Jumat, 28 Oktober 2016

One Capture One Description


Bagaimana kesan pertama anda?

Sebenarnya saya tidak sedang bermasalah dengan kata "first sight", saya hanya ingin mengulas kejadian unik yang mungkin patut untuk dipelajari. Yah... semua orang memang berhak memilih prespektifnya masing-masing. Begitu pun saya, anda, bahkan kita semua.

Terima kasih untuk satu orang baru yang cukup menyadarkan saya. Saya anggap anda guru saya untuk satu masalah ini. Semoga kelak ada masa untuk berjumpa. Sekedar berucap maaf dan sedikit klarifikasi.

Banyak hal di dunia ini yang tak bisa kita pahami hanya dengan melihat cover. Meskipun manusia sering sekali menambatkan pilihan untuk satu buku bercover unik atas jajaran buku yang sebenarnya isinya bisa lebih menarik. Seperti yang pernah dikata, semua orang memiliki sudut pandang masing-masing. Mereka berhak beralasan untuk tiap tindakan yang dilakukan, juga pemikiran yang dicetuskan.

Kesan pertama memang sangat menentukan, namun bijaknya kenali, pahami, sebelum membeli. (hehehe... emang barang apaan). Cover memang mewakili isi, namun daftar isi tetap menjadi jujukan paling jitu untuk mengerti sekilas isi buku. Begitu pun untuk perbincangan pertama yang agaknya memang membuat perkara. Sikap dingin memang terkesan tidak ramah. Namun lebih dalam lagi, sikap dingin bisa berarti upaya antisipasi. Bagaimana pun juga, masih banyak orang yang percaya "preventif lebih baik dari pada kuratif", termasuk saya.

Dan inilah cara saya menjaga imun hati. Tak mudah berkata "iya", senyum, apalagi sapa. :) Semoga bisa mengerti.

Rabu, 20 Januari 2016

Sendiri

hey... kau takut sendiri?
kenapa?

bukankah satu itu seru
sandiri pun tak selalu sepi

hey... kau sedang sendiri?
dimana?

aku juga sendiri disini
menatap rembulan seorang diri

hey... kau memilih sendiri?
kenapa?

sekuntum bunga lili itupun sendiri
tampak semakin indah diterpa sinar mentari

besok atau lusa
aku pasti tak kan memilih sendiri lagi
tatkala hujan menghadirkan keteduhan
bukan hanya kebahagiaan




Minggu, 17 Januari 2016

Pelajaran tentang "KELAWAN" dan "TUJUAN"

saya ingat ketika satu waktu salah seorang guru mulia mengingatkan saya tentang "kelawan". mungkin tidak banyak yang tahu dengan istilah ini. tapi terkecuali untuk para santri. saya yakin kalian sudah terlalu hafal dengan makna huruf jer ب (ba`) ini.  hanya saja,  sehafal itu pulakah kita dengan makna filosofinya?..

Ya... tanpa kita sadari, sebenarnya setiap keadaan selalu menuntut kita atas kejelasan kepada siapakah keadaan itu akan kita persembahkan. Sebagaimana apa yang telah kita kerjakan, sebenarnya sangatlah perlu untuk kita sertakan alamat tujuannya. Sayangnya, banyak orang yang tidak memahami hal ini. banyak juga mereka yang tahu tapi pada akhirnya mereka sadar telah salah alamat. apa yang susah payah mereka lakukan ternyata tidak mendapatkan apa yang diharapkan. hanya mencapai kebahagiaan-kebahagiaan semu dan palsu. lantas bermuara pada kekecewaan.
 
Sudahlah... ketika begini keadaannya, mungkin Allah memang sedang mempertanyakan niatmu? untuk siapa kau melakukannya? jika memang untuk Allah, kenapa kau harus sedih ketika apa yang telah susah payah kau lakukan itu tidak dihargai manusia dunia? 
Nasehat itu terlantun halus dari lisan seorang sahabat. tak ada yang lain dihatinya kecuali hanya ingin mengingatkan sahabatnya untuk tidak bersedih. meski secara tersirat dia juga telah mengingatkan sahabatnya "alamat yang dituju oleh sahabatnya itu mungkin salah". karena dia yakin ketika Allah lah yang menjadi tujuan, Allah yang menjadi "kelawan", tidak akan pernah ada kekecewaan.

berbeda dengan ketika kelawan dan tujuan kita bukan Allah, tapi mahkluk Allah. mereka bukan dzat yang maha rahman untuk senantiasa memberikan kasihnya walau sebenarnya kita sebagai hamba ini sangat tidak pantas untuk dikasihani. mereka juga bukan dzat yang maha adil, maha membalas apa yang telah kita lakukan dengan timbangan yang super pas dan presisi.

jadi, ketika kekecewaan itu hadir di hati kita, coba raba lagi. diakah yang salah? atau kita lah yang salah karena telah menggantungkan diri pada tempat yang salah?

Sabtu, 16 Januari 2016

Belajar itu...

