Ilusi ini kubiarkan mengalir. Tanpa memperdulikan apakah nyata yang terjadi disana. Ya, aku hanya menghibur diri bak kisah sinetron di tv. Meski sebenarnya aku pun tak sungguh-sungguh suka. Aku lebih suka mensutradarai romansaku sendiri, seperti ini, lantas kusimpan sendiri.
Yups.. seperti biasa, aku hanya menatap namamu. Mengeja aksara demi aksara yang menyusun indah namamu. Ah, kau pasti tak tahu. Dan memang kau tak perlu tahu. Apa perlunya kau menelisik satu persatu bilik hatiku. Aku tahu kau tak punya waktu. Dan aku pun tahu dua rasa ini bisa jadi tak berimbang beratnya. Tapi tak masalah. Aku menikmati ini. Aku suka mengeja selalu namamu di layar hijauku. Lantas membiarkan tatkala ada yang berdesir di dalam hatiku. Terlebih jika satu tanda yang menunjukkan kau ada itu muncul di sana. Spontan rasa yang tak kutahu muara dan muasalnya itu menyeruak menghasilkan seutas senyum malu-malu. Ah, aku sudah gila rasa-rasanya. Bahkan kubiarkan detik demi detik yang hanya memandang namamu ini berlangsung cukup lama. Bagai menatap sosokmu di kapsul bening berbahan kaca. Kau beraktivitas sebagaimana kau biasanya: bercengkrama dengan nak kanakmu dengan penuh cinta, berkutat dengan majelis-majelis ilmu yang justru membuatku rindu untuk turut menghadirinya, atau sekedar menunaikan kewajiban dalam rangka penghidmatan. Maka, lagi-lagi kubiarkan detik-detik ini sejenak berhenti. Dan sempurna bola mataku hanya memandang nanar nama yang merujuk pada ksatria di ujung sana. SAJA. Ya.. saja. Aku benar-benar sudah gila. Meski mungkin kau tak pernah bisa pahami kenapa aku juga sebenarnya teramat takut untuk jatuh hati. Karena sungguh aku masih tak punya kendali untuk waktu yang mendadak lepas oleh aksi-aksi konyol serupa ini. Entahlah... Aku menjelma dungu oleh rindu, dungu oleh rasa itu, dan dungu oleh kamu. Seperti ini, hanya menatap tanpa mampu kuketikkan formasi tiga aksara sederhana untuk menyapa dirimu terlebih dahulu... "m a s".
Maka, izinkan aku sejenak menyampaikan ini padamu. Entah kau akan mendengarku, mau tahu, atau tak mau tahu.
Ya... sejak lama, aku telah berkonsep bahwa satu rasa yang mereka sebut cinta itu hanya sekedar dramatisasi hati. Perasaan lugu yang kian terpoles bumbu-bumbu membuatnya perlahan demi perlahan tertanam begitu dalam. Dan untuk satu rasa itu, aku cukup menikmati benih-benih yang bersemi. Karena maaf, ketakutanku pada masa depan yang tak terjawab olehmu inilah yang membuatku sebisa mungkin tak mendramatisir kenyataan sepenggal rasa. Maka untuk sementara waktu aku sangat setuju dengan kesibukan yang seakan setiap detik merundungmu. Karena yang demikian bisa sejenak mensugesti diriku bahwa kau tak benar-benar miliki rasa serupa diriku. Maka, akan kembali kutanya di setiap doa yang indah berpilin ke angkasa.
"Hey kau rahasia, benarkah dirimu lah jawabannya?"