Kepada
yang terhormat
Ibu kita Kartini
Assalamu`alaikum
wr. wb.
Salam
kenal dari anakmu ibu. Seorang yang kini telah bisa menuliskan berbagai aksara,
membaca permasalahan-permasalahan dunia, serta menyampaikan ide-ide yang ingin
dikata. Salah satunya adalah dengan hadirnya sepucuk surat sederhana ini.
Apalagi kalau bukan atas jerih payah dan perjuanganmu. Maka, kusampaikan pula
ucapan terimakasihku kepadamu. Semoga apa yang telah kau perjuangkan itu bisa
menjadi pemberat amalmu yang tiada akan pernah putus.
Ibu…
mewakili wanita Indonesia yang hidup di masa ini, di masa yang berselang 111
tahun dari masamu dulu. Aku menyampaikannya, bukan dengan maksud untuk menuntut
perjuanganmu dulu, karena kau pun sudah melakukannya dengan sebaik mungkin. Aku
menuliskannya hanya karena aku ingin mencurahkan segalanya pada apa yang kurasa
bisa. Ya… selembar kertas inilah wahananya, yang pada akhirnya kutujukan pada
kau putri yang mulia.
Semua
sudah berbeda ibuku… tak ada lagi wanita bersanggul dan berjarik yang
menari-nari memainkan selendang dalam alunan gamelan. Tak ada pula suasana
dapur dengan peluh kalian para wanita perkasa yang sedang bergelut dengan alu
dan lumpang, juga api pawonan. Apalagi para ibu-ibu yang menguru-uru anaknya
dengan menyenandungkan tembang-tembang serupa Lir-ilir ataupun Tak
Lelo Ledung. Semua sudah berubah Ibu. Tak tahu kau akan berkata ini baik
atau buruk, yang jelas mereka menamainya sebuah kemajuan.
Terkadang,
separuh hatiku protes. Apanya yang maju? Para wanita ternyata lebih memilih rok
dan baju mini dari pada berkebaya dan berkain jarik dengan 2 meter kendit yang
diikatkan memutari pinggang. Setidaknya yang semacam itu lebih bisa
melindunginya dari para penyamun wanita. Siapa juga yang mau memperkosa jika
harus melepaskan ikatan dengan lebih dari 10 putaran itu. Terbayang bagaimana
rapatnya kain batik itu membungkus separoh tubuhmu. Bukankah itu pun susah?
Apanya
juga yang maju. Para wanita hanya belajar, bersekolah tinggi, lantas kerja
siang dan malam. Menitipkan anaknya, lantas menebusnya dengan uang. Ah… jangan
harap para orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah ketika senja datang.
Jikalau ada mungkin hanya sedikit sekali. Yang banyak adalah para orang tua
yang mengaku perhatian, lantas menelpon anaknya, menanyakan sedang dimana, dengan
siapa, dan sukses mendapatkan tipuan dari jawaban anak-anaknya. Bahkan berujung
pada musibah besar dalam berbagai bentuk problematika remaja.
Ibu…
ibu… Dulu kau begitu mengidamkan bersekolah yang pada masamu sangatlah langka
untuk anak-anak bumi putera apalagi anak wanita sepertimu. Tapi sekarang
lihatlah keprihatinan ini ibu, bahkan sekolah bisa jadi ancaman utama anak-anak
kita ibu. Ya… harusnya kau baca berita-berita itu. tentang kasus pedofilia JIS,
tentang kasus-kasus pelecehan seksual di berbagai tempat. Sungguh memuakkan.
Sekali
lagi aku tak menyalahkan kau wahai ibundaku. Karena aku bisa berkata seperti
ini pun atas segala jasa-jasamu. Namun kenapa, kenapa yang santer disampaikan
pada kami hanya emansipasi? Kenapa yang
diajarkan pada anak-anak kami adalah lagu ibu kita kartini yang liriknya hanya
seperti itu? dan kenapa yang digemborkan kepada kami hanya kisah tentang suratmu
kepada nyonya Abendanon yang kini dibukukan oleh Armyn pane “Habis Gelap
Terbitlah Terang”? Padahal, bukankah ada sisi spiritual dibalik itu?
bukankah ada Kyai Sholeh Darat yang menjadi lenteranya? Dan bukankah Door
Duisternit Toot Licht itu adalah “orang-orang beriman dibimbing Allah dari
gelap menuju cahaya”? kenapa itu tak sampai pada kita ibu....?
