Rabu, 30 Desember 2015

Penghujung 2k15 vs kembang api (ala gue)

Yups.. selamat sore semuanya. Saya melaporkan Langsung dari Kuta, Bali.

Bali mulai merayap senja, menuju pergantian usia, 2k16. Semoga allah menutup tahun 2k15 ini dengan kebaikan dan segera membuka buku baru 2k16 dengan keberkahan. Amiin..

Bicara tentang peringatan tahun baru, tidak jarang lagi kita jumpai hampir seluruh penduduk bumi ini memberikan perlakuan khusus dalam memperingati tahun baru. Berjuta orang riuh ramai berduyun-duyun pergi berlibur bersama keluarga, menyiapkan piknik sederhana dengan tradisi bakar-bakar segala (sate, ikan, ayam, dan yang paling ekonomis adalah jagung). Ahh.. minimal para anak sudah terkena virus tiup terompet lah. Entah dari mana virus itu berhulu, bahkan bisa jadi orang tuanyalah yang handal mengajarkan itu.

Ya.. di kesempatan ini saya tidak akan berbicara tentang bagaimana hukum beramai-ramai merayakan tahun baru menurut islam. Itu sudah terwakili oleh banyak artikel di jejaring sosial. Tapi kali ini saya akan coba memaknai tahun baru ini dengan cara saya. Saya yang punya cerita.

Pernah berfikir kenapa tahun baru identik dengan kembang api? Padahal dari bahasanya aja, kembang api lebih cenderung berimage galak dengan kata api, dari pada indah dengan kata kembang. Apalagi jedar jedor suaranya, sering kali bikin musibah. Entah itu kambuh sakit jantung nya, atau bisa sampek terjadi kebakaran. At least. Bagi saya pribadi, kembang api adalah simbol kericuhan. Simbol panas entah karena gesekan antar golongan, atau keserakahan hawa nafsu memakan segala sebagaimana api melahap semua. Coba tahun baru diidentikkan dengan kegiatan siram-siram taman, siram-siram tumbuhan, apalagi siram-siram kerohanian. Kan kesannya adem. Katanya awali lembaran baru dengan kebaikan?? :-)

Oiyaa.. om bli guide kresna juga bilang, di bali bagian perkampungan kuta sekarang ada larangan menyalakan kembang api lho.. alasannya adalah karena aspek keamanannya.. tuh kann. Apa gue bilang.

Haha.. agak norak juga sih bahasan gue ya? Ahh.. tapi ini kan emang cuma sekedar cuap-cuap nganggur. Maklum lah yee.. hehehe

Alvita hikmatul laily melaporkan dari tkp.

Senin, 28 Desember 2015

Bermata-puisi

Mereka yang setia dalam kata bukan berarti tak mampu melahap fakta. mereka bahkan lebih mampu memaknai kehidupan bertingkat hanya dengan jajaran formasi aksara . Bukan sekedar berlalu-lalang membual angan, melainkan berkubang dalam setiap lapisan ungkapan, berbahtera filosofi kata.

Ahh.. sedari dulu aku adalah penikmat dunia berbingkai kias itu. Tapi sayang... serupa langit tertinggi aku belum miliki sayap tuk mengukirkannya jua. Ya, aku Masih hanya berusaha merogoh dangkal dalam harga-harga yang disembunyikan. Sesaat berkerut, lalu diam. Menggurat senyuman dalam eratnya ikatan gagasan. Meski aku seringkali tak paham...

Haha.. entah kapan.

Dan saat ini aku sedang terngiang, dengan kau sahabat sekandang...

Jumat, 25 Desember 2015

Hadiah tanggung

Hai.. rinai.. lama nian aku tak menjamahmu. Terlebih ketika begitu banyak hari hari istimewa harusnya kulalui dengan jemari manismu. Lagi lagi tak ada habisnya ketika yang dibahas adalah makna "reduksi". Reduksi mimpi-mimpi. Reduksi kualitas diri. Reduksi ketahanan emosi. Reduksi di angka yang harusnya semakin menjadi.


26 desember 2015, late post banget kayaknya kalo masih ngebahas tentang "kado ulang tahunnya Njeng nabi". Allah... aku tak lupa. Dan aku juga tak bisa serta merta menyalahkan kesibukan yang orang kata pun tak sebegitu sibuknya. Aku diam. Hanya diam dalam persimpangan hati yang tak tahu kemana akan bercondong. Sejenak rindu... sejenak melamun pilu... bahkan sempat pula tersedu atas reduksi cinta yang hampir menjajah habis hatiku. Hingga ulang tahunmu pun menjadi tak seistimewa tahun-tahun lalu. Terlebih jika dibandingkan dengan aku yang kala itu masih berada di pusaran cinta. Ya.. cinta para kekasih mudamu njeng nabii, beralun merdu menyapa indahnya perangaimu, mengundang hadirnya dirimu.


Njeng nabiku...
Maafkan aku. Tak ada ritual panjang di hari ulang tahunmu. Tak ada lembar lembar ruahan cerita dalam buku "seri penggagas sejarah"ku seperti sebelum sebelumnya. Juga kadoku pun terkesan sederhana. Tak seperti tahun lalu, Ketika aku menjanjikan ini itu.


Njeng nabiku...
Selamat ulang tahun.
Tentu kau tak pernah sebenar-benarnya kembali. Kau selalu hidup, membara serupa pelita dalam sukma-raga kami. Di banyak tempat, dunia masih bertalun menyebut namamu. Bersahut gemuruh sholawat salam tanda cinta kami. Meski mungkin itu hanya sekedar cinta. Namun kau hidup... selalu...


Njeng nabi...
Ini hanya tentang kado sederhana dari gadis sederhana yang ingin menantang kesederhanaan hidupnya. Parah... jika kata mereka itu biasa. Tapi tidak bagiku. Hidup harus dipaksa, selagi kita masih diberi hidup. Dan akan kusampaikan kodenya. 


1. X+6 = kursi
2. 1 hari, 1 lembar = 1 tahun > 1 eksemplar
3. Peta buta, kasih cahaya dari lilin lilin pemantasan.
4. Isti_qoma(riya)h


Njeng nabii..
Aku masih berhutang mimpi. Dan atas syafaat mu, sampai bertemu di lain waktu. Bersama sebongkah mimpi kami yang menghablur dalam kerinduanmu. Berkenanlah kau panggil kami, "ummatii... ummatii... ummatii.."


Sholawat salam teruntuk engkau njeng nabi kuu...
Dalam reduksi cinta kukutuk diriku untuk terus mencintaimu.
Love youu...