Ketika ditanya kenapa dia pergi ke sekolah? hampir semua orang pasti akan menjawab "belajar". Atau minimal mereka akan menjawab "mencari ilmu".

tapi... apakah benar demikian kenyataannya?  apakah kita benar-benar yakin apa yang lakukan ini adalah "belajar" dalam arti yang sesungguhnya? atau kita salah peham tentang pengertian belajar?

terlepas dari pendapat siapa definisi belajar yang saya cantumkan ini, saya setuju total dengan maksudnya.

belajar adalah interaksi antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku.
dari definisi di atas ada 3 komponen dasar sehubungan dengan "BelAjar"
1. Interaksi dengan sumber-sumber belajar
2. Interaksi dengan lingkungan
3. Adanya perubahan (ke arah yang lebih baik)

penjelasan singkatnya, belajar itu harus ada interaksi dengan sumber-sumber belajar. entah itu berupa guru, buku, artikel, internet, atau yang paling dasar adalah berinteraksi dengan fenomena-fenomena kehidupan. Ya... jika kita sama sekali tak menyapa mereka. belajar hanya datang, mengisi absen, mencontek teman, tanpa mau mengambil pelajaran dari tiap denting kehidupan yang allah berikan, untuk apa kita mengaku sebagai pelajar.

belajar harus berinteraksi dengan lingkungan. bukan lantas berdiam diri menyepi. hanya berkutat dengan buku dan diri sendiri. tak ada pelajaran tentang sosialisasi, pun pelajaran tentang membawa diri. tentu ini juga bukan belajar.

point ketiga ini yang paling dahsyat. acap keli pendidikan tak begitu menggubris tentang yang satu ini. asal nilai baik, asal lulus, suatu pendidikan sudah dianggap mumpuni. tak kaget jika produk pendidikan hanya orang-orang garda depan dengan pendang menghadang, tapi hati dan sikapnya lebih tajam dari sebilah pedang. mereka membunuh rakyat kecil dengan perut yang dibiarkat membuncit, mereka menyiksa rakyat jelaka dengan gelimang harta yang berkelip di sekujur tubuhnya. belum lagi mereka yang begitu kejam membunuh dengan terang-terangan.

sering kali saya ingin mencaci mereka. "Apa dulu lu nggak pernah belajar? nggak pernah disekolahkan ya?" bagaimana tidak. tak ada perubahan yang lebih baik dari sikap mereka. yang ada semakin memburuk saja tabiatnya.

dan saya pun menatap iba siswa maupun mahasiswa yang tak mengindahkan tujuan belajarnya. hanya merasa mereka butuh angka. baik itu berupa nilai atau harta. ahh... mungkin sebagian orang akan berkata naif. tapi asal kalian tahu. masih ada orang-orang yang hatinya menjerit untuk hanya sekedar melakukan kecurangan kata-kata. dan itu menyiksa.

maka kukatan pada segelintir manusia "beda" itu. semesta menitipkan amanahnya kepadamu. untuk kembali meresuffle keadaan yang ada. kami bukan hanya butuh orang pintar, tapi kami butuh orang-orang yang pintar hidup. mungkin aku pun tak bisa menyapa istimewa. tapi biarlah doaku turut menjaga esistensinya. semoga Allah senantiansa memudahkan langkah mereka menjadi juru selamat dunia. amiiin :)



Jumat, 15 Januari 2016

Terancam di segala sisi, demikiankah?

Indonesia...
Apa yang salah? Kami bukan negeri berbahaya dengan senjata nuklir yang mengancam stabilitas dunia. Kami juga bukan negara dengan tank tank atau kendaraan tempur yang setiap saat siap menggempur habis dunia. Tidak... pasar kami masih ramai orang menyapa. Bukan congkak lantas saling tebar celaan.

Lantas kenapa kami harus bernasib serupa? Bom bukan kembang api yang indah kawan? Tak ada mata binar terkagum oleh pancaran sinar beterbangan dahsyat. Apalagi tepuk tangan anak anak. Bom bukan kembang api untuk mainan.

Kenapa wajah ceria kami harus dibuat tegang kembali.haruskah kami mulai berpikir hidup ini tak tenang lagi? Terancam di sana sini?

ahh... maaf. tampaknya aku. salah sangka. nyatanya bangsa kami tak takut Anda. kami sudah terlalu pintar membolak-balikkan situasi. sambutan kami bahkan terlalu ramah dan hangat. juga kocak. persis sebagaimana nama kami indonesia masyhur di kancah dunia. negeri yang ramah. walau tersakiti atau sengaja disakiti. 

harusnya kalian belajar dari kami. setidaknya belajar untuk melawakkan diri. meme meme itu bukti. satu usaha kemi untuk tetap menjaga kesatuan NKRI. kami tak takut :P

Datang kabar

Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Ketika lolongan anjing melengking
Tombak tombak meluncurkan kematian
Dalam satu kendali tiupan
"Musnahkan"
Begitulah tuhan menitahkan

Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Wajah polesan itu tersungkur kelam
Hitamnya lebih legam dari aspal jalanan
Terseret lah dia
Bukan berjalan

Sudahkah datang kepada mu kabar tentang hari kiamat?
Kala itu keimanan menjadi harta tawanan
Bergadai lelaki tampan atau hancur dalam cengkraman

Lantas...
Tipu daya apa yang akan kau lesatkan?
Atau kau berkenan menggenggam peringatan?
Dan hidup tak lepas dua pilihan
Keimanan atau kekafiran

Rabu, 13 Januari 2016

Kisah klasik (kita)

aku tahu satu masa ini pasti kan tiba juga. Tatkala sang merpati putih harus meninggalkan sarangnya, menyimpan kenangan masa lalu dalam balutan kisah. dan kunamai itu sebuah kisah klasik. kisah klasik kita.

aku menuliskan ini atas nama seorang sahabat. dalam kerumunan manusia yang berkutat dengan buku-buku perpustakaan, satu rasa ini tiba-tiba menyeretku ke dalam dimensi lain. dimensi yang hanya aku dan mereka yang tahu. dimensi yang pasti akan terukir cantik, meski perlahan tokoh-tokohnya pun harus satu persatu meninggalkan.

Sesaat, tanganku kelu untuk menuliskan luapan rasa dalam dada. tangisku tertahan. rasa ini telalu bercampur. sedih dan suka tak lagi ada garis pembedanya.