Ragu,,, Iya. aku ragu kawan. Teuinglah... Apa aku bisa nyantri lagi ataukah tidak. Tiap kali kutolehkan sejenak kepala ini ke kondisi keluargaku yang seperti itu, rasanya pemandangan di depan yang awalnya cerah dan indah bak pelangi berujung istana negeri dongeng, tiba2 tersapu oleh kuas bercat hitam. Kuas itupun menyapu pemandangan itu dan hanya menyisakan sebaris panjang dari warna pelangi. Hijau... Hanya tinggal itu yang mungkin real untuk kutapaki sehingga aku bisa mengguyurkan beberapa ember air untuk membersihkan cat hitam disekelilingnya. Iya,,, Respon keluarga terhadap aku yang kabibita untuk menjadi ksatria sejati dan menapaki langkah demi langkah pelangi sebelum bisa menempati Istana negeri dongeng itu, tampaknya hanya berupa titik-titik yang hanya sedikit. bukan berupa garis tebal yang menjadi tepi lukisan pelangi sehingga tampak tegas dan menawan. Respon mereka sangat miris. entah apa yang diinginkan mereka. Bisa jadi aku lebih disuruh untuk terus menjaga toko di depan rumahku daripada pesantren. Atau bisa jadi ada satu pilihan. ikut SNMPTN lagi dan harus menjaga toko dengan dijejali buku-buku SNMPTN. Ya Allah,,, Aku hanya takut hal semacam ini bisa terus merambat dan menggerogoti iman keluargaku. Sehingga sholat ya hanya sekedar rutinitas dan puasa juga hanya sekedar wasiat seseorang tanpa menghadirkan rasa kecintaan pada Allah, Rasulullah dan syariat yang dibawanya. Karena apa,,, karena tidak ada kerinduan pada mejelis ilmu Allah. Stop!! sudahi sajalah kalau lagi-lagi memperdebatkan ilmu akhirat dan ilmu dunia. Oke well,,, dua-duanya itu ilmu Allah. Lalu, apakah aku salah jika aku memilih untuk menjadi Ksatria Allah? Kan katanya pesantren maupun kampus itu sama-sama majelis ilmu Allah? Lalu kenapa aku harus kuliah dan tidak boleh memilih nyantri? Bunda,,, anakmu sedang rindu dekat ulama dan sudah tidak lagi rindu dekat profesor. ayah,,, Putrimu sedang ingin menjadi Ksatria karena dia suka, karena hatinya mampu menstimulus hormon-hormon penyemangat ketika ia belajar agama. Artinya ini minatku Pak, Buk... Dekat dengan ulama pewaris para nabi. Sebelum ternyata esok aku mati, aku ingin setidaknya adalah usaha untuk menghidup-hidupkan ilmu para nabi. Sedangkan ketika aku masih terlalu memikirkan jika kamu mesantren aja kamu mau jadi apa? mau hidup pake apa? mau dapat duwit dari mana? Ajal masih terlalu dekat Bunda.. daripada harus sangat bingung dengan besok hidupku gimana, mau makan apa kalau cuma lulusan pesantren. Ya Allah,, Jadi ingat ketika kemarin ada seorang teman yang menceritakan masalahku ini, ya masalah yang tentang kampus dan pesantren ini. Dia bercerita ke ayahnya dan ibunya yang kebetulan sudah bercerai. Ternyata respon keduanya pun berbeda. Sang ayah menanggapinya dengan bahasa Sunda yang intinya jika dikonversikan ke Bahasa Indonesia " Subhanallah, pasti bahagia banget itu orang tuanya, nanti anak yang seperti itu bakal nolong orang tuanya ketika di akhirat. karena dia lebih mengutamakan agamanya." Dan Sang Ibu yang bekerja sepagai pegawai kecamatan itu menanggapi cerita putrinya pula dengan Bahasa Sunda juga yang intinya " Ngapain pake kayak gitu? Sayang banget itu kuliahnya. Awas kalo kamu ngikut kayak gitu.". Aku  hanya senyum. Ya memang pendapat orang beda-beda. Pendapat yang ternyata secara tidak disadari mencerminkan bagaimana kepribadiannya. Yang Jelas sekeras apapun batu, ia akan lapuk juga meski hanya dengan tetes-tetes air. Namun memang ketika jarak air dan batu itu dekat akan menghasilkan energi potensial yang lebih besar sehingga lebih cepat menghancurkan batu tersebut. Dan hati sekeras apapun juga pasti akan lapuk. Doa yang selalu terpanjat inilah air yang melapukkannya. Pastinya Energinya juga harus diperbesar. Jika energi potensial diperbesar dengan jarak yang diperjauh, insyallah energi doa ini akan diperbesar dengan kualitas berdoa dan kedekatan pada Allah yang diperbagus. Semoga aku pantas untuk bisa dekat denganMu, sehingga Allah mengabulkan apa yang terus kuminta dalam sajak rintihan-rintihan doa seorang anak. Aamiin Ya Allah...

Tiba-tiba, aku seperti ditunjukkan oleh Allah Pesantren mana yang baik buat aku dan dalam wktu singkat aku bener-bener pengen disini Pondok Posantren Sidogiri Pasuruan.


_..Ini PPS jaman dulu.._


_.. Ini PPS yang sekarang.._

Mohon doanya ya... siapa aja yang baca tulisanku ini :) Hatur Nuhun

Minggu, 03 Maret 2013

Oh Bapak,,, Oh Ibu...



Wahai ayah dan ibu
Dengarlah rintihan anakmu
Pimpinlah diriku ini 
Dijalan penuh berduri

Berilah ilmu mengenal Tuhan
Pencipta diri ini
Selamatkan dari tipuan dunia 
Menuju alam yang abadi 

Ilmu akhirat wajib dipelajari
Bekalan untuk bertemu Illahi
Ilmu duniawi boleh dicari
Panduan hidup untuk berbakti

Ayah dan Ibu ini impianku 
Ingin menjadi anak yang sholeh
Menolong ayah membantu ibu 
Terus berbakti di negeri abadi

Oh Tuhan beri kekuatan iman 
Pada kedua Ayah dan ibuku 
Kau ampunkan segala kelemahan 
Sentiasa dalam bimbingan-Mu

Setiap detik setiap saat 
Berada dalam ridho-Mu
Jalan yang lurus ditunjukki
Tuhan jadi sahabat sejati


Aku rindu kehangatan ini
Keharmonisan kelembutan keluarga