waktu pun terus bergulir, detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan sudah sekian lama dia menunggu tanpa adanya tanda2 kepastian. rupanya diapun mulai gusar. akankan sebuah rencana yang dipersiapkannya lengkap dengan segala detail kecilnya harus terhempas lepas...
Ahh... Benar-benar di ambang keputusasaan...
Tak ada kawan, sungguh tak ada jaminan. Seorang gadis perindu semakin terenggut pilu atas rasa itu. "Oh, Allah Tuhan semesta alam,,, rinduku ini bukan rindu yang terlarang kan? lantas kenapa kau buat susah tapak kakiku ini," begitu rintihnya semalaman.
Ya,,, jika bukan karena anugrah tawakkal yang diberikan kepadanya, mungkin dia tak akan bisa terbangun menatap pagi dengan keleluasaan hati. Gadis perindu itu pasrah. Warna hatinya hari ini sungguh hanya ia biarkan Tuhan yang menggenggamnya. Jikalau berjodoh, pastilah bertemu walau dunia dihujani batu.
Maka Engkau kirimkan dua peri cantikMu itu untuk menemani dan memudahkan perjuangan rindunya. Indah... begitu indah... meski harus mengendara di bawah teriknya surya, meski harus menyusuri sahara yang tak tahu berapa mil jauhnya, tapi ketika kaki dan tubuh ini berenergi rasa, sepertinya, bagai hanya berterbangan diantara awan putih dan burung camar yang menari-nari...
Hingga pada akhirnya, gadis itu pun menemukan penawar rindunya. Seseorang dengan sayap karisma yang memeluk ramah sekitarnya. Mata indahnya berbinar cahaya, lisannya terukir jutaan hikmah kata-kata.
Sedang Sang gadis perindu lama duduk terpaku...
Air mata cinta menderasi halus pipi merahnya. Lisan indahnya semakin indah dengan untaian kalimat syukur yang disaksikan beribu malaikat semesta.
"Wahai kekasih hatiku, akhirnya, telah kusampaikan perjuangan rinduku ini kepadamu. :) trimakasih atas pertemuan tak terlupa ini"

(hahaha... alay juga ya tulisannya. padahal itu kan cuma nyeritain kisahku buat ketemu Buya Yahya di masjid ITS tanggal 19 Juni 2014 kemarin... hihihihi )
